
Mantu Kurang Ajar
Bab 2
Pagi harinya, saat aku sedang mempersiapkan dagangan di dapur, ibu mertua tiba-tiba menghampiriku dengan wajah datar. "Tar, kamu bisa nggak, ya, lebih rajin lagi jualannya? Jangan minta bantuan Hanif terus, soalnya dia pasti juga capek di bengkel," katanya tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar menekan.
Aku mencoba tersenyum, meski hati ini terasa teriris. "Iya, Bu, saya akan berusaha sebaik mungkin," jawabku dengan sopan.
Setiap hari, aku merasa sikap Ibu dan Bapak mertua semakin dingin, nyaris tak pernah tersenyum atau berbicara hangat seperti dulu.
Setiap kali bertemu, Bapak mertua selalu menghindar, ia bahkan tak mau menyentuh makanan atau minuman yang aku buatkan. Yang lebih pedih, beliau akan memberikan makanan dan minuman itu kepada orang lain yang datang ke tokonya.
Begitu juga dengan Ibu mertua yang hanya mengangguk singkat, lalu berlalu tanpa sepatah kata, apalagi ucapan terima kasih ketika aku membantunya di toko.
Mungkin Bang Hanif belum sempat bicara dengan mereka soal yang kemarin dan sepertinya mereka agak marah padaku. Jadi, aku mencoba memaklumi dan memilih untuk mengurus semuanya sendirian.
Sejak saat itu, aku berusaha melayani pelanggan tanpa bantuan siapa pun. Aku bekerja lebih keras dari sebelumnya, menyajikan pesanan nasi goreng, mie rebus, dan melayani pelanggan satu per satu. Malam ini, saat warung sedang ramai, Bang Hanif datang dan menghampiriku.
"Biar Abang bantu, Tar," ujarnya sambil mengangkat kuali besar di depanku.
Aku tersenyum kecil, menahan rasa letih yang mulai terasa di sekujur tubuh. "Nggak usah, Bang. Kamu pasti capek di bengkel seharian. Istirahat aja sana. Aku bisa, kok," jawabku, mencoba terdengar tegar.
Bang Hanif menatapku dengan raut wajah bingung. "Kamu yakin, Tar? Abang nggak mau kamu kecapekan sendirian kayak gini."
Aku hanya mengangguk sambil memasang senyum tipis. "Iya, Bang. Nggak apa-apa kok. Anggap aja ini latihan buat aku, supaya kuat," ujarku, meski dalam hati aku merasa ingin menyerah.
Malam demi malam berlalu, dan aku tetap berusaha menjalankan semuanya sendiri. Kadang sampai tengah malam, aku masih melayani pelanggan yang datang, membersihkan peralatan, dan merapikan lapak jualanku tanpa bantuan siapa pun.
Namun, tubuhku mulai tak kuat. Pagi ini saat hendak menyiapkan dagangan di dapur, tiba-tiba pandanganku terasa berputar. Tubuhku mendadak lemas, dan seketika keringat dingin mengalir di dahiku.
Aku pamit pada Ibu mertua yang sedang ada di sini dan memutuskan untuk tidak berjualan. Badanku terasa lelah dan pegal, jadi kuputuskan untuk istirahat sejenak.
Aku tidur hingga sore hari, berharap bisa pulih. Ketika terbangun, perutku terasa kosong, membuatku langsung menuju dapur dengan harapan bisa menemukan sesuatu untuk dimakan.
Namun, saat membuka lemari dan melihat meja makan, tak ada satu pun makanan di sana. Hatiku terasa kembali teriris. Aku sadar, mungkin ini hal sepele, tapi di tengah kondisi yang seperti ini, rasanya seperti luka yang semakin dalam.
Aku menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk ke toko, mencari Bang Hanif. Saat itu, ia masih berada di bengkelnya yang tak jauh dari rumah. Ketika melihatku mendekat, ia tersenyum.
"Bang, kamu sudah makan?" tanyaku, mencoba terdengar biasa saja meski ada getir yang kutahan dalam hati.
Bang Hanif mengangguk. "Udah, tadi. Ibu sama Bapak beli nasi bungkus. Jadi, mereka sekalian beliin buat aku juga, soalnya kamu nggak masak katanya."
Aku tercekat sejenak. Jadi, mereka sudah makan dan mereka seakan melupakanku. Padahal Ibu mertua tahu sejak pagi tadi aku tidak enak badan. Hatiku bergetar, tapi aku menahan perasaanku agar tak pecah di depan Bang Hanif.
"Terus... buat aku nggak ada?" tanyaku, mencoba mencari kepastian takut kalau dugaanku salah.
Bang Hanif menatapku, tampak sedikit heran. "Kamu mau? Aku bisa pergi beliin lagi, kok," katanya, mencoba menawarkan.
Aku tersenyum tipis, menahan rasa kecewa yang semakin kuat. Ternyata, Ibu dan Bapak mertuaku benar-benar tak peduli. Mereka tahu aku tidak sehat, tapi tetap tak menganggap keberadaanku. Bagiku ini terasa menyakitkan, tapi bagi mereka, mungkin ini hanya hal kecil yang tak perlu dipikirkan.
"Nggak usah, Bang," jawabku akhirnya dengan senyum yang kupaksakan. "Aku masak mie aja, nggak apa-apa kok."
Aku kembali ke dapur dengan langkah perlahan, menyiapkan sebungkus mie instan yang kubeli di toko Ibu mertua. Aku menyeduh mie instan dengan air panas, sambil berusaha menelan perasaan kecewa yang mengalir deras.
Anda Mungkin Juga Suka





