
Mati Rasa
Bab 3
Satu minggu berhasil Lona lewati tanpa hadirnya sosok laki-laki yang ia cintai. Meski satu minggu itu penuh dengan batu sandungan, tapi Lona berusaha untuk tetap tegap berdiri di atas kakinya sendiri.
Benda pipih pemberian Mama Hava hanya tergeletak tanpa daya di atas meja. Lona kira ia sanggup buka ponsel Hava saat itu juga. Tapi tidak, dia justru tak memegangnya hingga satu minggu lamanya.
Ia bawa langkah kecilnya menuju meja, menarik kursi dan duduk di sana. Ponsel warna silver dengan inisial H&L di cassingnya. Lona jelas ingat, Hava bilang ponselnya hilang entah kemana, makanya tunangannya itu beli yang baru.
Tapi, laki-laki itu bohong, karena ponsel itu kini justru berada digenggamannya.
Nyeri, dadanya seperti terhimpit benda tajam tak kasat mata, lagi. Sudah satu minggu, tapi Lona masih tak bisa terbiasa dengan rasa nyeri di dada yang sering hampiri. Asing, semua rasa yang Lona terima secara dadakan itu buatnya linglung tanpa henti.
Mata coklat terangnya tatap ragu ponsel ditangannya itu, seperti mau dan tidak mau untuk buka lockscreen ponsel itu. Tapi, ibu jarinya tetap bergerak pelan, tekan tombol untuk nyalakan, hingga buat tangan kirinya remas kuat celana bahan yang sedang menempel pada tubuhnya.
Lockscreen ponsel itu berhasil kejutkan Lona dalam sesak. Ada Hava dan dirinya yang sedang tersenyum menatap kamera. Foto mereka tiga tahun yang lalu, saat dimana laki-laki itu nyatakan rasa suka padanya.
Senyum yang mengembang diwajahnya tunjukkan raut senang, tapi matanya tak akan pernah bisa berdalih, ada pedih yang terselip dari redup matanya yang kini berair.
Lona usap paras Hava yang ada di layar ponsel itu, langitkan kata-kata rindu yang ia harap mampu buatnya tenang meski dadanya rasakan sesak tiba-tiba. Tak sadar, jika usapan pelan itu buat kunci layar terbuka dan tampilkan wallpaper bertuliskan ‘Hai, Lona sayang, ini Hava. Apa kabar?’
Buat satu tetes air mata lolos begitu saja.
Telapak tangan kirinya makin remat kain bahan pada celana yang ia pakai hingga sengaja sentuh daging pahanya sendiri dan pasti akan timbulkan bekas keunguan nanti.
Tapi, Lona sama sekali tak peduli. Perempuan itu lebih memilih untuk gulirkan layar ponsel dan mulai cari apa yang ingin Hava beri tunjuk.
Hanya ada dua aplikasi di ponsel canggih itu, galeri dan aplikasi obrolan. Jari-jemarinya bergerak gelisah, sebabkan telunjuknya tak sengaja tekan galeri dan buat aplikasi itu terbuka.
1111.
Angka itulah yang berhasil Lona tangkap untuk pertama kalinya. ‘My Coffe’, nama satu-satunya folder yang ada buatnya mau tak mau tekan untuk membuka.
Fotonya dan Hava. Entah bagaimana cara tunangannya itu untuk kumpulkan semua, tapi Lona bersumpah semua foto itu buatnya ingin lari ke makam sekarang juga. Dia ingin peluk laki-laki itu dan adukan seluruh resah dan sakit yang ia alami akhir-akhir ini.
Tapi, tidak, Lona tak bisa lakukan itu sekarang. Dan perempuan itu memilih untuk menutup galeri karena tak ingin buka kenangan untuk saat ini.
Tangannya bergerak pelan, tekan aplikasi obrolan dan menunggu hingga aplikasi itu terbuka.
Dan semua yang tampil di layar ponsel itu buat rasa keterkejutannya makin meronta. Mulutnya terbuka, seakan-akan hendak ucapkan kata tapi suaranya tercekat dan hanya menggantung di langit-langit mulutnya.
Kenapa hanya ada nomor ponsel lamanya yang sudah mati di sana? Dan Lona jelas tak bodoh untuk bisa lihat ada percakapan di dalamnya.
Meski ragu kuasai, Lona beranikan diri untuk tekan pesan obrolan itu dan menggulirnya hingga obrolan paling atas, dia ingin tahu apa yang selalu tunangannya kirim untuk dirinya melalui nomornya yang sudah lama mati itu.
+6289xxxxxxxxx
11-12-2019
(Hai, Aalona, perempuan yang sudah buat Hava rasakan nyaman sebegininya.)
(Apa kabar?)
(Hava mau, u do well yahh, karena Hava tau, Lona pasti selalu lakuin yang terbaik untuk diri Lona sendiri.)
(Lona, waktu kamu udah bisa buka pesan ini, itu pasti waktu aku udah nggak ada sama kamu, karena emang aku ingin kamu lihat ini sampai pesan paling akhir yang aku tulis di sini.)
(Jadi … selamat berkelana yah. Aku nggak tau bakal nulis apa, tapi aku harap tulisan ini bisa sampai di tangan kamu nantinya.)
11-01-2020
(:p)
(Wkwk. Gajelas banget ya, aku?)
(Tapi, aku mau cerita hari ini.)
(Kamu cantik bangettt, sksksahfkjlka.)
(Gila, aku sampek tremor tau waktu ketemu tadi, haha. Keliatan pasti ya?)
(Emang cupu sih, aku. Nggak mau muji langsung, masi ngerasa awkward, padahal udah sebulan pacaran, wkwk.)
(Tapi, gapapa.)
(Sebenernya, kamu tuh cantik tiap hari tau, tapi hari ini beda aja, auranya keluar semua, hahha.)
(Hava sayang kamu, Lona.)
(Aduh skksakahakk makin ngalor ngidul ketikannya.)
(Bai.)
11-02-2020
(Apa kabar cantik?)
(Tadi siang kamu cerita kalau kamu lagi sebel sama dosen kamu.)
(Katamu, dosenmu galak dan kamu nggak suka.)
(Haha.)
(Lucu.)
(Selalu lucu.)
(Mau nggak jadi pacar aku?)
(Ehh … tapi, emang kamu punya aku sih dan selalu punya aku.)
(Selalu.)
11-03-2020
(Hai, sayang.)
(Hari ini, aku capek bangettt.)
(Tadinya mau cerita sama kamu, tapi kamunya lagi di luar kota sama Bunda.)
(Aku, nggak mau ganggu.)
(Tapi, capek Lona.)
(Hari ini banyak banget cobaannya.)
(Kayak semua yang aku lakuin tuh nggak pernah bener.)
(Kacau, Na.)
(Semua kacau dan nggak sesuai sama ekspektasi aku.)
(Apa emang karena ekspektasi aku yang terlalu tinggi ya?)
(Andai aja kamu disini, cantikku.)
(Pasti udah aku peluk sama uyel-uyel.)
(Kamu tau, ‘kan? Kamu adalah obat paling manjur buat bisa tenangin aku.)
Brak! Lona balikkan ponsel itu ke meja dihadapannya.
Ia tak bisa untuk lanjutkan membaca. Rasa nyeri didadanya tak main-main, buat lolos air matanya tanpa henti. Lona sakit, jelas sangat kesakitan karena terlalu paksa diri untuk kuat yang jelas belum ia temui.
Air mata yang Lona kira sudah kering bahkan mengalir deras tanpa henti. Tangannya bergerak cepat, pukuli dadanya yang rasakan sesak. Beri stimulasi pada dirinya sendiri bahwa ia akan baik-baik saja.
Beri tau pada alam bawah sadarnya untuk tetap baik-baik saja.
Lona tak pernah sangka, bahwa Hava akan lakukan hal sedemikian rupa dalam diamnya. Ia tak pernah mengira, bahwa Hava selalu kirim pesan pada dirinya setiap bulannya.
Kenapa? Kenapa tak sampaikan pesan-pesan itu langsung kepadanya. Kenapa harus kirimkan pesan itu pada nomornya yang sudah mati hingga tak sampai padanya.
Apa memang begitu cara laki-laki itu tinggalkan jejak hingga buat Lona rasakan sakit sedemikian rupa?
Rasa-rasanya Lona ingin tertawakan isi kepalanya yang makin tak waras dari hari ke hari.
***
Note: Tanda '()' adalah penunjuk pesan.
Anda Mungkin Juga Suka





