
Membunuh Masa Lalu
Bab 3
Hari sudah siang. Sang surya telah menjilati bumi dengan panasnya. Sinar keemasannya merangsek masuk ke kamarku lewat celah-celah jendela kaca yang tak tertutup rapat gordennya.
Aku membuka mata dengan terpaksa. Kalau tidak terganggu oleh ketukan pintu yang bertubi-tubi dari luar kamar sana enggan aku membuka mata ini.
"Jaya! Jaya! Bangun! Sudah jam berapa ini? Apa kamu mau bolos kerja lagi," teriak emak dari luar kamar.
"Iya, Mak. Aku bangun," kujawab lemah saja, hampir tanpa tenaga.
"Itu ada Darto datang mencarimu! Cepat bangun! Lekas sana temui, jangan tidur saja kerjaannya." Suara emak terdengar makin meninggi.
"Iya, iya, aku bagun, Mak!" pekikku. Terganggu juga dengan suara emak yang semakin berisik.
Aku bangkit keluar kamar dengan perasaan malas. Langkahku gontai bak petapa yang baru keluar dari persemediannya. Sampai ruang depan, kulihat Darto rekan kerjaku tengah duduk di ruang tamu sembari memainkan ponselnya.
"Ehem ... hai, To. Sudah lama?" tanyaku malas sekadar berbasa-basi yang beneran basi.
"Jaya, Jaya. Kepriben sih, Koen. Sudah tiga hari kamu bolos kerja, kie. Kamu sebenarnya sakit apa kepriben, sih?" cerocos Darto setelah menyadari kehadiranku. Tidak ada yang berbeda dengannya, logat ngapaknya masih kental meski lama hidup di Jakarta. Biasanya aku tak tahan untuk tidak geli mendengarnya, tapi kali ini terdengar biasa saja. Aku malas untuk merespon apapun. Bahkan merespon malas itu sendiri pun aku malas.
"Iya aku sakit, To, sakit hati," jawabku sekenanya sembari menumbangkan badanku ke sofa.
"Walah, dunia sudah sedemikian maju dan berkembang kok masih saja ada orang sakit hati karena cinta, lelaki pula. Sadar, Jaya, sadar!" Suara Darto mulai terdengar menjengkelkan. Lagi pula apa hubungannya sakit hati karena cinta dengan kemajuan zaman. Sarap sepertinya ini orang! Aku menggerendeng dalam hati.
"Nyong disuruh bos kemari. Disuruh memberikan ini kepadamu. Ingat berapa hari koen bolos kerja? Berkali-kali di kontak tapi nggak direspon. Sudah tahu kan itu apa?" cecar Darto.
Kulirik Darto mengeluarkan selembar amplop putih dari dalam tasnya, dan menyodorkan kepadaku. Tanpa aku kulihat pun aku sudah tahu kalau itu adalah SP gara-gara bolos kerja. Tetapi tidak begitu aku pedulikan. Bahkan jika dipecat pun tidak apa-apa.
"Jadi, bagaimana? Memangnya kamu sudah tidak minat kerja lagi?" selidik Darto sembari menyeringai bak barongsai.
"Nggak tahu, To. Aku seperti nggak punya semangat hidup. Jangankan kerja, untuk makan saja tak ada selera aku," tukasku lemah. Bukan lebay, tapi beginilah keadaanku.Aku bekerja di sebuah pengiriman paket sebagai kurir. Darto ini adalah seniorku di sana. Iwan juga kerja disana, tetapi sebagai security. Badannya yang besar dan wajahnya yang sangar sangat memenuhi persyaratan untuk itu. Aku baru sadar, ternyata sudah 3 hari aku bolos kerja.
Darto menggeser duduknya dan mendekatiku. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Jay? Jaya yang aku kenal selama ini selalu energik, selalu semangat, suka memberi motivasi kepada kawan-kawan lainnya, kenapa tiba-tiba sekarang jadi lemah macam mayat hidup saja. Ceritalah, barangkali aku bisa membantu."
"Jangankan kamu, To. Aku sebagai emaknya saja tak tahu apa yang terjadi." Tiba-tiba emak ikut nimbrung, sembari membawa setepak teh dan makanan ringan.
"Silahkan diminum, To. Dan, tolong bujuk itu si Jaya, jangan terus-terusan seperti mayat hidup begitu. Di tanyain enggak mau bilang apa-apa, diam saja. Sudah emak bujuk tapi percuma, barangkali sama kamu sebagai temannya mau cerita," tukas emak panjang lebar.
"O, siap, Mak! Masalah rayu merayu serahkan sama Inyong. Ngomong-ngomong, kuenya di dalam masih ada kan, Mak?" Seru Darto sembari mencomot kue yang masih dibawa emak. Dasar emang si Darto. Makanan melulu pikirannya.
"Tenang, nanti emak bawain buat kamu ngemil di kerjaan," jawab emak. Darto menyeringai senang. Kilatan matanya berbinar-binar. Darto ini memang dekat sekali dengan emak. Sudah dianggap seperti anak sendiri kalau kemari, Iwan juga.
"Ya sudah, emak lanjut ke belakang, mau nyuci. Kamu bilangin itu si Jaya, lelaki kok lemah! Alay!" ujar emak sembari bergegas ke belakang, tidak lupa liriknya mampir ke arahku. Lirikan yang bukan sembarang lirikan, lirikan yang seakan ingin mengatakan: 'aku menyindir kamu, Jaya!'
"Jadi, sebenarnya kamu kenapa, Jay? Beneran putus cinta? Sama siapa? Bukannya selama ini kamu jomblo?" tanya Darto bertubi-tubi.
Kulirik Darto, tampaknya benar-benar menunggu jawabanku. Aku menghela nafas, dan perlahan aku ceritakan semuanya kepada Darto. Satu demi satu, barangkali dengan begitu bisa sedikit mengurangi beban masalahku.
Kini bertambah satu lagi orang yang aku beri tahu masalahku. Tapi nyatanya beban ini tak menjadi berkurang sedikitpun, malah bertambah tidak karuan rasanya.
Vera, apakah aku harus mencarimu ke Bandung sana? Tetapi kemana? Jangankan alamat rumahmu, Bandung sebelah mana saja aku tidak tahu. Sebentar-sebentar, alamat? Bukankah KTP pasti tertera alamatnya? Yah! Ibu kos tempat Vera tinggal selama di sini pasti punya. Kenapa aku tidak terpikirkan itu? Bukankah juga ibu kos yang bilang kalau Vera orang Bandung?
"Yah, aku harus mencarinya kesana dan tahu penyebabnya kenapa engkau begitu tega menyiksa aku begini kejamnya," gerendengku lirih.
***
Satu persatu orang terdekatku mulai tahu apa yang tengah terjadi denganku. Entah berapa kali mereka menasehatiku dan menyemangatiku tetapi tetap saja tidak mampu memantik gairah hidupku untuk menyala kembali. Barangkali hatiku dan apapun yang bisa di pakai untuk menerima nasehat telah tuli dan buta. Aku tidak tahu, yang aku tahu aku tidak mampu melihat apapun selain Vera.
Malam ini entah malam yang keberapa aku meratapi kehilangannya. Kehilangan sebuah sosok yang kepergiannya sekaligus membawa semangat hidupku juga. Rasanya tidak ada lagi sesuatu yang menarik di dunia ini selain mengingatnya dan kembali bersamanya. Tikaman demi tikaman rindu kian menghujam diriku secara radikal dan kolosal, bidikannya bertubi-tubi memberondongku hingga aku tak berdaya apa-apa lagi. Sakit ini lebih dari sakit itu sendiri.
Seperti biasa, aku pandangi fotoku bersama Vera di layar ponsel. Hanya itu satu-satunya kenanganku bersamanya. Tiba-tiba memoriku berputar kembali ketika masih menjalani hari-hari indah bersama Vera. Sebelum akhirnya keindahan itu menguap secepat kilat dan meninggalkan bekas luka yang teramat menyesakkan dada.
"Ver, kenapa engkau mau menerima orang sepertiku? Aku tidak ganteng-ganteng amat dan juga tidak tajir," kataku kala itu kepadanya di bawah siraman senja di ujung utara Jakarta. Aku telah berterus terang kepadanya sejak saat kita berkenalan, tidak ada yang aku tutup-tutupi.
Yang aku pandang bukannya malu tetapi malah membalas menatapku lekat penuh isyarat. "Apakah cinta harus ada alasannya, Jaya?"
"Hem, mungkin. Pada umumnya begitu, bukan?" jawabku kepadanya yang sekaligus balik bertanya.
"Tidak, Jaya. Bagiku cinta saja sudah cukup. Cinta yang murni tidak membutuhkan alasan apapun. Cinta ya cinta, titik! Tidak butuh alasan dan segala tetek bengeknya. Bukankah jika cinta masih membutuhkan alasan dan ketika nanti alasan itu berubah seiring waktu, apakah masih bisa dibilang cinta?" tukas Vera sembari mengerlingkan matanya yang indah itu. Oh, Tuhan, bidadari ini terlalu sempurna.
Aku penasaran dibuatnya. Vera sungguh cerdas. Aku menjadi semakin tertantang untuk menjajaki kilaunya semakin dalam.
"Iya, juga. Namun, bukankah jika sesuatu itu tanpa alasan, kita sebagai manusia biasa tidak bisa mengukurnya, bukan?"
"Ha-ha-ha-ha ...." Vera malah tertawa mendengar pertanyaanku. Lihatlah, bahkan ketika tertawa pun cantiknya tidak sedikit pun memudar. Gila!
"Sudahlah, Jaya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Bagiku kenyamanan itu adalah yang utama, dan menjalani dengan itu saja sudah lebih dari cukup. Cukup untuk alasan cinta itu sendiri, jika memang menurutmu cinta harus ada alasannya, dan itu satu-satunya alasanku." ujarnya sembari menyandar di pundakku. Aku seketika membisu, lidahku kelu, tidak mampu lagi berkata apa-apa. Yang ada hanya rasa yang berbunga-bunga.
***
Anda Mungkin Juga Suka





