Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantu Kurang Ajar

Mantu Kurang Ajar

Terinspirasi dari realitas kehidupan rumah tangga, kisah ini menyoroti perjuangan seorang menantu yang kerap disudutkan. Saat dirinya mencoba melawan ketidakadilan dan membela diri dari perlakuan buruk mertuanya, ia justru mendapatkan label negatif sebagai sosok yang tidak tahu sopan santun. Drama ini menggambarkan konflik batin dan stigmatisasi sosial yang menyakitkan ketika upaya mempertahankan harga diri dianggap sebagai tindakan kurang ajar.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi harinya, saat aku sedang mempersiapkan dagangan di dapur, ibu mertua tiba-tiba menghampiriku dengan wajah datar. "Tar, kamu bisa nggak, ya, lebih rajin lagi jualannya? Jangan minta bantuan Hanif terus, soalnya dia pasti juga capek di bengkel," katanya tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar menekan.

Aku mencoba tersenyum, meski hati ini terasa teriris. "Iya, Bu, saya akan berusaha sebaik mungkin," jawabku dengan sopan.

Setiap hari, aku merasa sikap Ibu dan Bapak mertua semakin dingin, nyaris tak pernah tersenyum atau berbicara hangat seperti dulu.

Setiap kali bertemu, Bapak mertua selalu menghindar, ia bahkan tak mau menyentuh makanan atau minuman yang aku buatkan. Yang lebih pedih, beliau akan memberikan makanan dan minuman itu kepada orang lain yang datang ke tokonya.

Begitu juga dengan Ibu mertua yang hanya mengangguk singkat, lalu berlalu tanpa sepatah kata, apalagi ucapan terima kasih ketika aku membantunya di toko.

Mungkin Bang Hanif belum sempat bicara dengan mereka soal yang kemarin dan sepertinya mereka agak marah padaku. Jadi, aku mencoba memaklumi dan memilih untuk mengurus semuanya sendirian.

Sejak saat itu, aku berusaha melayani pelanggan tanpa bantuan siapa pun. Aku bekerja lebih keras dari sebelumnya, menyajikan pesanan nasi goreng, mie rebus, dan melayani pelanggan satu per satu. Malam ini, saat warung sedang ramai, Bang Hanif datang dan menghampiriku.

"Biar Abang bantu, Tar," ujarnya sambil mengangkat kuali besar di depanku.

Aku tersenyum kecil, menahan rasa letih yang mulai terasa di sekujur tubuh. "Nggak usah, Bang. Kamu pasti capek di bengkel seharian. Istirahat aja sana. Aku bisa, kok," jawabku, mencoba terdengar tegar.

Bang Hanif menatapku dengan raut wajah bingung. "Kamu yakin, Tar? Abang nggak mau kamu kecapekan sendirian kayak gini."

Aku hanya mengangguk sambil memasang senyum tipis. "Iya, Bang. Nggak apa-apa kok. Anggap aja ini latihan buat aku, supaya kuat," ujarku, meski dalam hati aku merasa ingin menyerah.

Malam demi malam berlalu, dan aku tetap berusaha menjalankan semuanya sendiri. Kadang sampai tengah malam, aku masih melayani pelanggan yang datang, membersihkan peralatan, dan merapikan lapak jualanku tanpa bantuan siapa pun.

Namun, tubuhku mulai tak kuat. Pagi ini saat hendak menyiapkan dagangan di dapur, tiba-tiba pandanganku terasa berputar. Tubuhku mendadak lemas, dan seketika keringat dingin mengalir di dahiku.

Aku pamit pada Ibu mertua yang sedang ada di sini dan memutuskan untuk tidak berjualan. Badanku terasa lelah dan pegal, jadi kuputuskan untuk istirahat sejenak.

Aku tidur hingga sore hari, berharap bisa pulih. Ketika terbangun, perutku terasa kosong, membuatku langsung menuju dapur dengan harapan bisa menemukan sesuatu untuk dimakan.

Namun, saat membuka lemari dan melihat meja makan, tak ada satu pun makanan di sana. Hatiku terasa kembali teriris. Aku sadar, mungkin ini hal sepele, tapi di tengah kondisi yang seperti ini, rasanya seperti luka yang semakin dalam.

Aku menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk ke toko, mencari Bang Hanif. Saat itu, ia masih berada di bengkelnya yang tak jauh dari rumah. Ketika melihatku mendekat, ia tersenyum.

"Bang, kamu sudah makan?" tanyaku, mencoba terdengar biasa saja meski ada getir yang kutahan dalam hati.

Bang Hanif mengangguk. "Udah, tadi. Ibu sama Bapak beli nasi bungkus. Jadi, mereka sekalian beliin buat aku juga, soalnya kamu nggak masak katanya."

Aku tercekat sejenak. Jadi, mereka sudah makan dan mereka seakan melupakanku. Padahal Ibu mertua tahu sejak pagi tadi aku tidak enak badan. Hatiku bergetar, tapi aku menahan perasaanku agar tak pecah di depan Bang Hanif.

"Terus... buat aku nggak ada?" tanyaku, mencoba mencari kepastian takut kalau dugaanku salah.

Bang Hanif menatapku, tampak sedikit heran. "Kamu mau? Aku bisa pergi beliin lagi, kok," katanya, mencoba menawarkan.

Aku tersenyum tipis, menahan rasa kecewa yang semakin kuat. Ternyata, Ibu dan Bapak mertuaku benar-benar tak peduli. Mereka tahu aku tidak sehat, tapi tetap tak menganggap keberadaanku. Bagiku ini terasa menyakitkan, tapi bagi mereka, mungkin ini hanya hal kecil yang tak perlu dipikirkan.

"Nggak usah, Bang," jawabku akhirnya dengan senyum yang kupaksakan. "Aku masak mie aja, nggak apa-apa kok."

Aku kembali ke dapur dengan langkah perlahan, menyiapkan sebungkus mie instan yang kubeli di toko Ibu mertua. Aku menyeduh mie instan dengan air panas, sambil berusaha menelan perasaan kecewa yang mengalir deras.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (Bukan) Pembawa Sial
9.1
Dalam tradisi tertentu, seorang anak laki-laki yang memiliki kemiripan fisik identik dengan ayahnya dianggap sebagai pembawa sial dan ancaman. Revan, pemuda dari keluarga sederhana, harus menelan pil pahit akibat mitos tersebut. Meski ia tidak bersalah, wajahnya yang sangat mirip sang ayah membuatnya dikucilkan. Demi melindungi orang-orang tersayang yang mulai menjauhinya, Revan memilih pergi. Akankah ia mampu mematahkan stigma buruk yang menghantui hidupnya?
Sampul Novel Give Me Your Heart
9.1
Andrea Keyne Halim percaya setiap orang berhak memperjuangkan cinta, termasuk saat ia merebut paksa pria idamannya dari sahabat sendiri. Meski telah resmi menjadi pendamping hidup, Andrea justru menghadapi kenyataan pahit. Sang suami bersikap sangat dingin, tak pernah menyapa, apalagi menyentuh layaknya istri. Di tengah kucuran air mata dan pengabaian, Andrea hanya mendambakan hati, bukan sekadar raga. Sampai kapan ia mampu bertahan menghadapi kebekuan ini sebelum akhirnya memilih pergi?
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.
Sampul Novel KERESEK HITAM DALAM FREEZER
7.9
Kehidupan Tedi berubah mencekam saat ia menemukan bungkusan kresek hitam berisi jasad bayi di dalam freezer kulkasnya sendiri. Alih-alih melapor ke pihak berwajib, Tedi justru memilih untuk menyimpan rahasia mengerikan tersebut dan bertekad memburu sosok di balik tindakan keji ini secara mandiri. Mampukah ia mengungkap identitas pelaku sebenarnya sebelum segalanya terlambat? Sebuah kisah misteri penuh ketegangan tentang pencarian keadilan yang gelap.
Sampul Novel KURELAKAN SUAMIKU
8.5
Setiap pernikahan pasti menghadapi rintangan berat. Bagi Alwi, seorang pria mapan yang telah memiliki segalanya, rasa jenuh mulai mengikis kebahagiaan rumah tangganya. Meski didampingi istri yang sangat cantik dan dikaruniai seorang putra, kata bosan justru menjadi penghalang utama dalam hubungan mereka. Kisah ini menyoroti bagaimana kemapanan materi tak menjamin keutuhan hati saat ujian kesetiaan datang melanda di tengah kehidupan modern.