
Mantan Istriku yang Penurut Adalah Seorang Bos Rahasia?!
Bab 2
Emilia berhenti sejenak untuk menenangkan diri, lalu menyalakan laptop. Jari-jarinya bergerak dengan cepat, menavigasi sistem kamera pengawas untuk menghapus semua jejak kehadirannya dengan cermat.
Dia datang dengan masa lalu yang diselimuti misteri dan berniat menghilang begitu saja.
"Tuan, Nyonya telah pergi!"
Keesokan paginya, Brandon menerima kabar terbaru dan kembali ke vila dari rumah sakit.
Saat memasuki ruangan, dia disambut dengan aroma mawar yang akrab dan menyegarkan, aroma khas Emilia.
Dia jarang masuk ke kamar tidur utama, tempat yang Emilia tata dengan susah payah. Berbeda dengan bagian rumah lainnya, ruangan ini memancarkan kehangatan dan kenyamanan, ditandai dengan seprai berwarna kuning cerah dan tertata rapi yang merupakan ciri khas wanita itu.
Namun, Brandon tidak berhenti untuk mengagumi suasana di dalam kamar. Dia langsung berjalan menuju nakas.
Di sana, dia menemukan perjanjian perceraian yang ditandatangani Emilia dan sebuah cek bernilai dua puluh miliar yang telah dia siapkan untuk wanita itu.
Kemudian, sebuah stempel berbentuk bunga mawar menarik perhatian Brandon. Dia melihat namanya diukir dengan elegan di bagian dasar. Kelopak bunga mawar putih diukir dengan sangat presisi sehingga tampak hidup, sebuah bukti dari keahlian sang pengrajin. Brandon menyentuh stempel tersebut dan mengagumi batu giok berkualitas tinggi yang digunakan Emilia. Permukaan batu yang dingin dan jernih menyejukkan kulitnya. Batu giok itu memiliki garis-garis berwarna merah di bagian dasar, sehingga terlihat seperti bunga mawar yang mekar di bawah sinar matahari. Stempel itu terlihat menawan sekaligus indah.
Brandon menyadari bahwa Emilia sangat menyukai bunga mawar. Ada banyak bunga mawar di taman, tetapi dia tidak pernah berpikir untuk memberikan sekuntum mawar pun padanya.
Di bawah stempel, terdapat sebuah surat. Dia mengambilnya, membuka lipatan dan menatap pesan yang ditulis menggunakan tulisan tangan yang elegan. "Selamat ulang tahun pernikahan ketiga. Brandon, selamat tinggal."
Pesan tersebut membuat Brandon terkejut, terutama ketika pandangannya tertuju pada kalender di samping tempat tidur. Tanggal 10 April adalah ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa terasa, mereka telah menikah selama tiga tahun.
Brandon tenggelam dalam pikirannya sambil memegangi batu giok yang sangat indah itu, 'Dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli hadiah semahal ini?'
Meski dia memberikan uang bulanan yang cukup besar, Emilia jarang menggunakan uang tersebut. Kebutuhan dasar wanita itu, seperti makanan dan pakaian telah terpenuhi dengan baik, sehingga pengeluarannya hanya sedikit.
Wajah Brandon tampak serius ketika mendengarkan laporan asistennya. "Cari tahu ke mana dia pergi," perintahnya dengan suara rendah. "Awasi aktivitasnya akhir-akhir ini. Jika ini merupakan rencana saingan, segera bawa dia kembali."
Apakah Emilia benar-benar anak yatim piatu yang berasal dari pedesaan?
***
Tiga hari kemudian, di Erde.
Kantor pusat Grup Muzaki yang terletak di Gedung Sabit tampak sangat sibuk. Para karyawan bergegas ketika para petinggi berkumpul di lobi untuk menantikan kedatangan CEO baru mereka dengan penuh semangat.
Dua hari sebelumnya, Grup Muzaki berada di ambang kebangkrutan setelah pasar saham menurun secara drastis. Namun, entah bagaimana perusahaan ini berhasil diselamatkan. Seseorang telah membeli perusahaan tersebut dengan harga mahal, sehingga para karyawan dapat mempertahankan pekerjaan mereka. Namun, para karyawan masih merasa takut.
"Siapa CEO baru kita? Pria atau wanita? Apakah ada informasi mengenai latar belakangnya?" tanya salah satu karyawan.
"Bahkan, para eksekutif senior juga tidak memiliki informasi mengenai CEO baru kita. Semuanya sangat misterius. Aku berharap seorang CEO pria yang tampan datang untuk menyelamatkan kita."
"Bayangkan jika kita memiliki bos wanita," ucap karyawan yang lain.
"Kamu harus realistis. Seberapa besar kemungkinan kita mendapat CEO wanita? Sebaiknya, kita berharap putri Keluarga Muzaki yang sudah meninggal bisa hidup kembali."
Tiba-tiba, seseorang berkata dengan lantang, "CEO kita telah tiba! Semuanya, jangan mengobrol lagi!"
Suasana di lobi dipenuhi antisipasi semua orang saat mereka menatap ke arah pintu masuk. Sebuah mobil Rolls Royce berwarna hitam berhenti perlahan dan wakil CEO sendiri melangkah maju untuk membuka pintu mobil.
Seorang wanita keluar dari dalam mobil.
Sepatu hak tinggi hitamnya menyentuh tanah, lalu memperlihatkan seorang wanita dalam setelan berwarna putih sempurna dengan rambut pendek yang ditata rapi. Dia berdiri tegak, riasan wajahnya tipis, sehingga menonjolkan fitur-fitur wajahnya yang cantik.
Bagi para eksekutif senior yang telah mengabdikan hampir satu dekade di Grup Muzaki, wajah wanita muda itu tampak tidak asing. Mereka terkesiap secara serentak karena tidak percaya. "N-Nona Emilia ...."
Emilia berdiri di pintu masuk, menyapa mereka dengan senyuman, bibir merahnya terbuka dan berkata, "Halo semuanya, lama tak jumpa."
Anda Mungkin Juga Suka





