Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan

Anara Alfhatunnisa Zayba terpaksa menjalani pernikahan pahit dengan pria mapan yang justru meninggalkannya sendirian di malam pertama demi alasan pekerjaan. Harapan akan kebahagiaan sirna saat ia harus menghadapi mertua yang cerewet serta saudara ipar yang egois. Ditambah lagi, dugaan perselingkuhan sang suami semakin memperkeruh suasana. Merasa frustrasi dengan perlakuan keluarga barunya, Anara akhirnya bertekad kuat untuk mengubah arah hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Di saat alur hidupmu tak sesuai rencana, yakinlah bahwa Tuhan lebih tahu yang mana lebih baik untuk dirimu” _ Anonim.

***

“Kau kembali berselisih dengan Ibu dan Mira?” Aku mengerjap lalu menatapnya sejenak.

Bukan hanya mertua dan ipar, lelaki yang ada di hadapanku saat ini pun sering membuatku frustrasi. Pernikahan yang baru menginjak tahun pertama tak bisa kukatakan baik-baik saja.

Sebulan setelah menikah dengannya aku dikagetkan dengan kenyataan, bahwa dirinya ternyata memiliki perempuan lain. Pantas saja, di malam pertama pernikahan, ia tak menyentuhku dan segera bergegas keluar dengan alasan pekerjaan. Alasan yang tak masuk akal, sepertinya hanya dia yang bekerja di malam sakral bagi pengantin baru.

Dan sekarang, aku pun tahu alasan di balik segalanya, suamiku lebih memilih menjamah wanita lain dibanding diriku. Ironis, apakah diriku tak menarik di matanya? Sebagai wanita aku merasa tidak jelek, tinggi semampai, kulit kuning langsat, dan memiliki tubuh yang cukup bagus. Memuji diri sendiri tak apa, kan? Siapa lagi yang akan memuji, jika bukan diri sendiri?

“Jangan terlalu keras pada mereka,” sahutnya lagi sambil melepas kancing di lengan kemejanya.

Aku menatapnya sinis. “Harusnya, Mas, ngucapin kalimat itu pada mereka. Aku tak pernah keras pada mereka, malah sebaliknya, merekalah yang kasar padaku,” aduku padanya.

“Kata Ibu kau yang tak ingin diberi masukan.” Aku mendengus kesal, bagaimana bisa dirinya terlalu percaya dengan orang tua itu.

“Coba, deh, Mas. Saat hari libur, Mas tinggal di rumah, sekali aja. Supaya Mas tahu bagaimana perlakuan mereka padaku? Tolong jangan menutup mata hanya karena Mas nggak cinta sama aku,” timpalku dengan wajah garang yang sudah tak bisa kutolerir lagi.

“Kamu, kok, ngomong gitu sih, Ra? Untuk apa aku menikahimu jika aku tak mencintaimu,” elaknya mengalihkan pandangan dariku.

Aku tahu arti tatapan itu. Ketika seseorang berbohong, ia tak akan bisa menatap mata lawan bicaranya. Meski usia pernikahan kami yang baru seumur jagung, tetap saja aku sudah paham betul dengan arti tatapan dan gestur yang ia lakukan.

Aku mendecakkan lidah. “Sudahlah Mas, aku tak ingin melanjutkan perdebatan ini lagi.” Aku segera keluar dari kamar. Ruang kerja almarhum ayah mertuaku menjadi tujuanku saat ini.

Ruang kerja yang sebenarnya mirip perpustakaan mini, bernuansa coklat dengan rak kayu jati membuatku merasa nyaman. Bau buku yang selalu menjadi obat penenang kala rasa marah merajaiku. Ruangan ini selalu menjadi tempat persembunyianku saat aku tak ingin diganggu.

Sebelum Pak Sudrajat—ayah mertuaku— meninggal, ia memberikan kunci ruang kerjanya yang berada di belakang rumah. Bangunan kecil yang terpisah dari rumah utama. Mertua dan iparku tak pernah berkunjung, dengan alasan tak ingin teringat tentang beliau. Sehingga hanya akulah yang membersihkan tempat ini.

Ayah mertuaku sangat baik padaku, beliaulah yang membelaku saat Ibu Maya dan Mira menindasku. Karena beliau pulalah, sehingga Mas Agung memilihku menjadi istri, ketimbang Lidya yang saat itu menjabat sebagai kekasihnya.

Tak heran setelah pernikahanku, Lidya selalu menerorku dan melontarkan kata-kata kasar setiap kali kami bertemu. Ya, kami sering bertemu karena berada di kompleks perumahan yang sama. Yang pada akhirnya kuketahui, bahwa ia memilih pindah agar Mas Agung dengan mudah mengunjunginya.

Meski setiap malam Mas Agung selalu berada di rumah, tetapi tak menutup kemungkinan, bahwa ia akan bertemu dengan Lidya di hari kerja. Jika ditanya, apakah aku cemburu? Jawabannya sudah pasti iya.

Meski dijodohkan, aku tak menampik bahwa sekarang rasa suka itu telah ada. Apakah setiap wanita gampang jatuh hati jika telah menetap bersama? Ataukah hanya hatiku yang terlalu gampang menumbuhkan bibit cinta, meski aku tahu bahwa dia telah memiliki wanita lain.

Aku harus menerima cinta yang bertepuk sebelah tangan ini, yang dipastikan tak memiliki harapan sama sekali. Jika ditanya lagi, mengapa aku masih bertahan? Jawabannya mungkin terdengar bahwa aku hanya mencintai uang. Memang betul, siapa yang tidak menyukai uang? Bahkan aku sendiri rela mengubur masa indahku demi mendapat sponsor untuk kuliahku.

Ayahku yang sakit-sakitan tak mampu membiayai kuliahku, sehingga aku terpaksa menerima perjodohan ini. Perjodohan yang telah disepakati oleh ayahku dan ayah mertuaku saat aku masih duduk di bangku SMA.

Jika menerima perjodohan ini, sudah dipastikan bahwa aku akan mendapat suntikan dana untuk melanjutkan pendidikan yang kini berada di semester akhir. Meski memilih jurusan yang tak kusukai, tapi aku berkuliah dengan sungguh-sungguh. Sayang rasanya, telah menghabiskan banyak uang jika aku menjalaninya dengan setengah hati.

Getaran ponsel menyadarkanku dari lamunan yang sedari tadi kugeluti. Kulirik layar ponsel dengan model terbaru, pemberian Mas Agung tempo hari yang membuat Mira ketar ketir. Sehingga ia segera merengek ke ibunya agar dibelikan ponsel yang lebih mahal. Alhasil, wanita cerewet itu mendapat omelan dari Mas Agung, karena ponsel yang ia pinang di konter terdekat baru berusia dua bulan.

“Kau di mana?” Kubaca pesan singkat suamiku. Jelas itu hanyalah sebuah formalitas yang mungkin hanya sandiwara semata.

“Aku sedang merevisi skripsi, dan membutuhkan ketenangan.” Kukirim balasan untuk pesannya dan segera mematikan ponselku. Aku tak peduli dengannya. Ia juga tak akan marah dan khawatir jika aku tak ada di sisinya.

Aku cukup muak dengan perhatiannya yang menurutku semu, Mas Agung seperti menutup mata dengan ketidaknyamanan yang selama ini kurasakan. Rasa cintaku padanya tertutupi dengan sejuta kekecewaan yang ia ciptakan untukku. Istri mana yang tak marah jika suaminya tertangkap basah bergandengan dengan wanita lain? Tak kecewa melihat suaminya tersenyum semringah menatap gadis lain, yang istri sah saja tidak pernah mendapatkannya.

Aku pernah berkunjung ke salah satu kafe terkenal di daerahku, untuk menemui para sahabatku. Niat awal ingin refreshing, justru membuatku makin over thingking. Mas Agung tak melihatku, tapi aku juga berusaha agar tak terlihat olehnya. Untung saja para sahabatku tak memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Mereka mengira kehidupan pernikahanku baik-baik saja seperti para pasangan pada umumnya.

Aku terperanjat dari lamunanku, saat mendengar suara daun pintu terbuka. Kulebarkan bola mata ketika melihat Mas Agung berada di ambang pintu. “Untuk apa lagi dia kemari?” batinku bergemuruh.

“Kau mematikan ponselmu?” Ia menghampiriku dengan air muka khawatir.

Khawatir? Ah, tidak mungkin! Dia hanya lelah sehingga wajahnya terlihat lesu. Berharap bahwa laki-laki itu akan khawatir padaku, sepertinya harapan yang terlalu tinggi dan mustahil kudapatkan.

“Lowbat kayaknya,” bohongku berusaha mengelak. Aku berdiri mengambil salah satu buku di rak.

“Kau sedang apa di sini?” Matanya menelusuri setiap sudut ruangan ini.

Aku menunjuk laptop yang telah menyala di atas meja. “Tuh, buat skripsi,” sahutku singkat lalu kembali duduk.

Aku kembali fokus pada aktivitasku, membuka halaman demi halaman buku yang sedang kupegang, mencari informasi yang kubutuhkan. Jantungku berdegup kencang, menjelaskan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja berada di dekatnya. Namun, aku berusaha untuk terlihat santai, memusatkan fokusku ke buku.

Suara langkah kakinya mengacaukan konsentrasiku, kulirik sepatunya yang makin mendekat ke arahku. Ia menarik kursi yang berada di sampingku dan duduk di sana. Kutatapnya sekilas, guratan letih jelas terlihat di wajah tampannya.

“Ada yang bisa kubantu?” tawarnya yang kubalas dengan gelengan. Meski kutahu bahwa dia juga alumni jurusan yang sama, bedanya, dia di New York sedangkan aku di Depok. Namun, lagi-lagi egoku menolak menerima bantuannya. “Mengapa kau sangat keras kepala?” Terdengar decakan di seberang telingaku, dan kuyakini bahwa sekarang ia merasa kesal.

Aku hanya terdiam tak menanggapi, mulutku seperti memiliki beban sehingga sulit bergerak.

“Anara! Mengapa kau seperti ini? Pantaskah seorang istri mengabaikan suami?” Ia tiba-tiba berdiri dan meneriakiku.

Aku mendongak menatapnya. “Suami?” Aku ikut berdiri. “Oh iya, aku lupa kalau kita sudah menikah.” Kutepuk jidatku berpura-pura tak ingat.

Wajah gusar Mas Agung membuatku tak berkutik, sekarang aku tak takut padanya. “Maumu apa, Nara?” ucapnya penuh penekanan, berusaha menekan suaranya agar terdengar tetap stabil, padahal aku yakin bahwa sekarang ia ingin berteriak mengeluarkan amarahnya.

“Aku ingin keluar dari rumah ini?” ujarku santai, lalu mematikan laptop dan menentengnya.

“Baiklah, kita akan pindah besok, kemasi barang-barangmu.”

Mataku membulat, terkejut dengan penuturannya.

“Wah, aku sangat senang mendengarnya, tapi sayang, bukan itu maksudku.” Kulangkahkan kaki berniat meninggalkannya.

“Lalu?”

Aku yang telah membuka pintu segera berbalik. “Aku ingin bercerai.” Kututup daun pintu dengan keras.

“Cerai? Jangan harap! Kau tak akan pernah bercerai denganku,” berangnya yang terdengar jelas di telingaku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Cinta Terlarang
8.0
Maya adalah arsitek sukses yang memiliki segalanya, namun hidupnya terasa hampa meski sudah bertunangan dengan Daniel. Segalanya berubah saat ia bertemu Ethan, pengusaha karismatik yang memicu gairah terpendamnya. Mereka terjebak dalam perselingkuhan membara yang penuh risiko. Di tengah kecurigaan Daniel yang mulai menguat, Maya dihantui rasa bersalah. Kini ia harus memilih antara kenyamanan hidup lama atau mengejar cinta terlarang yang bisa menghancurkan dunianya.
Sampul Novel DENDAM SI PELAYAN SEKSI
9.4
Kehidupan Daren dan istrinya, Carolina, terganggu oleh mimpi buruk yang terus berulang. Kehadiran Eliana sebagai pelayan baru membawa godaan yang membuat Daren terpesona sekaligus memicu ingatan asing. Eliana sebenarnya datang membawa misi balas dendam untuk menghancurkan Daren. Namun, seiring rahasia masa lalu terungkap, ia justru mulai terpikat oleh sang majikan. Akankah dendam Eliana sirna karena perasaan, atau misinya tetap berjalan tuntas?
Sampul Novel Istri Cadangan
9.8
Nadia hancur saat memergoki suaminya, Reza, bermesraan dengan Karina di kamar tamu rumah mereka sendiri. Alih-alih menyesal, Karina dengan angkuh mengklaim cinta Reza, sementara Reza justru meminta izin untuk menikahinya. Meski dikhianati secara keji, Nadia menolak untuk hancur dan menyerah. Dengan tekad yang membara, ia bangkit menghadapi penghinaan itu dan bersumpah akan membalas rasa sakit hati serta pengkhianatan mereka dengan tuntas.
Sampul Novel Jangan Hancurkan Hatiku
8.2
Evelyn Carter dianggap wanita paling beruntung saat dipersunting Victor Blake, pewaris aristokrat Beaumont yang berjanji melindunginya meski ia memiliki kekurangan fisik. Namun, kebahagiaan itu hancur saat Evelyn mengungkap fakta kelam bahwa suaminya sendiri yang menyebabkan cacat pada kakinya. Merasa dikhianati oleh pria yang sangat ia percayai, Evelyn kini bertekad bangkit dari keterpurukan dan memulai lembaran hidup baru demi membalas semua kepedihannya.
Sampul Novel Ranjang Panas Istri Kedua
8.2
Dalam keheningan kamar yang pengap, Bella terhanyut dalam gelombang gairah saat berada di bawah dekapan Bram. Jemarinya mencengkeram sprei dengan erat seiring deru napas yang kian memburu. Setiap sentuhan intens dari suaminya memicu rintihan penuh kenikmatan yang tak sanggup ia bendung lagi. Bram terus memacu adrenalin sang istri, menikmati setiap reaksi tubuh Bella yang gemetar hebat. Suara ranjang yang berderit menjadi saksi bisu permainan panas mereka malam itu.