
Lupakan Aku
Bab 3
Hari-hari mulai terasa lebih hening, bukan karena Raka menjauh, tapi karena hatiku mulai pelan-pelan memberontak.
Ia masih seperti biasa ramah, dekat, dan kadang membuatku merasa seolah aku lebih dari sekadar teman. Tapi kemudian ia juga bisa menghilang berhari-hari, sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa kabar, tanpa pesan.
Dan aku? Masih menunggunya di sela-sela waktu. Menanti satu pesan singkat. Satu sapaan ringan. Satu alasan untuk tetap bertahan dalam diam.
Namun malam itu, aku melihat sesuatu yang membuat segalanya terasa lebih berat.
Di taman kampus, sepulang rapat organisasi, aku tanpa sengaja melihat Raka duduk bersama Laras. Lagi.
Mereka tertawa, wajahnya tampak lepas. Tak ada jarak. Tak ada ragu. Seolah dunia milik mereka berdua. Dan aku, berdiri beberapa meter dari sana, hanya bisa menatap sambil menggigit bibirku sendiri.
Aku tak tahu mengapa rasa itu menyesakkan.
Padahal aku bukan siapa-siapa. Padahal aku tak pernah menyatakan apa pun. Tapi... bukankah rasa tetap sakit meski tak pernah terucap?
Malam itu, aku menangis pelan di kamar. Bukan karena cemburu semata. Tapi karena aku mulai lelah mencintai dalam sunyi.
Aku mulai bertanya-apa arti semua perhatiannya selama ini? Apa senyum-senyumnya hanya milik semua orang? Apa aku cuma salah satu dari banyak tempat nyaman yang ia datangi saat bosan?
Dan di antara tangis yang tertahan, aku menulis lagi.
"Hari ini aku melihat kenyataan. Mungkin, semua yang aku anggap sinyal hanyalah bentuk kebaikan biasa. Mungkin, akulah yang terlalu pandai menciptakan harapan dari hal-hal kecil."
Besoknya, aku datang ke kampus seperti biasa. Tapi ada yang berbeda.
Aku tidak lagi mencarinya di setiap sudut. Tidak lagi menunggu pesannya. Tidak lagi berharap ia duduk di sebelahku.
Aku mulai menjaga jarak. Bukan karena benci. Tapi karena aku sadar, hatiku butuh ruang untuk bernapas.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya... aku mulai berpikir, mungkin diamku memang tak seharusnya disimpan terlalu lama.
Hari-hari berjalan lebih sunyi, tapi justru di sanalah aku mulai mengenali diriku sendiri.
Aku tak lagi terlalu sibuk menebak-nebak maksud di balik perhatian Raka. Tak lagi mengulang percakapan kami dalam kepala seperti kaset kusut. Tidak lagi duduk berlama-lama hanya demi kemungkinan ia akan muncul di bangku sebelah.
Dan anehnya... aku merasa sedikit lebih lega.
Bukan karena aku tak lagi menyukainya. Rasa itu belum hilang. Tapi aku mulai mengerti satu hal bahwa selama ini, aku bukan menunggu dia, aku menunggu keberanianku sendiri untuk jujur pada diri sendiri.
Aku menyukai Raka, iya. Tapi aku juga mencintai ketenangan. Dan mencintainya dalam diam terlalu sering membuatku merasa kecil, seperti bayangan yang tidak pernah punya tubuh sendiri.
***
Suatu sore, aku duduk sendirian di taman kampus, tempat favoritku selama ini. Matahari condong ke barat, cahaya keemasannya jatuh di rerumputan, membuat semuanya tampak hangat tapi tetap asing.
Aku membuka buku catatanku, halaman-halaman yang dulu penuh coretan tentang Raka. Tentang senyumnya. Tentang hal-hal kecil yang membuatku merasa dekat. Lalu aku menulis sesuatu yang berbeda.
"Aku tak menyesal pernah mencintainya dalam diam. Tapi hari ini, aku ingin mulai mencintai diriku sendiri lebih dulu."
Aku menutup buku itu dengan tenang. Tidak ada air mata. Tidak ada ledakan perasaan.
Hanya keheningan yang jujur dan kelegaan kecil yang tumbuh perlahan.
Malamnya, aku menatap pantulan wajahku di cermin. Wajah yang sama dengan saat aku jatuh cinta padanya. Tapi sorot matanya berbeda.
Kini ada keberanian. Ada keikhlasan yang baru saja tumbuh. Bukan untuk melupakan... tapi untuk menerima bahwa tidak semua yang kita rasa harus memiliki akhir yang sama seperti yang kita harapkan.
Dan mungkin, ini bukan tentang berhenti mencintai.
Tapi tentang berhenti berharap tanpa arah.
Tentang berdamai dengan rasa yang pernah tumbuh... dan kini perlahan aku pelajari cara melepaskannya dengan tenang, dengan sadar, dengan tulus.
***
Aku tak pernah berniat membuat siapa pun cemburu. Saat aku mulai lebih dekat dengan Arfan, semuanya berjalan begitu wajar. Kami masih satu kelompok tugas, sering berdiskusi sepulang kuliah, kadang mampir ke kafe kecil dekat kampus hanya untuk menyelesaikan revisi, atau sekadar mengobrol ringan.
Yang berbeda adalah aku tidak lagi merasa harus pura-pura bahagia.
Bersama Arfan, aku tak merasa sedang menunggu. Aku merasa hadir, dilihat, didengar. Ia tak banyak bicara soal perasaan, tapi sikapnya selalu menjelaskan jauh lebih jujur. Dan tanpa aku sadari, senyumku mulai tumbuh bukan karena Raka... tapi karena seseorang yang justru datang tanpa membuatku berharap muluk-muluk.
Suatu hari, di parkiran kampus, aku sedang tertawa lepas setelah Arfan menunjukkan video kucing lucu di ponselnya. Tawa yang tak dibuat-buat. Tawa yang lama tak keluar begitu bebas. Saat itulah aku melihat Raka berdiri di seberang, memandang kami tanpa bicara.
Tatapannya kosong. Tapi bukan datar. Ada sesuatu di sana yang sulit dijelaskan seperti luka yang tidak ia sadari muncul, seperti kecemburuan yang berusaha ia simpan rapat-rapat.
Arfan menyadarinya, tapi tidak berkata apa pun. Hanya tersenyum tipis dan mengajakku masuk ke dalam.
Dan sejak saat itu, Raka mulai berubah.
Ia masih menyapaku, tapi tak lagi sehangat dulu. Kadang matanya mencariku, tapi saat aku menyadarinya, ia berpaling lebih cepat. Ia tak bertanya tentang tugas, tak lagi duduk di sebelahku tanpa alasan. Tapi ada aura yang tak bisa disembunyikannya.
Pernah sekali, kami berpapasan di tangga kampus. Aku sedang menuruni anak tangga, dia menapaki naik. Kami beradu pandang sebentar. Ia tersenyum... lalu berkata, nyaris seperti gumaman.
"Kamu kelihatan bahagia, ya, akhir-akhir ini..."
Aku ingin menjawab. Tapi kata-kata itu seperti tajam sekaligus rapuh. Maka aku hanya membalas dengan senyum kecil. Tak menjelaskan apa pun.
Dan saat aku menoleh ke belakang, ia masih berdiri di sana. Menatap punggungku.
Diam.
Seperti aku dulu.
Aku pikir, saat aku berhenti menunggu Raka, segalanya akan menjadi lebih mudah. Tapi ternyata tidak.
Sejak aku lebih dekat dengan Arfan, Raka mulai hadir dengan cara yang berbeda. Tidak seperti dulu yang ringan dan mengalir. Kini, kehadirannya terasa... penuh maksud, tapi tetap tanpa kata.
Seperti saat ia tiba-tiba duduk di sebelahku di perpustakaan, padahal selama ini ia lebih suka di lantai atas.
"Lagi sibuk, ya?" tanyanya sambil melirik catatan yang sedang kutulis.
Aku mengangguk pelan. "Iya, revisi tugas statistik."
Ia tersenyum, lalu menawarkan bantuannya. Padahal bukan bidangnya. Tapi ia tetap duduk di situ, mencoba membantu semampunya. Kadang diam, kadang menyela dengan candaan, kadang hanya memandang layar laptopku terlalu lama.
Lalu suatu sore, aku melihat notifikasi pesan masuk dari Raka.
"Kamu masih suka teh melati dingin, kan? Aku beli satu, kebanyakan. Kalau mau, aku taruh di ruang organisasi."
Hatiku terdiam. Sudah lama sekali ia tidak menanyakan hal-hal kecil seperti itu. Bahkan aku sempat berpikir ia sudah lupa. Tapi ia masih ingat. Selalu ingat.
Beberapa kali, aku juga menangkap tatapannya saat aku bersama Arfan tapi tidak terang-terangan, tapi cukup nyata untuk membuat dadaku sesak. Ia mulai sering muncul di ruang-ruang tempat aku biasa berada, mulai menanyakan hal-hal sepele hanya untuk memulai obrolan.
Tapi tetap tak pernah menyentuh inti.
Tak pernah ada pernyataan.
Tak pernah ada pengakuan.
Dan di situlah hatiku kembali diuji.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, kenapa baru sekarang? Kenapa saat aku mulai belajar melangkah, dia justru menoleh ke belakang?
Di antara kedekatanku dengan Arfan yang mulai terasa nyaman, dan kehadiran Raka yang mulai meresahkan, aku merasa terjebak. Seperti ditarik ke dua sisi yang satu hangat dan pasti, yang satu penuh kenangan dan rasa yang belum selesai.
Malam itu aku menulis lagi, mencoba jujur pada diriku.
"Raka mulai mendekat. Tapi tak pernah menyebut namaku dalam doa yang terdengar. Arfan tidak pernah membuatku menebak, tapi juga belum sepenuhnya mengetuk hatiku. Dan aku... masih berdiri di tengah, memegang luka lama sambil memeluk kenyamanan yang baru."
Raka mulai hadir seperti musim yang tak bisa ditebak. Kadang cerah, kadang mendung, kadang datang begitu hangat, lalu menghilang tanpa alasan.
Namun akhir-akhir ini, dia datang lebih sering-dan lebih dekat.
Ia mulai mencariku di kelas, menunggu setelah perkuliahan selesai, bahkan pernah membawakan jas hujanku yang tertinggal saat aku buru-buru pulang. Ia tak pernah berkata banyak, tapi tatapannya seperti ingin bicara lebih dari sekadar basa-basi.
"Katanya kamu suka senja. Ayo ikut ke rooftop fakultas. Langitnya lagi bagus banget," katanya suatu sore, tanpa aba-aba.
Aku sempat ragu. Tapi kaki ini mengikuti juga.
Kami duduk berdampingan, diam, menatap langit yang jingga. Ada angin yang pelan. Ada jarak yang hampir tidak terasa. Tapi juga... ada sesuatu yang tertahan di antara kami.
"Aku suka suasana begini," katanya, lirih. "Tenang. Tapi kadang justru bikin pikiranku ribut sendiri."
Aku menoleh. Ia tak menatapku, tapi suaranya pelan, seperti sedang membuka pintu yang lama terkunci.
"Aku sempat mikir, kalau kamu berubah."
Aku menelan napas. "Berubah gimana?"
"Ya... jadi lebih jauh. Tapi juga lebih kuat, aku rasa."
Ada jeda. Lama.
Aku ingin bertanya kenapa baru sekarang kamu bicara seperti ini?, tapi lidahku kelu. Dan ia tidak melanjutkan. Hanya menatap langit yang mulai gelap, lalu tersenyum kecil.
Esoknya, ia menungguku di parkiran. Lusa, ia mengirim foto buku yang katanya mengingatkannya padaku. Lalu mengajakku ke pameran seni akhir pekan nanti.
Semua begitu cepat. Begitu intens.
Tapi tak ada satu pun kata tentang perasaan.
Hanya kehadiran. Hanya perhatian. Hanya tanda-tanda yang entah ingin ke mana arahnya.
Dan aku? Aku mulai kehilangan pegangan atas logikaku sendiri.
Sebab setiap kali aku mulai menerima Arfan sebagai seseorang yang layak aku beri ruang, Raka datang lagi. Membuatku bimbang. Membuat hatiku kembali menoleh.
Tapi sampai kapan?
Aku menatap ponsel malam itu. Tidak ada pesan cinta. Tidak ada pernyataan. Hanya notifikasi dari Raka.
"Pamerannya jadi, ya. Aku jemput kamu, jangan nolak."
Aku menatap pesan itu lama. Jantungku berdetak lebih cepat bukan karena senang, tapi karena cemas.
Cemas pada rasa yang terus tumbuh... tapi tak pernah diberi nama.
Anda Mungkin Juga Suka





