
Membalas Para Pengkhianat
Bab 3
Malam itu, setelah pertemuannya dengan Tiara, Aira duduk sendiri di kamar. Matanya menatap layar laptop yang terbuka di depannya, namun pikirannya melayang-layang, memutar ulang setiap percakapan dan kejadian yang telah ia alami. Tiara tidak hanya berani; dia terang-terangan menantang posisinya sebagai istri sah Andra.
"Aku nggak bisa diam saja," gumam Aira sambil mengetuk meja dengan jarinya.
Pikirannya mulai menyusun rencana. Selama ini, ia mencoba mempertahankan rumah tangga demi cinta dan harga dirinya, tapi jika pengkhianatan ini terus berlanjut, ia tahu harus bertindak lebih tegas.
---
Pagi harinya, Aira mengunjungi kantor ayahnya. Ia ingin mencari informasi lebih dalam tentang posisi dan proyek-proyek yang sedang ditangani Andra. Begitu memasuki ruang kerja Pak Mahendra, ayahnya langsung menyadari raut wajah anak perempuannya yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Nak? Kamu kelihatan nggak tenang," tanya Pak Mahendra sambil mengamati Aira yang duduk di depannya.
Aira tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan emosinya. "Nggak apa-apa, Pa. Aku cuma mau tanya soal proyek Andra yang dikelola lewat perusahaan kita."
"Proyek Andra? Semua baik-baik saja, kok. Dia pegang proyek besar dari pemerintah, hasil rekomendasimu dulu, kan?"
Aira mengangguk pelan. Hatinya semakin kacau. Ia yang memberikan akses kepada Andra untuk meraih posisi seperti sekarang, tapi ternyata kepercayaannya malah disalahgunakan.
"Kalau ada masalah, kamu cerita ke Papa, ya," lanjut Pak Mahendra.
"Terima kasih, Pa. Aku cuma butuh informasi lebih untuk membantu mengawasi pekerjaannya," jawab Aira sambil mencoba tetap tenang.
---
Malam harinya, Aira memutuskan untuk berbicara lagi dengan Andra, kali ini dengan bukti yang sudah ia kumpulkan. Ia telah meminta tim IT perusahaan untuk memantau aktivitas email dan komunikasi Andra yang berkaitan dengan pekerjaan. Dari sana, ia menemukan beberapa bukti kuat tentang keterlibatan Tiara, bukan hanya sebagai sekretaris, tetapi juga sebagai pasangan yang terlalu dekat di luar urusan profesional.
Andra baru saja pulang ketika Aira menunggunya di ruang tamu. Kali ini, ia tidak langsung menyapa seperti biasanya.
"Kita harus bicara," kata Aira dingin.
Andra mengernyit, lalu duduk di sofa. "Ada apa lagi, Aira? Kamu terlihat tegang."
"Mas, aku cuma mau tanya sekali. Apa hubunganmu dengan Tiara?"
Andra terdiam sesaat, lalu tersenyum samar. "Kamu masih menuduh aku soal itu? Sudah kubilang, dia cuma sekretaris."
"Sekretaris? Apa sekretaris biasa sampai punya akses ke email pribadi dan keuangan pribadimu?" Aira melemparkan beberapa lembar print-out ke meja.
Wajah Andra berubah drastis saat melihat dokumen-dokumen itu. Ia mencoba mengambilnya, tapi Aira lebih dulu menariknya kembali.
"Jelaskan ini, Mas. Kalau kamu memang nggak ada apa-apa, kenapa ada transaksi yang melibatkan Tiara? Kenapa dia punya akses ke data-data perusahaan?"
Andra terdiam, bibirnya bergetar mencoba mencari alasan. Tapi Aira tidak memberinya kesempatan.
"Kamu tahu, Mas, aku yang mendukungmu dari awal. Aku yang memastikan kamu punya semua yang kamu butuhkan untuk sukses. Tapi sekarang, kamu malah mengkhianatiku."
"Aira, aku bisa jelaskan-"
"Jelaskan apa? Bahwa kamu mempermalukan aku di depan semua orang? Bahwa kamu memberikan kepercayaan yang aku berikan ke wanita lain?"
Andra terdiam, matanya menatap lantai. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal.
---
Hari-hari berikutnya, Aira mulai menjalankan rencananya. Ia tahu, jika ia hanya mengandalkan kemarahan, itu tidak akan membawa perubahan. Ia harus mengambil alih situasi.
Aira mulai mengalihkan aset-aset penting perusahaan yang selama ini ditangani oleh Andra. Ia meminta tim legal perusahaan untuk menyusun ulang kontrak dan kerja sama agar Andra kehilangan pengaruhnya secara perlahan.
Tidak hanya itu, Aira juga mulai mempersiapkan langkah hukum. Ia mendokumentasikan setiap bukti perselingkuhan Andra, termasuk percakapan dengan Tiara dan bukti transaksi keuangan yang mencurigakan.
---
Suatu sore, Andra kembali pulang lebih awal dari biasanya. Ia langsung mencari Aira yang sedang duduk di ruang kerja rumah.
"Apa maksudnya ini, Aira? Aku dengar semua proyek yang aku pegang sekarang diambil alih oleh tim Papa?" tanya Andra dengan nada marah.
Aira menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku cuma memastikan perusahaan kita aman, Mas. Kamu terlalu sibuk dengan urusan lain, jadi aku harus ambil tindakan."
"Kamu nggak punya hak untuk melakukan itu! Aku ini suamimu, partnermu!"
"Partner?" Aira berdiri, mendekati Andra. "Partner macam apa yang mengkhianati istrinya? Kalau kamu memang partner, kenapa kamu memilih Tiara daripada aku?"
Andra terdiam, wajahnya memerah menahan amarah.
"Aku nggak akan tinggal diam, Mas. Kalau kamu terus main-main dengan pernikahan kita, aku pastikan kamu kehilangan segalanya. Semua yang kamu miliki sekarang, semuanya berasal dariku dan keluargaku. Ingat itu," kata Aira dengan nada tegas.
Andra tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah dan pergi meninggalkan ruangan, sementara Aira tetap berdiri tegak, menahan tangis yang hampir pecah.
Dalam hatinya, ia tahu bahwa pertempuran ini belum selesai. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja.
Anda Mungkin Juga Suka





