
Membuatmu Takluk Padaku
Bab 3
Pandangan seluruh wartawan yang ada di sana kini tertuju pada Raya. Sebagian dari mereka ada yang menatap tak percaya, namun tidak sedikit yang melihatnya dengan tatap mengasihani.
Raya sendiri seperti biasa hanya diam, terlihat anggun dan kalem karena memang tampilan seperti itulah yang bisa dia tunjukkan di depan umum untuk menjaga nama baik suami dan mertuanya.
Meski dia tahu kalau suaminya sudah teramat muak kepadanya, tapi Raya tahu dengan pasti kalau kata-kata Kai yang baru saja diucapkannya itu tidak sungguh-sungguh ia katakan untuk memberi tahu para wartawan itu bagaimana situasi rumah tangga mereka yang sebenarnya.
Pasti Kai mengatakan itu dengan tujuan tertentu. Kai sudah punya skill pro dalam hal mengatasi para wartawan itu.
"Siapa di antara kalian yang merasa terpaksa?" desak wartawan itu lagi.
Kal melirik Raya dan mendapatkan cibiran dari mulut wanita itu.
"Sebenarnya ..."
Kai terdiam sejenak sehingga para wartawan itu semakin mendekatkan diri pada Kai agar dapat mendengar lebih jelas.
"Gaiirahku yang memaksa aku untuk cepat-cepat menikahi Raya. Hahaha! Gimana ya? Namanya sudah kebelet kawin ya mau nggak mau terpaksa nikah deh!" tawanya tergelak sambil terbahak-bahak.
Terdengar sorakan para wartawan yang merasa diprank oleh para wartawan itu. Sementara Raya dalam diam hanya menghembuskan napas lega.
"Hahaha ... lagian kalian sebenarnya dapat gosip seperti itu darimana saja sih? Segala-gala aku dituduh selingkuh. Apa kalian tidak memikirkan nasibku di rumah nanti? Meski bukan istri yang pemarah, tapi bisa-bisa istriku yang cantik ini sakit hatinya nanti dan menyuruhku tidur di luar. Di mana perasaan kalian, Bro!" kelakar Kai sambil kini tangannya merangkul erat pundak Raya.
Raya merespon itu dengabn tawa kecil sambil menatap Kai seolah candaan Kai itu benar-benar lucu. Bukan sekali dua kali mereka harus berakting sok mesra di depan para wartawan, tapi selalu, hampir setiap waktu.
"Lalu, apa yang kalian lakukan di dalam apartemen berdua saja dengan Vero? Kalau bukan karena ada affair lalu apa?" tanya wartawan lain yang tidak mudah dikecoh oleh candaan Kai itu.
"Astaga, kalian pikir memangnya apa? Seperti yang kalian tau, kalian juga yang bilang tadi, Vero itu lawan mainku di Sinetron Madu untuk Maudy, jadi wajar kalau aku mampir di apartemennya kan? Ada banyak hal tentang pekerjaan yang harus kami bahas. Lagipula siapa bilang kami hanya berdua?"
"Aku sengaja menelepon istriku biar dia datang. Karena memang ada juga beberapa rencana pekerjaan yang aku butuh persetujuan istriku sebelum tanda tangan kontrak. Kalau mau selingkuh buat apa aku panggil kamu, benar kan, Sayang?" tanya Kai meminta dukungan pada istrinya itu.
Kai kini menurunkan rangkulannya dari pundak ke pinggang Raya untuk menunjukkan pada semua yang ada di sana bahwa hubungannya dengan istrinya tak ada masalah dan mereka mesra-mesra saja seperti pasangan pada umumnya.
Sekilas namun tak ada yang memperhatikan, Raya memutar bola matanya malas. Dia bukan artis tapi kemampuannya berakting selalu dibutuhkan setiap waktu.
"Iya, saya datang ke sini karena ditelepon oleh Kai. Lagian aneh, kok bisa sih kalian punya pemikiran seperti itu? Saya sudah kenal lama dengan Vero, sudah seperti saudara juga. Lagipula memang ketemuan apa salahnya sih? Mereka perlu membangun chemistry biar sinetron yang mereka mainkan bagus. kok bisa sih teman-teman wartawan mikirnya jelek gitu? Nanti saya jadi over thinking beneran loh," kekeh Raya.
"Tapi banyak loh, Ray, teman yang makan temannya sendiri. Di kalangan artis bahkan ada artis yang selingkuh dengan suami temannya sampai punya anak. Mbak Raya dengar kabar itu juga kan?" kata wartawan lain mengingatkan.
Raya mengangguk.
"Iya, tapi orang kan beda-beda, Mbak. Saya yakin dan percaya kalau suami saya dan Vero nggak mungkin kayak gitu? Iya kan, Sayang?" kata Raya sambil bergelayut mesra di lengan Kai.
"Ya, nggak dong! Punya istri satu aja, cantiknya kayak gini nggak habis-habis. Buat apa selingkuh?" balas Kai sambil memeluk Raya dan mengacak-acak rambutnya dari belakang.
"Gombal deh!" sahut Raya sambil mencubit pelan perut Kai.
"Awww!! Sakit, Ayang!!"
Dengan akting senatural itu, siapa yang tidak terkecoh? Di mata orang lain gestur Kai dan Raya, bagaimana mereka saling memperlakukan pasti terlihat manis.
"Lalu, bagaimana soal foto kamu yang lagi ciuman dengan Vero di kolam renang itu, Kai?" celutuk seorang wartawan lagi mengingatkan tentang salah satu foto skandalnya yang beredar di jagad maya beberapa bulan yang lalu.
"Editan itu. Sudah dibilangin juga. Vero juga sudah konfirmasi kan kalau foto yang beredar itu sebenarnya foto dia dengan pacarnya yang diambil dari jarak jauh oelh orang tidak bertanggungjawab? Yang jelas bukan aku. Bukan ya! Sekali lagi bukan, jangan ngadi-ngadi! Kita mau pamit dulu. Soalnya masih ada urusan lain!" kata Kai sambil mengatupkan kedua telapak tangannya memohon untuk undur diri.
Kai segera menuntun Raya untuk segera pergi dari sana.
"Kai, Kai!! Raya!!! Satu pertanyaan lagi! Gimana dengan momongan? Kalian berdua apa belum ada niat punya momongan?" tanya wartawan lain sambil mengikuti langkah mereka ke arah parkiran mobil.
"Ada. Ada niat, cuma belum di kasih saja sama yang di atas. Mohon doanya, ya Mas, Mbak biar disegerakan! Kita pamit dulu. Istri saya sudah capek soalnya!" jawab Kai dengan harapan para wartawan itu mundur dan membiarkan mereka pergi.
***
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





