Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum

Menaklukan CEO Mesum

Bianca terjepit utang satu juta dolar akibat penggelapan dana ibunya. Demi membebaskan sang ibu dari penjara, ia menemui Steve Dvalton, CEO pusat di Singapura. Namun, negosiasi itu berubah menjadi tawaran gelap: Bianca harus menjadi pemuas nafsu Steve. Di tengah dilema antara kesetiaan pada kekasihnya dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa memulai hubungan panas yang penuh tipu daya. Steve merasa tertantang oleh kegilaan Bianca yang menggairahkan di ranjangnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sekarang Bianca bergerak gusar. Takut dan cemas meringkuk di bawah meja. Degup jantung serasa mencelos begitu mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat.

Tadi dia sudah menyiapkan mentalnya, tapi tetap saja dia merasa gugup. Ini adalah keputusan paling nekat dan berani yang pernah dia buat selama seperempat abad dia hidup di dunia.

Banyak pikiran buruk muncul. Bagaimana kalau laki-laki CEO itu marah akan sikap kelancangan yang dilakukan oleh Bianca.

Tentu saja. Siapa sih yang tidak akan marah menemukan seseorang yang diam-diam menyelundup masuk ke dalam ruang kantor tanpa izin dari penghuninya.

Demi apa pun. Bianca mencoba menjalankan ide gila yang muncul di dalam kepala tanpa pernah memikir akibat terburuk yang akan terjadi. Persetan dengan itu semua karena dia harus bertemu dengan CEO dari Dvalton group.

Bisa Bianca lihat dengan jelas sepasang sepatu berwarna hitam mengkilat yang sangat kinclong dan celana hitam senada dengan jas yang dipakai.

Dia hanya bisa melihat seperempatnya saja dan hanya dari pemandangan itu, dia sudah tahu kalau orang yang memakai stelan demikian adalah tipe parlente; Orang-orang berkelas yang biasanya kejam dan haus dengan seks.

Tuan Steve menarik kursi dan mendudukinya. Setelah itu dia menarik maju agar lebih dekat ke meja kerja.

Jarak Bianca dengan selangkangan pemimpin utama Dvalton group sangat dekat. Bahkan teramat dekat. Dia berusaha menahan napas, Bianca harus kuat dan yakin. Mengenyampingkan pikiran buruk yang menginterupsi saat ini atau kalau tidak, maka ibunya yang malang dan super baik itu akan menderita.

Dia harus membuat kesepakatan dengan Dvalton group.

Tuan Steve menggerakkan kaki, lebih dekat ke bawah meja. Menyebabkan selangkangan laki-laki itu tepat di depan mata Bianca. Gadis itu menahan napas, makin gugup dan takut. Gelembung besar yang menyembunyikan sesuatu di dalamnya membuat otak Bianca berpetualangan ke arah yang iya iya.

‘Pegang tidak ya? Kalau kupegang, apa orang ini akan mendesah atau teriak?’ batin Bianca penasaran.

Dia memaju-mundurkan tangannya di udara. Antara ingin mencengram atau tidak. Tiba-tiba di tengah kebingungan itu, Tuan Steve berdeham. Membuat Bianca kaget setengah mati.

Mata Bianca terpejam. Keringat dingin sudah banjir menetes dari dahi. Gadis itu berpikir, mungkin Tuan Steve sedang sibuk memperhatikan layar laptopnya dan mungkin sedang mempelajari dokumen atau laporan lain yang harus segera dia tangani. Jadi dia tidak menyadari kalau ada sesosok gadis seksi yang bersembunyi di bawah meja sedang memandang selangkangannya.

Haruskan Bianca keluar dari persembunyiannya sekarang dan mengejutkan laki-laki itu? Atau bertahan saja? Bagaimana kalau ternyata Tuan Steve menyimpan sepucuk senjata di dalam laci dan menembak kepalanya. Tapi kalau dia bertahan, berapa lama dia harus menunggu. Sampai pulang? Tidak mungkin.

‘Keluar, tidak, keluar, tidak. Atau aku genggam saja rudalnya agar aku tahu ukurannya besar atau tidak? Aih, jangan. Ngapain coba,’ isi pikiran Bianca memenuhi kepala. Gadis itu bingung.

Saat akan menemukan jalan keluar lainnya, Tuan Steve berbicara, "Apa kau masih betah di sana?”

Dugh! Aww!

Suara kepala membentur meja terdengar.

“Kepalamu kejedug? Kau baik-baik saja?”

Tidak ada jawaban.

“Kalau kau masih betah di sana? Mau berapa lama? Apakah masih lama? Aku sudah tahu keberadaanmu daritadi," kata Tuan Steve.

Hening dan sunyi. Bianca yang merasa kepalanya cenat-cenut menutup mulut rapat. Matanya membola, jantungnya serasa mau pecah. Dia ketakutan level maksimal.

"Keluar saja. Aku sudah tahu kalau kau bersembunyi di sana."

Mata Bianca memejam. Dia terkesiap gugup. Baiklah, mau tidak mau dia harus keluar dari persembunyian, tapi dari mana rupanya pria itu tahu kalau dia sedang bersembunyi di bawah meja? Ah, cctv, tentu saja. Kenapa Bianca tidak berpikir sampai ke sana. Sialan!

Gadis itu akhirnya merangkak keluar dari kolong meja kerja CEO itu. Bianca berhasil berdiri, dengan memegang dua paha Tuan Steve dan menyeringai tak bersalah di depan laki-laki itu.

‘Sialan, dia tampan rupanya.’

“Selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu waktu anda,” ucap Bianca sopan.

“Menyingkir dari hadapan saya.”

“Ah, iya benar.” Bianca menggeser tubuh, menciptakan jarak sambil membetulkan baju ketat yang dia kenakan. Sementara mata elang milik Tuan Steve memandang sekilas tubuh seksi Bianca, lalu beralih menatap laptop.

Di momen ini. Bianca merasa seperti jalang yang mencoba untuk menggoda Tuan Steve. Hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, tapi demi sang ibu, Bianca sanggup melakukan itu.

Namun, bukannya mendapat sambutan. Justru Tuan Steve malah mengambil gagang telepon di meja kiri dekat dengan Bianca, tepat di hadapan gadis itu. Dia menekan tiga kali tuts angka dan Bianca sadar jika dirinya dalam bahaya.

Tuan Steve sedang memanggil keamanan.

"Security, tolong ke ruanganku sekarang juga. Ada penyus—"

Bianca dengan cepat memencet tombol pengair percakapan di telepon line itu. Degup jantungnya bertalu-talu, dia cemas bukan main, tapi memaksa untuk menyungging senyum.

"Tolong jangan panggil keamanan terlebih dahulu. Aku mohon." Dia menangkupkan dua tangan mengiba. Setelah itu membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena gerakan cepat saat memutuskan percakapan di telepon line tadi.

Dia sangat seksi. Amat sangat seksi dan Bianca yakin dengan tubuh indah yang dimilikinya dia pasti bisa meluluhkan hati CEO bajingan ini. Gadis itu sengaja mengikalkan rambut panjang yang dia miliki. Di belah pinggir dan di letakkan di depan sisi tubuhnya.

Bianca memakai sebuah gaun terusan brenda berwarna merah terang model sabrina, dengan korset berwarna hitam pekat di luarnya. Dia juga memakai sepasang sepatu heels tinggi berwarna senada dengan gaun yang digunakan. Bibir tebal berisi yang dioles dengan lipstik merah.

Memang tema pakaian yang dia kenakan hari ini sangat memprovokasi, memiliki niat untuk menggoda sang CEO yang katanya brengsek dan pemain wanita.

Namun, lagi dan lagi Bianca harus menelan kecewa. Bukannya terpesona, Tuan Steve malah menatapnya datar. Seolah sama sekali tidak tertarik dengan Bianca yang sudah berdandan maksimal.

"Kau menyusup ke dalam kantorku dan aku tidak boleh mengusir orang sepertimu? Kenapa?"

Suaranya tenang dan datar. Seksi dalam artian yang membuat sesuatu bergetar di bawah perut. Astaga hanya dengan suaranya saja, Bianca pikir laki-laki ini mampu membuat banyak wanita di luar sana orgasme.

"Ak-aku sungguh minta maaf," katanya dengan wajah panas. "Tapi aku hanya ingin meminta beberapa menit dari waktu yang kau miliki."

"Beberapa menit? Meminta? Kau pikir aku akan meluangkan waktu untuk orang sepertimu?" tanyanya dengan suara yang tinggi. Kali ini Tuan Steve sama sekali tak lagi terlihat seksi. Bianca jadi gemetar ketakutan.

"Ya, maaf. Aku tahu kau sibuk, tapi aku sangat butuh untuk bertemu denganmu, sebentar saja."

"Kau pikir kau siapa?"

"Aku Bianca Morista."

Dahi Tuan Steve berkerut, "Bianca. Siapa kau? Aku tidak kenal kau.”

"Aku?" Bianca menunjuk dirinya sendiri. "Aku hanya perempuan asing dengan lipstik merah yang sangat seksi," ucapnya sambil mengangkat kedua bahu.

Mati sudah. Ini adalah kiamat. Dan dia akan mati sebentar lagi. Kenapa dia menjawab pertanyaan penting itu dengan jawaban melantur.

Apa yang sebenarnya Bianca katakan barusan? Dan juga aksinya? Sikapnya? Bukankah itu semua adalah tindakan bodoh.

Kenapa sebelumnya tak ada yang memberitahu gadis itu kalau CEO perusahaan yang dikorupsi oleh ibunya begitu sangat tampan dan menggoda iman.

Bianca pikir Tuan Steve adalah pria tua bungkuk, dengan rambut memutih dan usia yang tidak jauh berbeda dari usia ibunya.

Tapi lihat apa yang ada di hadapannya saat ini? Tuan Steve sangat tampan dan seksi. Matanya berwarna abu-abu tegas, hidung mancung dan ramping, bibirnya tipis, dan badan yang kokoh seperti dihasilkan dari olah raga gym teratur.

Awwhhh, benar-benar sangat menggoda. Membuat sesuatu di bawah tubuh Bianca berdesir.

Tunggu! Cepat-cepat gadis itu menggeleng. Jangan, jangan, dan jangan. Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Dia tidak boleh tergoda oleh orang yang akan memenjarakan ibunya.

"Jadi apa tujuanmu sebenarnya kemari? Kau mau menjadi salah satu penghangat ranjangku atau bagaimana? Menjual dirimu sendiri, Nona?"

Sialan. Tujuan Bianca ke sini adalah untuk membahas hutang piutang. Siapa juga yang mau menjajakan diri. Memangnya dirinya adalah perempuan panggilan pemuas nafus seperti yang ada di novel-novel berjudul gairah sang CEO?

Bianca tidak terima. Dia marah.

"Iya, aku akan menjadi pemuas ranjangmu."

"Hah?!"

"Hah?"

Astaga, bicara apa dia barusan. Bianca membelalak, bukan itu maksudnya. Dia ingin terlihat sarkas, tapi malah seperti dirinya doyan.

Tuan Steve menyipitkan mata. "Ternyata memang benar ingin jual diri.”

Bianca yang terlanjur mengatakan itu menahan napas. Dia ingin membetulkan kesalahpahaman, tetapi sudah terlanjur ditanggapi oleh lawan bicaranya.

Tuan Steve berdiri, melonggarkan dasi dan menatap dengan ekspresi wajah penuh birahi. “Ayo, buka bajumu dan telanjang, kita lihat sehebat apa goyanganmu, perempuan.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun Jessica mengabdi sebagai istri, namun pengorbanannya dibalas luka mendalam. Setelah resmi menceraikan Aaron, ia bangkit secara mandiri menjadi desainer ternama dan pengusaha sukses tanpa bantuan harta keluarga. Saat Jessica menikmati puncak karier dan kebebasannya, Aaron justru datang kembali dengan penyesalan besar. Sang mantan suami memohon kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Akankah Jessica luluh atau tetap teguh pada pilihannya?
Sampul Novel Devil Beside You
8.1
Sergio Blanco menganggap nyawa manusia tak berharga hingga ia ditugaskan membunuh putri seorang miliarder. Rencana sang pembunuh bayaran goyah saat bertemu Hazel Afford, wanita bermata indah yang memikat hatinya. Meski Hazel awalnya jatuh cinta, ia kini muak dan berusaha kabur setelah tahu identitas asli Sergio. Namun, Hazel justru terjebak dalam permainan gairah yang berbahaya. Akankah Sergio menuntaskan misinya atau justru menyerah pada perasaan?
Sampul Novel Kehancuran Reputasi Raelynn Harper
8.4
Nama baik Raelynn Harper hancur akibat pengkhianatan Kyle Blackwood yang kabur dari janji pernikahan. Demi membalas dendam, Raelynn nekat mengancam Tristan Blackwood, direktur hiburan ternama sekaligus kakak Kyle. Namun, Tristan yang kaya dan berkuasa justru membalikkan keadaan. Ia memanfaatkan situasi ini untuk memaksa Raelynn menjadi istrinya. Alih-alih mendapatkan keadilan, Raelynn kini terperangkap dalam ambisi Tristan yang siap menghancurkan harga dirinya lebih jauh.
Sampul Novel Pembalasan Carly Hamilton
8.5
Carly Hamilton, seorang mantan penjaga bar yang hidup dalam kemiskinan, terjebak dalam pernikahan paksa dengan wanita dari keluarga konglomerat. Setiap hari, ia harus menelan hinaan dan cacian menyakitkan dari orang-orang di sekitarnya. Berbagai ujian berat terus menghantam hidupnya hingga sebuah titik balik besar terjadi. Saat keberuntungan berpihak padanya, Carly bangkit untuk membalas dendam dan membuat mereka yang merendahkannya berlutut memohon ampun.
Sampul Novel Pengasuh Duda Jutawan
7.9
Ditinggalkan suami saat melahirkan, Johanne Warrent terpaksa bekerja demi bayinya. Ia menjadi pengasuh Jhin, putra pemberontak Eduard Collen, jutawan duda yang dingin. Di tengah sikap arogan Eduard dan tekanan keluarga besarnya, Johanne berjuang memenangkan hati Jhin yang trauma. Namun, benih cinta yang tumbuh justru mengancam profesionalitasnya. Kini, ia harus bertahan menghadapi berbagai rintangan demi menjaga pekerjaan dan masa depan sang buah hati.
Sampul Novel Pernikahan Bukan Pilihanku
8.2
Mahardika Satria Wibowo terdesak tekanan sang ayah untuk mencari pewaris baru setelah putri tunggalnya wafat. Di sisi lain, Kirana Ayunda Putri yang baru berusia 19 tahun dipaksa menikah demi membiayai pengobatan ibunya yang terancam dihentikan oleh pamannya. Meski mencintai Bima Senjaya, Kirana terjebak dalam rumah tangga dingin. Ia harus menghadapi kebencian istri pertama Mahardika tanpa perlindungan sang suami. Sanggupkah Kirana bertahan di tengah penderitaan ini?