Sampul Novel Membunuh Masa Lalu

Membunuh Masa Lalu

7.9 / 10.0
Dalam asmara, bersiaplah untuk menghadapi kehilangan atau kerinduan yang mendalam. Cinta sering kali datang dan pergi secara misterius, namun luka yang ditinggalkan bisa merenggut separuh jiwa. Jaya terjebak dalam kepedihan saat sosok yang paling ia sayangi menghilang tanpa kepastian yang jelas. Kisah pilu Jaya ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang belum pernah merasakan betapa hancurnya hati ketika ditinggal tanpa sebuah jawaban pasti.

Membunuh Masa Lalu Bab 1

Setengah jam kami duduk di kedai ini. Namun, sepertinya tidak ada percakapan yang berarti. Kopi yang kami pesan sejak tadi tak aku sentuh sedikitpun. Hanya kopi lelaki di depanku yang terlihat tandas tak tersisa.

"Jadi, kamu tetap tak mau bercerita kenapa, Jay?" ucapnya kepadaku. Masih terus berusaha mendesakku.

"Lalu buat apa kamu minta aku kemari?" kejarnya lagi.

"Ayolah, Jaya yang kukenal tidak seperti ini. Lagi pula kaya sama siapa saja, aku ini kawan karibmu sejak kecil, Jay. Janganlah sungkan," ujarnya lagi sembari menyerobot kopi punyaku. Kubiarkan saja, toh aku tak lagi berselera.

Ingin rasanya aku curhat dengan Iwan, namun gengsi. Takut gantian di tertawakan. Sungguh tidak menyenangkan kalau sampai Iwan tahu bahwa aku yang biasanya sok tegar ini ternyata lemah juga oleh wanita. Benar-benar menyedihkan. Namun, ini memang masalah perasaan, terlalu susah untuk dikendalikan.

Dulu, sempat aku menertawakan Iwan, temanku karibku. Saat ia ditinggal pacarnya entah kemana. Sebenarnya juga kalau dibilang pacar juga lucu, sebab hanya berhubungan lewat dunia maya saja. Kenal, pacaran, dan akhirnya sudahan juga di dunia maya. Aku sempat tertawa terbahak-bahak saat Iwan curhat kepadaku kala itu. Melihat matanya yang basah oleh air mata, membuatnya semakin tampak lucu saja. Sangat tidak pantas lelaki berbadan kekar dan bertampang sadis bisa menangis hanya gara-gara wanita yang tidak pernah ditemui di dalam dunia nyata.

"Kamu gila!" kataku kepadanya waktu itu sembari tertawa terbahak-bahak.

Dan nampaknya kini aku tengah terkena karmaku sendiri. Dulu pernah menertawakan Iwan yang menangis kehilangan wanita, dan kini aku sendiri pun menangis karena kehilangan wanita. Benar-benar roda kehidupan itu berputar.

Kini Iwan sudah berumah tangga dengan Asih, teman sekelas kami waktu SMA. Yang berarti temanku juga. Sudah dikaruniai anak satu malah. Dan aku dulu yang menertawakannya, kini lagi menuai karma. Sedangkan Iwan sudah bahagia dengan pilihannya.

.

Kata pepatah, hidup adalah seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Semuanya serba bergantian. Kesedihan dan kebahagian datang silih berganti. Dan kini, aku tengah berada dalam keadaan di bawah itu.

"Ya, sudah! Kalau nggak mau bercerita aku pergi, Jay. Sudah di tungguin bos, nih!" Iwan berdiri sembari meraih tas ranselnya di meja.

Buru-buru aku raih tangannya, "Sebentar, Wan. Baik, aku bercerita. Tapi janji ya, jangan tertawa."

Perlahan kuturunkan rasa gengsiku.

"Apaan, sih? Bikin penasaran saja! Dari tadi, Kek." Iwan kembali menaruh ranselnya, dan duduk kembali sambil pasang wajah manyun.

"Janji ya, jangan meledek atau tertawa," tegasku sekali lagi sembari sedikit melotot.

"Iya, iya! Bawel, sih. Apaan?" Iwan balas mendelik.

Akhirnya aku ceritakan juga kepada Iwan tentang pertemuanku dengan seorang wanita, yang pada akhirnya ia menghilang tanpa jejak. Iya hilang, entah kemana tanpa pamit satu patah kata pun juga.

"Ha-ha-ha ... kena karma kamu, Jay!" Tawa Iwan menggelegar di udara, sampai-sampai seluruh penghuni kedai kopi melirik kepada kami.

Kutinju lengan Iwan. Sialan, kalau tahu begini mendingan tadi enggak usah cerita saja. Aku membatin kesal.

***

Aku mengenal wanita itu belum lama, baru sekitar tiga bulan yang lalu. Kami berkenalan di sebuah kedai kopi, di sore hari saat hujan deras mengguyur bumi. Awalnya kami hanya sama-sama tengah berteduh di sebuah emperan kedai, hanya ada kami berdua kala itu. Lalu kami saling berkenalan dan sembari menunggu hujan reda kami pun berlanjut mengobrol masuk ke dalam kedai.

Wanita itu bernama Vera, nama yang menyiratkan aura pesona dan kedewasaan, menurutku. Setelah hujan reda kami pun saling berpamitan dan tentu tak lupa saling bertukar nomor telepon. Meskipun perkenalan itu hanya sekilas lalu. Namun, senyumnya yang memesona berbalut lipstik merah marun itu sangat membekas sampai ke dalam palung hatiku. Bahkan senyum itu bertengger mesra di otakku hingga tiga hari lamanya.

Belum pernah aku sebucin ini. Aku memang lelaki normal yang sangat bisa mengagumi wanita cantik, tetapi aku bukanlah seorang lelaki gampangan yang mudah terpikat dan terpesona kepada setiap wanita.

Baru kali ini tampaknya pesona wanita mampu mematahkan kuda-kuda pertahananku sebagai seorang lelaki. Biasanya, wanita yang mendekatiku atau berkenalan denganku sepintas lalu saja, tidak ada yang spesial atau istimewa. Perasaanku juga tak seheboh ini kala bertemu pertama kali dengan dengan Sandra, mantan kekasihku dulu. Vera memang berbeda. Ia bagai intan mutiara yang kilaunya mampu menyilaukan mataku sampai aku tak bisa lagi melihat apa-apa selain kilaunya saja. Gila bukan?

Sejak tiga hari setelah bertemu dengannya kala itu, bayangannya seperti tak mau lenyap, terus menari-nari dalam otakku. Aku seperti setiap detik dirajam rindu. Aku memberanikan diri menghubungi nomernya, rasanya tak tahan juga tersiksa begitu. Entah perasaan gila macam apa ini. Orang baru kenal sekilas kok sudah merindu.

Ingin kutulis chat untuk menyapanya. Namun, berkali-kali juga aku hapus, canggung sebenarnya harus memulai dari mana. Ada rasa gengsi juga. Ah, persetan! Aku melawan perasaanku sendiri. Tidak mau aku lebih lama disiksa oleh bayangannya. Rindu ini begitu mengganggu dan begitu menyiksaku!

[Hai, Ver. Ini aku, Jaya. Kita berkenalan di kedai Coffee Star tiga hari lalu. Ingat?] aku kirim juga akhirnya.

Aku menunggu balasan chat-nya dengan perasaan yang gelisah, dengan harap-harap cemas.

Tak berselang lama, Vera pun akhirnya membalas, [Eh, iya. Ingat dong, masa baru tiga hari sudah lupa. Aku belum pikun, lho ya. Bagaimana kabarmu?]

[Aku baik, Ver. Oh ya, kalau tidak sibuk, apa kita bisa bertemu nanti malam di Kedai Coffee Star lagi?] balasku tanpa babibu lagi. Rasanya aku tidak ingin lagi membuang-buang waktu dengan percuma untuk segera menemuinya. Kali ini bukan lagi waktunya untuk bertele-tele ria, Bung!

[Oh, tentu. Aku juga kebetulan lagi free. Nggak ada kesibukan, nih! Baik pukul delapan malam kita bertemu, ya. Bye,] balasnya diakhiri dengan emoticon love.

Apa! Sebentar-sebentar, benarkah dia balas dengan emoticon love? Berkali-kali aku memastikan dan memang benar aku tidak salah lihat. Senyumku merekah, batinku membuncah, nampaknya gayung pun bersambut. Tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri bak orang gemblung. Kuhampiri cermin, kulihat bayanganku sendiri.

"Apa kau tengah jatuh cinta, Jaya?" tanyaku bodoh pada bayanganku sendiri.

Ah, aku baru mengalami jatuh cinta sekonyol sekaligus seindah ini. Pesona apa yang ada di dalam dirimu, Ver, sehingga membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepadamu. Tidak sabar rasanya menunggu sampai nanti malam.

Ah, Ver, Ver. Aku masih terus saja senyum-senyum sendiri. Tidak peduli lagi kalau ada orang melihat dan mengira aku orang gila dadakan. Sekali lagi, peduli setan!

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Membunuh Masa Lalu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki tak mampu menyembunyikan kekesalannya setelah ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan pria itu sangat klise, ia merasa tidak mengenal Yuki sama sekali. Sambil mengumpat dalam hati, Yuki menjuluki calon suaminya itu sebagai pria tua yang menyebalkan. Namun, rasa dongkol itu segera berubah menjadi sebuah rencana licik. Sebuah seringai muncul di wajahnya saat sebuah ide brilian terlintas untuk memberi pelajaran bagi pria itu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan