
Mafia Kejam Jatuh Cinta
Bab 3
Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.
Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.
Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.
"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.
Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.
Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.
Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.
Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.
Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.
"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di ruang tamu.
"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.
"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.
"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.
Tentu tentang kontes perjodohan.
Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Pluk
Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.
"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.
Deo menghembuskan napas beratnya.
"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.
"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.
"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.
"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.
"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.
"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.
"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.
Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.
"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.
Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.
"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.
"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.
"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.
Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.
"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.
"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.
Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.
"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.
Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.
"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.
Deo menatap papanya tersebut.
"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.
"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.
"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.
Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.
Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.
Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.
Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.
Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.
"Ya tuan,"
"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.
"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.
Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.
Hei semua
Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?
Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.
Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.
Jika berkenan silahkan mampir.

Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.
Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.
Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.
"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.
Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.
Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.
Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.
Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.
Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.
"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di ruang tamu.
"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.
"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.
"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.
Tentu tentang kontes perjodohan.
Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Pluk
Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.
"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.
Deo menghembuskan napas beratnya.
"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.
"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.
"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.
"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.
"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.
"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.
"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.
Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.
"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.
Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.
"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.
"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.
"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.
Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.
"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.
"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.
Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.
"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.
Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.
"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.
Deo menatap papanya tersebut.
"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.
"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.
"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.
Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.
Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.
Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.
Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.
Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.
"Ya tuan,"
"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.
"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.
Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.
Hei semua
Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?
Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.
Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.
Jika berkenan silahkan mampir.
IG: Sherlynursafitri
Anda Mungkin Juga Suka





