
Membunuh Masa Lalu
Bab 2
Pukul delapan malam kurang aku sudah sampai di kedai, memilih tempat yang terbaik. Malam ini suasana kedai nampak bersahabat, tidak terlalu ramai. Lampu yang tidak terlalu terang, juga tidak terlalu gelap, romantis. Terdengar sayup-sayup instrumen jazz kesukaanku. Rasanya alam semesta tengah mendukung hati yang tengah bahagia ini. Aku datang dengan penampilan terbaikku. Kucium bajuku sendiri untuk memastikan parfum yang tadi kusemprotkan tidak sia-sia. Wangi! Aku tersenyum puas.
Tidak ada sepuluh menit kemudian Vera datang. Senyuman yang bertengger berhari-hari di otakku akhirnya menjelma nyata. Penampilannya kala itu lebih indah dari apa yang kubayangkan. Aku gugup. Namun, segera aku tepiskan. Ia datang dengan memasang senyuman yang sumringah bak bulan purnama merekah, buru-buru kupersilahkan dia duduk.
"Wah aku telat nih?" ujarnya setelah sampai di dekatku.
"Eh, Ver, enggak, kok …," jawabku agak gugup.
"Sudah lama menunggu, Jaya? Eh, benar, kan, Jaya kan namanya?" selidiknya sembari menyalamiku.
"Eh, anu, iya, aku Jaya. Masa baru tiga hari berkenalan sudah lupa, sih?" jawabku dengan nada sesantai mungkin. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku gugup. Malu dong!
"Enggak lupa, kok. Hanya ingin memastikan saja. Soalnya, Jaya yang ada di depanku sekarang ini kok rasanya terlihat lebih ganteng daripada waktu kemarin bertemu ya, he-he." Tawanya mendarat manis sekali di mataku.
Wah, aku jadi kikuk sendiri, spontan garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal. Andai tidak ada orang disitu aku ingin berteriak dan jingkrak-jingkrak, atau selebrasi keliling kedai ala pemain bola.
"Ah, kamu bisa saja, Ver. Oh, ya, kamu mau pesan apa, nih?" Aku menyodorkan menu kepadanya sembari memantapkan hati agar kelihatan berwibawa.
"Apa saja deh, yang penting enak dan manis. Kaya orang di depanku," ujar Vera sembari melirikku.
Demi apapun! Aku benar-benar ingin berteriak dan jingkrak-jingkrak. Peduli setan! Kalau perlu koprol sekalian.
Malam pun berlangsung sangat romantis dan memukau. Kami menikmati malam dengan ngobrol panjang lebar, saling menjajaki satu sama lain. Malam yang penuh dengan keasyikan yang fantastis. Tanpa aku sadari, perlahan belenggu pesonanya semakin kuat menjeratku. Aku benar-benar mabuk kepayang di buatnya. Rasa-rasanya itu adalah malam terindah dalam sepanjang hidupku. Terdengar lebay? Bodo amat!
Sejak itu kami semakin dekat dan dekat. Dia ternyata juga masih single, katanya. Tentu saja aku tidak langsung percaya. Bagaimana mungkin wanita semenawan dan sememesona itu masih sendirian? Kalau tidak dusta apa lagi namanya? Namun, Vera berkali-kali menegaskan, mengucap serius, ia masih sendirian, masih ingin fokus kuliah katanya, aku percaya saja. Dan, memang sebenarnya itulah yang aku mau darinya.
Rasanya tidak ada lagi kata-kata indah yang dikenal manusia di bumi yang sanggup mewakili perasaan bahagiaku waktu malam itu. Akal sehatku mentok dan angkat tangan untuk dapat menerjemahkan bagaimana dan seperti apa. Ada yang bilang, bagi orang yang tengah dilanda cinta, dunia serasa milik mereka berdua, yang lain ngontrak saja. Nampaknya itu benar adanya. Saat aku bersama Vera, menjalani hari-hari yang indah bersamanya, aku seperti lupa segalanya. Jarang keluar nongkrong bersama-teman seperti sebelum-sebelumnya, juga jarang ngobrol lagi bersama emak. Isi di otakku penuh oleh sesosok makhluk indah bernama Vera. Pesonanya seperti meluluh lantakkan akal sehatku sampai hancur berkeping-keping.
.
Ketika awal menjalani hubungan bersamanya, sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Vera menginginkan hubungan ini dirahasiakan, aku tak boleh menceritakan kepada siapapun, kepada teman-temanku, bahkan kepada keluargaku. Ketika kutanya mengapa, Vera hanya menjawab tak mau diumbar-umbar dulu, nanti ada saatnya sendiri, katanya. Aku menurut saja, tak ada pikiran macam-macam lainnya.
Aku seperti terjajah cinta, dibelenggu dan dijadikan budaknya. Tidak berdaya apa-apa. Bagai pepatah, seperti kerbau yang tengah dicocok hidungnya, aku selalu menuruti apapun yang dikatakannya. Aku juga tak berani mengulik lebih dalam tentangnya ketika Vera selalu menghindar ketika kutanya rumah aslinya di mana, di mana orang tuanya, dan siapa saja teman-temannya. Ia selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan. Selama ini identitas selain nama, hanya kost-nya saja yang aku tahu.
Tiga bulan lamanya kami menjalin asmara, kita jalani dengan indah tak ada konflik ataupun halangan apa-apa. Semua berjalan mulus dan menyenangkan. Hari demi hari kami jalani penuh dengan penuh warna, suka, dan cita. Mau jalan-jalan ke mall, ke tempat wisata, ke cafe, atau kemana saja aku selalu mendampinginya. Yang aku suka dari Vera adalah, ia tidak gengsi jika kuajak makan meski itu hanya di pinggiran jalan saja.
"Asal bersama kamu, Jaya. Aku mau kamu ajak makan di mana saja, termasuk di pinggir jalan, yang penting jangan di tengah jalan, ya," selorohnya kala itu sembari terkekeh kecil, aku pun ikut tertawa mendengarnya. Entah, bagiku ia terlalu sempurna menjadi wanita. Cantik, baik, menyenangkan, humoris, dan sedikit genit. Lelaki mana yang tahan untuk tidak tergila-gila.
Setiap tempat yang aku datangi bersama Vera seakan menjadi sebuah tempat yang begitu indah, meski itu hanyalah tempat biasa. Vera seperti membawa daya kilau yang luar biasa sehingga mampu menjadikan indah setiap tempat yang ia pijak.
Tempat-tempat yang kami kunjungi bagaikan taman-taman surga bagi kita berdua yang tengah di mabuk cinta. Setiap sudut dan lorong yang gelap dan kumuh seketika menjadi terang dan harum tatkala Vera hinggap di sana. Entah dengan kata apalagi aku harus menggambarkan bagaimana keindahan sosok bernama Vera. Bagiku ia tak hanya istimewa tetapi juga luar biasa. Bidadari surga yang terselip di antara kerlap-kerlip lampu dunia.
.
Sampai kemudian waktu menunjukan kuasanya. Tiga bulan aku menjalani hari-hari indah bersamanya dan pada akhirnya ia mendadak hilang entah kemana. Seperti musnah ditelan bumi. Aku kelimpungan mencarinya kesana kemari hingga berhari-hari lamanya, ponselnya pun tidak bisa dihubungi, dan sialnya, satu-satunya tempat yang aku tahu yang memungkinkan dia ada pun tak ada jejaknya.
"Mbak Vera sudah pindah, Mas, sejak kemarin. Katanya sih mau pulang kampung ke Bandung sana. Ada urusan mendadak katanya," ujar ibu kost kala itu ketika aku bertanya kepadanya tentang Vera. Aku baru tahu kalau ternyata Vera orang Bandung.
Semenjak itu aku seperti kehilangan semangat untuk hidup, bahkan hanya untuk sekedar bernafas saja aku seperti tak punya tenaga. Aku benar-benar seperti kehilangan nyawa. Mungkin ini terdengar konyol, bodoh, bahkan mungkin tolol, tapi begitulah keadaanku. Aku benar-benar lemah tak berdaya.
Tiga bulan menjalani sebuah hubungan adalah masa-masa yang paling manis. Bayangkan bagaimana sakitnya engkau di tinggalkan di saat tengah sayang-sayangnya. Di saat tengah tergila-gila dengan yang dicintainya lalu harus menerima takdir bahwa engkau akan kehilangannya. Kehilangan yang tanpa sedikitpun tahu apa dan kenapa penyebabnya. Ia hilang begitu saja tanpa ada secuilpun alasan yang diucapkannya.
Vera, dimana kamu sekarang? Apa salahku padamu hingga kau siksa aku begini kejam?
***
Anda Mungkin Juga Suka





