Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mars & Venus Fall In Love

Mars & Venus Fall In Love

Elga, mahasiswi kedokteran berusia 20 tahun, terjebak dalam situasi rumit bersama senior populer bernama Zyan. Berawal dari insiden ciuman hingga tinggal satu atap, kebencian di antara mereka perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam. Namun, saat Elga siap menerima lamaran Zyan, rahasia masa lalu terkuak: Zyan ternyata sudah memiliki seorang putri. Di tengah penolakan dan luka lama, mampukah Elga bertahan dan membawa hubungan mereka menuju pelaminan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Elga tak menyukai segala hal yang ada di pesta ini.

Sebaik, semeriah, atau sebagus apapun Satya mempersiapkan segalanya, kesimpulan sang putri tetaplah sama.

"Gue pasti jadi olok-olokan semua orang!" bisik perempuan bergaun hitam selutut itu, memanyunkan bibir setelahnya.

Ia menutup wajah, menahan malu yang besar, "Yang berhasil bukan cuma gue, tapi ada puluhan orang. Kenapa Mommy dan Papi membuatnya seolah gue paling wow, sih?"

"Karena lo memang luar biasa-"

Diantara pikiran berkecamuk itu, seseorang terdengar menimpali kalimat Elga. Datang dari arah belakang, berjalan anggun mendekatinya.

"Gue Helen, mahasiswi baru yang akan jadi satu angkatan sama lo," ujar gadis itu, mengulurkan tangan. "Gue tertarik untuk jadi temen lo."

Elga bukannya tak mau membalas uluran tangan itu, hanya saja, kedua tangannya masih terlalu basah karena baru ia cuci di wastafel sesaat yang lalu.

"Gue Elga," balas si pemilik pesta. "Lo tadi bilang gue apa?"

Dengan berat hati, teman satu jurusan Elga itu menarik dan menyimpan kembali tangannya tanpa tahu alasan mengapa Elga tak menerima dan menjabat balik.

"Gue bilang lo beruntung," kata gadis yang tampil dengan sangat glamor menurut pandangan Elga begitu, menegaskan bahwa orang ini pasti ingin jadi pusat perhatian.

"Beruntung?" balas Elga, mengulangi bagian yang ia tak mengerti, "Beruntung gimana?"

"Ya, beruntung. Lo punya segalanya, dapet pesta perayaan pula. Gue sebetulnya iri sama lo." Helen berujar rendah diri.

Elga melampirkan senyum tak percaya, "Orang kaya gue harusnya nggak diiriin. Kalau lo mau, lo boleh ambil segala yang gua punya."

Malas meladeni orang yang tak bersyukur dengan hidup yang Tuhan beri membuat Elga memutuskan berlalu, pergi begitu saja.

Helen menatap gadis yang semula diajaknya berteman dengan tatapan datarnya, "Harusnya lo nggak mengucap hal semacam itu, Elga Heidee."

***

"Apa yang orang itu mau iriin dari gue, coba?" Elga masih tak percaya dengan kejadian yang menimpanya sesaat lalu.

Kehidupan yang sebetulnya selalu ia eluh-eluhkan, mendadak diinginkan oleh orang lain.

Entah karena dirinya yang kurang bersyukur, atau orang itu yang tidak tahu tentang kisah lengkap hidupnya. Elga acuh mencari tahu.

"Gue malu, banget. Mana yang dateng rame lagi! Gue harus kemana?" Mencari lokasi yang jauh dari riuhnya para tamu, tibalah Elga di pinggiran kolam.

Matanya melebar kala melihat cantiknya tempat itu. Banyak lampu, ia juga bisa melihat betapa indahnya langit di malam hari.

"Kenapa perasaan gue tetep kosong, ya?"

"Artinya lo butuh teman berbagi."

Jantung Elga terasa seperti hendak meninggalkan tubuhnya, saking terkejutnya ia. Ada yang datang, begitu tiba-tiba sampai tidak memberi kode apapun.

"Si-siapa lo?" tanya gadis itu, terbata-bata.

"Evan," jawaban singkat, hanya satu kata, dilontarkan dengan santainya.

"Lo satu angkatan sama gue juga?" tanya Elga, memastikan juga memerhatikan dengan seksama.

Cowok berkemeja itu hanya mengangkat bahunya, tak memberi jawaban spesifik. "Gua ke sini buat gantiin seseorang."

Elga menyipit, "Gitu, ya?" balasnya kemudian, tak tertarik. "Bisa tolong tinggalin gue sendiri di sini, nggak? Gue sengaja cari tempat sepi, tapi lo dateng."

Evan yang baru berkenalan dengan gadis itu justru diusir pergi.

Menggoyangkan gelas berisi jus, cowok itu mengalihkan pandangannya. "Anggep aja gua enggak ada. Kita gak saling kenal, lo bebas lakuin apa yang lo mau."

"Kalau cerita, boleh?"

"Sure."

Anehnya, Elga yang tidak terbiasa curhat pada orang lain justru tertarik untuk mengatakan kekesalan hatinya kepada orang asing itu.

"Yang lebih nggak masuk akalnya lagi, lo itu orang asing. Tapi gue merasa nyaman banget deket lo dan ngobrol kaya gini," ujar gadis bermata sipit dan berlesung pipi tersebut.

Elga mulanya tak sadar kalimat itu terlontar begitu saja dari sudut bibirnya, kejujuran mengenai apa yang ia rasa.

Yang ia tahu, kebahagiaan karena moodnya berangsur pulih adalah berkat kehadiran sosok yang disebutnya orang asing.

"Berbincang hal random sama lo membuat gue merasa jauh lebih baik!"

Pria itu mengangkat sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang tidak Elga mengerti maknanya.

"Justru karena gua adalah orang asing."

"Eh?"

"Karena gua orang asing, lo bisa seterbuka ini."

Yang dikatakan oleh pria itu hampir seratus persen benar.

Bahwa dengan mengutarakan apa yang dialami yang coba dipendam dalam hati kepada orang asing akan menimbulkan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Nyaman.

Karena orang tersebut tidak sepenuhnya mengenal apa yang kita lalui sejauh ini. Karena mereka tidak akan menghakimi juga memberi penilaian secara sepihak tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.

Elga terkejut saat teman ceritanya itu mendadak bangkit, merapihkan tatanan kemejanya dan hendak berpamitan.

"Mau kemana?"

"Sorry?"

"Maksud gue, lo kelihatan mau pergi. Pestanya aja belum dimulai, lo mau pulang?"

Laki-laki berparas menawan itu membalas sekadarnya. "Gua udah bilang, gua di sini karena permintaan gantiin seseorang. Waktu disepakati udah habis."

"Tapi-" Elga ingin menahan orang itu lebih lama, hanya saja sayangnya ia tak punya alasan bertindak demikian.

Harusnya pertemuan itu cukup berakhir sampai di sana.

Harusnya tidak ada lagi yang membuat mereka terlibat antara satu sama lain. Tak ada alasan membuat perjumpaan itu spesial.

Seperti konsep orang asing pada umumnya, bertemu untuk pada akhirnya berlalu seolah tidak ada yang terjadi, berlaku juga untuk kali ini.

Terlepas dari itu, Elga merasa ada yang aneh dengannya.

Memikirkan bahwa ia tidak akan bertemu dengan orang itu lagi membuatnya merasa sedih.

Ini konyol, Elga tahu itu.

"Te-terimakasih," ucap Elga, sungguh-sungguh. "Siapapun lo, terimakasih karena sudah bersedia mendengarkan cerita gue."

Pria itu mengangguk sekilas, "Hidup adalah yang pertama kalinya buat kita semua. Buat lo, buat gua. Nggak usah terlalu dipikirin, jalanin aja."

Bersamaan dengan kalimat terakhir yang si orang asing itu lontarkan, Elga merasa ada magnet besar yang menariknya.

Membuatnya melangkah menuju tempat dimana pria itu berdiri.

Tenggelam bersamaan dengan harapan-harapan baik yang ditujukan kepadanya, satu kecupan hangat rupanya menjadi akhir dari perjumpaan asing mereka berdua.

Dua bibir ranum itu menyatu, menempel lembut.

Elga membiarkan ciuman pertamanya jatuh pada orang asing, yang tidak ia kenali sama sekali tak tahu nama maupun asal usulnya terjadi begitu saja.

'Lo gila, El. Lo kehilangan akal sehat!' umpatnya, dalam hati.

Tapi bukannya mengambil langkah mundur, Elga malah memosisikan dirinya lebih dekat, menekan kepalanya lebih dalam lagi.

Sementara sosok yang diserang Elga dengan ciumannya itu membeku, mematung di tempatnya. Awal mula terkejut, lalu saat kehangatan membaur diantara jiwa mereka berdua, barulah si lelaki mulai menuntut.

Ia membalas ciuman dadakan itu dengan memperlakukan Elga layaknya tuan putri.

Memberikan pengalaman luar biasa di pesta perayaan gadis blasteran yang akan menjadi dokter kelak di masa depan ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A
8.3
Waktu membawa kita pada pertemuan yang tak terduga, namun perpisahan sering kali menjadi misteri yang sulit dipahami. Melalui kehilangan, kita dipaksa menyadari betapa berartinya kehadiran seseorang bagi hati kita. Meski rasa sakit bisa disembuhkan, luka yang tertinggal akan tetap membekas selamanya. Apa yang telah patah tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan emosional yang penuh makna ini.
Sampul Novel Cinta & Obsesi SANG PSIKOPAT Cantik
9.5
Via terjebak dalam obsesi buta terhadap abangnya, Fatih. Namun, kehadiran Kenan yang telah memujanya sejak SMP mulai menggoyahkan hatinya. Di tengah dilema tersebut, Via menyadari bahwa perasaannya pada Fatih bukanlah cinta sejati. Akhirnya, ia memilih menerima Kenan tanpa menyadari bahwa mereka berbagi kegilaan dan obsesi yang serupa. Akankah ketulusan Kenan mampu menaklukkan sisi gelap Via yang ternyata menyimpan kepribadian seorang psikopat?
Sampul Novel Cinta Yang Sesungguhnya
9.1
Dayana Ekavira Sanjaya memilih menghilang dari Jakarta demi lepas dari perlakuan buruk suami dan keluarganya. Mengganti identitas menjadi Kana Zanitha, ia jatuh pingsan di sebuah kebun saat melarikan diri. Elvan Ravindra Dewangga, pria introvert pemilik vila, menemukannya dalam kondisi demam. Meski awalnya takut, benih cinta tumbuh di antara mereka. Namun, masa lalu kembali menghantui saat suaminya menemukan persembunyiannya. Akankah Kana lari lagi atau bertahan?
Sampul Novel Gairah Pesta Birahi
9.5
Yenka Linggarwarna muak dikhianati Taran selama empat tahun pernikahan. Terhina karena disebut bodoh lantaran setia, ia nekat membalas dendam dengan cara serupa. Lewat bantuan Ian, sahabat masa kecilnya, Yenka menyusup ke pesta topeng rahasia yang penuh gairah demi mencicipi kebebasan seksual. Tak disangka, pesonanya justru memicu obsesi banyak pria hingga mengubah sikap Taran. Kini Yenka terjebak antara memperbaiki rumah tangga atau tenggelam dalam permainan panasnya.
Sampul Novel Hello, My Husband
8.6
Hubungan pernikahan yang hanya berlandaskan tanggung jawab kini berada di ambang kehancuran. Saat sang istri meminta suaminya berhenti bersikap peduli agar tidak memberi harapan palsu, ketegangan justru memuncak. Pertengkaran dingin itu berujung pada keheningan yang menyesakkan. Ketika pintu tertutup tanpa jawaban pasti mengenai perpisahan mereka, sang istri hanya bisa terpaku dalam keraguan. Apakah ini akhir dari segalanya atau awal luka baru?
Sampul Novel Kariermu Ada di Tanganku
8.2
Nayara Devanka adalah putri tunggal keluarga Mahendra yang berkuasa. Hidupnya sempurna bersama Rafael, mantan staf sang ayah yang ia angkat derajatnya, serta putri mereka, Isolde. Namun, pengorbanan Naya dibalas pengkhianatan keji. Rafael diam-diam menikahi masa lalunya dengan restu keluarga besarnya sendiri. Mereka menikmati kemewahan dari Naya sambil menikamnya dari belakang. Kini, Naya tak akan tinggal diam dan siap menghancurkan karier serta hidup mereka.