
Mempelai kedua
Bab 2
Setelah melepas sepatu milik Radit, Rihanna langsung naik ke atas ranjang, Rihanna tak kalah letih dari Radit, bahkan wanita itu sudah menahan rasa sakit akibat penghianatan dari kekasih dan juga sepupunya.
Sebenarnya, banyak sekali pertanyaan dalam benak nya, bagaimana bisa pria yang sedang terlelap itu mau menjadi suami nya bahkan dia belum tau sekedar namanya.
Rihanna terlelap, setelah sibuk dengan fikirannya.
Namun, saat dia bangun, sayup-sayup terdengar suara orang sedang berbincang melalui sambungan telepon.
" Aku tidak bisa. maaf, Aku sungguh minta maaf, tapi kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini," ucap Radit. Lalu dia mengakhiri panggilan telepon nya.
Radit membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah ranjang, di mana ada seorang wanita, yang kini bergelar istri itu masih terlelap, tanpa dia tau, Rihanna bahkan sudah mendengar pembicaraan nya tadi .
Entah apa yang pria itu rasakan saat ini, dia sedikit kesal dengan wanita itu, namun,dalam hati berkata, apa salahnya, bahkan dia tidak meminta untuk di nikahi oleh dirinya, hanya saja dia yang tidak bisa menolak perintah ayahnya.
Radit keluar dari kamar itu, dia akan menemui seseorang di lobby hotel. setelah kepergian Radit, kini Rihanna bangun dari tempat tidur, wanita itu bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, tidak lama kemudian, dia sudah berganti baju dan sedang menggunakan makeup nya tipis-tipis, dia menghembuskan nafasnya perlahan.
" Kemana perginya dia?" Tanyanya pada diri sendiri.
" Mungkin dia sudah pergi, dan tidak akan kembali, lagi pula dia tidak ada tanggung jawab pada ku bukan, dia hanya pria baik hati, yang sudah menyelamatkan keluarga ku.ya ampun, Hana kenapa kamu terlalu berharap," ucapanya lagi, sambil memukul kepalanya sendiri,dan saat itu pintu kamar terbuka.
Radit mengerutkan keningnya, melihat istrinya memukuli kepalanya, pria itu berfikir, apakah wanita itu sedang sakit kepala, akibat terlalu banyak fikiran.
Sedangkan Rihanna, dia menjadi salah tingkah , ketika melihat Radit, tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
" Ehem" Radit berdehem " kita turun untuk sarapan, sepertinya semua anggota keluarga sudah menunggu, di restoran bawah," ucap Radit.
" Ah. Iya."
Kemudian mereka berdua jalan beriringan, menuju lift yang akan membawanya ke restoran.
Di dalam lift, Radit menatap wajah Rihanna. membuat wanita itu kembali di buat gugup.
Radit mengulurkan tangannya,dan dengan sedikit ragu, Rihanna menyambut telapak tangan itu.
"Raditya Herland" ucap pria itu.
" Rihanna, pangil saja Hana," ucap Hana.
Setelah itu, mereka kembali berjalan setelah lift terbuka.
Benar saja, seluruh keluarga besar sudah menunggu di sebuah meja makan yang sangat besar. Kali ini Rihanna melihat seorang pria paruh baya, dan seorang wanita yang tidak begitu tua, juga tidak begitu muda, namun Rihanna merasa tidak mengenal mereka, mereka duduk di antara semua keluarga nya.
" Beliau, adalah Ayah ku, dan wanita di sebelah nya, adalah istrinya," ucap Radit, tepat di samping wajah Rihanna, membuat wanita itu berjingkat sedikit kaget, Radit yang melihat itu, mengulum senyum nya.
Dalam hati, Rihanna berkata. Apa tadi dia bilang, itu adalah ayahnya, lalu kenapa tidak menyebut wanita itu ibunya, tapi kenapa malah istrinya, dasar aneh. Ucapnya dalam hati.
" Tidak usah mengumpat ku, dalam hati," ucap Radit kembali, membuat Rihanna kembali terkejut.
Rihanna segera menyalami, tangan kedua orang tua Radit.
" Selamat ya nak, maaf kemarin tidak bisa hadir, Ayah nitip anak Ayah, yang sedikit bandel itu," ucap pak Angga, Ayah Radit. Rihanna hanya membalas dengan senyuman, dan anggukan kecil.
Radit yang mendengar perkataan ayahnya, di buat terperangah, bagaimana bisa dia mengatakan dirinya bandel, Radit menghembuskan nafasnya perlahan.
Rihanna berganti menyalami wanita di sebelah pak Angga, wanita itu tidak memperlihatkan senyum sedikit pun, walaupun dia mengulurkan tangannya, untuk menyambut uluran tangan Rihanna.
Setelah acara sarapan pagi dengan penuh perbincangan basa basi, antara kedua keluarga itu, kini Rihanna dan Radit kembali ke kamar hotel, kamar pengantin itu sebenarnya sudah di booking selama tiga hari,
. namun, Radit mengatakan kalau dia harus bekerja, dan Rihanna berfikir juga, untuk apa mereka berada di sana, toh mereka tidak akan melakukan apapun.
" Kau ingin pulang ke mana?," Tanya Radit.
" Heh" Rihanna terlihat bingung.
"Em, begini maksud ku, kamu ingin ikut aku tinggal di apartemen, atau aku yang akan ikut dengan mu?," Radit memperjelas pertanyaan nya.
" Oh. Aku terserah kamu saja," ucapanya pelan.
" Apa tidak papa, kalau Aku membawa mu tinggal di apartemen ku?. Maksudku, apa nanti keluarga mu tidak keberatan?," Tanya Radit memastikan.
"Bukankah, seorang istri harus mengikuti langkah suaminya." Jawab Rihanna.
Radit mengangkat ujung bibirnya sedikit, dalam hati pria itu merasa senang, dia tidak akan canggung bila mereka tinggal di apartemen.
" Baiklah kemasi barang-barang milik mu."
Tak berselang lama, pintu kamar di ketuk dari luar, Radit segera membuka pintu, dan muncullah seorang pria, terlihat sedikit lebih muda dari Radit.
" Pagi Bos," ucap pria itu.
" Pagi Rio, tolong kamu, bawakan barang-barang milik istriku ke dalam mobil,"
Mendengar perkataan Bos nya, Rio terkejut. pasalnya Radit tidak menceritakan apapun, dia hanya menyuruhnya datang ke tempat itu.
Apa tadi katanya, istri, sejak kapan Bosnya punya istri, bukankah, kekasih nya bernama Calista, model yang lagi naik daun itu. masih banyak pertanyaan yang berbeda di dalam hati Rio.
" Hai. Apa kamu masih ingin berdiri di sana," Rio tersadar dari lamunannya, karena, suara Radit kali ini cukup keras.
" Cekk, nggak usah teriak Bos, saya nggak budek," ucap Rio.
" Kalo bukan budek, lalu apa, saya bahkan sudah panggil kamu tiga kali, tapi kamu hanya berdiri di sana," ucap Radit sedikit kesal.
Rihanna yang melihat itu,di buat tersenyum.
Melihat istrinya tersenyum di pada orang lain, Radit memberi kan tatapan tajam,dan itu sukses membuat Rihanna kembali menunduk,
Lalu terdengar Rio menggerutu.
"Dasar posesif," ucap sang asisten.
Rio adalah asisten pribadi Radit, semua dia ceritakan pada Rio, apa pun tentang kehidupan nya, namun, kali ini, Radit tidak bicara tentang pernikahan nya, membuat pria itu sedikit heran.
Mendengar gerutuan Rio, kini tatapannya tak kalah tajam, dia tunjukkan pada asisten itu.
" Sudah bosan bekerja dengan ku?," Tanya Radit dengan nada dingin.
" Hah. Nggak lah Bos, mana berani aku bosan,"
" Kalau begitu, jaga pandangan mu,"
" Glek," Rio menelan salivanya susah payah, dalam hati berkata, siapa sebenarnya istri Bosnya itu, sehingga membuat seorang Raditya berubah menjadi pria posesif.
Selama menjadi asisten, Rio Tidak pernah melihat Radit seposesif itu, bahkan kepada Calista sekalipun.
Siapa sebenarnya wanita itu?.
Itulah yang saat ini sedang Rio fikiran.
Anda Mungkin Juga Suka





