Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir

Membawa Kabur Benih Presdir

Kebahagiaan Aurora Winters berubah menjadi dilema besar saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Di sisi lain, sang suami, Julian Ryder, telah menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Terjepit di antara cinta pada janinnya dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras ide untuk menggugurkan kandungannya. Kini, ia harus menyusun rencana rahasia demi melindungi sang buah hati dari pengetahuan Julian.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Aku tidak menginginkan kehadiran seorang bayi! Aku ingin kau tetap cantik seperti ini tanpa tangisan bayi di rumah ini!"

Julian Ryder membisikkan kalimat itu tepat di telinga Aurora setelah mereka baru saja menuntaskan hasrat mereka.

Aurora membeku. Kata-kata suaminya menusuk hatinya lebih dalam daripada pisau.

Suamiku tak menginginkan bayi ini?

Lantas aku harus bagaimana?

Aurora menatap kosong ke langit-langit kamar. Pikirannya berputar cepat, mencari jalan keluar dari situasi ini. Perutnya memang masih rata saat ini, tapi tidak lama lagi itu akan berubah. Dia tidak akan bisa menyembunyikannya selamanya.

Julian tidak ingin anak. Itu jelas.

Tapi dia ingin mempertahankan bayinya.

"Kau kenapa, sayang?" suara Julian membuyarkan lamunannya. "Wajahmu pucat dan bingung. Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Aurora tersentak. Dia berusaha tersenyum, meskipun bibirnya terasa kaku.

"Oh, aku baik-baik saja, sayang."

Julian mengernyit. "Kau yakin?"

Aurora mengangguk cepat. Dia tidak bisa membiarkan Julian mencurigainya.

Tapi sampai kapan?

Rahasia ini akan semakin sulit disembunyikan seiring waktu.

"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, sayang?" Julian menatapnya tajam. "Aku tidak suka kau berbohong."

Aurora merasakan tengkuknya meremang. Pria ini selalu bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres.

"Aku tidak menyembunyikan apa pun," katanya, mencoba terdengar santai. "Aku hanya lelah."

Julian memandangnya dalam diam. Seolah mencoba membaca pikirannya.

"Kalau begitu, istirahatlah," ujarnya akhirnya. "Aku ingin istriku selalu sehat dan cantik."

Aurora memaksakan senyum. Tapi hatinya terasa nyeri.

---

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur. Dia hanya berbaring di samping Julian yang sudah tertidur pulas.

Tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.

"Aku akan melindungimu," bisiknya pelan.

Tapi bagaimana caranya? Jika Julian tahu, pria itu mungkin akan memaksanya menggugurkan bayi ini.

Tidak. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Aurora harus mencari cara untuk menyembunyikan kehamilannya selama mungkin.

---

Keesokan paginya, Aurora merasa mual begitu bangun dari tempat tidur. Dia buru-buru ke kamar mandi, menutup pintu, lalu muntah.

Nafasnya tersengal. Tubuhnya gemetar.

Dia sudah tahu ini akan terjadi, tapi mengalaminya langsung membuat semuanya terasa lebih nyata.

Dia benar-benar hamil.

Aurora menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab. Perlahan, dia mengambil test pack yang sudah dia sembunyikan di laci kamar mandi.

Dia sudah melakukan tes ini beberapa kali sebelumnya, tapi dia ingin memastikan lagi.

Beberapa menit kemudian, dua garis merah yang jelas muncul di sana.

Aurora menghela napas panjang.

Tidak ada lagi keraguan.

Dia harus melindungi bayinya, bagaimanapun caranya.

---

Aurora sedang duduk di ruang makan ketika Julian berjalan menghampirinya.

"Kau tampak lebih baik," katanya, mencium puncak kepalanya. "Aku khawatir melihatmu pucat semalam."

Aurora tersenyum kecil. "Aku hanya perlu istirahat."

Julian menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Hari ini aku ada beberapa urusan bisnis. Aku mungkin pulang agak malam."

Aurora mengangguk. Itu kabar baik. Jika Julian pergi, dia bisa mencari cara untuk menjaga kehamilannya tetap tersembunyi.

Setelah sarapan, Julian pergi seperti yang dikatakannya. Begitu pria itu menghilang di balik pintu, Aurora segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya, Liana.

"Liana, aku butuh bantuanmu."

Suara di seberang terdengar khawatir. "Ada apa, Aurora?"

"Aku hamil," bisiknya pelan. "Tapi Julian tidak boleh tahu."

Liana terdiam beberapa saat. "Kau serius?"

"Ya. Aku harus menyembunyikannya selama mungkin."

Liana menghela napas. "Ini berbahaya, Aurora."

"Aku tahu," jawabnya lirih. "Tapi aku tidak punya pilihan lain."

---

Beberapa hari berlalu. Aurora berusaha keras untuk bersikap normal di depan Julian. Dia memakai pakaian longgar, menolak makan terlalu banyak agar tidak menambah berat badan dengan cepat, dan memastikan untuk tidak menunjukkan gejala kehamilannya di depan suaminya.

Namun, semakin lama, semakin sulit.

Mual di pagi hari semakin parah. Tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Dan yang lebih buruk, Julian mulai curiga.

"Kau semakin sering menghindariku," kata Julian suatu malam.

Aurora berusaha tersenyum. "Aku hanya lelah, sayang."

"Terlalu sering lelah," gumam Julian. Dia menatapnya tajam. "Apa kau sakit?"

Aurora merasakan napasnya tercekat.

"Tidak," jawabnya cepat. "Aku baik-baik saja."

Julian masih menatapnya curiga. "Kau tahu aku tidak suka jika kau menyembunyikan sesuatu dariku."

Aurora menahan napas.

Dia harus lebih hati-hati.

---

Suatu sore, Aurora pergi menemui dokter kandungan secara diam-diam.

"Kandungan Anda sehat," kata dokter itu sambil tersenyum. "Saat ini usia kehamilan Anda sudah memasuki minggu ke delapan."

Delapan minggu.

Aurora merasakan emosinya meluap. Ada kehidupan di dalam dirinya.

Tapi saat dia berjalan keluar dari klinik, tubuhnya menegang.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir.

Aurora bisa merasakan tatapan seseorang mengawasinya.

Jantungnya berdetak cepat.

Apakah Julian sudah tahu?

Dengan tangan gemetar, Aurora segera pergi dari tempat itu.

Dia tidak boleh ketahuan.

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur.

Bayangan mobil hitam itu terus menghantuinya.

Apakah itu hanya kebetulan? Atau seseorang benar-benar mengawasinya?

Dia berbalik dan menemukan Julian berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi dingin.

Tubuh Aurora langsung membeku.

"Apa yang kau sembunyikan Aurora winters? Ingat Aku tidak suka kau berbohong!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Hari Nikah, Aku Pergi
9.4
Liana Tandra mengambil langkah ekstrem demi lepas dari Hansen Gunadi. Melalui kerja sama rahasia, sebuah jasad tiruan yang sangat mirip dirinya telah disiapkan untuk dikirim tepat di hari pernikahan mereka. Setelah memastikan detail rencana pelarian ini berjalan mulus tanpa kecurigaan, Liana mencoba bersikap tenang saat kembali ke ruang VIP yang mendadak hening. Kisah romansa modern penuh misteri ini membawa pembaca dalam ketegangan takdir Liana yang mempertaruhkan segalanya.
Sampul Novel Ditinggal Nikah, Aku Langsung Menikahi Putra Mahkotan
9.3
Hari pernikahan impianku hancur saat tunanganku kabur bersama asistennya, sementara sahabat masa kecilku justru mempermalukanku di depan umum demi menyenangkan wanita itu. Mereka mengira aku tidak akan berani pergi dan menerima penghinaan ini begitu saja. Namun, mereka salah besar. Di tengah kekacauan itu, adik mantan tunanganku mengajakku ke kantor catatan sipil. Tanpa ragu, aku langsung menghubungi putra mahkota Keluarga Lessy untuk meresmikan pernikahan kami di hari yang sama dengan mereka.
Sampul Novel Hasrat Kakak Tiri
9.6
Bryan Alexander, CEO playboy yang berkuasa, telah menghabiskan dua belas tahun di New York demi melupakan Deanisa Melody, adik tirinya yang menjadi obsesi terbesarnya. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali saat Nisa ditunjuk menjadi asisten pribadinya. Bryan yang masih terjerat perasaan mendalam kini memperingatkan Nisa untuk menjaga sikap di kantor. Di tengah batasan profesional, mampukah Bryan menahan hasratnya pada gadis yang tetap menjadi candu baginya?
Sampul Novel Hati Terjerat: Jatuh Cinta pada Istriku yang Jelek
8.5
Demi membatalkan pertunangan dengan pria yang tidak setia, Viona menyamar menjadi wanita buruk rupa dan nekat tidur dengan Daniel, paman dari tunangannya sendiri. Setelah malam panas itu berlalu, Daniel yang sangat dihormati di kota justru enggan melepaskannya. Meski rumor tentang kehidupan asmaranya beredar luas, Daniel membuktikan pengabdiannya. Ia bahkan tertangkap kamera bersedia berlutut memasangkan sepatu Viona hanya demi mendapatkan satu kecupan manis.
Sampul Novel HOT DUDA
9.6
Taran merupakan pengusaha sukses yang ingin mendukung karier musik adiknya, Kejora, setelah viral di YouTube. Ia pun mempekerjakan Resti sebagai manajer. Awalnya, hubungan mereka tegang karena Taran merasa Resti terlalu ikut campur. Namun, berkat Kejora, keduanya justru semakin akrab. Meski ada Ben yang mencoba menghalangi, benih cinta antara Taran dan Resti kian tumbuh kuat, terutama saat mereka menghabiskan waktu bersama selama berada di Bali.
Sampul Novel Ikatan Cinta yang Unik
9.6
Yvonne hancur saat memergoki tunangannya berkhianat dengan saudarinya sendiri. Dalam pelarian rasa sakit, ia tak sengaja bermalam dengan pria asing hingga hamil. Diusir sang ayah, ia pun merantau demi kesuksesan. Enam tahun berlalu, Yvonne kembali sebagai dokter hebat bersama Aiden, putra jeniusnya yang mahir meretas. Saat Aiden berniat mencarikan jodoh, sosok pria misterius muncul mengklaim sebagai ayahnya. Perjuangan Aiden menyatukan mereka pun dimulai.