Sampul Novel Menantu Yang Tak Diinginkan

Menantu Yang Tak Diinginkan

8.3 / 10.0
Anara Alfhatunnisa Zayba terpaksa menjalani pernikahan pahit dengan pria mapan yang justru meninggalkannya sendirian di malam pertama demi alasan pekerjaan. Harapan akan kebahagiaan sirna saat ia harus menghadapi mertua yang cerewet serta saudara ipar yang egois. Ditambah lagi, dugaan perselingkuhan sang suami semakin memperkeruh suasana. Merasa frustrasi dengan perlakuan keluarga barunya, Anara akhirnya bertekad kuat untuk mengubah arah hidupnya.

Menantu Yang Tak Diinginkan Bab 1

Aku mendesah frustasi, saat tak menemukan namaku di daftar pemenang. Sesulit itukah? Atau diriku yang tak tahu membuat cerita menarik? Sehingga karyaku tak pernah dilirik oleh editor. 

Sangat sulit bagiku untuk mendapat info lebih tentang cara menulis, membaca artikel saja tak cukup. Sehingga aku mengunduh hampir semua platform novel online, agar aku membaca banyak cerita yang berbeda. 

Kadang aku merasa iri dengan orang-orang yang dengan gampang masuk  list pemenang lomba. Aku hanya bisa menghibur diri dengan kalimat, "Jangan berkecil hati, mungkin saja mereka juga pernah melalui apa yang kau lalui, ini hanya masalah jam terbang".

Aku sudah mencoba segala pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, mulai dari membuat kanal Youtube, mengupload video original di salah satu aplikasi kumpulan video pendek, bahkan aku juga menjual jasa melukis henna craft. Namun, lagi-lagi tak ada yang berhasil. Sesial ini kah diriku?  Apakah Tuhan lupa, membuat naskah tentang kebahagiaan untukku? Ataukah malaikat melewatkan namaku saat pembagian rezeki?

Memiliki kepribadian Introvert menjadi penghalang, circle pertemanan terbatas, sehingga sulit untukku mencari bahan untuk dijadikan sebuah cerita. Rasa malu dan tak enak hati akan melanda saat ingin menggali ide dari teman atau keluarga.

Pernah sekali, aku mencoba bertanya pada kerabat yang berprofesi sebagai prajurit bela negara. Akan tetapi, ia menolak dengan alasan ‘rahasia negara’, padahal tak ada yang salah dengan isi pertanyaanku. Setelah itu, dia membicarakanku dan membuat cerita di story Instagramnya, menjelekkanku karena berani mengorek tentang sebuah rahasia negara. Sementara, aku hanya bertanya tentang pangkat dan syarat menikah bagi seorang prajurit.

Seberapa banyak naskah yang kukirim, selalu ditolak dengan kalimat, "cerita sudah bagus dan gaya penulisan yang rapi. Namun, cerita Anda tak sesuai dengan gaya platform kami". Pertama kali mendapatkan penolakan, membuatku tak pantang menyerah, aku kembali merevisi dan membuat naskah baru. Akan tetapi, berita yang tak menyenangkan itu terus berdatangan membuatku kerap berputus asa.

Aku hanya bisa menangis di pojokan saat kekecewaan lagi-lagi menyerangku. Tak hanya mengirim naskah, aku juga mengikuti beberapa kompetisi di media sosial, tapi lagi-lagi tak ada harapan untuk penulis pemula sepertiku. 

Saat mereka bertanya mengapa aku ingin menulis, jawabanku pasti hanya satu, karena aku ingin mencari uang dan pengakuan dari orang-orang yang meremehkanku. Hanya ini yang bisa kulakukan, duduk berdiam di depan laptop jadulku. 

Aku tak pandai bersosialisasi, sehingga aku tak suka bekerja di toko atau terjun ke pekerjaan yang sering orang-orang sebut ‘Multilevel Marketing’, yang mengharuskan untuk lihai berbicara di depan banyak orang. Kuliahku masih stay di semester akhir, sehingga aku tak bisa mencari pekerjaan kantoran. Dan aku tak punya keterampilan tangan seperti kakakku, yang pandai menjahit dan mendesain pakaian.

Aku hanya bisa menciptakan karangan yang ayahku saja menganggapnya sampah. Ia selalu merendahkan keputusanku, mengatakan bahwa aku tak berguna. Beliau selalu membandingkan dengan kakakku yang memiliki banyak penghasilan.

Bukan hanya beliau, mertua dan iparku juga ikut memojokkanku. Mereka akan berteriak jika aku berdiam diri di kamar. Sehingga menyulitkanku untuk berkonsentrasi. 

Bukan mauku untuk menikah di usia muda, perjodohanlah yang menjadi penyebab statusku harus berubah. Aku pernah berpikir, kemungkinan orang tuaku punya utang yang tak sanggup mereka bayar, sehingga akulah yang dijadikan jaminan. Namun, aku sadar hidupku bukanlah cerita sinetron.

Hidup di keluarga suami yang memiliki perekonomian memadai, menjadi sebuah bumerang bagiku. Mereka sering menganggapku beban hidup bagi suami. Bukankah tugas suami untuk menafkahi istrinya? Lantas, mengapa mereka yang sibuk mengurusi keuanganku?

Suamiku sebenarnya baik, tetapi karena terlalu patuh kepada ibunya, ia juga ikut-ikutan keras padaku. Menomor satukan orang tua memang tak masalah. Namun, kebahagiaan istri juga sangatlah penting dan menjadi patokan kesuksesan seorang suami. 

Pernah sekali, suamiku meminta izin untuk pindah ke rumahnya saja—rumah yang ia beli saat masih bujang—mengikuti kemauanku. Namun, mertuaku melarang dengan alasan adik perempuan suamiku juga sering berkunjung ke rumah mertuanya, sehingga tak ada yang menemani dan mengurusnya di rumah. Lagi-lagi aku mengalah, bukan karena takut kepada mertua, tapi aku menghargai dan menghormati keputusan suamiku. 

“Tak usah banyak kerja, kau istirahat saja. Jangan memaksakan diri, aku tidak akan marah jika kamu tidak membersihkan dalam sehari.” Perkataannya saat itu membuatku sedikit lega, karena aku mengira, bahwa mertuaku adalah orang yang pengertian. Namun, ternyata aku salah. Saat itulah awal cerita, bagaimana mereka menyebarkan berita yang tak benar tentangku.

***

Anara Alfathunnisa Zayba—itu namaku. Indah bukan? Tapi tak seindah kehidupanku. Semenjak pindah ke rumah mertua, aku tak pernah tertawa, tak pernah bercanda, apalagi bercengkrama bersama keluarga dari pihak suami.

Karena itulah, aku sering berbohong agar bisa keluar dari rumah yang mirip penjara. Ralat, sepertinya penjara akan lebih nyaman dibanding rumah mertua. 

“Nara! Di mana baju gamis biru yang kau cuci tempo hari?” teriakan mertuaku menghentikan aktivitasku. Sejak menjadi menantu, semua pekerjaan rumah dialihkan padaku. Ibu mertua sengaja tak melanjutkan kontrak pembantu sebelumnya, sebab aku sudah ada di rumah itu. Terkadang, aku merasa menjadi pembantu berkedok menantu. 

“Di lemari, rak kedua sebelah kiri, Bu,” sahutku yang masih berada di dapur, menggoreng ikan asin kesukaannya.

“Kau menyuruh Ibu mengambilnya sendiri, menantu macam apa kau ini? Dasar pemalas!” gerutu Mira—adik suamiku. 

Mira memiliki usia yang terpaut dua tahun di atasku, membuatnya tak ingin menghormatiku, padahal aku adalah istri kakaknya. Secara terang-terangan ia telah mengibarkan bendera perang padaku.

“Aku sedang memasak, mengapa bukan kau saja yang membantunya?” Aku meliriknya sekilas. Kulihat ia membulatkan mata terkejut mendengar ucapanku. Sebelumnya, aku tak pernah membantah ucapan Mira dan ibu, tetapi kali ini, aku tak ingin terus menerus direndahkan. 

Semakin aku diam, semakin mereka menginjakku. Selama ini aku tak takut. Namun, aku memilih untuk diam karena tak ingin mencari masalah. Akan tetapi, kesabaranku sepertinya sudah menipis. 

Gelar menantu pembangkang dan pemalas sudah tertanam di pikiran orang-orang yang tak tahu menahu kebenaran. Mereka seakan terlalu asyik bercerita tentang orang lain, tanpa harus bertanya tentang kebenarannya. Mengapa? Karena bergosip adalah kesenangan bagi orang-orang yang tak memiliki pekerjaan, bagi mereka kebenaran tidaklah penting.

“Kau sudah berani membantah? Siapa yang mengajarimu? Kau harusnya tahu diri, tugas menantu memang seperti itu, bukan?” Mira mendekap kedua lengannya dan memberiku tatapan merendahkan. 

Aku segera mematikan api kompor. “Apakah kau juga dijadikan pembantu di rumah mertuamu?” 

“Jelas tidak! Mengapa aku harus repot mengotori tanganku untuk memberi mereka makan?” 

Aku tersenyum miring menanggapi ucapannya, untung saja suara dengusanku tak terdengar. Ia tak ingin mengotori tangannya di rumah mertua, tetapi menyuruhku mengotori tanganku di rumahnya. Sungguh egois, hanya memikirkan diri sendiri.

Aku segera meninggalkan Mira yang masih saja bercerita tentang kelebihannya di antara para saudara suaminya. Terlahir dari keluarga yang mampu, membuatnya buta akan kekurangan diri sendiri. 

Segera kuhampiri ibu mertuaku yang terlihat kesulitan mencari baju di lemari yang menurutku sangat besar. Apakah ia ingin menyaingi lemari selebriti kelas atas? Baju yang begitu banyak, apakah terpakai di kondisinya yang sudah menua? Sering kali diriku tersenyum kecut melihat mereka menghamburkan uang demi sehelai baju yang hanya terpakai beberapa kali saja. 

“Jika kau ingin ke suatu tempat, pakai saja baju Mira, tak usah beli lagi. Jangan menghamburkan uang,” petuahnya yang kubalas anggukan.

Lebih baik aku memakai baju lamaku daripada harus memakai baju Mira, dan berisiko menjadi bahan ejekan para tetangga. Sudah dipastikan, bahwa Mira akan menceritakan hal itu pada tetangga dan memberinya bumbu sambal pedas mercon,  agar ceritanya terdengar dramatis. Seperti yang sudah lalu. Dia yang menawarkan, tapi dia pula yang menyebarkan berita palsu bahwa aku iri dengan kehidupannya. Sampai baju pun aku memaksa agar ia meminjamkan padaku. 

“Kau juga harus berpenampilan menarik, jangan hanya memakai baju yang itu-itu saja,” omelnya yang lagi-lagi kutanggapi dengan senyuman.

Padahal, dia yang melarangku untuk membeli baju baru, tetapi dia juga yang menyuruhku untuk berpenampilan layaknya orang kaya. Orang berkelas tidak dilihat dari seberapa mahal baju yang ia kenakan atau seberapa terkenal brand yang menempel di tubuhnya. Melainkan dari isi kepala, attitude, manner dan karaktermu sendiri.

“Apakah novelmu sudah selesai? Katanya menjadi penulis punya banyak uang, bukan? Lantas mengapa kau masih bergantung pada kakakku?” Lagi-lagi si Nenek Lampir itu kembali menghampiriku.

Untuk apa kakaknya menikah denganku jika kebutuhan hidup pun harus aku yang mencari?

“Bukankah tugas suami untuk memberi nafkah kepada istri. Kau juga seperti itu, kan?” tanyaku dengan nada mengejek. “Oh iya. Meski sudah menikah kau masih bergantung pada orang tua, bukan?” lanjutku sambil menutup mulut berpura-pura syok akan kenyataan itu.

 Plak!

“Beraninya kau!” teriakan beserta tamparan mendarat tepat di pipi kiriku. “Dia anakku, wajar jika aku membantunya. Daripada kau, tak memiliki ibu sehingga tak ada yang menjadi sandaranmu.”

Sakit? Tidak! Aku sudah kebal dengan segala bentuk pukulan fisik. Justru ucapannyalah yang membuatku kesakitan. Bukan mauku tak memiliki ibu, bukan kehendakku sehingga ibu pergi meninggalkanku. Aku juga merindukan sosoknya, tapi Tuhan sepertinya lebih menyayangi beliau. Ibu sudah tenang di sana, ia tak merasa kesakitan lagi.

“Ingat, Nara! Kau hanya benalu di rumah ini, seandainya Lidya saja yang menjadi menantuku,” harapnya yang kuaminkan dalam hati.

“Jika Lidya yang menjadi menantu perempuan di rumah ini, Ibu harus mempekerjakan asisten rumah tangga. Karena ia tak akan mau mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mengotori tangan cantiknya,” balasku dengan suara yang meninggi.

“Kau ... masih saja membantah. Dasar! Wanita tak tahu diri!”

Ya, sebut saja aku seperti itu. Hanya aku yang hina, hanya aku yang tak pantas berada di keluarga ini. Keluarga toxic yang tidak ingin menghargai orang lain. Bagi mereka harta adalah segala-galanya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Menantu Yang Tak Diinginkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berubah drastis saat ia mengetahui fakta mengejutkan di kampusnya. Ezza, pria yang dijodohkan orang tuanya dan kini telah resmi menjadi suaminya, tiba-tiba muncul sebagai dosen baru di sana. Kehadiran Ezza yang tak terduga di lingkungan akademisnya memicu tanda tanya besar bagi Bunga. Ia pun mulai meragukan alasan di balik keputusan suaminya tersebut. Apakah Ezza memiliki motif tersembunyi atau ini hanyalah sebuah kebetulan belaka?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Keharmonisan rumah tangga Dewi mendadak hancur saat ia menemukan barang milik wanita lain tersimpan di dalam koper suaminya. Penemuan mengejutkan ini membawa Dewi pada serangkaian rahasia gelap dan tabiat buruk sang suami yang selama ini tersembunyi rapat. Di tengah rasa sakit hati yang mendalam, Dewi kini berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan dalam penderitaan, atau justru bangkit untuk membalas pengkhianatan tersebut?
Sampul Novel SRTJC
7.9
Selamat datang dalam kumpulan kisah unik yang merangkum dinamika kehidupan remaja masa kini. Di sini, logika seolah dikesampingkan demi aksi-aksi spontan yang tak terduga dan penuh kejutan. Setiap bab menyajikan potret autentik tentang perilaku absurd serta kelakuan nyeleneh anak muda di era modern. Ikuti perjalanan seru mereka yang penuh tawa dan kegilaan dalam menghadapi keseharian. Temukan bagaimana momen-momen paling mustahil menjadi nyata di cerita ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan