Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mahasiswi Simpanan Dosen Liar

Mahasiswi Simpanan Dosen Liar

Zeya Scopuso merasa curiga saat sesi bimbingan skripsinya dialihkan ke dalam kamar pribadi. Ketika ia mempertanyakan alasan di balik lokasi yang tidak lazim tersebut, Delson Weather selaku dosen pembimbing memberikan jawaban yang mengejutkan. Sambil membelai paha mahasiswinya dengan gerakan lembut namun penuh maksud, Delson menegaskan bahwa ia akan memberikan bimbingan tambahan khusus bagi Zeya yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Lorong itu lengang, sunyi hanya dilintasi hembusan pendingin ruangan yang dinginnya menyusup tulang. Zeya berhenti sejenak di depan rak besi tempat biasa ia meletakkan baki, tapi kali ini rak itu sudah kosong-tak ada yang tersisa. Ia menunduk, menghitung lembaran tip yang baru saja ia kumpulkan dari meja-meja para tamu yang berserakan dengan gelas dan aroma alkohol.

Senyum tipis mengembang di bibirnya. Uang yang tak seberapa itu masih jauh dari cukup untuk membayar semester barunya di London, tapi tetap saja-baginya, setiap lembar adalah harapan.

"Zeya!" Sebuah suara memanggil, membuatnya menoleh refleks.

Manager club itu datang tergesa, napasnya tersengal, kemejanya sedikit terbuka dan wajahnya berkeringat. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kartu kamar yang tampak eksklusif.

"Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zeya dengan sopan, alisnya terangkat, penasaran.

Manager itu menyerahkan kartu kamar sambil mengatur napas. "Cepat ke kamar VIP ini. Tamu besar sedang menunggumu."

Zeya membelalak, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "Tamu besar? Meminta saya?"

Manager itu mengangguk mantap. "Iya. Sekarang, cepat pergi dan jangan membuatnya menunggu."

Tanpa sempat menolak, kartu itu berpindah ke tangan Zeya. Ia terpaku, tubuhnya seperti kehilangan arah, sementara pria paruh baya itu mengambil alih rak dan berjalan pergi sambil bersenandung kecil.

"Jackpot malam ini benar-benar luar biasa," gumam si manajer dengan ekspresi puas. "Anak itu benar-benar beruntung. Bertemu pria kaya yang bisa mengubah hidupnya... dan aku juga tidak pulang dengan tangan kosong malam ini."

Zeya kini berdiri di depan pintu kamar VIP, diam, mematung. Jemarinya gemetar, kartu di tangannya nyaris jatuh. Wajahnya bingung, gelisah, takut-perasaan yang bercampur aduk. Namun bayangan ujian akhir dan ketakutannya gagal kuliah di luar negeri membuat langkahnya tak bisa mundur.

Ia menarik napas panjang, menatap pintu di hadapannya dan berbisik lirih, "Tenang Zeya... ini hanya satu malam. Satu kali saja, lalu semuanya selesai. Setelah ini, kamu keluar dari dunia ini... selamanya."

Dengan tekad yang menggigil di dadanya, Zeya mengetuk perlahan dan masuk.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya pucat bulan yang menembus tirai tipis jendela besar. Di sana, berdiri seorang pria-tinggi dan tegap-membelakanginya. Wajahnya tertutup bayangan malam, hanya siluetnya yang terlihat jelas. Di tangannya, ia menggoyangkan segelas alkohol dengan gerakan lambat, nyaris meditatif.

"Permisi... Tuan memanggil saya?" tanya Zeya pelan, sopan.

Pria itu tidak langsung menjawab, hanya memutar tubuhnya sedikit. Cahaya bulan mengenai sebagian wajahnya, namun belum cukup untuk Zeya mengenali siapa dia.

"Mandilah. Aku akan menunggu," perintahnya, tenang... tapi tegas. Nada suaranya membuat Zeya menelan ludah keras-keras.

"Baik, Tuan."

Zeya meletakkan kartu kamar di meja marmer, lalu melangkah menuju kamar mandi. Begitu ia membuka pintu, matanya membelalak. Di sana, di atas wastafel, sudah tergantung sepasang lingerie berwarna merah menyala, halus dan sangat tipis. Tangannya menggenggam pintu erat, napasnya tercekat.

Namun ia tak punya waktu untuk menolak. Tak punya kuasa. Ia hanya bisa berharap ini benar-benar malam terakhirnya.

Tanpa banyak berpikir lagi, ia mandi, membiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.

Sementara itu, Delson duduk di sofa berbalut beludru hitam. Di tangannya, gelas kristal itu terus ia putar, seolah memantulkan bayangan gadis yang kini sedang mandi. Suara gemericik air mengusik pikirannya, membangkitkan bayangan liar yang tak bisa ia tolak. Dada Delson naik turun-untuk pertama kalinya, ia merasa... gugup.

Shower berhenti.

Delson menggenggam erat gelasnya. Napasnya tertahan, matanya menatap pintu kamar mandi yang perlahan terbuka. Aroma sabun yang lembut dan feminin menguar, menyeruak memenuhi ruang.

Zeya keluar, tubuhnya bersih, rambutnya masih sedikit basah. Ia mendekat, langkahnya ragu namun tetap maju. Wajahnya menunduk dalam, menghindari kontak mata. Tapi justru sikap itulah yang membuat Delson menggila.

Tak ada yang lebih memabukkan bagi Delson malam itu... selain kehadiran seorang perempuan yang tak hanya cantik secara fisik, tapi penuh misteri, sopan, dan memiliki rasa malu-sifat yang tak pernah lagi ia lihat dalam kehidupan glamor yang biasa ia jalani.

Dan untuk pertama kalinya... Delson ingin menghentikan waktu. Karena ia tahu-wanita ini bukan seperti yang lain.

Langkah Zeya mendekat pelan, seperti seekor rusa yang menyadari ia berada di hadapan pemangsa. Ia berhenti di depan meja, tepat di bawah cahaya rembulan yang menyinari sebagian tubuhnya. Lingerie merah itu membungkus tubuhnya dengan rapi, tapi auranya tak sedikit pun menjerat mata dengan vulgar. Justru ada kesan rapuh... dan itu yang membuat Delson semakin terpaku.

"Sudah," ucap Zeya, nyaris seperti bisikan, tapi cukup untuk memecah keheningan di antara mereka.

Delson tak langsung bereaksi. Matanya menatap gadis itu lama. Ada sesuatu dalam diri Zeya yang membuatnya bingung... bukan sekadar kecantikan atau tubuh yang memikat. Tapi caranya berdiri. Caranya menunduk. Caranya menjaga jarak, seolah tubuh itu di sini, tapi jiwanya... terikat di tempat lain.

"Siapa namamu?" tanya Delson, akhirnya bersuara. Suaranya berat, dalam, namun bukan suara pemangsa seperti biasanya. Kali ini... terdengar penasaran.

Zeya mengangkat wajah, sedikit terkejut. Ia pikir pria itu akan langsung mendekat, menyentuh, atau memperintah lebih jauh.

"Zeya," jawabnya ragu.

"Nama asli?" Delson menyipitkan mata, meneguk seteguk minumannya. Suara es dalam gelasnya terdengar nyaring di antara keheningan.

Zeya terdiam sejenak. "Masih Zeya," jawabnya jujur.

Delson tersenyum miring. Lalu ia berdiri, langkahnya mantap, mendekat... membuat Zeya mundur refleks. Namun Delson berhenti sebelum menyentuhnya. Matanya menyapu gadis itu dari atas ke bawah, bukan dengan nafsu yang biasa ia gunakan untuk menilai wanita, melainkan dengan rasa ingin tahu yang tak biasa.

"Kau takut padaku?"

Zeya menunduk lagi, tangan menggenggam erat bagian depan gaun tidurnya. "Saya... hanya ingin ini cepat selesai, Tuan. Saya harus kuliah besok pagi."

Jawaban itu menusuk Delson seperti pisau kecil yang pelan tapi tajam. Kuliah? Dia mendadak melihat Zeya dalam bentuk lain: bukan sebagai wanita klub... tapi seseorang yang sedang berjuang. Seorang gadis muda yang mencoba bertahan di dunia yang kejam dengan harga diri yang masih tersisa.

"Kenapa kamu kerja di tempat seperti ini?" gumam Delson, kali ini lebih kepada dirinya sendiri.

Zeya mengangkat wajah, menatap Delson untuk pertama kalinya. Mata mereka bertemu. Dalam mata itu, Delson melihat kelelahan... kepedihan... dan tekad.

"Karena mimpi itu mahal, Tuan. Dan saya tidak punya orang tua yang bisa membayarnya."

Delson terdiam.

Beberapa detik lewat tanpa suara. Ia berbalik, menuju minibar, menuangkan minuman lain. Tapi kali ini ia tak menawarkannya pada Zeya.

"Ambil uang di dompetku. Di atas meja. Seribu dolar. Anggap saja tip malam ini. Lalu pulanglah."

Zeya membelalak. "A-apa?"

Delson menyandarkan tubuhnya di meja bar, meneguk minumannya sambil memandang ke luar jendela. "Aku bilang pulang. Malam ini aku tidak ingin menyentuh siapa pun... dan kamu terlalu nyata untuk diperlakukan seperti boneka."

Zeya tak bergerak. Ia menatap pria itu lekat-lekat, mencoba menebak motif di balik perubahan sikap mendadak itu. Tapi pria itu tampak jujur. Tenang. Lelah... seperti dirinya.

"Apa ini... semacam ujian?" tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.

Delson tersenyum miring. "Anggap saja... aku sedang berusaha sedikit waras."

Zeya perlahan berjalan menuju meja, mengambil uang itu, dan menggenggamnya erat-erat. Hatinya berkecamuk. Malam ini terlalu aneh. Terlalu berbeda. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum membuka, ia berbalik.

"Terima kasih, Tuan..."

Delson menoleh. "Namaku Delson."

Zeya mengangguk, lalu membuka pintu dan keluar.

Begitu pintu tertutup, Delson meneguk sisa minumannya habis dan tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

"Aku gila," gumamnya.

Tapi entah kenapa, malam ini... ia merasa untuk pertama kalinya ia melakukan sesuatu yang benar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintaku Direbut Sahabatku Sendiri
9.6
Hidup Lara hancur total saat Darren, suaminya, berselingkuh dengan Maya yang merupakan sahabat dekatnya sendiri. Pernikahan mereka berakhir tragis setelah Darren memilih menceraikan Lara demi selingkuhannya. Penderitaan Lara kian memuncak ketika kecelakaan hebat merenggut janin dalam kandungannya. Meski mencoba membuka hati untuk cinta yang baru, rentetan cobaan seolah tak berhenti mengejarnya. Mampukah Lara menemukan setitik kebahagiaan setelah segala miliknya hilang?
Sampul Novel Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya
9.1
Vovo dan Jasmine awalnya terjebak dalam romansa yang membara, hingga sebuah rahasia mengubah segalanya. Demi alasan keluarga, Vovo meminta perceraian formal dengan janji akan kembali. Namun, Jasmine yang terluka memilih pergi selamanya, bahkan menggugurkan kandungan mereka demi memulai hidup baru. Saat menyadari Jasmine benar-benar menghilang, Vovo hancur dalam penyesalan mendalam. Ia kini mengejar wanita yang pernah ia sia-siakan, memohon kesempatan yang mustahil.
Sampul Novel Gairah Isteri Kedua
8.4
Ellea terpaksa mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan menjadi istri kedua bagi Anderson. Sebagai seorang CEO muda yang berkuasa, Anderson membawa Ellea masuk ke dalam kehidupan pernikahan yang penuh dengan teka-teki. Apa sebenarnya alasan kuat yang memaksa Ellea bersedia menerima posisi tersebut? Ikuti kisah romansa penuh konflik ini saat ia harus menghadapi kenyataan pahit di balik statusnya sebagai wanita kedua dalam hidup sang konglomerat.
Sampul Novel Hold My Hand
8.0
Pasca kepergian orang tua angkat mereka, Khanza menyadari adanya getaran asmara yang tak biasa terhadap kakaknya, Barra. Meski tidak memiliki ikatan darah, status sebagai saudara membuat batin Khanza tersiksa oleh kebimbangan yang mendalam. Hubungan rumit ini semakin diuji saat mereka terjebak dalam pusaran konflik besar. Situasi kian mencekam ketika Barra terseret dalam sebuah kasus pembunuhan yang mengancam masa depan dan rahasia hati mereka berdua.
Sampul Novel Kisah Heroik Sang Menantu
8.2
Baru sehari menikah, sang protagonis menyaksikan kekejaman di kediaman Keluarga Kuncoro saat ayah mertuanya menyiksa sang ibu mertua hanya karena persoalan makanan. Upayanya untuk melerai justru berujung pada makian, di mana ia dianggap tidak sopan dan diberi tahu bahwa kekerasan adalah cara keluarga tersebut menundukkan orang lain. Namun, saat suaminya sendiri mencoba melakukan kekerasan fisik terhadap dirinya, ia justru merasa gembira karena akhirnya bisa menunjukkan kekuatan supernya.
Sampul Novel Mendadak Kaya
8.4
Pasca kehilangan pekerjaan, seorang gadis berlesung pipi mendapat tawaran tak terduga yang mengubah nasibnya. Ia diminta berkencan satu malam di rumah seorang pria misterius dengan imbalan fantastis sebesar seratus juta rupiah. Sang pria menjamin bahwa agenda mereka hanyalah makan malam bersama tanpa ada tuntutan lainnya. Bak rezeki nomplok di tengah kesulitan, ia pun menyadari bahwa roda kehidupan memang berputar dengan sangat tidak terduga.