
Mati Rasa
Bab 2
Butuh beberapa minggu untuk menjadi utuh. Oh ... bukan, mungkin lebih tepatnya adalah berpura-pura utuh. Lona bahkan melewati minggu-minggu itu tanpa rasa ingin tahu. Dia menutup mata dan telinganya dari realita yang sedari kapan lalu mencoba mengganggu.
Sang bunda yang selalu mengajaknya bicara juga Mama, orang tua Hava, yang selalu berusaha membujuknya, Lona acuhkan begitu saja. Seolah-olah kalimat mereka hanya menggantung di udara tanpa sampai pada dirinya. Lona bahkan melewatkan momen-momen pencarian badan pesawat yang nyatanya hanya berupa puing-puing saja.
Ada Hava? Tidak, tentu saja.
Rasanya, Lona ingin mengelak dan lari. Berharap semua adalah ilusi. Tapi, kakinya kini justru bertumpu pada tanah di samping makam yang nisannya bertuliskan nama sang tunangan, Barra Ahava. Tanpa raga utuh yang terkubur di dalam sana.
Katanya itu tangan Hava. Sial ... Lona ingin tertawa saja. Bagaimana bisa tubuh sang tunangan hanya berupa tangan? Kemana yang lainnya? Diawetkan? Atau justru akan dijadikan pajangan di museum yang bertuliskan, 'Salah satu korban dari kecelakan pesawat Airness Asia.'
Lona kira kebahagiaan yang selama ini rekat dikehidupannya adalah gambaran dari masa depan. Tapi ternyata, itu cuma bagian dari masa lalu yang Lona sendiri tidak yakin akan hapus dalam ingatan.
Lona tatap gundukan tanah dihadapannya itu. Setidaknya, ia ingin tatap wajah Hava untuk terakhir kalinya. Membelai paras rupawan yang biasanya selalu penuh tawa dan cium keningya. Setidaknya itu yang Lona ingin, sebelum benar-benar berpisah dengan laki-laki yang selalu bawa terang pada hidupnya.
Tapi, yang ditemukan justru hanya berupa tangan yang sudah putus dan tak lagi berbentuk utuh. Jari-jemarinya bahkan hanya tersisa tiga. Meski ada cincin dengan inisial L yang tersemat di jari manisnya, rasa-rasanya Lona tak ingin percaya.
Mungkin saja ada yang menemukan cincin itu jatuh tergeletak lalu memasangkannya pada jari manis dari tangan yang ditemukan.
Bisa saja, bukan?
Tapi percuma mengelak, realita apapun yang berusaha Lona tampik nyatanya justru berbalik dan memukul Lona lebih keras lagi.
Karena pada akhirnya, Hava memang sudah mati, hilang dan tak bisa Lona temui raganya lagi. Matanya bahkan sudah sangat kering, tak ada lagi tangis yang pecah selama proses pemakaman.
Ikhlas? Tidak tentu saja. Lona hanya merasa hilang hingga tak tau lagi harus keluarkan emosi semacam apa.
Suara langkah kaki tertangkap di telinga Lona. Dengan cara yang tak lumrah, Lona rasakan dadanya seperti terhimpit besi tak kasat mata ketika matanya tangkap banyak orang mulai berdatangan dan berkerumun untuk menghampirinya. Sesak, Lona tak suka.
Dan sebelum orang-orang itu sampai, Lona lebih memilih berbalik lalu pergi meninggalkan pemakaman dan disusul oleh Bundanya dan kedua orang tua Hava. Lona sepenuhnya lupa akan konsekuensinya; dicaci dan dimaki.
Langkahnya berhenti di sebuah pohon rindang dengan bunga kuning yang bermekaran. Sama sekali tak ada cahaya yang menyelinap, buatnya rasakan tenang tak terkira.
"Sayang." Panggilan selembut sutra itu tertangkap oleh telinganya. Lona menoleh, menatap sang bunda yang kini menatapnya dengan tatapan kelewat sedu.
"Lona menyedihkan ya, Bun?"
Tak ada tanggapan dan justru dekapanlah yang Lona dapatkan. Sang bunda mendekapnya erat, memberinya kalimat-kalimat penguat yang sama sekali tak berfungsi bagi Lona.
Tidak, bukan karena tak menghargai, tapi dirinya sudah terlanjur patah hati. Perih yang rekat di hati, sama sekali tak membuat Lona jerih. Dirinya bahkan makin terjatuh dalam lubang gelap yang membuat dirinya makin terlihat pedih.
"Itu beneran Hava, Bun?"
Masih ada penyangkalan disetiap kata dalam kalimatnya. Dan bisa apa sang bunda, selain hanya terus mengucap, "Tenang ada Bunda di samping Lona."
Tak lama setelah kallimat itu, suara Mama Hava terdengar, buat Lona mau tak mau lepaskan dekapan Bundanya dan alihkan atensinya.
"Sayang, mampir ke rumah dulu ya, nak? Mama mau kasih kamu sesuatu."
Tawa terselip di alam bawah sadarnya, menertawakan betapa miris kehidupannya. Dia baru ingat, bukankah setelah ini, ia tak lagi bisa panggil wanita paruh baya dihadapannya ini dengan sebutan Mama?
"Lona tetep panggil Mama dengan sebutan Mama ya, nak?" Dan pikirannya ternyata berhasil dibaca.
Lona kira perih yang tadi menghimpit dadanya sudah raib, tapi nyatanya makin dijepit; perih dan sakit. Bagaimana mungkin, Lona bisa lupa jika keluarga Hava berisi orang-orang baik, sama seperti Hava.
Sosok laki-laki yang Lona rasa tidak akan pernah raib dari ingatannya.
Lona mengangguk untuk jawab ajakan Mama Hava. Langkahnya dituntun, dia menurut dan ikut. Tak tahu apa yang akan ditunjukkan, tapi firasatnya berkata, itu tentang Hava.
Selama perjalanan, Lona memilih untuk pejamkan mata. Hindari cahaya yang masuk dari celah jendela mobil yang membawanya.
Entah apa yang salah, Lona sama sekali tak mengerti, tapi setiap kali matanya tangkap cahaya, dia selalu ingat tentang kepergian Hava saat itu juga.
"Ayo turun, kita masuk ya, nak."
Langkahkan kakinya pelan, Lona singkirkan ragu yang coba menjeratnya.
Dan ketika pintu dibuka, hening ... tak ada lagi yang menyambut kedatangannya seperti hari-hari sebelumnya.
"Hai, sayang. Kok nggak ngomong mau ke sini."
"Hai, cantikku. Sini masuk, gimana harinya hari ini?"
"Hai, Lona aku, apa aja yang kamu lewatin hari ini, ada yang ganggu perasaan kamu, nggak?"
"Lona Lona Lona, Lona cuma punya aku!"
"Sayangggg! Masa Mama mukul aku!"
"Lona ihhh, aku capek tau hari ini, berat banget, masa sama Pak Dosen aku disuruh revisi terus."
Kalimat-kalimat itu terngiang, masih segar dalam ingatannya bagaimana Hava selalu sambut dirinya. Memanggil namanya, mengakuinya, mengadu dan mengajaknya bercerita.
Hava selalu berikan dekapan erat tanpa ia minta, berikan usapan-usapan lembut dikepalanya dan ucapkan kata-kata sayang untuk menenangkannya. Hanya Hava yang selalu bisa jadi obat untuk lelahnya.
Satu tetes air mata lolos, Lona kira dia akan terbiasa. Tapi ternyata, menginjakkan kaki di tempat yang menarik kembali ingatannya tentang Hava mampu buat hatinya berjerit ngilu. Perih dan sakit. Lona tak bisa.
"Ma, Lona di sini aja ya? Lona belum siap buat pergi ke kamar Hava."
Dan bisa apa sang Mama selain mengangguk menyetujuinya?
Lona bawa langkahnya menuju sofa. Duduk di sofa yang selalu ia duduki bersama Hava tiap kali ia berada di sini. Terselip tawa dibatinnya, rasa-rasanya semua tempat ada sosok Hava.
Lona rindu sosok Barra Ahava, disampingnya, dengan raga utuh yang bisa merengkuhnya kapan saja.
Kini dirinya terluka, Hava. Sangat-sangat terluka. Dan harus bercerita pada siapa? Siapa yang akan mendengarnya kali ini? Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada.
Lona mengulang kalimatnya sebanyak tiga kali, dia tak bisa lagi, berdiri dengan kakinya sendiri ketika separuh jiwanya pergi.
"Ini ponsel Hava." Kalimat itu menarik kembali seluruh kewarasan Lona.
Matanya bersitatap dengan sang Mama dan beralih pada benda pipih yang Mama sodorkan padanya.
Itu ponsel lama Hava.
"Mama nggak tau isinya apa. Tapi, ada note di ponselnya, sayang. Ini untuk Aalona Xiomara dan Mama cuma pengen ngasih itu ke kamu. Mama pengen nyampein apa yang emang Hava mau. Diterima ya?"
Tangannya bergerak, menerima dan menggenggamnya erat-erat.
'Sakit ... Hava. Sangat sakit, kenapa kamu harus pergi?'
Anda Mungkin Juga Suka





