Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MAWAR EMAS SANG PEWARIS

MAWAR EMAS SANG PEWARIS

Lily adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarganya yang terjebak dalam perjodohan strategis demi dominasi pasar global. Di balik intrik kekuasaan tersebut, ia menyadari bahwa pernikahan itu hanyalah alat bisnis semata. Namun, situasi menjadi rumit saat hatinya justru jatuh cinta pada asisten pribadinya sendiri. Meski cerdas, pria itu hidup dalam kemiskinan, menciptakan konflik batin antara tanggung jawab warisan dan perasaan tulus yang ia miliki.
Bab
Bagikan

Bab 2

Restoran mewah di pusat kota dipenuhi aroma bunga segar dan alunan musik piano. Lily melangkah masuk dengan gaun hitam elegan, wajahnya datar meski jantungnya berdegup kencang. Di sebuah meja, seorang pria tampan dengan setelan jas mahal berdiri menyambutnya.

"Lily," sapa Dewa dengan senyum yang sempurna. Ia menjulurkan tangan, mengisyaratkan tempat duduk untuknya. "Akhirnya kita bertemu. Orang tuamu banyak bercerita tentangmu."

Lily membalas senyum itu, namun matanya tetap tajam. "Dan sebaliknya, aku tidak tahu apa pun tentangmu. Ini cukup mengejutkan."

Dewa tertawa ringan, seolah komentar Lily adalah lelucon. "Aku harap malam ini bisa membuatmu mengenalku lebih baik. Kita di sini bukan karena paksaan, Lily. Aku ingin ini menjadi awal yang baik untuk kita berdua."

"Awal yang baik, ya?" gumam Lily, menahan nada sarkastis dalam suaranya.

Pelayan datang dengan anggur terbaik. Lily memegang gelasnya tanpa minum, memperhatikan Dewa dengan saksama. Pria itu tampak sempurna-karismatik, percaya diri, bahkan tutur katanya penuh perhatian. Namun, Lily merasa ada sesuatu yang mengganjal.

"Lily," Dewa membuka percakapan. "Aku tahu perjodohan seperti ini bisa terasa berat, terutama di zaman seperti sekarang. Tapi aku percaya kita bisa menjadi tim yang kuat, baik di dunia bisnis maupun kehidupan pribadi."

Lily tersenyum tipis. "Tim yang kuat? Apa kau benar-benar menganggapku partner, atau hanya bagian dari strategimu?"

Dewa terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Aku suka kejujuranmu. Itu sifat yang langka."

Jawaban itu tidak memuaskan Lily, tetapi ia memilih tidak melanjutkan. Malam berlalu dengan obrolan yang terasa formal, hampir seperti negosiasi bisnis.

Sementara itu, di sudut ruangan, Rehan duduk di meja kecil, memantau dari jauh atas permintaan Lily. Ia berusaha menjaga sikap netral, meski matanya tak lepas dari Lily dan Dewa.

Ketika makan malam selesai, Dewa menawarkan mengantar Lily pulang, tetapi Lily menolak dengan sopan. "Terima kasih, tapi asistenku sudah menunggu."

"Rehan, ya?" Dewa menoleh ke arah Rehan yang berdiri di pintu. "Asisten yang sangat setia, aku lihat."

Lily mengangguk. "Dia memang sangat dapat diandalkan."

Senyum Dewa berubah menjadi sedikit dingin. "Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Lily."

Lily hanya mengangguk sebelum pergi bersama Rehan.

Di dalam mobil, suasana terasa hening hingga Lily tiba-tiba berbicara.

"Kau melihat dia tadi, Rehan?"

Rehan, yang tengah mengemudi, menjawab dengan tenang. "Ya, Nona. Tuan Dewa tampak seperti pria yang sempurna."

"Terlalu sempurna," gumam Lily. "Aku merasa dia tidak jujur. Senyumnya terlihat tulus, tapi rasanya seperti ada sesuatu di baliknya."

Rehan melirik melalui kaca spion, mencoba menenangkan. "Mungkin hanya kesan pertama, Nona. Tapi kalau Anda merasa ada yang salah, Anda harus lebih waspada."

Lily menghela napas. "Aku sudah tahu ini permainan politik. Tapi entah kenapa, aku merasa Dewa punya tujuan yang lebih dari sekadar merger bisnis."

Rehan tidak menjawab, tetapi dalam hati ia setuju. Selama malam itu, ia memperhatikan gerak-gerik Dewa yang terlalu terkalkulasi, seolah-olah setiap kata dan tindakannya dirancang untuk memikat.

Keesokan harinya di kantor, Lily mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan. Namun, ia terus merasa gelisah.

Saat sedang memeriksa dokumen, Rehan datang membawa secangkir kopi. "Untuk membantu fokus, Nona," ujarnya dengan senyum ramah.

Lily tersenyum kecil. "Terima kasih, Rehan. Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan."

Namun, senyum itu pudar saat ponselnya berdering. Nama Dewa terpampang di layar. Lily menghela napas panjang sebelum mengangkat.

"Lily," suara Dewa terdengar lembut tetapi tetap tegas. "Aku ingin mengundangmu makan malam lagi. Ada hal penting yang ingin kubicarakan."

"Hal penting apa?" tanya Lily, curiga.

"Kita bicarakan nanti saja," jawab Dewa dengan nada penuh teka-teki.

Lily menutup telepon dengan perasaan semakin tak nyaman. Rehan, yang memperhatikan ekspresinya, bertanya hati-hati, "Ada masalah, Nona?"

"Dewa," jawab Lily singkat. "Dia ingin bertemu lagi malam ini. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tapi aku harus bersiap."

Rehan mengangguk. "Kalau Anda butuh sesuatu, saya selalu di sini."

Lily menatap Rehan, merasa sedikit lega. Meski hanya seorang asisten, kehadiran Rehan selalu membuatnya merasa tidak sendirian dalam menghadapi semua ini.

Malam itu, Lily duduk di meja rias, memandangi bayangannya di cermin. Ia mengenakan gaun merah marun yang dipilih ibunya, sebuah simbol keanggunan yang dipaksakan. Namun, pikirannya jauh dari kesan elegan. Ia memikirkan pertemuannya dengan Dewa sebelumnya-senyumnya terlalu sempurna, ucapannya terlalu licin.

Ketukan di pintu memecah lamunannya.

"Nona, mobil sudah siap," suara Rehan terdengar dari luar.

"Masuklah, Rehan," jawab Lily sambil berdiri.

Rehan melangkah masuk, mengenakan setelan rapi seperti biasa. Namun, kali ini ada sedikit kerutan di dahinya. Ia menatap Lily dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Sepertinya Anda tidak terlalu bersemangat untuk malam ini," katanya.

Lily mendengus. "Menurutmu? Aku dipaksa bertemu seseorang yang bahkan tidak ingin kukenal lebih jauh. Tapi aku tidak punya pilihan."

"Pilihan selalu ada, Nona," ujar Rehan dengan nada pelan tetapi tegas.

Lily menatapnya, seolah mencari keyakinan. Namun, ia hanya tersenyum kecil sebelum mengambil tasnya.

"Mari kita pergi."

Di restoran yang sama seperti malam sebelumnya, Dewa sudah menunggu dengan senyuman yang sama sempurnanya.

"Lily," sapa Dewa sambil berdiri. "Kau terlihat luar biasa malam ini."

"Terima kasih," jawab Lily dingin. Ia duduk tanpa basa-basi, langsung ingin mengetahui maksud dari pertemuan ini.

"Aku tahu kau bukan tipe orang yang suka basa-basi, jadi aku akan langsung saja," kata Dewa,

menyesap anggurnya. "Aku ingin memastikan bahwa kau memahami pentingnya pernikahan kita, tidak hanya untuk keluarga kita, tapi juga untuk masa depan bisnis kita."

"Bisnis kita?" Lily mengangkat alis, menahan tawa sarkastis. "Maaf, tapi aku tidak melihat diriku sebagai bagian dari 'tim' itu."

Dewa menyeringai, matanya memancarkan sesuatu yang dingin meski bibirnya tetap tersenyum. "Lily, aku tahu kau cerdas. Dan aku suka itu. Tapi dunia ini tidak selalu tentang apa yang kita inginkan. Kadang, kita harus menerima apa yang terbaik untuk semua orang."

"Dan kau menganggap dirimu sebagai yang terbaik?" balas Lily tajam.

"Aku menawarkan stabilitas," jawab Dewa dengan nada datar. "Kita tidak harus saling mencintai, tapi kita bisa saling menghormati. Itu cukup untuk membangun kemitraan yang kuat."

Lily terdiam, menatap pria di depannya dengan mata penuh penilaian. Ada sesuatu di balik kata-kata Dewa-seperti ancaman yang terselubung dalam kelembutan.

"Kalau kau menginginkan mitra bisnis, Dewa," ujar Lily akhirnya, "kau harus mencari orang lain. Aku bukan orangnya."

Dewa tertawa kecil, lalu bersandar di kursinya. "Kau tidak mudah, ya? Itu bagus. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja."

Di luar restoran, Rehan menunggu di mobil, mengamati gerak-gerik para tamu. Saat Lily akhirnya keluar dengan ekspresi letih, Rehan segera turun dan membuka pintu untuknya.

"Bagaimana malamnya, Nona?" tanya Rehan sambil menyalakan mesin.

"Persis seperti yang kuduga," jawab Lily lesu. "Dewa hanya berbicara tentang bisnis, kemitraan, dan segala hal yang tidak menyentuh perasaan. Aku merasa seperti barang dagangan."

Rehan terdiam sejenak, lalu berkata, "Kalau Anda merasa tidak nyaman, Anda selalu punya hak untuk menolak."

"Benarkah?" Lily tersenyum pahit. "Hak itu tampaknya tidak berlaku untukku, Rehan. Ayahku tidak akan membiarkanku lolos."

Rehan menatap cermin spion, melihat bayangan wajah Lily yang tampak muram. Dalam hati, ia merasa marah melihat Lily dipaksa menghadapi situasi seperti ini.

"Kalau begitu, apa rencananya, Nona?" tanya Rehan akhirnya.

Lily terdiam, menatap keluar jendela. "Aku belum tahu. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengontrol hidupku."

Rehan mengangguk pelan. "Saya mendukung apa pun keputusan Anda."

Malam itu, Lily tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh senyuman Dewa yang terasa dingin dan kalkulatif. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan pria itu, sesuatu yang tidak baik.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Gairah Liar Setelah Menikah
9.6
Kebahagiaan milyarder ini memuncak setelah menikahi akhwat impiannya. Namun, baru seminggu membina rumah tangga, sang istri mulai kewalahan menghadapi gairah suaminya yang tak terbendung. Sang suami terus meminta jatah di berbagai situasi, mulai dari ruang tamu hingga saat istrinya memasak di dapur. Meski sempat menolak karena sedang sibuk, sang istri akhirnya menyerah pada desakan suaminya. Keperkasaan sang suami yang luar biasa membuatnya lemas tak berdaya.
Sampul Novel Kekasih Bersama: Penghinaan Seorang Istri
9.5
Kehidupan rumah tanggaku hancur saat suamiku membawa selingkuhannya ke rumah. Namun, kejutan sebenarnya muncul ketika ayah mertuaku, Julio James, justru membela wanita itu dengan amarah besar. Pertikaian hebat antara ayah dan anak demi satu wanita yang sama terjadi di hadapanku. Skandal memuakkan ini pun meledak hingga menjadi berita utama nasional. Kini, aku terjebak sebagai istri sah yang dikasihani sekaligus menjadi bahan tertawaan publik akibat drama gila keluarga kaya ini.
Sampul Novel Papa Baru Untuk Anakku
8.5
Demi membahagiakan sang putra yang mendambakan sosok ayah, Lily menyetujui pernikahan kontrak dengan Keenan. Sang pria pun membutuhkan istri demi mewarisi perusahaan besar keluarganya. Meski Keenan menegaskan tak akan menganggap Lily sebagai istri sungguhan, benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Namun, kehadiran masa lalu yang tiba-tiba mengancam masa depan keduanya. Akankah mereka tetap bertahan atau justru memilih menyerah saat kenyataan mulai menghimpit?
Sampul Novel Pemuas Nafsu Sang Casanova
8.6
Aletta Casandra, gadis cantik dengan fisik sempurna, harus menghadapi kenyataan pahit saat pamannya sendiri menjadikannya sebagai alat penebus hutang. Masa mudanya hancur seketika saat ia dipaksa menjadi pemuas nafsu bagi Leonardo Pradungganegara. Leonardo adalah pengusaha muda ternama yang kaya raya namun memiliki kepribadian yang sangat kejam. Kini, Aletta terperangkap dalam kehidupan kelam sebagai budak dari pria berdarah bangsawan tersebut.