
Masa Puber Naldo
Bab 3
Di pagi yang terlihat sedikit mendung, Naldo dengan sepedanya menuju rumah Erju, seperti biasa pemandangan segar selalu terlihat, wanita muda yang berstatus Mami tiri Erju itu pasti selalu tanpil seksi dan menggoda, “Hai tante, Erju ada?”
“Naik aja Do, ada diatas” ucap Mami seksinya Erju itu mempersilahkan Naldo naik ke atas.
Di dalam kamar, Erju mengajakku lagi ketempat rahasianya menoropong, mengamati sekitar, mana tahu ada pemandangan yang menyegarkan.
Naldo sebenarnya hanya ingin melihat Mami Erju, dari pada meneropong jauh mencari Tante Miya berada.
“Gak ada yang terlihat Do, kita mabar aja yuk,”
Jika hanya mabarkan bisa dari rumah, sama-sama bisa mendengarkan suara, baiknya lihat Mami mu aja Ju, pikir otak Naldo.
‘Duar, dduaar’, kaget terdengar suara geluduk, sepertinya hari mau hujan, Naldo pun buru-buru ijin, biar gak kehujanan, handphone di taruh di tas kecil Naldo yang anti air. bergegas mengayuh sepedanya.
Belum sampai satu menit keluar dari pagar rumah Erju, hujan deras langsung jatuh ke bumi, Naldo pun tak singgah berteduh masih ia tetap menggayuh sepedanya menuju rumah. Derasnya hujan mengguyur badannya, basah kuyup. Lokasi perumahan elite, jalannya luas, rumah mewah satu persatu dilewatinya berjarak cukup jauh tak berdempetan, di batasi taman-taman dan kursi. dikit lagi sampai rumah.
“Pak” teriak Naldo, satpam yang berteduh dibawah posnya segera berlari membuka pagar dengan payung di tangannya.
“Hujan-hujanan Mas Naldo?” tanya pak satpam.
“Iya pak, dijalan pulang langsung deras, malas berteduh” jawab Naldo.
Mbak Yani yang khawatir dan Bi’ Onah yang mondar mandir didepan ruang tamu menunggu tuan mudanya, padahal sudah di hubungi ponselnya, tapi Naldo tak mengangkatnya karena handphone didalam tas miliknya.
“Mas Naldo, kenapa hujan-hujanan dijalan, deras banget lagi” seru Bi’ Onah yang terlihat sangat khawatir di wajahnya.
“Gak apa-apa Bi’ malah segar banget”
Mbak Yani memberikan handuk, Naldo berjalan dengan tubuh yang basah menuju ke kamar mandi di bawah, setelah melepaskan pakaian dengan handuk melangkah ke kamarnya.
Di kamar, Naldo Mandi, dan berganti pakaian, Bi’ Onah membawakan jahe hangat buat diminum Naldo.
“Hujannya deras banget Mas, kenapa gak di rumah mas Erju dulu, baru setelah reda pulang.” ucap Bi’ Onah lagi.
“Di jalan tadi, tiba-tiba aja hujannya turun langsung deras, jadi ya sudah sekalian aja”
Bi’ Onah yang tahu, kondisi fisik Naldo mengkhawatirkannya, tetapi Naldo merasa biasa saja.
Bi’ Onah pun turun ke bawah melanjutkan kegiatannya, dan Yani waktunya istirahat, biasanya Bi’ Onah tidur setelah sholat isya. dan Yani melanjutkan sampai jam 10 baru tidur, hari sudah maghrib, Naldo belum turun, Bi’ Onah menitip pesan ke Yani “Yani, nanti kalau Mas Naldo belum turun, kamu antarin makanan ke atas ya, semoga Mas Naldo gak masuk angin, biasanya jika terkena hujan dadakan Naldo sering demam” ucap Bi’ Onah yang hafal dengan Naldo sedari kecil.
“Iya Bi’,”
“Kalau kamu capek banguni aja Bi’ Onah buat jagain mas Naldo diatas ya” ucap Bi’ Onah lagi.
Jam 8 malam, Naldo belum juga turun dari kamarnya, Yani membawakan makanan sesuai pesan Bi’ Onah, didalam kamar setelah di ijinkan masuk, terlihat Naldo kedingan, meriang.
Yani segera memberikan obat dan membantunya makan, “Perlu dipanggilin dokter Mas?” tanya Yani.
“Gak usah Mbak, sudah sering kalau hujan meriang, nanti juga baikan” jawab Naldo dengan suara bergetar.
“Mbak Yani temanin dikamar ini gak apa-apa Mas?”
“Iya mbak” masih dengan suara bergetar, kebetulan sebelum naik keatas, Yani sudah mengkondisikan semua nya dibawah.
“Mbak di-ngiin” ucap Naldo.
Mbak Yani gak tahu harus apa, hanya menambahkan selimut “Ac nya di matiin mas?” tanya Yani.
“Gak usah, Mbak Yani pelukin Naldo dingin” ucap tuan muda yang ingin dipeluk.
Yani tak berpikir panjang, dia naik ke ranjang, dan memeluk tuan mudanya, dari belakang, terasa kenyal sentuhan dada Yani dipunggung Naldo, terasa hangat.
Yani menarik selimut dan memeluk Naldo dari belakang, Naldo tak berani menghadap kedepan, dia takut Kejadian seperti Mbak Ana.
Sambil memeluk tuan Muda, “Yani berkata, dulu, waktu mas Naldo berusia 10 tahun, Mas Naldo juga kedinginan setelah berenang dan kehujanan, Mbak Yani juga peluk seperti ini” ucapnya, Naldo lupa masa itu.
Naldo yang masih meriang, tetap otaknya bekerja memikirkan hal mesum, anunya ereksi, tetapi tetap diam.
“Sudah terasa hangat Mas?” tanya Mbak Yani.
“Iya hangat mbak, peluk terus ya, sampai Naldo tertidur” pinta tuan muda.
“Iya Mas, tidur lah” jawab Yani yang menyayangi tuan mudanya sedari dulu.
Sentuhan dari dada Yani membuat Naldo sulit memejamkan mata, hanya diam merasakan kehangat menjalar hingga ereksinya semakin kencang.
Yani pun meraskan perbedaan, saat usianya 10 tahun dengan sekarang, dengan badan yang semakin besar, dan tubuh yang menghangatkan diri dan hatinya.
Yani menyukai saat memeluk anak majikannya itu, dengan dekapan yang hangat, tak melepaskannya. sejam waktu berlalu, dan Naldo tertidur pulas.
Yani bergerak turun perlahan dan keluar dari kamar Tuan mudanya.
Pagi harinya, Bi’ Onah naik memeriksa Naldo, dan melihat kondisi tuan mudanya sudah baikan seperti semula, ke khawatirannya berkurang, dan kembali turun perlahan ke bawah.
Yani yang sedang menyetrika pakaian, bertanya “Gimana Naldo Bi’?
“Sudah baikan, semalam kamu kasih obat apa?” tanya Bi’ Onah.
“Disuapin makan dan minum jamu madu hangat aja” jawab Yani.
“Masih mau Naldo disuapin, biasanya gak mau, sudah gede katanya” ungkap Bi’ Onah sambil tertawa kecil.
Naldo sudah terbangun, dan turun menuju meja makannya, menyantap makanan yang ada dan kembali ke kamar.
Melanjutkan permainan gamenya, Mbak Yani naik ingin menyusun pakaian dilemari, runitisan harian asisten rumah tangga.
“Gimana kondisi Mas Naldo, sudah enakan?” tanya Yani
“Sudah Mbak” jawab Naldo sambil terus melihat layar ponselnya, yang sebenarnya malu melihat Yani yang memeluknya dari belakang tadi malam.
Yani yang Janda lama, sejak usia 22 tahun sudah menjadi janda, mengatakan ke tuan muda, “Kalau mas Naldo kedinginan atau kesepian sebelum tidur, mau ditemanin Mbak Yani, ngomong aja ya, Mbak Yani temanin” ucapnya dengan senyuman.
Yani sedikit genit di banding Ana, mungkin jika Yani yang memeluknya dari depan, mungkin tak minta pulang kampung seperti Ana.
Yani melangkahkan kaki ingin keluar dari kamar Naldo, sebelum sampai di pintu kamar Naldo memanggil, “Mbak kesini dulu deh”
Yani menghampiri tuan mudanya.
“Semalam, setelah tertidur, Naldo mimpi dipeluk Mami, Naldo pengen dipeluk lagi Nanti malam, Naldo kangen pelukan itu” ucapnya yang benar ingin, di tambah modus.
“Iya, nanti setelah Bi’ Onah tidur, Mbak naik ke sini ya” ucap Yani dengan senyuman.
Malam yang ditunggu Naldo tiba, Yani pun memakai daster yang sedikit longgar dan tipis berwarna putih, dan di semprot dengan sedikit parfum, biar gak bau saat dekat dengan tuan muda.
Yani masih berpikir, bahwa tuan muda, memang kesepian dan butuh sentuhan kasih sayang, yang berbeda dengan Naldo yang mau memuaskan hasrat pubernya.
Anda Mungkin Juga Suka





