Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Makin Tua Makin Binal

Makin Tua Makin Binal

Kisah romansa modern ini secara khusus dihadirkan bagi pembaca yang sudah menginjak usia matang dan dewasa. Alur ceritanya mengeksplorasi sisi kehidupan yang lebih berani dan mendalam, sesuai dengan pengalaman hidup mereka yang telah lama melewati masa muda. Dengan narasi yang jujur dan blak-blakan, buku ini menyuguhkan dinamika hubungan yang penuh gairah serta intensitas emosional yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh audiens yang telah dewasa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Bu Intan mengenakan setelan olahraga berwarna biru langit yang membingkai tubuhnya dengan pas-tidak mencolok, tapi cukup memancarkan aura yang tak bisa diabaikan. Kerudung instan berbahan ringan menyatu dengan angin pagi, bergerak pelan seiring langkah kakinya yang menyusuri jalanan kompleks perumahan yang mulai ramai oleh aktivitas warga.

Sudah beberapa hari terakhir ia memilih jalur yang sama: berlari kecil dari gerbang rumahnya, melintasi lapangan kecil, dan berakhir di sudut taman kompleks yang rindang. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Bukan karena rutinitasnya berubah, tapi karena niat di balik setiap langkahnya sudah tak sama. Jika sebelumnya ia hanya ingin menenangkan hati, kini ada percik keberanian yang ia bawa. Ia ingin dilihat. Bukan oleh Pak Rohman-suami yang telah ia kuburkan jauh di dasar harga dirinya-melainkan oleh dunia yang selama ini hanya menilainya sebagai "istri Pak Kades."

Tatapan-tatapan itu mulai terasa. Dari pos ronda, dari warung kopi, dari lelaki paruh baya yang tengah menyiram bunga, hingga anak-anak muda yang pura-pura bermain sepak bola pagi-pagi sekali.

Ada yang hanya melirik. Ada yang menatap penuh kekaguman diam-diam. Ada pula yang menyapa dengan senyum gugup.

"Sehat selalu ya, Bu Kades!"

Bu Intan membalas dengan senyum tipis. Senyum seorang perempuan yang tahu ia sedang diperhatikan, tapi tak memberi lebih dari yang seharusnya. Ia berjalan terus, anggun tapi ringan, langkahnya membawa aroma bunga dan teka-teki.

Di dalam hatinya, ada rasa hangat aneh yang belum pernah ia rasakan sejak lama. Bukan cinta. Bukan pula nafsu. Tapi semacam... pengakuan.

Bahwa tubuh ini masih layak diinginkan. Bahwa pesona ini belum mati. Dan bahwa ia masih bisa membuat dunia menoleh, tanpa harus membuka hati.

Di taman kecil di ujung blok C, Bu Intan berhenti sejenak, mengatur napas. Ia duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam ikan mungil. Angin pagi menyapu wajahnya, mengeringkan sisa peluh di pelipisnya.

Sesekali, ia memejamkan mata, menikmati momen itu seperti perempuan yang baru saja menemukan kembali dirinya sendiri, setelah lama hilang dalam bayang-bayang laki-laki yang tak tahu cara mencintai.

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara lelaki muda yang bercanda dengan temannya.

"Gila ya, umur segitu masih kayak gitu..."

Bu Intan tak menoleh. Tapi senyumnya tak bisa ia tahan.

Dalam hati ia berbisik, "Aku belum selesai. Hidupku belum usai. Dan mulai hari ini, kalian akan tahu siapa aku sebenarnya."

Langkah Bu Intan terhenti sejenak di depan gerobak biru yang sudah akrab di mata warga kompleks: gerobak bubur ayam Mang Karna. Asap tipis mengepul dari panci besar di atas kompor portabel, menguar aroma gurih yang menggoda indera.

Biasanya, Bu Intan hanya melewati tempat itu dengan senyum atau anggukan ringan. Sarapan baginya adalah urusan rumah, urusan Bi Koni. Tapi pagi ini lain.

Entah karena ia ingin mencicipi rasa yang selama ini hanya terdengar dari cerita warga, atau karena diam-diam, ia sedang ingin melihat dunia dari tempat yang lebih sederhana.

Namun yang benar-benar membuat langkahnya limbung sesaat, adalah kenyataan bahwa bukan Mang Karna yang berdiri di balik gerobak itu. Tapi anak sulungnya.

"Hendra?" gumam Bu Intan, nyaris tak percaya.

Pemuda itu menoleh, senyum langsung mengembang di wajahnya yang bersih. Mata jernih itu menyala seperti dulu, saat masih sering membantu kegiatan remaja masjid kompleks.

"Assalamu'alaikum, Bu Kades!" sapanya ramah, suara beratnya hangat dan bersahaja.

"Wa'alaikumussalam, Ndra... Astaga, ini kamu? Udah segede ini, ya?" Bu Intan tertawa kecil, matanya berbinar. Ada rasa lega yang aneh melihat wajah familiar yang tulus dan tidak menghakimi. Postur tubuhnya jangkung.

Hendra tersenyum lebar. "Iya, Bu. Libur pesantren. Sekalian bantu Bapak, beliau lagi ke pasar katanya mau belanja bahan bubur buat dua hari ke depan."

"Saya baru pertama kali mau coba buburnya, loh..." ujar Bu Intan sambil menyingkap sedikit ujung kerudungnya ke belakang, agar angin tak meniupnya ke wajah.

Hendra tertawa ringan. "Wah, suatu kehormatan! Tapi jujur saya jadi deg-degan, Bu... semoga racikan saya nggak mengecewakan," katanya sambil mulai meracik semangkuk bubur.

Bu Intan memperhatikan tangan Hendra yang cekatan. Lincah, tapi tetap sopan. Tidak ada gerakan berlebihan. Pemuda itu tampak sangat menghormatinya, tanpa terlihat canggung atau dibuat-buat.

"Saya sering dengar cerita, katanya, selain tampan dan pintar, kamu juga anak yang gak gengsian. Sekarang saya buktikan sendiri," ujar Bu Intan sambil duduk di bangku kecil pinggir trotoar.

Hendra terkekeh, menyodorkan bubur dengan irisan cakwe, suwiran ayam kampung, dan taburan seledri serta bawang goreng yang menggoda.

"Makasih, Bu Kades. Saya cuma belajar dari Bapak. Katanya, mau sepintar apa pun kita, jangan pernah malu sama kerja halal."

Bu Intan mengangguk pelan. "Ayahmu benar. Dunia butuh lebih banyak lelaki seperti kamu..."

Mereka berbincang ringan. Tentang kuliah Hendra, tentang pesantren, bahkan sempat menyinggung nostalgia masa SMA saat Hendra sering jadi ketua panitia kegiatan kepemudaan di kompleks.

Bagi Bu Intan, momen itu terasa seperti oase. Tak ada pandangan sinis, tak ada gosip, tak ada bayang-bayang suami. Hanya percakapan jujur, hangat, dan membumi. Di hadapannya duduk seorang pemuda yang bersinar-bukan karena ketampanannya semata, tapi karena kesederhanaan yang tulus.

Saat mangkuk buburnya nyaris habis, Bu Intan meletakkan sendok perlahan. "Enak sekali, Ndra. Saya bakal sering-sering ke sini, boleh kan?"

"Wah, boleh banget, Bu. Tapi jangan sampai bapak saya tersingkir, ya," canda Hendra, keduanya tertawa.

Angin berembus lagi. Ringan. Tidak menusuk seperti hari-hari sebelumnya.

Dan saat Bu Intan berdiri untuk pulang, ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Bukan cinta. Tapi semacam rasa syukur... bahwa dunia ini masih punya laki-laki baik, laki-laki yang tahu caranya menghargai perempuan tanpa harus menyentuh.

"Ndra..." ucapnya sebelum pergi, "kapan-kapan, kalau kamu nggak sibuk, mampir ke rumah ya. Bantu-bantu acara majelis ibu-ibu. Biar mereka tahu, anak muda sepertimu masih ada."

Hendra mengangguk cepat, wajahnya berseri. "Dengan senang hati, Bu Kades."

Dan pagi itu, di tengah kompleks yang pelan-pelan mulai bangkit dari kantuknya, seorang perempuan 50 tahun berjalan pulang dengan secercah harapan di hatinya. Tak perlu banyak hal. Kadang cukup satu percakapan tulus... untuk membuat seseorang merasa hidup kembali.

Langkah Bu Intan ringan saat memasuki rumah. Di wajahnya terselip senyum tipis yang belum juga pupus sejak pertemuan tadi dengan Hendra. Bukan senyum jatuh cinta, tapi seperti senyum seorang perempuan yang baru diingatkan bahwa dirinya masih berharga.

Bi Koni yang sedang menyapu lantai depan langsung menghentikan gerakannya. Alisnya terangkat, matanya menyipit curiga, tapi juga penuh harap.

"Eh... eh... itu Bu Kades ya? Apa jangan-jangan kembarannya? Soalnya saya kayak lihat orang senyum-senyum dari tadi jalan kaki pulang, kayak abis menang undian berhadiah!"

Bu Intan terkekeh. "Ah kamu, lebay, Bi."

Bi Koni meletakkan gagang sapu dan menyenderkan tangan ke pinggang. "Lho, Bu... biasanya habis subuh Ibu udah pasang wajah galau. Tadi malah sempat kaget, Ibu keluar rumah cuma pakai jaket ringan sama sandal jepit. Kirain lagi nyari angin... Eh, pulang-pulang wajahnya secerah lemari es baru!"

Bu Intan menutup mulutnya sambil tertawa. Ada kelegaan dalam tawa itu. Tawa yang sudah lama tidak terdengar di rumah besar yang biasanya dipenuhi keheningan dan tekanan.

"Aku cuma jalan-jalan, Bi. Liat-liat suasana pagi. Terus mampir beli bubur..."

"Bubur Aayam si Ganteng?" Bi Koni menoleh cepat, matanya berbinar. "Duh... bubur Mang Karna, ya? Ih, favorit emak-emak kompleks! Tapi, biasanya kalau sedang ada Hendra, yang ngantri itu... demi senyum manis Hendraaaa..." serunya dengan suara menggoda.

Bu Intan menaikkan alisnya, setengah pura-pura tak tahu. "Hendra?"

Bi Koni langsung nyengir, mendekat sambil membawa sapu. "Duh, Bu... masa pura-pura sih? Emang saya gak lihat tuh senyum-senyum Ibu dari ujung gang. Tuh anak emang bikin hati hangat. Anak kuliahan, tapi gak gengsi bantuin Bapaknya. Dan... aduuuhh itu senyumnya kayak embun pagi di kelopak daun pisang!"

"Ih, Bi... bisa aja kamu..." Bu Intan menepuk lembut lengan Bi Koni, menahan tawa.

"Hahaha. Tapi serius, saya senang loh lihat Ibu bisa senyum lagi. Biasanya yang Ibu tatap pagi-pagi itu langit-langit kamar, sekarang tatapannya kayak abis ketemu cahaya baru."

Bu Intan tersenyum lembut. Ia duduk di kursi rotan dekat jendela, membiarkan sinar matahari menerpa wajahnya. Suasana rumah pagi itu terasa berbeda. Lebih hidup. Lebih hangat.

"Bi," ucapnya pelan, "Aku gak tahu ini langkah kecil atau besar, tapi pagi ini... aku merasa kayak kembali hidup. Rasanya kayak... aku boleh bahagia lagi."

Bi Koni terdiam sebentar. Lalu dengan suara serak yang ditahan agar tak terdengar haru, ia berkata, "Ibu dari dulu memang pantas bahagia. Cuma kadang... semesta butuh waktu buat membayar semua sabar Ibu. Dan saya di sini, siap bantu Ibu dapetin semua itu, termasuk si ganteng itu."

Bu Intan menatap pembantunya yang lebih mirip sahabat, bahkan kadang seperti adik sendiri. "Terima kasih, Bi. Tapi Hendra bukan prioritas saya, dia masih terlalu muda."

Bi Koni menyentuh dadanya sendiri, dramatis. "Ih, Bu... jangan gitu dong. Muda kalau bisa bikin bahagia, why not. Kalau saya boleh saran-besok-besok saya temenin deh beli buburnya. Biar Hendra-nya bingung, pilih senyumin saya atau Ibu!"

Keduanya tertawa bersama.

Lalu Bi Koni berbisik, "Bu... gimana kalau kita usulin aja tuh gerobak bubur pindah mangkal di deket rumah Ibu? Gak usah jauh-jauh, biar tiap pagi Ibu bisa... yaaa... cuci mata lahhh..."

Bu Intan terbelalak, lalu menepuk meja kecil di depannya, tertawa lepas. "Ya ampuuun, Bi! Kamu tuh ya... bisa-bisanya mikir gitu. Hendra kan cuma bantuin bapaknya. Lagian dia tuh munculnya saat liburan doang. Nanti malah tiap hari yang senyum sama aku, Mang Karna...!"

"Hahahaha!" Bi Koni ikut ngakak. "Lah, Bu... gak usah remehin Mang Karna. Waktu muda katanya juga bikin banyak janda dagdigdug, lho. Ganteng, pinter main gitar, rambut belah tengah, gambaran Hendra sekarang, hahahah."

Bu Intan memegangi perutnya, menahan tawa. "Bedaaa, Bi Koni! Getaran Mang Karna dan Hendra itu gak sama, hahahaha!"

Bi Koni memonyongkan bibir pura-pura kesal. "Yaaah... getaran Hendra mah ultrasonik ya, Bu? Dikit-dikit berdebar. Dikira habis olahraga, padahal jantungnya Ibu yang olahraga."

Tawa mereka meledak lagi. Kali ini lebih ringan. Lebih jujur. Tak ada beban dalam tiap kelakar. Tak perlu jaim.

Namun di balik canda itu, diam-diam Bi Koni menatap majikannya dengan lembut. Ada yang berubah pada Bu Intan. Ia bukan hanya terlihat lebih cerah-tapi lebih hidup. Ada cahaya kecil yang dulu redup, kini menyala malu-malu di sudut matanya.

Dan Bi Koni tahu, sesekali hidup memang butuh alasan baru untuk tersenyum. Meski hanya dari gerobak bubur. Dalam hati, Bi Koni bertekad untuk mendekatkan majikannya dengan Hendra, yang kebetulan masih anak sepupunya.

Lalu mereka melanjutkan obrolan ke topik-topik lain, walau ujung-ujungnya gak jauh-jauh dari Hendra.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Bittersweet
9.0
Arvin Bintang Mahatama dan Hana Farsya Aurina telah bertetangga sejak kecil. Meski Arvin sangat jahil dan Hana cenderung manja namun dewasa, keduanya tak terpisahkan dari TK hingga SMA. Hubungan mereka sering diwarnai pertengkaran layaknya Tom and Jerry karena kepribadian yang kontras. Kini di masa remaja, persahabatan mereka diuji oleh munculnya benih cinta. Akankah ikatan platonis ini bertahan saat perasaan mulai terlibat dalam perjalanan pahit manis di sekolah?
Sampul Novel Cinta yang dinantikan
9.2
Hidup Anggun Nirmala hancur saat sang ayah menjadikannya jaminan untuk melunasi hutang. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya dari nasib buruk. Merasa berhutang budi, Anggun bersumpah akan melakukan apa pun demi membalas kebaikan penyelamat yang tak ia kenal itu. Namun, komitmen tersebut langsung diuji saat sang pria mengajukan satu permintaan tak terduga yang membuat Anggun terdiam seribu bahasa. Akankah ia sanggup memenuhinya?
Sampul Novel Gelora Berbahaya Sang Pengacara
9.8
Demi melunasi utang orang tuanya kepada mucikari, Madona nekat menjebak pengacara bernama Ardan demi uang 500 juta rupiah. Namun, rencana tersebut berbalik menjadi petaka bagi Madona saat video skandal mereka justru membawanya ke dalam masalah besar. Alih-alih mendapatkan harta, ia justru terkurung di kediaman Ardan. Di tengah situasi penuh tekanan ini, akankah benih cinta mulai tumbuh, ataukah hanya rasa benci yang akan mewarnai hubungan mereka?
Sampul Novel Kembaran Obsesinya
8.5
Baskara Adinata menyewaku sebagai pendamping, namun cinta tulusku dibalas pengkhianatan keji. Ternyata, dia memakai teknologi deepfake untuk mengganti wajahku dengan Karininia, kakak tiriku yang ia puja. Saat Karininia memfitnahku, Baskara membiarkanku disiksa hingga tanganku hancur dan memenjarakanku. Demi warisan ibu, aku menerima tawaran ayah tiri untuk menikahi pria asing, Keenan Adiwijaya. Aku pergi menjauh demi memulihkan hidup dari pria yang menganggapku mainan.
Sampul Novel MENGGODA CEO KEJAM
8.3
Pasca kematian ibunya, Reaneta Alisha terpukul mengetahui perselingkuhan ayahnya dengan gadis seumurannya. Demi membalas dendam, Rea berencana memikat Logan Asher Maverick, miliarder dingin yang menjadi pujaan selingkuhan sang ayah. Namun, Logan bukan pria sembarangan yang mudah ditaklukkan. Situasi berubah mencekam saat niat terselubung Rea terbongkar. Logan yang murka kini mengancam nasib Rea. Akankah misi godaan ini justru menjadi bumerang baginya?