Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MAFIA REVENGE & LOVE

MAFIA REVENGE & LOVE

Zacky memutuskan untuk menikahi Indah demi menuntaskan dendam atas kematian tragis adik tercintanya. Meski konspirasi besar yang ia susun berjalan mulus, rintangan tak terduga mulai muncul di tengah jalan. Zacky menemukan sebuah rahasia tersembunyi yang menjungkirbalikkan segalanya. Kebenaran tersebut akhirnya mengungkap peristiwa kelam yang sebenarnya terjadi empat tahun silam, menguji kembali niat serta rencana yang telah ia bangun dengan matang.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jantungku serasa ingin melompat-lompat. Semalaman aku tidak bisa tidur. Bahkan menggigit bibir berkali-kali sampai berdarah. Ucapan kak Zacky kemarin masih terngiang-ngiang diingatan. Dia tidak bercanda, aku pun menanggapinya serius. Jikalau itu memang bercanda, tidak mungkin wajah yang terlihat ramah dan baik selama ini berubah menjadi sedikit arogan dan menakutkan.

Tadi malam juga pria itu telah membuktikan keseriusan ancamannya. Seseorang mengetuk jendela kamarku. Saat itu aku tidak takut, bukan karena akan dibunuh. Aku tak mengapa jika harus mati, jika seandainya kak Zacky betulan merealisasikan rencananya. Cuma, aku masih memikirkan keluargaku. Bagaimana jika dia melenyapkan kami semua. Aku sendiri tidak tahu motifnya apa, memintaku menggantikan kak Irma sebagai pengantin. Ini pertanyaan yang seharusnya kutanyakan sebelumnya.

Padahal jelas sekali kalau yang akan dinikahi pria itu adalah kakakku, bukan aku. Semalam saat seseorang menggedor jendela kamarku pelan, dia berkata tanpa peduli apakah aku mendengar atau tidak. Tetapi aku yakin, orang itu paham bahwa aku mendengarkannya.

“Ikuti perintah bos besar, kalau kamu mau selamat. Aku tangan kanan bos besar, ditugaskan untuk mengawasi apapun yang kamu lakukan. Katakan padaku jika kamu mau bekerjasama. Jika kamu memilih apa yang bos bilang, maka kamu tidak perlu khawatir mengenai nyawa orang tuamu.”

Pria itu menjeda kalimatnya sebentar.

“Satu lagi, senapan angin dan pelurunya telah siap mengoyak tengkorak kepala siapa saja yang menentang perintah bos besar. Jadi ini bukan hanya ancaman saja, melainkan lebih dari itu. Besok pagi pukul empat, ketuk jendela ini tiga kali, kalau kamu menyetujui perintah bos besar. Kalau aku tidak mendengar kode itu, berarti acara pernikahan ini bakal berakhir jadi pesta kematian.”

Suara di senyap-senyap malam itu kemudian menghilang. Langkah kakinya terdengar melandai lembut, hilang terbawa gelombang angin. Aku memejamkan mata sejenak, berusaha menafsirkan segalanya. Namun sepanjang memikirkan semua itu, aku tetap dihadapkan satu fakta. Ancaman!

Pernyataannya adalah, kenapa dia masuk ke dalam keluarga kami, meminang kak Irma tapi ujung-ujungnya ingin menikahiku? Sebenarnya, apa tujuan pria itu? Aku bahkan tidak mengerti jalan pikirannya. Aku sekali lagi dibuat takut. Sesuatu yang aku kira ancaman, nyatanya adalah sebuah kebenaran.

Maka pukul empat pagi, setelah bergelung semalaman tak bisa tidur, aku memutuskan mengikuti alur skenario yang dibuat kak Zacky. Dengan mata perih dan kepala yang berat, aku melangkah mendekat ke korden jendela. Mengetuk kaca jendela empat kali, sesuai perintah orang semalam.

Kupikir setelah melakukan itu, semuanya selesai. Ternyata apa yang aku duga tidak akan pernah sesuai dengan related kehidupan. Kemarin ketika aku terdiam membeku tidak bisa berbuat apa-apa, kak Zacky dengan sorot mata yang tajam seperti mengintimidasi, membuat sedikit badan ini bergidik ngeri. Ekspresi wajahnya adalah sesuatu yang baru pertama kali kulihat. Tatapan menakutkan dan kelam.

Sebelumnya, aku selalu melihat beliau dengan tatapan yang hangat, terlihat mengasihi dan perhatian. Lalu ketika dia menatapku seolah ingin membunuh itu membuatku ketakutan setengah mati.

Pukul sembilan pagi, di gereja yang dimaksud tempat dilangsungkannya pernikahan. Aku dan yang lainnya, terutama sebagai pengiring pengantin wanita berada di belakang persis punggung kak Irma. Mengantarnya ke dalam aula gereja menuju ke altar.

Banyak tamu undangan telah menanti kedatangannya. Terlihat juga ada kak Zacky yang sudah menunggu di altar, lengkap dengan Pak pendeta. Pria itu bersetel tuksedo hitam rapi dan terlihat elegan. Takut-takut aku menatap wajah itu. Wajah menakutkan yang balas menatapku dengan tatapan tajam, tidak bersahabat, pemarah dengan aura membunuh. Aku mengerti, dia sedang mengode. Seakan mengatakan melalui telepati bahwa aku harus mengikuti perintahnya kemarin.

Aku menundukkan kepala, merendahkan pandangan. Alibi membuang ketakutan. Aku tahu bahwa aku sedang dalam ancaman ketakutan. Karena itu, daripada ketakutan ini makin terasa dan mudah dipahami lawan, aku sebisa mungkin membuat gerakan peralihan. Namun ketika aku mengedarkan pandangan ke atas, ke langit-langit gereja, aku menyadari sesuatu yang benar-benar membuatku mengakui kalau kak Zacky tidak berbohong.

Ada puluhan laser hijau samar, yang mana setiap sinarnya telah terarah ke atas pucuk kepala orang-orang penting dalam keluargku. Itu adalah laser pucuk senapan. Sama persis seperti yang kak Zacky katakan kemarin. Orang-orang yang dimaksud kak Zacky telah bersiap, siaga melepaskan peluru ke kepala para tamu undangan, juga di kepala kedua orang tuaku. Ucapannya sungguhan benar. Dia tidak pernah dusta. Aku menelan ludah takut. Sesuatu yang aku kira hanyalah propaganda semata, kini menjadi kenyataan rupanya.

“Baiklah, sebelum aku memasangkan cincin di jari pengantin wanita yang akan aku nikahi pagi ini, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan. Mungkin kalian akan terkejut mendengarnya.”

Kak Zacky menatap semua orang. Satu tangannya memegang tangan kak Irma yang sedang tersenyum bahagia, senyuman yang membuatku senang sekaligus sedih. Sementara satu tangan kak Zacky yang lainnya sedang memegang cincin. Diantara keduanya ada wakil pendeta yang membawa baki berisi mahar pernikahan dan pendeta yang berdiri di tengah-tengah pengantin. Mata kak Zacky beredar, menatap semua tamu undangan dan kerabat.

Deg! Jantungku lagi-lagi berdetak lebih cepat. Keringat dingin mulai melanda. Ketakutan itu datang lagi. Badanku mendadak gugup dan bergetar hebat. Jika saja aku tidak menguatkan diri, barangkali kaki itu sudah terjatuh, tak mampu berdiri di atas lantai datar. Jadi, semua ini betulan terjadi? Bukan Dejavu?

“Sebenarnya aku ingin menyampaikan kalau pengantin wanitaku saat ini bukan seperti yang kalian lihat sekarang. Maksudku, aku ingin menikahi wanita lain di tempat ini, bukan Irma. Jadi aku akan memberitahu kalian semua prihal ini. Maaf jika mendadak, dan dengan berat hati harus disampaikan.” Kak Zacky melanjutkan ucapannya.

Saat perkataan itu didengar semua orang, ratusan tamu undangan bahkan ibu dan ayah juga adikku- Iqbal ikutan terkejut. Sama sepertiku yang menatap dalam kosong. Antara takut, gelisah, cemas, segalanya berpadu dalam satu. Puluhan orang bertanya-tanya, apa gerangan yang sedang disampaikan pengantin pria di atas sana. Kemudian yang lainnya berbisik-bisik, berkata bahwa pengantin pria sedang membuat lelucon.

“Pagi ini aku akan menikahi dia ....” Kak Zacky mengulurkan jemarinya, menunjuk diriku yang langsung menatap melotot. Mendadak tubuhku makin meningkat takut, keringat dingin membasahi badan, tubuh bergetar gugup tak karuan dan membeku. Semua mata telah tertuju padaku. Memandang penuh tanya.

“Indah, apa maksudnya ini?” Ibu bertanya, air muka terlihat jelas meminta penjelasan. Aku menelan ludah gugup. Entah jawaban apa yang hendak aku sampaikan.

Dalam sepersekian detik, tak tahu bagaimana jelasnya, tiba-tiba pria itu ada di depanku. Mengulurkan tangan, mengajakku baik ke atas pelaminan. Jelas saat itu terjadi, lagi-lagi semua mata seakan menusuk, meminta penjelasan lebih. Aku hanya bisa diam, tidak mampu berkata-kata. Semua terjadi cukup cepat, sampai aku merasakannya seperti angin yang berhembus cepat. Wush, kilat itu mengibaskan semua permasalahan ke satu titik.

••••

“Ayah, ibu, maaf jika telah membuat kalian kecewa. Maaf jika aku harus mengubah pandangan kalian tentangku, terutama telah mengecewakan Irma juga. Tetapi sekali lagi, aku berani bersumpah, sejatinya aku jatuh cinta pada Indah. Pertama kali hadir di rumah ini, Indah bagaikan pelangi yang mewarnai hidupku. Jadi tolong, kalian berikan restu kalian untuk kami.” Kak Zacky memohon di kaki ayah yang terlihat kecewa dan ibu yang tidak bisa menahan tangisannya sejak tadi.

Sementara itu, Kak Irma berada di kamarnya, meratapi betapa buruknya hari yang dilaluinya saat ini. Adiknya dituduh merebut calon suaminya, malah di hari pernikahan yang menikah si adik, bukan dirinya. Wanita mana yang telah berstatus pengantin dan sebentar lagi akan jadi seorang istri, lalu tiba-tiba impian indah itu harus pupus di saat yang tepat, satu menit sebelum insiden penyematan cincin itu batal mengalung di jemari.

Saat ini kami telah berada di rumah utama, selepas pulang dari gereja. Tentu diiringi dengan malu yang tidak bisa dibendung. Orang-orang menggunjing prihal kejadian tadi. Aku bahkan tidak ada muka lagi untuk berhadapan dengan mereka, terutama orang tuaku sendiri juga para kerabat dekat.

Dua jam lalu, aku naik ke atas pelaminan tanpa sepatah kata pun. Lalu dalam sekejap, semuanya telah terjadi. Pria itu mencium bibirku selepas mengucapkan janji pernikahan di depan pendeta dan patung Tuhan Yesus yang menggantung di langit-langit gereja. Saking tidak bisa berpikir jernih, aku bahkan tidak bisa mencerna mana itu kenyataan sesungguhnya, mana pula bayangan ketakutan.

Jadi ancaman ‘Keputusan menentukan masa depan’ yang dimaksud kak Zacky adalah ini? —Yaitu membunuh karakter orang lain. Meskipun aku tidak tahu tujuannya, yang pasti jelas kak Zacky ada maksud ingin memecah belah keluarga damai ini dengan aku adalah umpan utamanya. Dia pasti punya tujuan tertentu.

“Bilang sama ibu, apa kesalahan yang telah kami perbuat, sampai-sampai kalian berani berbuat hal mengecewakan seperti ini?” Ibu masih menangis, menatapku kemudian. Aku menundukkan kepala, tidak sanggup untuk berujar sepatah kata. Karena aku tahu, aku benar-benar bersalah dengan mengiakan perintah pria itu.

“Bu, tolong jangan salahkan Indah. Yang salah di sini Zacky karena lebih memilih dia menjadi pengantinku, bukannya Irma yang sudah menemaniku bertahun-tahun ini.” Pria itu menyela. Jawaban yang terlontar itu jelas tidak membuat hati ibu akan meluluh.

“Kalian sama-sama salah. Kenapa harus Indah? Kenapa juga harus menyakiti Irma? Kamu tahu kan kalau Irma itu sayang sekali sama kamu, nak Zacky! Kamu juga, Indah. Kamu tahu kalau dia itu calon suami kakak kamu. Kenapa kamu tega berbuat seperti ini, hah? Seharusnya kalian bilang sejak awal jika kalian saling mencintai, mungkin kejadian mengejutkan ini tidak akan terjadi. Orang tua mana yang tidak akan kecewa, apalagi pengantin wanita yang calon suaminya menikahi orang lain. Lebih lagi, orang itu adalah adik kandungnya sendiri. Irma di dalam sana pasti lagi frustasi sekarang.”

“B—bu, maaf.” Aku menjawab lirih. Alih-alih bisa membujuk ibu, mencoba memahami apa yang terjadi, ibu malah membentakku.

Aku juga tak mungkin menjelaskan bahwa aku diancam. Aku tidak akan melakukan itu, karena aku sayang nyawa kedua orang tuaku. Hanya saja, aku dipaksa bertindak macam keledai bodoh oleh pria di sampingku. Melihat kemarahan ibu, aku merasa bahwa aku benar-benar tidak berguna. Aku adalah domba yang tersesat.

Tadi saja, saat akan berusaha bicara yang baik-baik, menjelaskan dengan kepala dingin pada kak Irma, dia malah tak menggubris. Banting pintu kamar, tidak menghiraukan aku sama sekali. Diperparah dengan komentar ayah yang tidak mau anaknya diganggu oleh wanita bersifat buruk sepertiku.

“Ayah sama ibu tidak mau mendengar alasan kalian berdua. Lebih baik kalian angkat kaki dari sini. Untuk Zacky, Indah kami serahkan padamu, karena kamu sudah menikahinya dan bertanggungjawab penuh atas segala hal tentangnya. Kedepan, jangan datang lagi ke rumah ini. Karena kalian harus menjaga perasaan Irma yang sekarang sedang terluka berat.”

“Ayah ....” Aku mencoba menyela, tetapi ucapanku terbata manakala kak Zacky menggamit tanganku.

“Ayah benar, sebaiknya kita pergi sekarang.”

“Satu lagi,” Ayah menginterupsi, sebelum kami melangkah pergi. “Indah, ayah sebenarnya tidak mau menyampaikan ini. Mau bagaimanapun, kamu tetap anak ayah. Kalian tidak ada yang dibedakan. Hanya saja, ayah juga cukup kecewa, karena kamu sudah mengacaukan segalanya. Kamu juga sudah membuat keluarga kita malu. Untuk sekarang ayah belum bisa memaafkan tindakan kalian berdua. Tetapi mungkin besok atau kapanpun, ayah bisa memaafkan kalian. Untuk saat ini, tolong jangan pernah menampakkan diri di depan keluarga kami. Karena itu akan terlalu menyakitkan bagi kami.”

“Ayah ....” Aku menangis ketika mendengar pernyataannya. Ucapan itu benar-benar menyakiti hati. Ayah berkata seolah seperti sedang berbicara kepada orang lain, bukan putrinya. Apakah ayah bermaksud membuangku hanya karena alasan ini? Padahal aku tidak melakukan apapun.

Aku ingin protes, ingin pula menuntut kenapa ayah bisa bicara enteng begitu, seakan beliau sedang berkata tanpa beban pada anak yang bukan darah dagingnya. Tetapi lagi-lagi sepasang tangan kekar dan lebar menginterupsi, memegang pundakku, mengajak segera pergi dari sana. Yang membuatku mau tak mau menuruti perintah itu.

Betul sekali. Tindakan Zacky seperti mewakili diriku yang seharusnya tidak perlu berkata apapun lagi. Percuma. Semua orang tidak akan mempercayai aku. Karena apa yang mereka lihat adalah kebenaran. Sebuah kebenaran bahwa aku adalah perusak momen kebahagiaan orang lain!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku (Bukan) Anak Mafia
8.5
Rehan Putra Narendra adalah siswa SMA pendiam yang berubah menjadi emosional setelah sebuah insiden tragis. Di usia tujuh belas tahun, ia menghadapi tekanan besar saat dipaksa meneruskan posisi ayahnya sebagai pemimpin klan mafia. Beban hidupnya kian berat ketika ia harus menjalani pernikahan paksa dengan musuh bebuyutan di kelasnya sendiri. Rehan kini terjebak antara tuntutan dunia kriminal dan dinamika benci jadi cinta dengan sang istri.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel JERAT CINTA TUAN MAFIA
8.8
Akibat hancur oleh pengkhianatan sang kekasih, Louisa terjebak dalam masalah besar hingga nyawanya terancam. Beruntung, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya. Namun, dalam kondisi emosional, Louisa justru menawarkan sebuah 'hadiah' berani sebagai tanda terima kasih atas pertolongan tersebut. Tanpa ia sadari, keputusan impulsif itu menjeratnya ke dalam kehidupan sang penyelamat yang berbahaya, mengubah takdirnya selamanya.
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.
Sampul Novel Melamar Anakku Sendiri
9.5
Dominik Fedorov berencana menikahi kekasihnya yang tengah mengandung, namun penculikan tragis memisahkan mereka secara paksa. Selama puluhan tahun, Dominik gagal menemukan jejak wanita itu hingga tekanan keluarga untuk menikah terus menghantuinya. Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di sebuah pertemuan tak terduga. Saat Dominik berniat melamar seorang gadis muda, ia justru berhadapan lagi dengan Larisa, cinta masa lalunya yang sempat hilang misterius.
Sampul Novel Mengirim Tunangku ke Neraka
8.0
Cathy Begum gagal tampil di kapal pesiar, memicu amarah pemimpin mafia Nate Adams yang mengancam menghancurkan tangannya. Tunanganku, Chris Dobson, awalnya bersikap acuh tak acuh sebelum akhirnya membiusku hingga pingsan. Saat terbangun, aku terikat di kamar Nate demi menyelamatkan karier Cathy. Chris justru memohon agar aku melayani Nate semalam saja sebagai pengganti. Meski dia berjanji menjemputku, aku meragukan Nate akan melepaskan dendamnya begitu saja.