Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MAFIA REVENGE & LOVE

MAFIA REVENGE & LOVE

Zacky memutuskan untuk menikahi Indah demi menuntaskan dendam atas kematian tragis adik tercintanya. Meski konspirasi besar yang ia susun berjalan mulus, rintangan tak terduga mulai muncul di tengah jalan. Zacky menemukan sebuah rahasia tersembunyi yang menjungkirbalikkan segalanya. Kebenaran tersebut akhirnya mengungkap peristiwa kelam yang sebenarnya terjadi empat tahun silam, menguji kembali niat serta rencana yang telah ia bangun dengan matang.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Bos, selamat datang.” Beberapa orang menyambut kedatangan kami, setibanya mobil sedan hitam itu menepi di depan lobi rumah besar, bercat putih marmer.

Pria yang dipanggil bos mengangguk. Aku memerhatikan keadaan sekitar. Ada banyak orang. Laki-laki semua. Badan mereka tinggi dan besar, berperawakan menakutkan. Dari semua orang, mungkin hanya Zacky saja yang terlihat paling enak dipandang. Mukanya terlihat menyeramkan, tetapi paling tidak itu yang lebih baik dari yang lain. Misalnya seperti pria yang mukanya ada codet, badan kekar dipenuhi tato. Aku takut melihatnya. Mengerikan.

Mengenai tempat yang baru saja aku datangi, segalanya bisa saja jadi sesuatu yang baru untuk diceritakan. Rumah itu berlipat-lipat lebih luas dari rumah kami di tengah kota. Namun kediaman ini berada jauh dari hiruk-pikuk keramaian megapolitan. Sepanjang perjalanan yang kulihat hanyalah bukit, hutan, jalan curam dan bibir pantai. Rumah itu sangat besar, terlihat dari pintu masuk di luar sana. Akan sulit mendeskripsikannya seperti apa.

Rumah ini ada kubah yang dicat biru langit. Ada patung di depan pintu masuk dekat gerbang. Jarak pintu masuk itu kira-kira 200 meter. Jalan berhias paving blok, ada taman dan kolam air mancur di depan rumah. Lobi atau teras dipasang karpet merah. Rumah tiga lantai itu sangat megah. Belum pernah aku melihat rumah semewah ini di pinggir pantai di tengah hutan yang dikelilingi perbukitan.

“Ini Nyonya baru kalian, perlakukan dengan baik.” Zacky memberitahu anak buahnya di depan teras rumah, sebelum masuk ke dalam. Jumlah mereka puluhan. Menunduk mereka kala menyambut kedatangan sang Tuan. Aku menelan ludah. Ternyata apa yang kak Zacky katakan sepenuhnya adalah kebenaran. Dia tidak berbohong. Demi Tuhan. Ternyata aku sedang menjadi tawanan sekaligus istri seorang mafia besar. Katakanlah grand mafia.

“Siap, bos.” Satu-dua menyahut.

Aku mengekori pria berjas hitam itu masuk ke dalam. Tentu masih mengenakan baju yang serupa saat di gereja beberapa jam lalu. Baju bridesmaid yang mungkin terlihat norak. Di rumah besar ini, hanya ada aku dan dia. Orang-orang dengan perawakan menyeramkan itu tidak masuk ke dalam, menunggu di luar saja.

Zacky melempar jas hitamnya ke atas sofa, lalu membanting pantat di samping sofa empuk lainnya di ruang tengah. Pria itu menatapku lekat-lekat. Perempuan yang sedang ketakutan dan gugup bersamaan. “Apa yang kamu tunggu di situ?”

Aku menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Ck, perempuan tolol. Sini aku beritahu. Sekarang kamu memang Nyonya rumah di sini, jadi aku perjelas satu-satu. Tugas kamu di sini membersihkan seisi rumah dan sebagainya, memasak untuk anak buahku, lalu membersihkan kandang macan, singa, harimau dan beruang di kandang belakang. Lalu jangan lupa memangkas bunga-bunga di taman depan. Untuk sekarang, kamu aku izinkan istirahat. Kamu harus mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Kucing yang aku jadikan babu seharusnya diperlakukan lemah lembut sebelum dipekerjakan sebagai buruh kasar.”

Aku menatap melotot. Eh, maksudnya apa? Membersihkan segalanya, aku sendirian? Aku juga kucing dibilangnya? Aku babu? Hah, tidak salah dia bilang begitu?

“Di mana pembantu yang lain?” Spontan pertanyaan itu terlontar. Logikanya, tidak mungkin di sini tidak ada yang namanya pembantu. Sebab rumah ini besar dan luas. Kalau aku yang mengerjakan sendiri, aku pasti akan bilang menyerah. Tidak sanggup.

Zacky menyeringai, memperbaiki posisi duduknya. “Pembantu? Apa aku tidak salah dengar?”

“Aku melakukannya sendirian?”

Zacky menatapku melotot, “Kamu kira aku bawa ke sini untuk aku jadikan ratu, hah? Kamu kira kamu itu spesial, hanya karena kamu cantik lalu aku nikahi? Kamu kira kamu menarik, sampai-sampai membuat aku betulan cinta sama kamu? Jangan harap itu terjadi, perempuan tolol!

Pria itu berdiri dari duduknya, lalu mendekatiku. Tanpa tedeng aling-aling, tangan kekar dan besarnya menjambak rambut belakangku. Demi Tuhan, itu sakit sekali rasanya.

“Perempuan seperti kamu pantasnya diperlukan seperti ini. Kamu suka dikasarin kan?”

“Kak Zacky, sakit.” Aku meringis. Satu tangan menahan tangan Zacky supaya tidak menjambak rambutku sekuat tenaga.

“Hah, sakit? Kamu bisa merasakan sakit juga, ya? Bagaimana kalau dengan yang ini?”

Ah, aku makin meringis. Dia memperkuat tangannya mencengkram rambutku. Rasanya kulit kepalaku akan lepas dari tengkorak kepala. Tanpa terasa air mata keluar di pelupuk retina, kemudian jatuh dan membentuk parit di pipi. Aku menangis, jelas itu aku lakukan. Sebab rasa sakit ini tidak bisa ditahan sama sekali.

“Inilah derita yang harus kamu terima. Sebuah kesakitan yang juga adikku alami.” Dia berkata lirih di telinga, kemudian mendorong tubuhku jatuh ke lantai. Aku terisak pelan.

Ini baru sehari dan dia telah menyiksaku begini. Aku tidak mengerti entah apa salahku, sampai-sampai diperlakukan macam hewan. Aku tidak punya masalah dengannya, tetapi kenapa dia melakukan itu.

“Bagaimana rasanya? Enak? Atau sakit?” Zacky jongkok di depanku, mengamati wajah yang telah menggugurkan air mata. Aku mengusap pipi, menghapus lelehan air mata. Lalu menatapnya sesaat.

“Kenapa kakak melakukan ini?” Aku bertanya diiringi tangisan tersedu-sedu.

“Kamu mau tahu jawabannya?”

“Tolong beritahu aku. Salahku apa, sampai-sampai kakak tega dan tidak manusiawi seperti ini padaku. Aku tidak pernah berbuat salah sama kakak, lalu kenapa aku diperlakukan begini?”

“Salah kamu itu satu, kenapa kamu harus hidup di dunia ini.” Zacky menarik pergelangan tanganku, memaksa aku berdiri. “Hari ini kamu istirahat dulu di kandang hewan peliharaanku. Besok kamu baru boleh tidur di dalam rumah ini.”

“Aku nggak mau. Kak Zacky, jangan!” Aku meronta, berusaha berontak, melepaskan cengkraman tangannya yang kian kuat. Dia menyeretku, membawa keluar ke arah belakang rumah, melewati sayap samping kiri. Sekuat apapun aku melawan, kenyatannya aku tidak bisa mengalahkan dia.

Tempat itu menembus ke taman (seperti taman Zen), ada semacam pondok berkubah dicat hijau, bangunan di bawah kubah pondok itu dicat warna merah. Jalan setapak yang kami lalui (tanah yang kami pijak) dipasang batu pualam pipih sebagai lantainya. Dipasang berjarak, sesuai rentang kaki. Diantara jalan kami ada pagar beton pembatas rumah setinggi empat atau lima meter, ditambah jeruji kawat di atasnya, membentang sepanjang tanah seluas mata memadang.

Sepanjang perjalanan dia menyeret, aku berusaha melawan. Aku memang tidak paham apa salahku, sampai-sampai dia berani berbuat kasar. Tetapi sebagai kaum yang tidak pernah salah, aku berhak mempertanyakan apa yang salah dariku padanya? Namun tetap saja, pria itu tak bergeming. Malah bertindak arogan.

Tibalah kami di sebuah bangunan, seperti bentukan kandang sapi di peternakan Swedia. Tapi bentuknya menyerupai bungker persegi kotak. Kandang itu besar dan tinggi. Pintunya saja ada dua, yang kalau didorong berbentuk dua arah, ke kanan dan ke kiri. Ketika pria itu mendorong daun pintu yang dibantu penjaga gudang, dia melempar tubuhku ke lantai tanpa perasaan. Sampai aku jatuh di tumpukan jerami kering.

Aku terpental, sudut sikuku terluka. Aku menangis saat itu, hendak protes. Tapi pria itu telah berada di depanku, tangan kasarnya meremas daguku, mendongak, memaksa kami saling bertatapan sengit.

“Kamu bajingan!”

“Ya, aku memang bajingan. Tapi ini belum seberapa dengan apa yang akan kamu terima besok dan besoknya lagi.” Dia tersenyum menyeringai.

Aku memalingkan wajah, sedikit agak bergidik takut ketika melihat sorot tatapan matanya yang tajam dan sombong. Aku menahan geram, amarahku berada di puncak, degup jantung dan napasku membuncah cepat.

“Kamu pria bedebah, pria berengsek, manusia sialan. Aku benci kamu!” Aku membabi buta, tanpa kusadari aku telah melepaskan satu pukulan keras, melesak dan meledak di muka Zacky.

Aku lumayan terkejut atas tindakan yang baru saja aku lakukan. Masalahnya, pria itu menatapku nyalang, sesaat setelah tamparan itu membuatnya terseok, berpaling muka ke kiri. Sudut bibirnya terluka, darah mengalir keluar. Cap tanganku tergambar di pipinya cukup jelas dan memerah. Namun keadaan berikutnya membuatku merinding, bukannya dia terlihat kesal, pria itu justeru kembali menyeringai.

“Bagus. Baru beberapa menit di sini kamu sudah menamparku. Rupanya kamu belum tahu berurusan dengan siapa.” Zacky mengangkat tangannya, bersiap melayang di udara, hendak menamparku.

Kurasa begitu. Aku menutup mata, takut sekali tamparan itu keras, sampai membuat wajahku bengkak dan memar. Namun tidak. Tangannya tak sampai di wajahku. Padahal diri ini siap menerima resiko atas apa yang aku lakukan. Bahkan sudah memejamkan mata, supaya bisa meredam rasa sakit. Aku yakin bahwa tenaga dalam kak Zacky jauh melampaui apa yang aku bayangkan.

Aku membuka mata pelan, memandang dirinya yang terus tersenyum ambigu. Tangan kekar itu mendarat di pipiku, diusap lembut tapj syarat akan sebuah makna. “Untuk sekarang, kamu tidak perlu aku kasari. Tapi mungkin besok.”

“Cih, bajingan!”

“Ya, memakilah sepuas hati. Karena akan ada tibanya hari pembalasan, kamu akan memohon padaku untuk diberikan kebebasan.”

“Bos, maaf mengganggu. Anak buah kita telah siap untuk pengiriman perdagangan manusia ke Meksiko.” Satu pria menyela. Suara itu mirip suara yang semalam mengetuk kaca jendela kamarku. Tidak salah lagi, dia orangnya.

Zacky berdiri dihadapanku, tatapannya masih sama Menyeramkan. “Aku akan menyusul. Kamu ikat dia, borgol dengan besi-besi. Pastikan dia membeku karena dipasung seharian.”

“Siap, bos. Dilaksanakan.” Pria itu mengangguk. Zacky meninggalkan gudang.

Pria yang tadi bicara pada pria itu menarik lenganku. Perlakuannya cukup lembut, tidak kasar-kasar amat. Membawaku masuk ke dalam gudang, jauh ke dalam sana. Sampai tiba di tengah gudang, aku terperanjat kaget ketika hewan-hewan buas mengaum garang. Menatap lapar ke arah kami yang melintasi sel jeruji besi, pengurung hewan buas.

Yang di kiri ada harimau dan macan. Sel jeruji sebelah kanan adalah kandang beruang dan singa. Aku menelan ludah takut. Suara auman hewan buas itu membuatku nyaris mati berdiri. Berjalan mondar-mandir, menatapku lapar, seakan akulah umpan makan siang mereka kali ini.

“Maaf, Nyonya. Ini perintah bos.” Pria itu berkata lirih, memasangkan tangan dan kakiku dengan borgol rantai besi berkarat. Itu cukup berat, aku bahkan tidak yakin bisa mengangkat rantai-rantai yang telah terkunci di tangan dan kaki serta di leher. “Tuan sebelumnya memerintahkan bahwa Nyonya akan tidur di sini dengan hewan peliharaannya. Dapat jatah makan dua hari sekali. Untuk dua hari kedepan tidak akan ada yang ke sini.”

Aku melongos, buang muka. Posisiku saat itu berada di ujung lorong, diantara empat jeruji besi yang mengurung dan memisahkan empat hewan buas. Aku meringkuk, duduk di lantai, menangkup muka, bersembunyi dan diam dalam tangisan. Entahlah, aku bingung dengan situasi yang aku hadapi. Masalahnya, aku tidak paham kenapa aku harus menerima kenyataan ini. Sementara aku merasa bahwa aku tidak pernah bersalah dengan Zacky.

“Lalu, bagaimana dengan makanan hewan-hewan buas itu?” Aku bertanya, sebelum pria yang tadi sempat bicara dengan Zacky melangkah keluar dari gudang hewan buas.

“Mereka diberikan makan setiap hari. Tapi tidak dari sini, melainkan dari sana,” katanya menunjuk ke arah atap di atas kurungan hewan. Ada celah besar, ada troli dan pengait daging. Aku paham maksudnya, mungkin mereka memberikan santapan para hewan buas itu dari atas.

Aku menghela napas, miris memikirkan kejadian hari ini. Seharusnya aku tidak merasakan hal ini, bukan? Apa yang aku bayangkan tentang kebahagiaan kak Irma, kini malah jadi petaka bagiku sendiri. Zacky bilang kesalahanku karena aku hidup, penderitaanku ini pun harus sama seperti yang diderita adiknya. Pertanyaanku, siapa adik Zacky yang pernah aku sakiti, sampai pria itu nekat membalaskan dendamnya padaku. Bahkan bersikap kasar, tidak pandang bulu bahwa aku perempuan.

Pada akhirnya, malam yang dingin menyelimuti tubuhku yang meringkuk di lantai bertumpuk jerami.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku (Bukan) Anak Mafia
8.5
Rehan Putra Narendra adalah siswa SMA pendiam yang berubah menjadi emosional setelah sebuah insiden tragis. Di usia tujuh belas tahun, ia menghadapi tekanan besar saat dipaksa meneruskan posisi ayahnya sebagai pemimpin klan mafia. Beban hidupnya kian berat ketika ia harus menjalani pernikahan paksa dengan musuh bebuyutan di kelasnya sendiri. Rehan kini terjebak antara tuntutan dunia kriminal dan dinamika benci jadi cinta dengan sang istri.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel JERAT CINTA TUAN MAFIA
8.8
Akibat hancur oleh pengkhianatan sang kekasih, Louisa terjebak dalam masalah besar hingga nyawanya terancam. Beruntung, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya. Namun, dalam kondisi emosional, Louisa justru menawarkan sebuah 'hadiah' berani sebagai tanda terima kasih atas pertolongan tersebut. Tanpa ia sadari, keputusan impulsif itu menjeratnya ke dalam kehidupan sang penyelamat yang berbahaya, mengubah takdirnya selamanya.
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.
Sampul Novel Melamar Anakku Sendiri
9.5
Dominik Fedorov berencana menikahi kekasihnya yang tengah mengandung, namun penculikan tragis memisahkan mereka secara paksa. Selama puluhan tahun, Dominik gagal menemukan jejak wanita itu hingga tekanan keluarga untuk menikah terus menghantuinya. Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di sebuah pertemuan tak terduga. Saat Dominik berniat melamar seorang gadis muda, ia justru berhadapan lagi dengan Larisa, cinta masa lalunya yang sempat hilang misterius.
Sampul Novel Mengirim Tunangku ke Neraka
8.0
Cathy Begum gagal tampil di kapal pesiar, memicu amarah pemimpin mafia Nate Adams yang mengancam menghancurkan tangannya. Tunanganku, Chris Dobson, awalnya bersikap acuh tak acuh sebelum akhirnya membiusku hingga pingsan. Saat terbangun, aku terikat di kamar Nate demi menyelamatkan karier Cathy. Chris justru memohon agar aku melayani Nate semalam saja sebagai pengganti. Meski dia berjanji menjemputku, aku meragukan Nate akan melepaskan dendamnya begitu saja.