
Mantan Suamiku, Penyesalanmu Terlambat Sudah
Bab 2
Zahara POV:
"Jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu berhasil," Astrid mengulang, suaranya dipenuhi kebencian. "Kau pikir dengan melahirkan anak ini, kau akan mendapatkan Ardy sepenuhnya? Mimpi saja!"
Aku terisak. "Aku tidak peduli dengan Ardy... Aku hanya ingin bayiku selamat... Astrid, tolong, aku mohon, bawa aku ke rumah sakit!"
"Oh, tentu saja," dia mendengus. "Lalu kau bisa berakting lemah di hadapan Ardy, dan membuat dia mengasihanimu? Tidak semudah itu, Zahara."
Aku mendengar suara ponsel di tangannya. Dia sedang berbicara dengan seseorang. Aku bisa mendengar suaranya yang lebih lembut, lebih tenang.
"Ardy? Ya, aku tahu. Dia sudah bangun. Tidak, dia baik-baik saja. Hanya sedikit mengeluh." Suaranya terdengar meyakinkan, seolah semuanya terkendali.
Aku mencoba untuk tenang, mendengarkan percakapan itu.
"Dia bilang dia kesakitan? Ah, itu biasa. Wanita memang dramatis saat hamil, kan? Aku sudah memberinya teh hangat dan selimut tebal. Dia akan baik-baik saja."
Air mataku terus mengalir. Bagaimana dia bisa begitu kejam? Bagaimana dia bisa berbohong seperti itu?
"Astrid..." bisikku, berusaha menarik perhatiannya.
Dia mengabaikanku. "Tidak perlu khawatir, Ardy. Aku akan memastikan dia tidak melakukan hal aneh. Ini perintahmu, kan? Untuk menjaganya agar tidak lari."
Dia tertawa kecil. "Ya, aku tahu. Dia tidak akan bisa kemana-mana. Aku sudah menutup semua jendela dan mengunci pintu dari luar. Bahkan semut pun tidak bisa lewat."
Rasa sakit itu datang lagi, lebih intens. Aku menggigit bibirku, berusaha menahan jeritan. Tubuhku gemetaran tak terkendali.
"Astrid," aku memanggil lagi, suaraku hampir tidak terdengar.
"Sstt!" dia mendesis. "Diam! Ardy sedang menelepon!"
Aku mendengar suara Ardy di telepon. Suaranya terdengar lelah, tapi ada nada kelembutan yang tidak kukenali.
"Astrid, apa yang terjadi? Aku dengar ada keributan di sana."
Harapan kecil muncul di dadaku. Ardy. Mungkin dia akan menyelamatkanku. Mungkin dia tidak sekejam Astrid.
"Ardy! Aku di sini! Aku akan melahirkan! Tolong aku!" teriakku, mengumpulkan semua sisa tenagaku.
Suara Ardy terdiam sesaat. Lalu, aku mendengar Kamila di latar belakang, suaranya manja.
"Sayang, kenapa kau begitu khawatir? Aku di sini, menemanimu. Jangan pedulikan wanita licik itu. Dia hanya ingin menarik perhatianmu."
Aku merasakan darahku mendidih. Kamila. Dia ada di sana. Dia sedang bersamanya.
Ardy menghela napas. "Baiklah, Astrid. Pastikan dia tidak membuat masalah. Aku tidak ingin dia mengganggu Kamila."
Jantungku hancur. Dia tidak peduli. Dia sama sekali tidak peduli padaku.
"Ardy, aku mohon! Bayiku!"
"Astrid," suara Ardy terdengar lebih tegas. "Jangan biarkan dia berteriak lagi. Dia hanya ingin menarik perhatian. Aku tahu dia licik."
"Tapi Ardy, dia benar-benar terlihat kesakitan," Astrid terdengar ragu. "Mungkin kita harus membawanya ke rumah sakit?"
Ada keheningan singkat. Aku bisa mendengar napas Ardy. Ada secercah harapan.
"Sayang, jangan dengarkan Astrid," suara Kamila terdengar lagi, manis tapi mematikan. "Dia hanya ingin membuatmu merasa bersalah. Ingat, aku juga pernah merasakan sakit kontraksi palsu. Wanita hamil memang suka mendramatisir."
Aku mengepalkan tinjuku. Dia bohong. Dia tidak pernah hamil.
"Kamila benar," suara Ardy tiba-tiba menjadi dingin dan tajam. "Dia hanya akting. Jangan sampai kau tertipu, Astrid. Kau tahu dia haus perhatian. Dia hanya ingin membuatku merasa bersalah."
"Tapi, Ardy..." Astrid mencoba membantah.
"Tidak ada tapi!" Ardy membentak. "Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Biarkan dia di sana. Jangan berikan dia apapun, bahkan air sekalipun. Dia harus belajar. Kalau dia memang akan melahirkan, biarkan dia melahirkan di sana. Aku sudah memberinya kesempatan."
Jantungku berdetak kencang, lalu berhenti. Aku tidak bisa bernapas. Dia... dia membiarkanku mati?
"Mengerti?" Ardy berkata lagi. "Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menghukummu."
"Ya, Ardy," suara Astrid terdengar pasrah. "Aku mengerti."
Panggilan terputus.
Astrid menatapku dengan mata penuh kemarahan. "Kau dengar itu, Zahara? Ardy tidak akan tertipu lagi oleh trik murahanmu."
Dia berjalan ke sudut gudang, lalu aku mendengar suara geraman. Sebuah anjing Doberman hitam besar muncul dari balik tumpukan karung. Mata merahnya memancarkan kebuasan.
"Sekarang, mari kita lihat seberapa tangguh dirimu," Astrid menyeringai.
Anda Mungkin Juga Suka





