
Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
Bab 2
Sudut Pandang Safira:
Lampu tidur kucing keramik kecil itu duduk di meja samping tempat tidurku, cahayanya yang lembut menjadi penghiburan yang akrab di tengah kegelapan. Selama sepuluh tahun, ia telah mengusir mimpi burukku. Malam ini, rasanya seperti sebuah ejekan.
Aku mengulurkan tangan dan mencabut stekernya dari dinding. Ruangan itu tenggelam dalam kegelapan yang menindas, begitu pekat hingga aku merasa seperti tercekik. Bagus. Aku ingin merasakannya. Aku ingin kegelapan menelanku utuh.
Kakiku yang telanjang melangkah di atas lantai kayu yang dingin menuju lemariku. Aku menarik tas ransel berdebu dari rak paling atas. Satu per satu, aku mengumpulkan hantu-hantu kehidupanku bersama Dante. Liontin perak kecil dengan lambang Adiwangsa yang dia berikan untuk ulang tahunku yang kelima belas. Botol parfum "Samudra Koral" yang dia belikan karena katanya baunya seperti tempat yang suatu hari akan dia bawa aku kunjungi, tempat tanpa darah dan tanpa rahasia.
Semuanya masuk ke dalam tas. Relik dari sebuah keyakinan yang telah mati.
Di bawah tempat tidurku ada sebuah kotak kayu terkunci. Di dalamnya ada buku harianku. Aku membolak-balik halaman-halamannya, jari-jariku menelusuri tulisan tangan kekanakan yang panik. Ini adalah sejarah menyedihkan dari pengabdianku. Setiap kata baik, setiap gestur kecil darinya, dicatat dan dianalisis seperti kitab suci.
Lalu aku menemukannya. Sebuah halaman dari bertahun-tahun yang lalu, setelah seorang saingan mencoba mengirimiku "pesan" dengan menyuruh preman-premannya mengikutiku pulang dari sekolah. Dante telah membereskan mereka. Aku tidak pernah melihat mereka lagi. Malam itu, dia menemukan buku harianku terbuka di mejaku. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi keesokan paginya, aku menemukan entri baru yang ditulis dengan tulisan tangannya yang tajam dan agresif. Itu bukan dengan tinta. Itu dengan darah.
*Fira adalah properti Adiwangsa. Sentuh dia dan mati.*
Properti.
Kata itu menghantamku, membuat udara keluar dari paru-paruku. Bukan saudara perempuan. Bukan anak angkat. Bahkan bukan manusia. Aku adalah sebuah benda. Aset yang harus dilindungi, seperti mobil-mobilnya atau koleksi senjata antiknya. Perlindungannya bukan tentang cinta. Ini tentang kepemilikan.
Sebuah isakan keluar dari tenggorokanku, serak dan buruk rupa. Dengan tangan gemetar yang panik, aku mulai merobek halaman-halaman dari buku harian itu. Aku merobek setiap kenangan yang berharga, setiap harapan rahasia, sampai yang tersisa hanyalah tumpukan potongan seukuran confetti dari hatiku yang bodoh.
Keesokan harinya, Isabella secara resmi pindah ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Dante. Kamarku. Kamar yang dulu kumiliki sebelum aku dipindahkan ke sayap tamu tahun lalu karena aku "mulai menjadi seorang wanita."
Dia memanggilku ke ruang duduk. Seluruh keluarga—para kapten Dante, para letnannya—ada di sana, menjadi penonton bisu untuk penghinaanku.
Isabella tersenyum, ekspresi merendahkan yang tenang. "Safira, sayang. Sebuah hadiah selamat datang."
Dia mengangkat sebuah kalung. Itu bukan perak atau emas halus yang biasa kupakai. Itu adalah pita tebal dan norak dari logam gelap murahan, bertabur batu berkilauan yang membentuk lambang keluarga Wijoyo. Itu bukan kalung. Itu adalah sebuah kerah.
Napas ku tercekat. Aku alergi terhadap logam campuran murahan. Dante tahu ini. Dia pernah membuang gelang yang diberikan teman sekolahku, bibirnya melengkung jijik saat melihat ruam merah terbentuk di pergelangan tanganku.
Aku menatapnya, memohon dengan mataku. *Jangan lakukan ini. Kumohon.*
Wajahnya adalah topeng ketidakpedulian. Dia menatap mataku, mata gelapnya dingin dan kosong, dan menjatuhkan hukuman.
"Pakai."
Suaranya datar. Final. Itu adalah perintah. Di depan semua orang, dia menunjukkan kepada mereka tempat baruku dalam hierarki. Di bawahnya. Di bawah wanita itu.
Tanganku gemetar saat aku meraih kerah itu. Jari-jari Isabella menyentuh jariku saat dia mengencangkannya di leherku. Logam itu dingin, berat.
"Itu cocok untukmu," desisnya, cukup keras untuk didengar semua orang. "Setiap peliharaan harus punya kerah."
Tawa itu sopan, tapi rasanya seperti batu yang dilemparkan ke arahku. Aku berdiri di sana, kepalaku tertunduk, saat logam itu mulai menghangat di kulitku. Rasa gatal yang familiar dan membakar dimulai hampir seketika, sebuah lingkaran api yang mengencang di leherku.
Aku tidak menggaruknya. Aku tidak menangis. Aku hanya berdiri di sana dan membiarkannya membakar, mencapku dengan kebenaran. Aku adalah properti. Dan aku baru saja diserahkan kepada pemilik baru.
Anda Mungkin Juga Suka





