
Malam Panas Bersama Mafia Dingin
Bab 2
"Bu, sebenarnya Ayah sakit apa?" tanya Alana.
"Iya Bu, kenapa Ayah tidak sembuh-sembuh padahal sudah diberikan obat dari apotik," kata Amora.
"Entahlah, Ayah kalian hanya mengeluh sesak nafas dan batuk makanya Ibu berikan obat batuk,"
Setelah lama menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan ICU!
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Bu Maria.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan Pak Billi menderita kanker paru-paru dan sudah stadium tiga!"
"Apa?" serempak.
"Kanker? Pe-penyakit mematikan itu?" tanya Bu Maria.
Ketiganya langsung shock dan lemas begitu mengetahui penyakit yang diderita oleh Pak Billi bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh! Belum lagi darimana mereka akan mendapatkan biaya untuk pengobatan Pak Billi lebih lanjut.
"Nyonya, secepatnya kita harus dilakukan beberapa jenis pengobatan untuk mematikan sel-sel kanker tersebut, sebelum menyebar lebih jauh lagi!"
"Berapa biayanya kira-kira dok?"
"Nanti akan ada perawat yang memberikan rinciannya, saya permisi dulu!"
"Baik, terimakasih dokter,"
Bu Maria hanya bisa menangis setelah mendengar vonis kanker pada Pak Billi, darimana mereka mendapatkan biaya untuk pengobatan Oak Billi? Sementara untuk makan saja mereka pas-pasan.
"Bu, Ibu tenang ya! Besok Mora akan secepatnya mencari pekerjaan,"
"Tapi Mora, mencari kerja itu tidak segampang itu kau belum tentu cepat mendapatkan pekerjaan belum lagi menunggu gajian, itu sangat lama," kata Bu Maria.
Sementara sejak tadi Alana tengah berpikir keras demi mendapatkan uang untuk kesembuhan Ayahnya, saat ketiganya sedang membahas masalah biaya, seorang perawat datang dengan membawakan beberapa lembar berkas yang harus mereka ketahui dan tandatangani.
"Permisi, dengan keluarga Bapak Billi,"
"Iya saya isterinya sus, mengenai penanganan untuk penyakit yang diderita oleh Pak Billi, berikut rincian biayanya Bu! Dan pihak keluarga diminta untuk melakukan pembayaran dimuka agar pasien bisa segera mendapatkan pengobatan lanjutan!" kata suster tersebut sambil menyodorkan berkas tersebut.
Baru melihat rincian biaya diawal saja sudah membuat kepala Bu Maria pusing tuju keliling, apalagi dilembar berikutnya! Banyaknya rangkaian dan tahapan pengobatan bagi pasien kanker paru-paru stadium tiga ini, membuat biaya yang harus dikeluarkan juga tidak main-main jumlahnya luar biasa besar.
"I-ini tidak salah suster? Sebanyak ini?"
"Ini belum semuanya Bu, ini baru rincian biaya langkah pengobatan awal saja,"
"Ya Tuhan, baru biaya diawal saja sudah 50 juta darimana aku membayar semua ini?"
"Kami sangat mengerti biayanya sangat tidak sedikit, karena itu pihak rumah sakit memberikan keringanan untuk pihak keluarga membayar uang muka saja dulu baru nanti biaya-biaya kedepannya bisa mulai dicicil dari sekarang, yang terpenting ada yang masuk dulu agar pasien bisa secepatnya mendapatkan pengobatan!" kata perawat tersebut.
"Saya akan carikan uang muka pengobatan suami saya sus, tapi tidak hari ini!"
"Baik Bu, nanti silahkan datang ke bagian administrasi saja jika akan melakukan pembayaran, kalau begitu saya permisi dulu!"
"Iya sus, terimakasih,"
Setelah perawat pergi, Bu Maria pun menangis tersedu-sedu.
"Bagaimana ini Lana, Mora, darimana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu? Itu baru biaya diawal saja, bisa ratusan juta jika pengobatan itu dalam jangka lama, Ibu tidak sanggup,"
Hiks..Hiks..
"Ada satu cara Bu, kita bisa mendapatkan uang dalam jumlah banyak dengan cara cepat,"
"Benarkah Lana? Katakan pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu cepat?"
"Bekerja di rumah bordil," kata Alana.
"Rumah bordil?" tanya Bu Maria dan Amora.
"Bukankah itu tempat para wanita menjual diri Alana?"
"Iya Bu, salah seorang temanku ada yang menjual diri dan hidupnya sangat glamor,"
"Ta-tapi Ibu tidak mungkin menjual diri, mana ada laki-laki yang mau dengan wanita tua dan keriput seperti Ibu,"
"Bukan Ibu, tapi Amora," kata Alana sambil menunjuk kewajah lugu adiknya itu.
"A-apa? Maksud kakak apa? A-aku jual diri? Tidak kak, aku tidak mau!" kata Amora dengan histeris.
"Lalu kau mau aku yang menjual diri? Dengar Mora, masa depanku terlalu cerah untuk dipertaruhkan menjadi pekerja di rumah bordil, sementara kau? Selama ini kau dibiayai sekolah oleh Ayah dan Ibu, oleh keringat mereka karena kau tidak bisa sepintar aku dan tidak bisa mendapatkan beasiswa seperti aku! Sekarang Ayah sedang membutuhkan baktimu Mora, kau mau Ayah meninggal?"
Amora langsung menangis dan bersujud dibawah telapak kaki Bu Maria.
"Bu, Mora tidak mungkin melakukan pekerjaan hina itu Bu! Amora takut Bu!"
"Mora, maafkan Ibu! Tapi yang kakakmu katakan itu benar, selama ini hanya kami yang selalu memberikan uang untuk kebutuhan makan, sekolah, dan ongkos berangkat sekolahmu! Apa kau tidak ingin membalas semua yang sudah kami keluarkan demi kesembuhan Ayahmu?" tanya Bu Maria.
Benar-benar Ibu dan kakaknya itu menjadikan Amora sebagai target dari busur panah keduanya, Bu Maria benar-benar tega menyetujui saran gila dari Alana tanpa sedikitpun memikirkan masa depan dan hancurnya nasib Amora ketika dirinya harus menyerahkan kesucian dari tubuhnya yang sangat amat berharga hanya untuk para laki-laki tua hidung belang di tempat hina itu.
"Bu, Mora janji akan bekerja seumur hidup Mora demi melunasi biaya rumah sakit Ayah, tapi tolong jangan meminta Mora menjual diri!"
"Kau mau bekerja apa dengan ijazah dan otakmu yang dibawah rata-rata itu Amora? Tolong kau harus sadar diri, pendidikanmu hanya sampai SMA mau sekeras apapun kau bekerja gajimu tidak akan pernah bisa mencicil biaya rumah sakit, dan satu hal lagi kita butuh uangnya sekarang juga!"
Hiks..Hiks..
"Sudahlah Bu, dari sini kita tau jika Amora memang tidak bisa berbakti bahkan demi menolong Ayah saja dia tidak mau! Kalau saja aku tidak sedang kuliah dan masa depan dihadapanku sangat cerah ketika lulus nanti, mungkin Lana yang akan menjual diri Lana sekarang juga demi kesembuhan Ayah,"
Disingkirkannya Amora yang tengah bersujud dibawah kakinya boleh Bu Maria kemudian Bu Maria pun memeluk erat Alana.
"Ibu seperti hanya memiliki satu putri selama ini Lana,"
Kata-kata yang sangat amat menyakitkan terdengar oleh kedua gendang telinga Amora, rasa-rasanya mau sejuta kebaikan yang telah dilakukan oleh Amora selama ini tetap tidak akan pernah terlihat Dimata Ibunya.
Amora bangkit kemudian menghapus air matanya.
"Baiklah, kapan aku kalian bawa ke sana?" tanya Amora yang sudah berpasrah terhadap nasib dan suratan takdirnya.
Bu Maria dan Alana pun langsung bersama-sama menghampiri Amora.
"Kau yakin Mora?" tanya Bu Maria.
"Memangnya aku bisa menolak? Tidak bukan? Harus aku disini yang menjual diri karena aku tidak pintar dan selalu merepotkan Ibu dan Ayah, kini saatnya aku akan membalas budi kalian!"
"Besok malam, biar kakak yang antar," kata Alana dengan tanpa rasa bersalah sama sekali.
Anda Mungkin Juga Suka





