
Melepas Masa Lalu
Bab 7
Ketika terbangun lagi, Lisa menemukan dirinya berbaring di vila.
Terdengar jeritan pilu dari ruang tamu, dia berusaha untuk turun dari kasur dan membuka sedikit celah pintu. Dia melihat Gavin duduk di sofa dengan ekspresi datar dan sekelompok pengemis itu berlutut di hadapan Gavin.
Mereka dipukuli hingga memar dan sekujur tubuh mereka gemetaran. Seorang pengemis memohon dengan mulut yang berlumuran darah, "Lepaskan aku!"
Namun, Gavin bagaikan Malaikat Maut yang mematikan.
Dia memerintahkan pengawalnya untuk menebas tangan mereka, lalu memotong lidah mereka untuk dijadikan makanan anjing.
"Kalian nggak pantas sentuh dia!"
Gavin mengisyaratkan pengawalnya, lalu sekelompok pengemis itu diseret keluar.
Lisa merasa semua ini tidak nyata, seolah-olah segala sesuatu yang terjadi belakangan ini hanyalah mimpi.
Namun, rasa sakit yang menusuk membuatnya terhuyung-huyung dan bekas luka di punggungnya robek. Dia meringis kesakitan.
Mendengar suara ini, Gavin berjalan ke arah kamar. Tatapan dan ekspresinya menjadi lebih lembut, tetapi ucapannya masih sangat dingin dan kejam.
"Kelly nggak sengaja sebarkan video-video itu, aku sudah suruh orang menghapusnya. Lagian kamu baik-baik saja, jangan buat perhitungan dengan Kelly."
Dia menyerahkan selembar surat permintaan maaf pada Lisa dan memerintahkan Lisa, "Tanda tangani surat ini dan bersumpah kamu nggak akan mengancam Kelly dengan hal ini. Kamu nggak perlu bayar utang 4,16 miliar itu lagi, aku juga akan meminta dokter untuk memberikan pengobatan terbaik untuk ibumu."
Gavin tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, dia menambahkan, "Jangan salah paham, aku cuma mencintai Kelly seorang. Tapi, mengingat hubungan kita selama lima tahun ini, aku akan menafkahimu seumur hidup."
Dia mengucapkan kata-kata ini dengan angkuh, sikapnya sama seperti saat Lisa meminta uang padanya di bar.
Jadi, Gavin menganggapnya sebagai pengemis di jalanan?
Selama Gavin memberikannya sedikit bantuan, dia akan terharu dan berterima kasih?
Mungkin dulu memang seperti itu, dia akan bersabar demi ibunya.
Namun sekarang, dia sudah tidak memiliki kelemahan lagi.
Melihatnya tidak menanggapi, Gavin melemparkan surat permintaan maaf itu dan bangun. "Kirimkan ke kantorku setelah tanda tangan."
Hati Lisa hancur berkeping-keping, dia terkekeh sambil merobek surat permintaan maaf itu.
Tanpa ragu-ragu, dia langsung menelepon polisi untuk melaporkan perbuatan Kelly.
Pukul 12 malam, suara lonceng berdentang. Lisa menatap kalender di dinding dan jam di sudut ruangan.
Sepuluh jam lagi, dia akan meninggalkan tempat ini untuk selamanya.
Lisa mengemas barang-barangnya dan mandi air hangat. Sebelum pergi, dia singgah ke makam.
Dia mengubur guci abu itu, lalu berlutut di depan batu nisan ibunya dan bersujud sebanyak tiga kali. Emosi yang sudah lama terpendam meluap, bahkan suaranya pun menjadi serak.
"Ibu, aku akan mengejar kebebasan yang sesungguhnya."
"Kalau Ibu melihatku dari Surga, Ibu pasti ikut bahagia, 'kan?"
Seekor kunang-kunang hinggap di ujung jari Lisa dan mengepakkan sayapnya. Suatu cahaya redup menerangi foto di batu nisan.
Senyuman ibunya masih begitu lembut dan anggun, dia hampir tidak bisa menahan air matanya.
Dia berbaring di batu nisan dan menatap bayangannya yang terpantul di bantu nisan.
Dia seolah-olah kembali ke masa lalu, ibunya sering mengejeknya, "Lisa sudah dewasa, kenapa masih begitu cengeng?"
Malam ini, Lisa tidur dengan nyenyak.
Ketika dia bangun, sinar matahari menyinari lantai.
Masa depannya akan segera dimulai.
Ponselnya bergetar, Kelly mengirimkan undangan pernikahannya.
Selain itu, dia juga menerima pesan dari Biro Keamanan Publik.
[Nona Lisa, laporan Anda sudah diterima dan sedang diselidiki.]
Lisa tersenyum lebar, dia diam-diam menghapus undangan pernikahan digital itu.
Kemudian, dia memblokir semua kontak Kelly dan Gavin.
Setengah jam kemudian, Lisa naik pesawat.
Saat berada di atas awan, akhirnya dia merasa lebih lega.
Selamat tinggal, Gavin.
Mulai sekarang, aku akan memulai hidupku, aku sudah bebas.
Anda Mungkin Juga Suka





