
Lupakan Aku
Bab 2
Hari itu, kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Ada acara pekan seni fakultas, dan hampir semua mahasiswa berkumpul di lapangan utama. Musik mengalun, tawa terdengar di mana-mana, dan warna-warni tenda menghiasi hari.
Aku duduk sendiri di bangku dekat panggung, menikmati segelas es kopi yang mulai mencair. Mataku tanpa sadar mencari sosoknya, kebiasaan yang bahkan tak bisa lagi ku sembunyikan dari diriku sendiri.
Dan seperti yang sudah kuduga... dia ada di sana.
Raka.
Dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, dia membantu panitia membawa alat-alat. Senyumnya muncul hampir di setiap obrolan. Wajahnya bercahaya, seperti biasa. Dan ya, Laras ada di dekatnya, tapi hari ini, anehnya, aku tak merasa segetir biasanya.
Mungkin karena hari ini aku memilih percaya.
Percaya bahwa meski aku hanya bisa mencintainya dalam diam, hatiku masih boleh berharap.
Tak lama kemudian, sebuah suara menyapaku.
"Heh, sendirian aja?"
Aku menoleh. Raka.
Ia duduk di sampingku tanpa menunggu izin. Tangannya masih memegang botol minum, dan dahinya sedikit basah karena keringat. Tapi senyumnya... masih sama.
"Capek ya?" tanyaku, berusaha santai meski detak jantungku mulai tak beraturan.
"Banget," katanya sambil menghela napas. "Tapi senang sih. Acaranya seru."
Aku hanya mengangguk. Rasanya ingin berbicara lebih banyak, tapi lidahku kelu. Ada jeda yang terasa canggung, sampai ia tiba-tiba berkata,
"Kamu suka banget duduk di tempat ini, ya? Dari dulu kayaknya selalu di sini."
Aku menatapnya. Ia memperhatikan?
"Iya... tempatnya tenang. Dari sini bisa lihat semuanya, tapi nggak terlalu kelihatan," jawabku jujur.
Ia tersenyum. "Kayak kamu, ya. Selalu ada, tapi nggak pernah cari perhatian."
Hatiku mencelos. Kata-katanya sederhana, tapi langsung menghantam bagian terdalam dari diriku. Apa maksudnya? Apa dia tahu?
Tapi sebelum aku bisa mencari arti tersembunyi dari kalimat itu, ia berdiri, mengulurkan tangan padaku.
"Ayo. Temenin aku muter-muter. Aku butuh istirahat dari keramaian panitia."
Tanganku ragu sejenak, tapi akhirnya kuterima uluran itu.
Langkah kami pelan menyusuri jalanan kampus yang ramai. Suara musik memudar perlahan, dan malam mulai merangkak turun. Tapi di dalam dadaku, ada sesuatu yang justru tumbuh lebih hangat. Harapan. Harapan yang pelan-pelan, tanpa suara, sedang tumbuh menjadi sesuatu yang nyata.
Mungkin diamku tak akan selamanya. Mungkin cinta yang kusembunyikan perlahan mulai menemukan celahnya sendiri. Dan jika hari itu tiba, aku ingin bisa menatap matanya, dan berkata dengan tenang:
"Aku sudah mencintaimu... bahkan jauh sebelum kamu menyadarinya."
Sejak malam di acara pekan seni itu, ada yang berubah... tapi juga tidak.
Raka memang tak bicara soal apa pun yang membuatku yakin dia tahu perasaanku. Tapi kehadirannya, caranya menyapaku lebih dulu, mencari keberadaan ku saat aku tak muncul, atau sekadar duduk di sebelahku tanpa kata, membuatku bingung dan diam-diam, semakin berharap.
Kami tak pernah membicarakan hal-hal pribadi. Tidak tentang siapa yang kami suka, tidak tentang masa lalu. Tapi kami mulai bertukar cerita kecil-tentang dosen yang lucu, tentang mata kuliah yang sulit, atau makanan kantin yang semakin hambar.
Dan aku, di tengah tawa-tawa ringan itu, terus mencintainya. Dalam.
Pernah suatu siang, hujan turun tiba-tiba saat aku belum sempat pulang. Aku berteduh di lorong perpustakaan, menggenggam bukuku erat-erat karena lupa bawa tas.
Lalu dia datang, membawa dua bungkus teh hangat dan jas hujan tambahan.
"Aku tahu kamu pasti lupa bawa payung," katanya, duduk di sebelahku.
Aku menatapnya lama. Ingin bilang terima kasih. Ingin bilang, aku suka kamu. Tapi bibirku hanya mampu tersenyum.
"Kayaknya kamu sering banget nyariin aku, deh," kataku pelan, mencoba menggoda tapi menyembunyikan harap.
Dia menoleh, lalu tertawa kecil.
"Karena kamu selalu diam-diam menghilang. Kalau aku nggak nyari, nanti ilang beneran."
Hatiku menghangat, tapi aku tak membalas apa pun. Karena tetap saja, tak ada pernyataan yang pasti. Tak ada tanda yang benar-benar jelas. Apakah ini perhatian biasa? Atau...?
Dan di sanalah letak getirnya.
Fase ini adalah fase ambigu tapi begitu manis, tapi juga begitu melelahkan. Setiap setiap hari menapaki jembatan kabut yang indah, tapi tak tahu ujungnya ke mana. Aku ingin tahu perasaannya, tapi takut tahu jawabannya. Aku ingin bertanya, tapi tak sanggup menghadapi kehilangan jika jawabannya bukan yang kuharap.
Jadi aku terus berjalan, bersama degup-degup kecil yang tumbuh setiap kali ia menyebut namaku. Bersama harapan-harapan yang mekar pelan setiap kali ia menoleh dan tersenyum ke arahku. Bersama diam yang tak pernah kuganggu.
Karena untuk saat ini, mencintainya dalam kabut ini sudah cukup membuatku merasa dekat. Bahkan jika ia tak pernah sadar sepenuhnya.
Hari-hari ku lalui dengan perasaan yang tak berubah tetap tenang tapi penuh gelombang di dalamnya.
Raka masih menjadi bagian kecil yang menyala dalam rutinitas ku. Tidak pernah terlalu jauh, tapi juga tidak pernah cukup dekat. Ia tetap hadir dalam obrolan ringan di koridor, dalam tawa-tawa sepintas di kelas, dalam pesan singkat yang terkadang datang tanpa alasan.
Seperti sore itu.
"Besok ada kelas ganti jam 7 pagi, ya. Jangan telat, kamu sering banget duduk paling belakang kalau kesiangan."
Aku tertawa kecil saat membaca pesannya. Bukan karena isinya lucu. Tapi karena dia tahu. Dia memperhatikan. Meski sederhana, itu cukup membuatku merasa istimewa.
Tapi tetap saja, aku tidak bisa menaruh makna terlalu dalam. Aku tidak berani. Karena jika aku menaruh harapan terlalu tinggi, aku tahu rasanya akan semakin sakit jika jatuh.
Fase ini... seperti menunggu hujan yang tak pernah benar-benar turun. Langitnya mendung, udaranya lembab, tapi tak ada satu tetes pun yang jatuh ke tanah.
Kadang aku menangkap pandangannya saat ia menatapku lebih lama. Kadang ia tertawa sedikit lebih keras saat aku melontarkan lelucon. Kadang ia berdiri di dekatku saat ramai, seolah itu tempat ternyamannya.
Tapi semua itu... bisa jadi hanya perasaanku. Atau bisa jadi benar, tapi tetap tak cukup untuk membuatnya mengungkap apa pun.
Aku mulai terbiasa menggantungkan rasa di antara mungkin dan tidak. Di antara 'apa iya?' dan 'jangan-jangan'. Dan anehnya, aku mulai mencintai ketidakpastian itu. Karena selama belum ada jawaban, aku masih punya alasan untuk berharap.
Malam-malamku masih diisi oleh lamunan dan secangkir teh yang tak pernah habis. Aku memutar ulang percakapan kami di kepala, seperti kaset rusak yang tak pernah benar-benar selesai diputar.
Dan sebelum tidur, aku masih menulis di buku harianku.
"Hari ini, dia menyapa lebih dulu. Tertawanya hangat. Tapi aku tetap diam. Karena mungkin... aku belum siap jika jawabannya tak seperti yang aku harapkan."
Hari itu, dosen kami membagi kelompok untuk tugas akhir mata kuliah komunikasi. Aku tak terlalu berharap banyak selama ini, aku hampir selalu berada di kelompok yang tak melibatkan Raka. Tapi entah angin apa yang berembus, namanya muncul satu baris denganku kali ini.
Dan juga... satu nama lain. Arfan.
Aku tak mengenalnya terlalu dekat. Arfan tipe mahasiswa yang tenang, cenderung pendiam, tapi selalu tepat waktu dan tanggap. Dan dalam beberapa minggu kerja kelompok ini, kami mulai bicara lebih sering.
Arfan ramah. Sesekali bercanda. Tapi yang paling membuatku terdiam adalah ia memperhatikan. Dalam cara yang tidak berisik, tidak mencolok, tapi terasa tulus.
Saat aku lupa bawa charger laptop, dia meminjamkan miliknya. Saat aku bingung dengan teori presentasi, dia sabar menjelaskan ulang. Bahkan saat hujan deras dan aku hampir kehujanan di gerbang kampus, Arfan muncul dari balik parkiran, menawarkan payung tanpa banyak kata.
"Udah sore. Nggak baik kelamaan nunggu hujan reda sendirian," katanya saat itu.
Aku hanya mengangguk, tapi hatiku terasa tenang.
Dan entah bagaimana, semua perhatian itu... mulai menggoyahkan sesuatu dalam diriku.
Tapi saat aku pulang ke kamar malam harinya, membuka pesan dari Raka, sekadar stiker tertawa atas cerita yang ku bagikan siang tadi hatiku kembali terombang-ambing.
Aku duduk termenung lama.
Kenapa aku masih menanti sesuatu yang tak pasti dari Raka, ketika ada seseorang lain yang mulai menunjukkan rasa yang nyata?
Tapi... perasaan tidak bisa dibohongi. Sebesar apa pun aku mencoba memberi ruang untuk Arfan, hatiku masih diam-diam berlari ke arah Raka. Masih menanti satu kalimat jelas darinya. Masih berharap bahwa suatu hari ia akan memilihku dari semua gadis di dunia ini.
Fase ini mulai melelahkan. Tapi juga... aku belum siap untuk menyerah.
Sebab mencintai Raka, meski dalam diam dan ketidakpastian, sudah menjadi bagian dari napas hariku. Meski mungkin, lambat laun... aku harus mulai bertanya sampai kapan?
Beberapa minggu terakhir, aku merasa dunia mempermainkan perasaanku.
Hari ini, Raka duduk di sebelahku selama kelas berlangsung. Sambil mencoret-coret buku catatanku, ia menggambar sketsa wajah katanya, mirip aku tapi versi kartun. Aku tertawa kecil, tapi di dalam hati, gelombangnya besar.
Lalu saat jam istirahat, ia mengajak makan bareng. Kami duduk di pojok kantin, berbicara tentang hal-hal ringan. Kadang dia menatapku lama, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi selalu berhenti di senyum tipis atau tawa kecil.
Dan seperti biasa... aku membalasnya dengan diam yang lembut.
Karena aku takut. Takut jika aku membuka pintu, dia malah pergi. Maka aku tetap berada di luar, menatap jendela itu dari kejauhan, berharap dia akan mengetuk lebih dulu.
Malamnya, aku pulang ke kos dalam diam. Langit mendung, udara lembap seperti hatiku. Kubuka buku harian dan menulis:
"Hari ini dia membuatku tertawa. Tapi juga membuatku bertanya-apa aku cuma tempat persinggahan yang nyaman, atau seseorang yang diam-diam juga dia cari saat semua terasa sepi?"
Aku mulai terbiasa hidup dalam ambiguitas ini. Tersenyum pada tiap atensi kecilnya, tertawa untuk hal-hal yang mungkin cuma biasa baginya, namun luar biasa bagiku.
Arfan masih ada. Hadir dengan sikap yang tenang dan perhatian yang konsisten. Tapi aku tetap menaruh hati pada Raka, seseorang yang membuat harapanku tumbuh tanpa janji, tapi selalu kembali membuatku bertahan hanya dengan satu senyuman.
Aku tahu, mungkin aku sedang menyiksa diriku sendiri.
Tapi di sisi lain, mencintainya dalam diam adalah bentuk keberanian kecil yang masih bisa kupeluk. Dan selama ia belum menjauh, aku memilih bertahan di ambang pintu ini. Walau tak tahu, apakah dia akan membukanya... atau membiarkanku tetap di luar selamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





