
Menaklukan CEO Mesum
Bab 3
“Aku tidak mau jual diri, siapa juga yang mau menjual diri,” sembur Bianca tidak terima.
“Oh, ya?” Steve justru semakin menekan gadis itu. menatapnya dengan pandangan menelanjangi.
Sialan, Bianca benar-benar sangat hot dan pandai berbicara sama seperti ibunya yang bajingan itu. Siapa yang sangka ternyata Linda menyimpan seorang putri yang begitu cantik dan seksi.
Steve jadi tidak tahan melihat dua bongkahan kenyal yang menyembul itu. Sangat menantang dan segar, ingin sekali Steve cicipi.
“Tapi kau cukup seksi untuk bisa dikategorikan sebagai gadis yang ingin menjual dirinya."
“Dalam mimpimu, Tuan Steve Dvalton. Aku memang seksi dari lahir, tapi bukan berarti aku ingin menjajakan diriku padamu.”
Seringai Steve terbentuk.
Semua yang keluar dari mulut Bianca benar. Bibir seksi merah yang menggoda. Steve tahu itu, bahkan tanpa perlu Bianca memberitahunya. Dia lahir untuk menjadi penggoda bagi laki-laki macam Steve dan Steve menyukainya.
Kemarin saat gadis itu datang Steve tidak sudi untuk menemui. Dia ingin memberi pelajaran dan lagi pula itu sudah menjadi urusan bank dan pengadilan bukan lagi menjadi urusannya.
Mau dia menangis meraung-raung sekalipun tetap saja ibu Bianca akan masuk penjara.
Steve tahu gadis itu menunggu hingga menjelang malam. Dia mendapatkan panggilan dari sekretarisnya bahwa dia diberitahu oleh resepsionis bawah ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan CEO Dvalton tanpa membuat janji.
Steve benci itu dan dia sudah pasti akan menolaknya. Dia tidak mau membuang-buang waktu untuk orang yang tidak perlu. Dan karena itulah sekretarisnya memarahi resepsionis malang itu, tetapi dia tetap menyampaikan laporannya pada Steve tentang kedatangan seorang gadis seksi bernama Morista.
Kemarin dia hanya menyebutkan nama belakangnya saja, jadi Steve langsung tahu kalau dia adalah putri dari Linda Morista. Steve semakin tidak ingin menemuinya. Namun siapa sangka, putri dari Linda Morista ternyata berbuat nekat begini.
Seorang gadis manis dan cantik dari Indonesia. Jauh-jauh datang kemari hanya untuk mencari Steve. Berniat ingin menemuinya dengan keyakinan bahwa Steve tidak akan segera mengenalnya.
Dasar bodoh, Tentu saja Steve langsung mengenalinya, karena sebagai anak bawahan kakeknya. Linda sudah dengan lihai dan lancang mengkorupsi uang perusahaan Dvalton group.
Gadis hot bernama Bianca ini benar-benar menggoda iman Steve saja. Dia terlihat begitu menyegarkan untuk dimakan, mata berwarna hitam bulat, lekuk tubuh yang seksi, dua bongkahan kenyal yang begitu penuh, kulit putih pucat dan kaki mulus jenjang bak model.
Dia pasti akan terasa sangat nikmat kalau—
Tunggu! Apa-apaan dia ini. Apa Steve baru saja terpesona olehnya dan memuji gadis itu. Begitukah?
Tidak, ini tidak boleh. Dia tidak boleh tergoda olehnya dan dia tidak boleh mengendalikan Steve menggunakan tubuhnya itu. Ya, Steve yakin sekali. Kalau gadis di hadapannya ini adalah tipe gadis penggoda yang memiliki banyak jurus untuk merayu.
Steve tidak boleh terpengaruh, tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa dikontrol oleh pikirannya dan malahan dia segera mengangkat pantatnya sendiri dari tempat duduk, berjalan mendekat pada Bianca yang berjarak tidak jauh.
“Kurasa aku sudah salah paham, kukira tadinya kedatanganmu ke sini karena ingin menggodaku. Rupanya aku salah,” kata Steve setelah lama hanya berdiam diri.
Bianca mengerutkan dahinya. “Maksud anda?”
“Ternyata aku yang tergoda dengan sendirinya.”
Steve maju beberapa langkah, mendekat pada gadis berbibir penuh dan merah itu.
Dan sialan yang benar-benar sial. Wangi tubuh Bianca langsung menguar masuk ke dalam paru-paru. Membuat Steve tak bisa menahan diri untuk menerkamnya.
“Apa yang mau kau lakukan? Jangan macam-macam?” Bianca memberi peringatan, tapi Steve mana peduli, lelaki itu terus saja mendekat mengikis jarak yang ada.
Dia rasa dia mulai gila saat tangannya tiba-tiba sudah melilit di pinggang Bianca sambil mendekatkan wajahnya.
“Kau sangat seksi, aku jadi tidak tahan.”
“Tidak tahan apa? J-jangan macam-macam, atau.”
“Atau apa? Hmm?”
Mereka saling menatap satu sama lain, awalnya Bianca menolak untuk membalas tatapan Steve, tapi Steve mendongakkan paksa wajahnya. “Katakan sayangku, atau apa.”
“Atau aku akan teri—“
Belum selesai Bianca bicara, bibirnya tiba-tiba sudah meraup paksa. Steve langsung mencecap rasa yang dari tadi sudah sangat ingin dia cicipi. Menyebar gigitan-gigitan kecil yang merangsang kenikmatan agar Bianca membalas apa yang Steve lakukan saat ini pada perempuan itu.
“Mpphh, lepas.”
Ciuman Steve semakin brutal. Dua tangannya melilit paksa tubuh Bianca dan menekannya, membuat dua payudara perempuan itu terasa di dada Steve.
“Mpph, sshh.”
“Nikmati saja, Bianca,” ucap Steve sensual.
Bianca membuka bibirnya sedikit dan kesempatan itu tidak akan Steve sia-siakan. Dengan cepat Steve langsung meraup semua yang bisa dia raup. Ciuman yang benar-benar sangat menggairahkan.
“Mphh, ahhh, shhh.”
Bianca yang sepertinya mulai hilang akal berubah menjadi seperti seorang ahli, gadis itu membalas ciuman Steve, membuat sorakan girang di hati CEO Dvalton. dan lidah gadis itu terasa manis seperti cherry.
Sebelah tangan Steve mendarat nyaman di salah satu payudara Bianca. Meremasnya kuat, membuat Bianca ingin menjerit keenakkan.
“Sakithh.”
“Sakit atau nikmat?” tanya Steve sambil terus memainkan payudara kenyal Bianca.
“Mpphh, ahh.”
Tubuh Bianca bergidik, merasakan rangsangan luar biasa yang menyengat tubuhnya. Inti tubuhnya di bawah sana bahkan sudah mulai terasa basah. Respon alami saat dua orang dewasa saling bercumbu.
Steve meningkatkan intensitas ciumannya, membeli lidah Bianca dan menghisap habis air liurnya.
Gawat, kalau terus begini bisa-bisa Bianca akan ditelanjangi dan semua imajinasi awalnya akan terwujud.
Anda Mungkin Juga Suka





