
Mempelai kedua
Bab 3
Setelah mendengar ancaman dari Bos nya. Rio bergegas membawa koper milik Rihanna, dia jalan terlebih dahulu, lalu di ikuti pasangan pengantin baru itu.
Radit membukakan pintu untuk Rihanna, pria itu meletakkan telapak tangannya di atas kepala Rihanna, saat wanita itu hendak memasuki mobil.
"Terima kasih," ucap Hana.
"Kembali kasih," jawab Radit.
Pemandangan itu tidak luput dari mata Rio,yang sesekali mencuri pandang ke arah Bos nya.
Pria itu lagi-lagi di buat heran dengan sikap Bos nya, tiba-tiba begitu perhatian terhadap seorang wanita.
" Apa Bos lagi kesambet ya,?"gerutu Rio.
setelah Radit dan Hana masuk, kini Rio segera menutup pintu mobil, dia pun masuk di kursi kemudi.
" Kita pulang ke mana Bos?, ke rumah, atau,,,,,"
Rio sengaja menggantungkan pertanyaannya.
" Apartemen," jawab Radit singkat.
Mobil membelah jalanan kota itu, di dalam mobil, tidak ada satupun yang bicara, ketiga nya Sibuk dengan fikiran masing-masing.
Rio. Pria itu sedang merasa heran dengan Radit, Rihanna. wanita itu sedang menduga-duga, akan seperti apa kedepannya, dan Radit. pria itu yang paling galau, apa yang akan dia lakukan pada Rihanna, dan bagaimana dengan Calista, wanita itu tidak mungkin terima begitu saja kenyataan ini.
Tak lama, mobil memasuki halaman gedung apartemen. Rio kembali berjalan mendahului Radit, pria itu tidak ingin melihat kemesraan yang sedang Radit pamerkan.
Sesampainya di apartemen.
"Silahkan masuk, Nona, selamat datang di rumah," ucapnya sambil membungkuk.
"terima kasih," balas Hana.
Setelah meletakkan koper milik Hana, Rio pun pamit, karena, harus menggantikan Radit dalam sebuah pertemuan.
Rihanna berjalan mengelilingi apartemen itu, dia begitu terpesona saat melihat kemewahan apartemen suaminya, matanya memindai setiap sudut ruangan itu.
setelah puas berkeliling, Hana mencari keberadaan Radit, ternyata pria itu sedang menyandarkan tubuhnya di sofa, setelah mereka bertemu Radit menunjukkan kamar yang akan mereka tempati kepada Hana, wanita itu mengerutkan keningnya saat Radit mengatakan mereka akan tidur dalam satu kamar.
Di sana ada tiga kamar, satu kamar utama, yaitu kamar yang di tempati Radit, ada satu kamar tamu, dan satu kamar di fungsikan sebagai gudang.
" Apa tidak ada kamar lain?," Tanya Hana, dengan sangat berhati-hati.
" Ada. Kamu mau tidur di sana?," Tanya Radit, dan di angguki oleh Hana."baiklah Kalau begitu, aku bisa membawa teman wanita ku tidur di sini tanpa gangguan," kata Radit, sambil melihat ekspresi wajah Hana.
Rihanna terkejut mendengar perkataan Radit, seketika dia menggeleng.
" Aku, tidur di sini saja," ucapanya kemudian.
Mana mungkin dia akan membiarkan suaminya tidur dengan wanita lain, diatap yang sama, membayangkannya saja dia sudah merasa ngeri.
Radit mengangkat ujung bibirnya sedikit, bukan dia ingin tidur bersama Hana, wanita yang baru dia kenal, sekaligus nikahi.
dia hanya tidak ingin orang lain tau, hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani, Cukup mereka berdua saja yang tau, dan akan belajar bersama, bagaimana caranya, menjalankan hubungan tanpa dasar cinta di antara mereka.
Radit tidak ingin mempermainkan pernikahan, tapi bukan berarti dia sudah menerima.
Radit tidak mau ada orang lain yang akan memanfaatkan hubungan mereka nantinya, karena itu, dia tidak bercerita kepada siapapun, tentang terjadinya pernikahan mereka, termasuk pada, Rio.
Bukan tidak percaya pada asisten pribadi nya, tapi lebih kepada, menghargai privasi dirinya dan Hana.
" Letakkan semua baju yang kamu bawa di sebelah punyaku," Radit sedang menunjukkan tempat penyimpanan baju, dan berbagai aksesoris yang biasa dia gunakan.
" Terima kasih," ucap Hana lirih.
" Untuk,?" Tanya Radit.
" Semuanya," jawab Hana.
" Hemm," Radit berdehem, lalu dia kembali ke arah ranjang, merebahkan tubuhnya di sana, dan memejamkan matanya.
Rihanna menggelengkan kepalanya, melihat Radit yang kembali tidur, wanita itu hanya bisa berkata dalam hati, "bukankah dia bilang akan pergi bekerja hari ini?, karena itulah harus cepat-cepat meninggalkan hotel."
setelah itu Hana keluar dari kamar, dia ingin melihat ada apa di dapur yang sangat bersih itu, dapur yang seperti tidak pernah di gunakan, karena, terlalu bersih.
" Apa dapur ini bisa untuk memasak? Mari kita coba, dan kita lihat ada apa di dalam kulkas," Hana berbicara sendiri, sambil membuka kulkas.
" Cekk, kenapa tidak ada sayuran dan sejenisnya? Apa dia hanya akan minum, bila sedang di rumah?," ucapnya lagi, karena dia hanya melihat berbagai macam minuman di sana.
" Apa kulkas bisa di ajak bicara ?,"
Hana berjingkat, hampir terjatuh ke lantai, dia tidak menyangka, Radit sudah berada tepat di belakang tubuhnya, bahkan wajah pria itu ada di samping wajahnya, untung Radit segera meraih tubuh mungil itu.
" Maaf," cicit Hana.
" Tidak masalah. Tapi untuk apa kamu mencari sayur dan kawan kawan?," Tanya Radit.
"Tadinya aku hendak memasak," ucapnya.
" Oh. Baiklah nanti kita belanja apa yang menurut mu perlu.tapi, untuk siang ini kita pesan makanan saja, bagaimana?," Tawar Radit.
" Tidak buruk," jawab Hana.
Setelah sepakat, Radit segera membuka aplikasi online,untuk memesan makan siang.
Mereka berbincang ringan sambil menunggu makanan yang di pesan datang.
" Apa kegiatan mu, sebelum menikah?," Tanya Radit.
" Tadinya aku bekerja di sebuah perusahaan, namun, saat kami sedang menyiapkan pernikahan, Vero meminta ku untuk berhenti bekerja, katanya dia ingin aku menjadi seorang ibu rumah tangga saja, tapi,,,,,,,, ah sudahlah,"
Radit mendengarkan Hana bercerita, hingga pria itu menatap wajah cantik Hana dengan intens.
Melihat wajah tampan Radit begitu dekat, Hana jadi salah tingkah, Hana menjauhkan diri dari hadapan suaminya.
Radit pun merasakan hal yang sama, ketika pria itu menyadarinya, dia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Ehem, apa kamu ingin bertemu dengan dia?," Tanya Radit.
"Hah. A, apa maksud mu?," Jawab Hana gugup.
" Apa kamu tidak ingin mendengar penjelasan dari nya, mungkin?," Tanya nya lagi.
Hana tersenyum miris, wanita itu kemudian menggeleng
" Untuk apa meminta penjelasan, sedangkan bukti sudah berbicara," ucapnya parau.
Radit merasa bersalah, karena, mengingatkan Hana pada luka, yang bahkan masih sangat basah.
" Apa, kamu ingin bekerja lagi?," Radit mencoba mengalihkan perbincangan.
"Apa boleh?," Tanyanya dengan berhati-hati.
Radit mengangkat satu alisnya, tanda bertanya.
Kemudian Hana kembali bicara.
"Sekarang, aku bukan hanya tentang diriku, dan keluarga ku, tapi, apa pun yang akan aku lakukan sekarang, hanya atas izin dari kamu saja," terangnya.
Radit mulai berfikir, kenapa Vero membuang wanita seperti Hana, apa salah wanita itu?, Tanyanya dalam hati.
" Baiklah, besok datang ke kantor ku, temui HRD, mintalah di tempatkan sesuai kemampuan mu.bagaima?,".
Anda Mungkin Juga Suka





