
Membalas Para Pengkhianat
Bab 2
Hari itu, Aira memutuskan untuk bertindak. Ia tidak bisa hanya diam sementara hatinya terus diliputi kecurigaan. Pagi-pagi sekali, ia meminta supirnya, Pak Jaka, untuk membantunya mengawasi Andra.
"Pak Jaka, saya minta tolong ya. Jangan bilang apa-apa ke Mas Andra," kata Aira dengan suara tenang tapi tegas.
"Baik, Bu. Apa yang harus saya lakukan?"
"Antar saya ke kantor pagi ini, dan nanti sore, kita akan mengikutinya secara diam-diam."
Pak Jaka mengangguk, meskipun raut wajahnya tampak sedikit cemas. Ia sudah bekerja cukup lama dengan keluarga Aira, sehingga ia tahu bahwa permintaan seperti ini bukanlah hal biasa.
---
Pukul lima sore, Aira yang duduk di mobil bersama Pak Jaka mulai memantau gerak-gerik Andra. Seperti biasa, suaminya keluar dari kantor dengan langkah tenang, mengenakan jas rapi, dan masuk ke mobil. Namun, kali ini, ia tidak langsung pulang ke rumah.
"Pak Jaka, kita ikuti mobil itu," perintah Aira dengan nada tegas.
Mobil Andra melaju ke sebuah restoran mewah di pusat kota. Dari kejauhan, Aira melihat Andra turun dari mobil, disambut oleh Tiara. Wanita itu mengenakan gaun merah yang elegan, sama sekali tidak seperti seorang sekretaris yang sedang bekerja lembur.
Dada Aira terasa sesak melihat pemandangan itu. Namun, ia tetap berusaha tenang.
"Kita tunggu di sini, Pak. Saya ingin lihat apa yang mereka lakukan," ujar Aira sambil menahan emosi.
Lewat jendela restoran, Aira melihat Andra dan Tiara duduk bersebelahan, tertawa dan berbicara dengan akrab. Sesekali, Andra menyentuh tangan Tiara, seolah tak peduli pada dunia di sekitarnya.
Air mata Aira menggenang, tapi ia menahan diri agar tidak menangis.
"Pak Jaka, kita pulang sekarang," katanya akhirnya, suaranya bergetar.
---
Di rumah, Aira duduk sendirian di ruang tamu. Ia merasa marah, sedih, dan dikhianati, tapi ia tidak ingin gegabah. Ia harus berpikir jernih untuk menghadapi situasi ini.
Ketika Andra pulang larut malam seperti biasa, Aira sudah menunggunya. Kali ini, ia tidak berniat menyembunyikan perasaannya.
"Kamu dari mana, Mas?" tanya Aira langsung begitu Andra masuk ke ruang tamu.
Andra tampak terkejut melihat istrinya yang biasanya lembut tiba-tiba berubah serius. "Dari kantor, Sayang. Lembur, seperti biasa."
"Benarkah? Aku tadi lihat kamu di restoran bersama sekretarismu."
Wajah Andra seketika pucat, tapi ia segera berusaha menguasai diri. "Oh, itu? Aku hanya makan malam bisnis dengan Tiara. Ada klien yang membatalkan pertemuan, jadi aku mengajaknya makan sambil berdiskusi pekerjaan."
"Pekerjaan? Dengan tawa semanis itu?" Aira mendekati Andra, matanya tajam menatap suaminya. "Jangan bohong, Mas."
Andra menghela napas panjang, berusaha tetap tenang. "Aira, kamu kenapa jadi begini? Aku nggak melakukan apa-apa yang salah. Kamu tahu aku sibuk dengan pekerjaan."
"Mas, kalau kamu memang sibuk, kenapa waktu kamu lebih banyak untuk Tiara daripada aku?" suara Aira mulai bergetar. "Aku nggak bodoh. Jangan anggap aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Andra tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangan. Diamnya Andra membuat Aira semakin yakin bahwa kecurigaannya benar.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengakui, aku akan cari tahu sendiri," kata Aira dengan nada dingin sebelum meninggalkan Andra sendirian di ruang tamu.
---
Keesokan harinya, Aira memutuskan untuk bertemu dengan Tiara secara langsung. Ia meminta salah satu staf perusahaan ayahnya untuk menjadwalkan pertemuan dengan Tiara di sebuah kafe. Tiara, yang tidak tahu apa-apa, datang dengan santai, mengenakan pakaian kasual.
"Ada apa, Bu Aira?" tanya Tiara dengan senyum tipis yang menurut Aira terasa penuh kepalsuan.
"Aku cuma ingin berbicara, wanita ke wanita," jawab Aira, suaranya tetap tenang.
Tiara tampak sedikit bingung, tapi ia tetap duduk.
"Aku tahu kamu punya hubungan dengan suamiku," kata Aira langsung tanpa basa-basi.
Tiara terkejut, tapi ia segera memasang wajah tenang. "Saya tidak tahu maksud Anda, Bu."
"Jangan bohong, Tiara. Aku melihat kalian di restoran kemarin. Aku juga tahu lebih dari itu."
Tiara tersenyum kecil, kali ini dengan nada yang lebih menantang. "Kalau Ibu tahu, kenapa masih bertanya?"
Ucapan itu membuat Aira terpukul. Ia tidak menyangka Tiara akan seberani ini. Namun, ia tidak ingin terlihat lemah di depan wanita itu.
"Dengar, Tiara. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut suamiku. Kamu pikir kamu bisa menang dariku? Kamu salah besar."
Tiara hanya tertawa pelan. "Kita lihat saja, Bu."
Aira mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menahan amarahnya. Pertarungan ini baru saja dimulai.
Anda Mungkin Juga Suka





