Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencari Seorang Gadis Selama 20 Tahun

Mencari Seorang Gadis Selama 20 Tahun

Axel Narendra, CEO tampan berdarah campuran, kembali ke Indonesia demi mencari gadis yang memikat hatinya dua puluh tahun lalu. Namun, misinya terhambat saat ia dikhianati dan ditawan oleh anak buahnya sendiri. Kini, Axel harus berjuang menyelamatkan diri di tengah konspirasi besar. Akankah ia berhasil membasmi pengkhianat di seluruh jaringan perusahaannya yang menggurita ke mancanegara sekaligus menemukan cinta masa kecil yang dicarinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bau disinfektan menusuk hidung Axel saat ia membuka mata. Samar-samar ia mendengar suara mesin pemantau detak jantung dan perban melingkar di bahunya yang terasa perih. Dia bukan lagi tawanan di gudang pengap, melainkan pasien di sebuah kamar rumah sakit yang bersih namun asing. Rasa lega bercampur kebingungan menyelimuti benaknya. Siapa yang membawanya kemari? Dan siapa yang memanggil polisi?

Seorang pria paruh baya dengan seragam polisi lengkap duduk di samping tempat tidurnya, membaca sebuah dokumen. Pria itu menoleh saat menyadari Axel sudah sadar. Wajahnya ramah, namun sorot matanya menunjukkan ketegasan.

"Selamat pagi, Tuan Narendra," sapa polisi itu. "Syukurlah Anda sudah sadar. Saya Komisaris Besar Wibowo. Kami menerima laporan anonim tentang aktivitas mencurigakan di gudang itu, yang kebetulan mengarah pada lokasi Anda disekap."

Axel mencoba duduk, namun rasa sakit di bahunya membuatnya mengernyit. "Laporan anonim? Siapa?"

Komisaris Wibowo menggelengkan kepala. "Identitas pelapor sangat rahasia, Tuan. Yang jelas, informasi yang mereka berikan sangat akurat. Kami berhasil menangkap beberapa anak buah Reno, dan dia sendiri sempat melarikan diri, namun kami masih memburunya."

"Reno," desis Axel, nama itu terasa getir di lidahnya. "Dia tidak sendirian, Komisaris. Ada jaringan pengkhianat di dalam perusahaan saya."

Wibowo mengangguk. "Kami menduga demikian, Tuan. Kasus ini jauh lebih rumit dari sekadar penculikan. Kami akan menyelidiki lebih lanjut, namun kami butuh kerja sama penuh dari Anda."

Axel tak ragu. "Saya akan memberikan semua yang saya tahu." Dia menceritakan tentang Reno, rencana jahatnya, dan direktur-direktur lain yang dicurigainya terlibat. Komisaris Wibowo mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat poin-poin penting.

"Ini adalah kasus yang serius, Tuan Narendra," kata Wibowo setelah Axel selesai berbicara. "Kami akan menindaklanjuti informasi ini. Untuk sementara, demi keamanan Anda, kami menyarankan Anda tetap berada di bawah pengawasan kami."

Axel mengerti. Selama Reno masih bebas dan jaringannya belum terungkap, nyawanya dalam bahaya. Namun, satu pertanyaan masih mengganjal di benaknya. "Komisaris, apakah ada cara bagi saya untuk melacak siapa yang memanggil Anda? Saya perlu tahu siapa sekutu tak terduga ini."

Wibowo tersenyum tipis. "Percayalah, Tuan. Pihak yang membantu Anda tidak akan tinggal diam. Jika mereka ingin Anda tahu, mereka akan menghubungi Anda."

Axel mengangguk. Dia tidak punya pilihan selain menunggu. Namun, dalam hatinya, ia yakin ini bukanlah kebetulan semata. Ada benang merah yang menghubungkan penyelamat misterius ini dengan pencarian "Mentari Kecilnya" atau dengan intrik di perusahaannya.

Beberapa hari berikutnya dihabiskan Axel di rumah sakit, dalam pengawasan ketat polisi. Meskipun tubuhnya berangsur pulih, pikirannya terus bekerja. Dia meminta akses ke laptop dan ponselnya, mulai menyusun kembali data-data penting, memeriksa setiap transaksi mencurigakan, dan mengidentifikasi pola-pola sabotase yang selama ini luput dari perhatiannya.

Setiap malam, ia kembali teringat pada Reno dan senyum liciknya. Kata-kata Reno tentang "Mentari Kecilku" terus menghantuinya. Bagaimana bisa Reno tahu tentang hal itu? Apakah ada orang lain yang mengetahui rahasia pribadinya? Atau mungkinkah pencariannya itu sendiri yang telah menarik perhatian Reno?

Kilas balik masa lalu kembali menyerbu benaknya, lebih hidup dari sebelumnya.

Dua puluh tahun yang lalu.

Axel, yang saat itu masih bernama Axel Erlando, seorang remaja berusia tujuh belas tahun dengan jiwa petualang yang membara, menemani ayahnya dalam perjalanan bisnis ke sebuah desa terpencil di kaki gunung Jawa Tengah. Ayahnya, seorang pengusaha tambang yang sukses, sedang menjajaki potensi lahan di sana. Bagi Axel, perjalanan ini adalah pelarian dari rutinitas padat di sekolah elit dan tuntutan sebagai pewaris tunggal.

Desa itu sangat berbeda dari kehidupan kota yang ia kenal. Udara bersih, pemandangan sawah hijau terhampar luas, dan keramahan penduduknya yang tulus. Saat ayahnya sibuk dengan urusan bisnis, Axel menjelajahi setiap sudut desa.

Suatu sore, saat ia berjalan menyusuri pematang sawah, ia melihat seorang gadis kecil sedang bermain sendirian di tepi sungai. Rambutnya hitam legam, dikepang dua, dan senyumnya... senyumnya seolah membawa sinar mentari. Axel terpaku. Ada sesuatu yang luar biasa pada gadis itu, sebuah kehangatan yang memikat.

Gadis itu melihat Axel dan tersenyum. "Halo," sapanya dengan suara ceria. "Kau anak baru di sini, ya?"

Axel tersipu. "Ya, namaku Axel. Aku... aku ikut ayahku kerja di sini."

Gadis itu mendekat. "Namaku Kirana. Tapi panggil saja Nana." Dia mengulurkan tangan kecilnya, jari-jarinya mungil dan lembut. Axel membalas jabat tangan itu, merasakan percikan aneh di hatinya.

Sejak hari itu, Axel dan Kirana tak terpisahkan. Setiap kali ayahnya sibuk, Axel akan mencari Kirana. Mereka bermain di tepi sungai, memanjat pohon jambu, dan bercerita tentang impian mereka. Kirana bercerita tentang cita-citanya menjadi guru di desa itu, sementara Axel, untuk pertama kalinya, membayangkan masa depannya tidak hanya berkutat dengan bisnis keluarga. Ia membayangkan membangun sekolah untuk anak-anak seperti Kirana, atau membantu mengembangkan desa ini.

Kirana selalu memanggil Axel dengan sebutan "Kak Mentari Kecilku." Entah mengapa, panggilan itu terasa begitu pas, seolah Kirana bisa melihat cahaya di dalam dirinya yang bahkan ia sendiri belum menyadarinya. Panggilan itu menjadi rahasia kecil mereka, simbol kedekatan yang istimewa.

Hari-hari di desa itu terasa seperti surga, namun semuanya harus berakhir. Ayahnya selesai dengan urusannya, dan mereka harus kembali ke kota. Saat perpisahan tiba, Axel merasa sangat sedih. Ia memberikan Kirana sebuah kalung sederhana dengan liontin bulan sabit, hadiah ulang tahunnya yang ke-17. "Ini untukmu, Nana," katanya, menahan air mata. "Jangan lupakan aku."

Kirana memeluknya erat. "Aku tidak akan pernah melupakanmu, Kak Mentari Kecilku. Aku janji."

Namun, takdir memiliki rencana lain. Beberapa minggu setelah kembali ke kota, Axel mendengar kabar buruk. Desa Kirana dilanda banjir bandang yang dahsyat. Komunikasi terputus, dan akses menuju desa terisolasi. Ayah Axel, yang juga terkejut dengan berita itu, segera mengirim tim bantuan, namun sulit menembus lokasi.

Axel panik. Ia mencoba mencari tahu kabar tentang Kirana, namun informasi sangat terbatas. Desa itu hancur parah, banyak korban jiwa dan yang hilang. Setelah berbulan-bulan mencari kabar, ia terpaksa menerima kenyataan pahit: Kirana mungkin termasuk di antara korban yang hilang. Hatinya hancur berkeping-keping. Panggilan "Mentari Kecilku" kini terasa bagai luka yang tak kunjung sembuh.

Sejak saat itu, Axel tenggelam dalam pekerjaannya, membangun kerajaan bisnisnya dengan gigih, mencoba mengubur kenangan menyakitkan tentang Kirana. Ia menjadi dingin dan fokus, namun jauh di lubuk hatinya, ada celah kosong yang hanya bisa diisi oleh senyum dan tawa gadis kecil di desa itu.

Hingga suatu hari, sebuah foto lama yang terselip di antara buku-bukunya kembali membuka luka lama itu. Foto seorang gadis kecil berlesung pipit, yang ia ambil diam-diam saat mereka bermain di tepi sungai. Tekadnya kembali membara: ia harus menemukan Kirana, hidup atau mati.

Kilas balik itu berakhir, meninggalkan Axel dengan perasaan campur aduk. Kerinduan yang mendalam, rasa bersalah karena telah pasrah pada takdir, dan tekad yang kini semakin kuat. Reno benar, ia memang terlalu sentimental. Tapi sentimentalisme itulah yang memberinya kekuatan, tujuan yang lebih besar dari sekadar kekayaan dan kekuasaan.

Di hari kelima, saat Axel dinyatakan boleh pulang, ia menerima sebuah pesan anonim di ponselnya.

"Temui saya di kafe Lily, Jalan Cemara Nomor 12, besok pukul 10 pagi. Datang sendiri. Jangan bawa pengawal. Untuk keselamatan Anda."

Axel menatap pesan itu. Inilah sekutu misterius yang disebut Komisaris Wibowo. Dia tidak ragu. Dia harus tahu siapa orang ini.

Keesokan harinya, Axel tiba di kafe Lily lima belas menit lebih awal. Kafe itu tampak sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk berjauhan. Axel memilih meja di sudut, tempat ia bisa mengamati pintu masuk. Ia mengenakan pakaian kasual, berusaha tidak menarik perhatian.

Tepat pukul 10 pagi, seorang wanita muda masuk ke dalam kafe. Rambutnya panjang, wajahnya ditutupi kacamata hitam besar, dan ia mengenakan topi lebar. Postur tubuhnya ramping dan gerakannya elegan. Ada sesuatu yang familier dari cara berjalannya, namun Axel tidak bisa mengingatnya.

Wanita itu melangkah langsung menuju meja Axel. Ia duduk di depannya, melepas kacamata hitamnya. Mata Axel terbelalak.

Di hadapannya duduk seorang wanita cantik dengan mata cokelat yang teduh dan... lesung pipit yang dalam saat ia tersenyum tipis.

Hati Axel berdegup kencang. Itu... itu tidak mungkin.

"Halo, Kak Mentari Kecilku," sapa wanita itu, suaranya lembut, namun Axel bersumpah ia mendengar nada kerinduan di sana.

Axel terpaku, kata-kata tercekat di tenggorokannya. Dia menatap Kirana, atau setidaknya, wanita yang sangat mirip dengan Kirana, dengan tak percaya.

"K-Kirana?" bisiknya, hampir tidak terdengar.

Wanita itu mengangguk, senyumnya semakin jelas. "Ya, ini aku, Kak. Kirana."

Air mata Axel mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak percaya ini terjadi. Setelah dua puluh tahun, setelah mengira Kirana telah tiada, ia kini duduk di hadapannya, dewasa dan mempesona.

"Bagaimana... bagaimana bisa?" Axel akhirnya bisa bicara, suaranya serak. "Aku... aku pikir kau..."

"Aku selamat dari banjir, Kak," jelas Kirana, matanya ikut berkaca-kaca. "Aku terseret arus dan diselamatkan oleh sebuah keluarga nelayan di pesisir. Mereka merawatku sampai aku pulih, lalu mengadopsiku. Aku pindah ke kota, memulai hidup baru. Aku selalu mencarimu, Kak. Tapi sulit sekali. Keluargamu pindah, dan jejakmu menghilang."

"Aku juga mencarimu, Nana," jawab Axel, rasa bersalah membanjiri dirinya. "Aku... aku sangat menyesal tidak mencarimu lebih keras."

"Tidak apa-apa, Kak," kata Kirana lembut. "Yang penting kita bertemu lagi sekarang."

Axel memandangi Kirana, memperhatikan setiap detail wajahnya yang telah dewasa. Ada kematangan dan kekuatan terpancar dari sorot matanya, namun lesung pipit yang sama dan senyum yang sama seperti saat mereka masih anak-anak.

"Jadi, kau yang memanggil polisi?" tanya Axel.

Kirana mengangguk. "Ya. Aku sudah tahu tentang Reno dan rencananya sejak beberapa bulan lalu. Aku bekerja sebagai analis intelijen untuk sebuah firma keamanan siber. Salah satu klien kami adalah kompetitor perusahaanmu, dan kami mendeteksi aktivitas mencurigakan yang mengarah pada Reno dan jaringannya. Aku mulai mengumpulkan informasi secara diam-diam. Saat aku tahu kau kembali ke Indonesia dan menjadi target mereka, aku semakin intens mengawasi."

"Bagaimana kau tahu itu aku?"

"Foto yang kau simpan di dompetmu, Kak," jawab Kirana, senyumnya sendu. "Aku melihatnya dari laporan intelijen yang mereka susun tentangmu. Itu foto yang sama dengan yang kau ambil diam-diam saat kita di desa. Lalu ada juga panggilan 'Mentari Kecilku' yang sering kau gumamkan dalam tidurmu, terekam dari alat penyadap mereka. Aku tahu itu pasti kau."

Hati Axel terasa menghangat sekaligus hancur. Ia merasa malu karena kecerobohannya, namun juga bersyukur karena rahasia itu justru menjadi jembatan untuk menemukan Kirana.

"Kau mempertaruhkan nyawamu untukku, Nana," kata Axel, suaranya penuh rasa terima kasih.

"Kau adalah Kak Mentari Kecilku," balas Kirana, matanya menatap Axel penuh makna. "Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu."

Axel kini mengerti. Sekutu tak terduga ini bukan hanya penyelamatnya, tapi juga bagian dari masa lalu yang ia cari mati-matian. Kirana, "Mentari Kecilnya" yang dulu ia kira telah tiada, kini kembali, bukan sebagai gadis kecil rapuh, melainkan sebagai wanita kuat yang berani melindunginya.

"Kita harus membalas mereka, Nana," kata Axel, tekadnya kini semakin membara, bukan hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk Kirana. "Kita akan menghancurkan Reno dan jaringannya."

Kirana mengangguk. "Aku sudah menyiapkan beberapa data penting. Mereka memang canggih, tapi mereka meninggalkan jejak. Aku bisa membantumu mengungkap semuanya, Kak. Tapi kau harus hati-hati. Mereka sangat berbahaya."

Pertemuan tak terduga ini telah mengubah segalanya. Axel tidak lagi sendirian dalam perjuangannya. Ia memiliki Kirana, sekutu tak terduga yang membawa serta kehangatan masa lalu dan harapan untuk masa depan. Perjalanan ini akan sulit, penuh bahaya, namun dengan Kirana di sisinya, Axel merasa lebih kuat dari sebelumnya.

Mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam di kafe itu, merencanakan langkah selanjutnya. Axel menceritakan detail tentang strukur perusahaan, direksi yang dicurigai, dan sistem keamanan yang telah dibobol. Kirana menjelaskan tentang pola-pola peretasan, jalur data yang bocor, dan potensi bukti yang bisa mereka kumpulkan.

Di luar jendela kafe, mentari bersinar cerah. Rasanya seperti kehidupan baru yang dimulai, dengan Kirana sebagai sumber cahayanya. Axel tahu, ini bukan hanya tentang bisnis lagi. Ini tentang keadilan, tentang penebusan, dan tentang kesempatan kedua bagi cinta yang dulu ia kira telah hilang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Terinspirasi oleh simbol reinkarnasi bunga teratai, tujuh pemuda dengan kekuatan mistik luar biasa disatukan dalam satu tim khusus. Di bawah bimbingan Sagara Widyatama, mereka menjalani latihan keras demi menstabilkan dunia supranatural yang sedang kacau. Namun, misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bukan sekadar pertarungan fisik. Kehadiran Sagara perlahan membuka tabir rahasia mengenai hubungan mendalam mereka di kehidupan masa lalu yang misterius.
Sampul Novel Luna Baru Alfa-ku: Hidup yang Dirampas, Pasangan yang Ditelantarkan
9.6
Terbangun dari tidur terkutuk selama lima tahun, aku mendapati Kaelan, Alpha-ku, telah menggantikanku dengan seorang Omega. Keluargaku sendiri menyatakan aku mati secara hukum demi melantik Luna baru. Bahkan anakku lebih memilih wanita itu dan mengharapkan kematianku. Saat aku sekarat setelah dicelakai, Kaelan justru menguras darahku demi menyelamatkan kekasihnya. Melihat pengkhianatan mereka, aku sadar keberadaanku hanyalah beban bagi kebahagiaan mereka.
Sampul Novel DANGEROUS MAN
9.8
Athur Paker adalah CEO ternama sekaligus mahasiswa dengan sisi gelap yang haus darah. Hidupnya yang dingin berubah saat ia terobsesi pada Shena, gadis ceria yang berani menolak ajakannya. Meski ditolak, Athur menggunakan paksaan demi mengklaim Shena sebagai miliknya. Kini, hidup tenang Shena hancur dalam jeratan sang psikopat yang tak bisa ia hindari. Namun, rahasia masa kecil mulai terungkap. Akankah identitas asli Athur membawa petaka baru bagi Shena?
Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius berusia 18 tahun, terjebak dalam pusaran maut setelah menyaksikan pembunuhan cinta pertamanya oleh bos mafia, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai tersangka, Anne diculik Marcio ke Spanyol untuk dilatih secara fisik. Meski awalnya berniat membalas dendam dengan mendekati Marcio, Anne justru jatuh cinta. Konflik memuncak saat Iosef, musuh Marcio yang posesif, menyelamatkannya. Kini Anne tumbuh menjadi pembunuh tangguh yang harus memilih antara dendam atau komitmen hati.
Sampul Novel Geger di Bhumi Manggala
8.2
Suara tangis Tadah Asih memecah kesunyian di bawah langit Kilen yang semerah darah. Seorang petapa waskita menangkap pertanda buruk tentang masa kelam yang akan melanda Bhumi Manggala. Di sisi lain, sebuah kerajaan berduka atas gugurnya sosok bangsawan mulia hingga memicu aksi bela pati para prajuritnya. Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda berdiri tegak dengan amarah membara. Ia melangkah pergi membawa dendam membara saat dunia di sekitarnya mulai runtuh.
Sampul Novel Godaan Bini Orang
8.7
Masa lalu kelam Rhido kini membayangi pernikahan bahagianya dengan Lisda. Saat Lisda hamil, gangguan mistis misterius membuatnya kesakitan tiap kali berhubungan intim. Rhido yang berusaha setia terpaksa menahan diri hingga tugas kerja membawanya ke pedalaman Jawa dan Kalimantan. Di sana, godaan nafsu terus menguji imannya. Mampukah sang mantan bajingan ini menjaga kesetiaan, ataukah teror gaib masa lalunya akan menghancurkan nasib istri dan bayinya?