
Mantan Tapi Menikah
Bab 3
"Hai, Sayang. Aku menunggumu dari tadi," seseorang itu berkata pada Emily.
"Siapa dia, Emily?" Erland segera bertanya.
Emily mulai pening dengan ini.
"Oh, hai. Aku King pacar Emily. Kau siapa?" seseorang itu memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.
Mata Emily membeliak mendengar itu. Sial. apa-apaan ini. Belum sempat dia memberikan jawaban, King berkata lagi.
"Sayang, siapa dia? Apakah kau selingkuh dariku, hmm."
"King jangan mengada-ada!!" sentak Emily.
"Emily, kau sudah punya pacar?" Erland bertanya dengan raut wajah yang tidak lagi bersahabat. Jelas dia kecewa jika gadis yang ia incar ternyata sudah memiliki pacar.
"Belum. Dia bukan pacarku," jawab Emily segera.
"Oh, Sayang. Kenapa kau tidak mengakuiku?" King menyahut.
"Emily?!" Erland meminta penjelasan. Dia menatap Emily dengan pasti.
"Jangan tatap pacarku seperti itu, kau membuatku cemburu," King menegur Erlnad.
"King diam?!!" Emily marah padanya. "Aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa," dia memberikan kepastian. King menatapnya diam.
"Erland, ayo." Emily mengulurkan tangannya meraih tangan Erland dan membawa Erland menjauh dari King yang gila itu.
Emily segera masuk kedalam mobil Erland. Mobil itu melesat cepat meninggalkan cafe.
"Serius dia bukan pacarmu, Emily? Aku tidak mau membawa kabur pacar orang," ucap Erland.
Emily mengatur nafasnya dulu sebelum ia memberikan jawaban.
"Dia mantan pacarku saat SMA." Emily menjawab jujur.
Erland menoleh menatapnya. "Mantan saat SMA?" dia merasa tidak percaya. Selama itu dan laki-laki tadi masih mengejar Emily.
Gadis itu mengangguk. "Ya," jawabnya. "Erland, bisakah kita tidak perlu membahasnya. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan dia. Dia hanya masa laluku saat SMA," ucap Emily.
Erland mengangguk. "Baiklah," jawabnya. Dia justru bahagia jika Emily sungguh tidak ada hubungan apapun dengan laki-laki tadi.
Emily menyandarkan punggungnya di bangku dan menoleh menatap jalanan. Kenapa King harus datang kembali dalam hidupnya. Setelah laki-laki itu berhasil menghempaskannya ke dasar bumi. Kedua orangtuanya bahkan hampir membunuhnya karena kesalahan yang pernah ia lakukan dengan King. Kemana King saat ia terpuruk. Tidak ada. Laki-laki itu adalah laki-laki pecundang.
Emily mengambil nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Pelan, ia merasakan genggaman tangan hangat. Genggaman tangan dari Erland. Tidak ada penolakan dari Emily. Dia menoleh menatap Erland sejenak dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali.
Emily berharap, Erland laki-laki yang baik yang menerima dirinya apa adanya. Dia berharap, dia bisa memulai sebuah hubungan dengan Erland.
"Aku akan melindungimu dari mantan pacarmu itu, Emily," ucap Erland pasti. Dia merasa seperti seorang super hero yang akan siap melindungi gadis yang ia cintai. Saat ini, mobil mereka telah sampai di parkiran mall.
Emily menatapnya. "Terima kasih, Erland," ucap Emily.
Erland mengangguk. "Kalian sudah putus, seharusnya dia tidak mengejarmu lagi," ucapnya.
"Iya. Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang," jawab Emily. Mereka kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju bioskop. Menunggu beberapa menit sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam.
Emily merasa tempat duduk yang dipilih Erland terlalu pojok. Dia risih sebenarnya, apalagi yang akan mereka tonton adalah film dewasa.
Emily duduk dengan canggung. Dia duduk paling pojok dan Erland di sampingnya.
Erland memberi pop corn pada Emily.
"Terima kasih, Erlnad," ucap Emily.
"Aku bahagia akhirnya bisa nonton bareng kamu, Emily," ucap Erlnad dengan lembut.
"Aku juga senang," jawab Emily. Mereka seperti remaja yang malu-malu.
Pelan, Erlnad mengambil tangan Emily. Mengusap dengan lembut. Jantung Emily berdegup tetapi takut.
"Besok hari Senin yang melelahkan," ucap Emily merasa canggung setengah mati. Dia menarik pelan tangannya dari genggaman tangan Erland.
"Ya," jawab Erland. Hanya itu. Film bahkan belum dimulai tapi Erlnad sudah mulai mengusap-usap lengan Emily. Gadis itu sungguh risih. Dia sedikit menghindari usapan itu.
Tak lama, layar lebar di depan sana mulai menyala memperlihatkan beberapa promo film yang akan di putar.
Dan ... film pun dimulai.
Emily, terlebih Erland melebarkan matanya. Kenapa film Minion? Apakah mereka salah masuk?
Erland segera melihat kembali tiket yang ia bawa. Melihat judul, studio, tempat duduk. Semuanya benar tapi kenapa ini film Minion? Erland heran bukan main. Dia mengumpat kesal. Ini pasti kesalahan. Dia akan memprotes ini pada petugas bioskop. Bisa-bisanya mereka memberikan tiket yang salah.
Disisi lain, Emily merasa lega dan ia mulai tertawa melihat betapa lucunya Minion itu dan impian si tokoh utama yang ingin menjadi seorang penjahat.
"Emily, Maaf. Sepertinya petugas salah memberikan tiket kepada kita. Aku keluar sebentar untuk komplen," ucap Erland.
"Ah, tidak perlu Erland. Film ini juga seru kok," jawab Emily.
"Tapi bukan film ini yang ingin kita tonton," sahut Erland. Dia masih tidak terima film dewasa yang ia pilih malah menjadi film Minion yang menggelikan untuknya.
"Ini juga bagus. Aku suka. Ini bahkan sangat seru, melihat aksi para minions yang lucu. Perjuangan si Gru yang memiliki cita-cita menjadi orang jahat," ucap Emily.
Pada akhirnya, Erland mengangguk setuju walaupun dalam hati marah bukan main. Dia akan memberikan bintang satu pada bioskop ini. Dia juga akan memposting tentang pengalaman tidak menyenangkan ini di akun media sosialnya.
Sepanjang film di putar, Erland tidak menikmatinya. Dia terlanjur kesal. Sementara Emily sangat menikmati film ini. Film yang menghibur hatinya setelah sempat kesal dengan kehadiran King hari ini. Emily tertawa terbahak-bahak saat adegan salah satu Minion berubah menjadi ayam bertelur hingga menetas.
Dia tidak tahu jika ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Dan sebenarnya ... film ini memang sengaja ia putar menggantikan film dewasa itu. Sungguh, dia telah mengacaukan jadwal film hari ini.
Koneksi orangtuanya sangat luas, masalah mengganti film seperti ini sangat kecil baginya.
Setelah film selesai. Erland mengajak Emily untuk memprotes kesalahan pihak bioskop ini. Namun Emily menolaknya. Dia bahkan menasehati Erland agar tidak memperpanjang ini.
Baiklah, karena masih pendekatan, Erland mengalah. Dia tidak mempermasalahkan itu.
Setelah selesai menonton, Emily memilih untuk segera pulang. Dia ingin segera mengistirahatkan diri karena besok adalah hari Senin yang lelah.
Erland mengantarnya hingga apartemen.
"Terima kasih, Erlnad. Senang bisa jalan sama kamu," ucap Emily dengan senyum.
"Maaf tentang bioskop itu, Emily."
"Tidak apa-apa. Aku justru suka. Filmnya lucu."
Erland tidak setuju dengan itu. Dia benar-benar masih kesal. Mulai saat ini, dia membenci Minion.
"Sampai jumpa besok, Emily. Semoga kita bisa memiliki waktu berdua seperti ini," ujar Erland penuh harap.
Emily melambai saat mobil Erland menjauh. "Bye Erland."
Emily masuk ke dalam apartemennya. Dia tinggal di lantai enam. Apartemen ini tidak begitu mewah, tidak juga menyedihkan. Pilihan nyaman untuk Emily yang selalu sendiri.
Anda Mungkin Juga Suka





