
Membangkitkan Kembali Cinta yang Kedaluwarsa
Bab 2
Sekarang, perubahan mendadak tingkah laku Lukman hari ini menjadi masuk akal. Dia bahkan telah menyentuh Elisa, sesuatu yang Elisa rasa menarik sekaligus membingungkan. Awalnya, dia begitu senang dengan perkembangan baru dalam hubungan mereka, tetapi
tidak lama setelah kebahagiaannya, dia merasa seperti sedang memainkan sandiwara yang tidak diperuntukkan bagi siapa pun.
"Barusan kamu ... hanya karena mengasihaniku, kan?" tanya Elisa, suaranya gemetar. Wajahnya memucat. Tangannya mengepal, mencengkeram jubah mandinya erat-erat.
Kehangatan yang dia rasakan dari momen intim mereka tadi menghilang dengan cepat ke udara, meninggalkan perasaan dingin dan kehampaan.
Dia bertanya-tanya apa Lukman menidurinya hanya untuk membuatnya setuju membiarkan Rita pindah ke rumah ini.
Baginya, ini seperti sebuah penghinaan besar.
Lukman terlihat sedikit tidak sabar. Dia mematikan rokoknya di asbak kristal dan bertanya, "Kenapa kamu terus menolak? Rita adalah adikmu. Berapa lama kamu berniat terus menghindarinya?"
"Dia memang adikku, tapi dia hampir membunuhku. Apakah kamu mengharapkan aku bersedia melihat wajahnya setiap hari dan mengingat kalau aku hampir mati di tangannya?"
Volume suara Elisa naik tidak terkendali.
Dia yakin dia terlihat mengerikan pada saat ini. Di masa lalu, dia telah melakukan segalanya untuk menjadi istri yang sempurna bagi Lukman, bahkan meninggalkan kariernya untuk merawat suaminya, semua dengan harapan dapat memenangkan cinta pria itu.
Elisa tahu Lukman adalah pria dengan harga diri yang tinggi. Dipaksa menikah dengan dirinya tentu terasa seperti gangguan yang terus menerus untuk Lukman.
Namun, Elisa berharap bahwa seiring berjalannya waktu, Lukman mungkin mulai memiliki perasaan padanya.
Sekarang, dia menyadari betapa naif dirinya.
Elisa tidak menyadari bahwa tiga tahun lalu, dia hampir kehilangan nyawanya dalam kecelakaan mobil yang disebabkan oleh Rita, kemudian mengakibatkan dia harus dirawat di rumah sakit selama tiga bulan dan membuatnya terikat pada kursi roda selama berbulan-bulan. Lukman tidak tahu tentang mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam, membuatnya terbangun sambil berteriak. Pria ini juga tidak menyadari bagaimana hujan menyebabkan rasa sakit pada bekas luka di kakinya.
Siang dan malam, hidupnya penuh dengan perjuangan seperti itu.
Bagi Lukman, Rita hanya gadis malang yang harus meninggalkan negaranya karena istrinya yang pencemburu, seorang wanita yang dia anggap gila dan penuh kebencian.
Padahal faktanya, mereka berdualah yang membuatnya menjadi gila.
Lukman memandangnya dengan tatapan yang dingin dan tajam, berbeda jauh dengan kehangatan dan kelembutan yang dia tunjukkan beberapa saat sebelumnya. Akan tetapi, kali ini, Elisa berdiri tegak, bibirnya terkatup rapat, matanya menyala karena ketegasan.
Dia telah mengalah selama bertahun-tahun, tetapi dia masih memiliki batas kesabaran.
Dia tidak bisa melihat Rita masuk ke dalam rumah mereka dan mendekati suaminya tepat di depan matanya langsung.
Dia tidak mampu melakukannya.
"Kupikir kamu salah paham." Lukman perlahan bangkit, berjalan melewatinya, melepaskan jubah mandinya, dan mengenakan pakaian dengan anggun.
Garis wajahnya sangat menarik, seolah dibuat dengan cermat oleh seorang seniman, tetapi tatapan dingin di matanya membuatnya tampak makin misterius. Namun, kata-katanya jelas dan blak-blakan.
Perkataan Lukman tegas dan tidak berbelas kasihan. "Ini adalah rumahku. Siapa pun yang kuizinkan datang, dia boleh datang. Aku bukan menanyakan pendapatmu, aku hanya memberitahumu."
Sambil mengencangkan kancing terakhir kemejanya, Lukman berbalik menghadap Elisa.
Seolah semua momen barusan hanyalah khayalan Elisa.
Elisa merasakan tenggorokannya tercekat, seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya erat, membuatnya sulit bernapas. Dia menyaksikan Lukman menghampirinya selangkah demi selangkah, rasa takut yang tidak dapat dijelaskan menyelimuti dirinya.
Tanpa sadar, dia melangkah mundur hingga Lukman mengulurkan tangan dan memegang dagunya kuat-kuat.
Mata mereka bertemu, dan jantung Elisa mulai berdebar kencang.
Lalu, entah dari mana, terdengar keributan yang memecah ketegangan di antara mereka. Pembantu mereka menerobos masuk, dan mengumumkan, "Pak Lukman, Nona Rita ada di bawah!"
Nona Rita? Apa Rita di sini?
Elisa tiba-tiba menegang. Dia melihat Lukman menanggapi dengan sigap, bergegas ke jendela untuk memeriksa ke luar.
Merasa penasaran, dia bergabung dengannya, dan pada saat inilah dia melihat pemandangan di bawah.
Sedang terjadi badai besar, petir membelah langit, guntur menggelegar, awan gelap menggantung rendah, dan hujan turun dengan deras. Pepohonan membungkuk tertiup oleh angin, dan Rita berdiri di sana, tepat di pintu masuk vila mereka. Dia basah kuyup, rambutnya menempel di wajahnya, tetapi dia tetap berdiri teguh.
Dia tampak memelas dan menawan.
Elisa melirik Lukman yang berada tepat di sebelahnya, mata pria itu terbelalak kaget. Dia tiba-tiba berbalik, siap berlari ke bawah dalam sekejap mata.
Meskipun masih ada kehangatan tersisa di tubuhnya, Elisa merasakan menggigil kedinginan.
Dia berbicara melalui giginya yang terkatup rapat, suaranya stabil tetapi tegas, "Jika kamu melangkah keluar dari pintu itu hari ini, hubungan kita berakhir di sini."
Anda Mungkin Juga Suka





