
Mantan Gay Kaum Pelangi
Bab 2
“Bang! Abang…”
Sayup-sayup kudengar suara seorang gadis. Begitu aku membuka mata dan menoleh. Kulihat seorang gadis telah duduk di sampingku. Dia lah Lastri. Aku tak menduga ia telah ada di sini entah sejak kapan. Kupikir aku telah mati.
“Masha Allah, Abang sudah sadar!”
"Iya, Dek."
Aku mengangguk perlahan. Kedua mata Lastri tampak berkaca-kaca. Aku pun cukup terharu. Gadis imut yang baik hati itu selalu menolongku.
“Abang mau minum?” tanyanya. Aku menggeleng. Sebenarnya aku ingin sekali menegakkan punggung. Namun aku tak kuat. Sekujur tubuhku ini terasa ngilu.
“Jangan bangun dulu, Bang.”
Lastri lekas membantu merebahkan diriku. Semua tulang terasa ngilu. Danu memang luar biasa. Aku bersyukur ia tidak menghilangkan nyawa.
"Abang, sakit, ya?"
"Iya, Dek."
Aku tersenyum lemah. Tetapi gadis itu menatapku dengan tatapan prihatin.
“Zulfi yang ngasih tahu Lastri lewat telepon. Katanya Abang dipukulin Mas Danu sampai pingsan."
“Dokter juga langsung ngambil vissum. Katanya sekarang lagi diproses. Abah yang ngurusin semuanya ke kantor polisi.”
Dahiku berkerut. Visum? Kantor polisi?
“Yang mukulin Abang bakal dijeblosin ke penjara. Abah yang gugat. Saksi udah banyak, hasil visum juga udah diterima polisi. Tinggal keputusan Abang sendiri, temen Abang bakal diperkarain atau enggak.”
Aku menghela napas. Penjara? Apakah itu perlu? Bagaimana sekarang keadaan Danu?
“Tapi tenang, temen Abang udah dipisahin jauh. Dia gak bakalan gangguin Abang lagi.”
Ah, Danu. Dia memang keras kepala.
“Abang kenapa bisa dipukulin dia, sih? Biasanya Abang kan akrab sama Mas Danu, kok tiba-tiba kalian bisa berantem?”
Lastri memandangku dengan tatapan sedih. Aku menggeleng lemah. Sejak awal kenal, Lastri tak pernah tahu hubunganku dengan Danu. Yang ia tahu aku dan Danu adalah sepasang sahabat.
“Kaget banget Lastri, pas dikasih tau temen-temen Abang kalo Abang duel beneran sama Mas Danu. Mas Danu kan jago. Abang jangan cari perkara sama dia.”
"Iya," kataku. Namun, aku terenyuh atas perlakuan Lastri. Lastri memang baik hati. Sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah Jakarta, aku bertemu Lastri secara tak sengaja. Saat itu aku menolongnya dari jambret. Aku berhasil melumpuhkan jambret ketika berada di sebuah jembatan penyeberangan. Namun naasnya jambret itu berhasil menusuk punggungku dari belakang, aku terluka dan Lastri membawaku ke rumahnya. Abah Lastri juga sangat baik. Dia tidak segan-segan memberiku tumpangan menginap selama beberapa hari. Mengetahui bahwa aku adalah seorang pemuda dari kampung yang nekat mencari nafkah di ibu kota untuk menghidupi ibu dan adikku, rupanya membuat iba Abah Anom. Maka sejak saat itu lah aku menjadi penghuni tetap kontrakkan Abah Anom. Hubungan kami bahkan sudah seperti keluarga. Lastri enam tahun lebih muda dariku, sehingga aku merasa mempunyai adik kandung di lingkungan ibu kota yang kejam ini.
Lalu tak lama kemudian Lastri tiba-tiba menangis. Hatiku jadi tesentuh. Aku tak menduga rasa khawatir Lastri bisa sampai sejauh itu.
“Adek, jangan nangis. Abang gak kenapa-napa, kok."
“Enggak Bang… kasian Abang… kalau emak sama adik Abang di kampung tau, pasti mereka bakalan nangis juga.”
Aku memaksakan diriku tersenyum. Lastri memang baik hati.
“Kalau gitu jangan ngasih tau mereka, ya. Apalagi emak. Emak orangnya lemah kalau denger berita musibah," katanya.
Aku semakin tersentuh.
“Sekali lagi, makasih banyak ya, Dek. Abang gak tau harus bilang bagaimana lagi. Kamu selalu bantuin Abang.”
“Iya, makanya Abang jangan cari perkara lagi. Mulai sekarang jangan berususan lagi sama si Danu! Dia itu aneh! Nyeremin! Masa temen sendiri dipukulin!"
Aku tersenyum lagi. Kalau sudah mengoceh seperti ini, Lastri akan berubah menjadi lucu.
"Pokoknya Abang jangan temenan sama dia lagi!"
"Iya," kataku. Memang itu niatku. Aku memang ingin berhenti dari dunia kelam. Aku memang ingin bertaubat. Aku ingin terlepas dari jeratan Danu. Dan aku telah memikirkannya matang-matang sejak lama.
“Assalamualaikum.”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Aku dan Lastri lekas menoleh, lalu kulihat seseorang masuk ke dalam.
"Assalamualaikum."
Hatiku lega. Aku melihat Pak Haji Kadir datang menjengukku bersama cucu kecilnya, Hamid. Pak Haji adalah pembimbingku. Satu-satunya orang di dunia ini yang tahu rahasiaku hanyalah Pak Haji Kadir. Selain sebagai penceramah, Pak Haji juga seorang guru dan pendidik. Dia sangat bijak dalam menyikapi orang-orang sepertiku. Pak Haji tak pernah sekalipun memandang rendah diriku. Dia malah merangkulku. Aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengannya. Lastri dan ayahnya juga mengenal Pak Haji. Namun mereka hanya sebatas tahu sekedarnya.
“Waalaikum salam.”
Lastri kemudian membungkuk dengan sopan seraya mengucap salam.
Aku mengangguk saat Pak Haji datang mendekat. Dia menggeleng-geleng prihatin.
“Subhanallah,” gumamnya. Ia menghela napas berat.
Aku terdiam. Lalu Pak Haji menoleh kepada Lastri.
“Neng Lastri, maaf bisa tinggal kami sebentar, Nak?” tanyanya. Pak Haji selalu bersikap halus dan sopan.
“Baik, Pak Haji.”
“Maaf ya, Nak.”
“Gak apa-apa kok, Pak Haji.”
Lastri kemudian keluar. Gadis itu juga mengajak cucunya Pak Haji ikut serta. Selain baik, Lastri juga cepat sekali akrab dengan anak-anak. Kemudian mereka pun keluar kamar. Lalu tinggallah aku berdua dengan Pak Haji di dalam ruangan. Pak Haji kemudian duduk di sebelah ranjangku.
“Gimana ceritanya? Kamu kok bisa jadi begini?” tanya Pak Haji.
Wajah cemasnya entah kenapa membuat aku terharu. Jika kuingat masa lalu, sungguh ia jauh berbeda dengan ayahku. Lalu air di dalam mataku tak dapat lagi kubendung.
“Saya sudah berusaha sebisanya Pak Haji. Saya tahu resikonya, dan pasti akan seperti ini. Danu gak akan pernah mau menerima ini. Saya pun merasa… ini sepadan dengan dosa-dosa saya… seharusnya… seharusnya… saya mati saja Pak Haji… daripada menanggung ujian ini.”
Aku terisak. Batinku serasa diaduk. Ketakutan, kemarahan, kebencian, semua tercampur menjadi satu. Aku takut kepada Danu. Aku marah pada keadaan. Dan aku benci masa lalu.
Lalu saat Pak Haji menyentuh punggungku dengan lembut dan mengusapnya, tangisku kian meledak. Selama ini aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Dan aku tak tahu kepada siapa aku harus menyalahkan keadaan. Andai saja aku tumbuh di lingkungan keluarga yang bahagia, mungkin aku tak akan menjadi makhluk kotor seperti ini. Mungkin aku tak akan mengambil jalan pintas. Mungkin aku tak akan pernah masuk ke dalam kegelapan.
Lalu tiba-tiba kenangan itu melayang. Ia menghempasku ke dalam memori masa lalu. Pelita kebencianku seketika kembali menyala.
Aku tak akan pernah bisa melupakan semua kejadian yang teramat menorehkan luka. Semuanya.
PRRAAAAANNNG!!!
“KAMU KOK GAK PERNAH BECUS MASAK NASI, SIH, SURTI?! UDAH BERKALI-KALI KUBILANG KALAU AKU TAK SUKA NASI KERAS BEGINI! SURTIIIIIII!!”
Anda Mungkin Juga Suka





