Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love with my penyiarku

Love with my penyiarku

Muhammad Ghifarial Siregar, seorang pria flamboyan yang sangat populer, menambatkan hatinya pada sosok Ariana Martha. Meski perjalanannya dipenuhi luka mendalam dan jiwa yang rapuh, ia tetap teguh meyakini kehadiran cinta sejati. Baginya, perasaan tulus adalah takdir Tuhan yang harus diikhlaskan layaknya suara merdu di angkasa. Ia bertekad menjaga rasa yang tumbuh di relung hati agar terus mekar selamanya, hingga maut datang memisahkan mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah cukup lama bergelut dengan jalanan raya ibukota, sampailah kita ke depan Gedung radio V Radio tercinta.

Setelah sampai di Gedung radio, Ghifa pun dengan langkah seribu segera lari menuju ruangan siaran dan nasib sial menimpanya. Ternyata oh ternyata, siaran hari ini sudah di mulai.

Melihat apa yang ada di depan mata, sontak ia berkata lirih dalam hati.

"Sial! Kenapa, gue bisa apes begini?"

"Apalagi, Opening dan tema sudah diangkat oleh si nyai Rahma?"

"Wah.. hancur deh, reputasi ku ini..."

Ghifa pun mencoba untuk tenang dan join sekalian meminta maaf kepada anak-anak yang lain, atas keterlambatannya kali ini.

"Assalamu'alaikum! Sorry guys, gue telat?" ucapnya seraya menyimpulkan kedua tanganku tanda maaf.

Dengan tatapan melirik sejenak, mereka pun menjawab.

"Ok, santai aja, sono langsung bantu tuh si Rahma. Kasian, itu anak ngomong sendiri kayak robot korslet?" ucap bang Fadil, kepala eksekutif radio V Radio.

"Ok, bang! Tema hari ini apa bang?" tanyaku pada bang Fadil dan anak-anak crew lainnya.

"Sudahlah, lihat aja sendiri di meja sana? Inget, durasi udah mepet nih? Inget ya, du... ra.. si?"

ucap bang Romy, selaku ketua pemasaran radio ini.

Ghifa pun dengan langkah sedikit terburu-buru, lantas berkata.

"Ok, deh! Gue masuk dulu"

Ghifa pun langsung masuk ke ruang radio, lalu ia mulai duduk dan melihat tema yang ada di meja. Dan saat aku check tema hari ini adalah.....

Jeng.... Jeng.... Jeng...

Cinta!

What....?

Cinta?

Apalagi 'Cinta Pertama'?

Apa ini gak salah?

Ternyata, materi yang harus Ghifa bawakan dengan Rahma hari ini, cukup membuatnya terkejut. Ghifa pun berusaha untuk berdiskusi dengan Rahma, semoga ia mau meralat tema kali ini. Kebetulan mereka baru saja selesai opening dan memutar kan lagu pertama.

"Yakin nih, Ma? Kita siaran hari ini, pakai materi ini?" Tanya Ghifa pada team & Shinta si anak Marketing yang biasa kasih tema harian. Ia pun seraya menunjuk ke arah lembaran materi yang akan kita bawakan ini.

Sayang beribu sayang, tanpa disadari rupanya di dalam ada beberapa team, juga mendengar pertanyaan kami bertiga .

"Yakin lah, Ghif? Emang kamu ada masalah?" jawab bang Fadil diikuti dengan mengerutkan kedua alisnya dan tatapan mata yang tajam padaku.

Ghifa pun lantas terdiam, terpaku dan tak bisa berkata sepatah pun.

Ia memilih untuk menutup rapat-rapat mulutnya, daripada harus menjawab pertanyaannya kali ini.

Rupanya reaksi bang Fadil, di balas santai jawaban dari Shinta yang asal nyeletuk kayak gak ada dosa.

"Ya, iyalah bang! Si Ghifa kayak gitu, mana bisa ia jawab, bang?  Dia kan sedang galau, habis diputusin sama si Ariana ?"

"Maka nya, ia males bawa tema cinta-cintaan kayak gini? Entah, mungkin dia alergi atau gimana?" jawab Shinta dengan nada sedikit mengejek.

Rupanya, setelah mendengar informasi dari si nenek Lampir Shinta, rupanya bang Fadil dan bang Romy mulai ikut menyanggah informasi tadi.

"Beneran itu Ghif, elu diputusin sama Si Ariana?"

Gue, gak salah dengar nih? Orang secantik itu, elu putusin?" tanya bang Romy seraya terkaget atas ucapan si lampir Shinta, dan bang Romy menatapku seperti seakan-akan ingin menerkamnya.

Ghifa pun memilih terdiam, seraya memutuskan untuk duduk dan memutarkan kursinya, sambil membelakangi si Rahma. Ia pun memilih mengatupkan bibirnya serta sedikit memanyunkan bibirku, tanda aku nggak nyaman dengan situasi saat ini.

"Jawab dong, Ghif! Jangan diam saja, kayak orang lagi sariawan?" si Rahma mulai mengejek lagi diikuti bang Fadil & bang Romy yang silih berganti.

"Eh, rupanya gak bisa jawab, si Mas ganteng ini..."

"Lihat tuh wajahnya, Merah sekali kayak habis digebukin rame-rame?". ejek si Rahma lagi.

Jujur, dalam benak si Ghifa memang sengaja memilih diam, bukan berarti ia tak mau jawab semua pertanyaan mereka, hanya saja males sekali untuk menjawab pertanyaan yang memuakkan itu.

Dengan mata sedikit malas dan sayu, ia pun menjawab.

"Ya, udah bang! Biar aku saja yang opening siaran segment 02, kali ini." jawab Rahma lagi.

"Oke, deh Ra! Emang kelihatannya sih, Si Mas ganteng dengan ratusan ribu follower ini lagi ngambek parah nih. Buruan lanjutin aja, Ma?"

"Biar nanti, si Ghifa yang menyusul saja?" jawab bang Fadil

Lantas, si Rahma pun menjawab.

"Oke, aku mulai ya!". (Seraya ia menyalakan mesin radio dan microfon, lalu memakai headphone di telinganya).

"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokkatuh!"

"Selamat pagi, semua sobat V Radio tercinta di manapun anda berada. Balik lagi sama, aku Rahma dan si ganteng dan charming Ghifa di Selamat pagi V Radio."

"Di pagi yang cerah ini, kami siap menemani aktifitas pagi anda semua Sobat V Radio, yang mungkin pergi ke kantor, ke kampus ataupun ibu-ibu yang sedang memasak di rumah dengan lagu-lagu pop terkini, baik dari indonesia, maupun mancanegara."

"Tapi, sayangnya untuk Segment  kali ini, para penggemar dan followers setia Ghifa, Ghifanders harus bersedih, karena ia sepertinya membiarkan aku siaran sendiri disini, dan ia sedang cemberut di sampingku dengan wajah manyunnya kayak bebek lagi sakit gigi?" (Sambil disertai tertawa).

"Kasihan tuh, para sobat V radio dan fans-fans tercintamu, yang merindukan suara indah darimu. Cuma gara-gara masalah tema yang akan kita bawakan kali ini?"

"Ayolah, jangan galau mulu?

Move on, dong!" disertai nada-nada ejekan di setiap kalimatnya.

Sekali lagi mendengar ledekan dari Rahma, yang awalnya Ghifa anteng ayem, kini iapun mulai gerah dan mulai bergegas memutar kursinya dan menarik mic dari Rahma.

"Oke, cukup ya ngecengin gue, ya Nenek Lampir! Oke, gue bantu loe siaran, mengingat kasihan juga para sobat V Radio yang menungguku dari tadi."

"Toh, aku nggak mau sampai dikatain makan gaji buta? Bisa-bisa nanti jadi viral". Jawab Ghifa dengan nada agak sedikit jengkel.

"Lha, gitu dong! Bantuin gue napa, syukur deh, kalau sadar diri. Hampir aja, gue mau ngatain, jangan makan gaji buta, loe! Eh, ternyata sadar diri."

"So, Berarti siap dong bahas tema kita hari ini yaitu "Cinta pertama", Ghifa ?" Tanya si Rahma pada si Ghifa.

"Oke, siap! Siapa takut? Walaupun rada males sih sebenarnya. Tapi, untuk sobat V radio semuanya, aku akan membuang rasa malas dan galau ku ini, untuk menghibur kalian semua di pagi yang cerah ini." jawabku yang disertai perkataanku yang sedikit terpotong-potong dan nafasnya yang agak tersengal-sengal, diikuti garukan tangan di pelipisnya dan nafas yang tak teratur ini.

"Oke, sah! Untuk menghibur Si Ghifa yang sedih, aku diputarkan lagu Khalid feat Billie Eilish berjudul Lovely, untuk semua sobat V radio yang sedang lovely di luaran sana. Check it dot." jawab Rahma.

Mungkin, karena masih dalam kondisi bad mood, gara-gara diejekin habis-habisan oleh si mereka bertiga itu, rasanya dalam benak Ghifa seakan tak mampu merasakan arti lovely dari lagu favoritnya ini. Seakan hampa aja.

Memang jatuhnya, terkesan menjengkelkan dibenaknya, namun sebisa mungkin si Ghifa berusaha untuk tetap tenang, walaupun harus ku lalui dengan wajah tertekuk dan dengan bibir yang manyun, layaknya moncong ikan cucut.

Karena, jam siaran masih banyak. Mereka pun berusaha membuat Ghifa bisa happy lagi dan membujuknya agar mau siaran hari ini. Walaupun, jawabannya it's impossible.

Dan tak terasa sampailah kita, melanjutkan siaran sampai jam 07.30 pagi, dimana itu adalah penghujung acara kita hari ini.

Lantas, Ghifa pun menutup acara kali ini.

"Oke guys, mengingat waktu sudah hampir menunjukkan jam 07.30 pagi, maka aku dan Rahma, harus pamit dari sini.

So, sebagai lagu penutup, kita putar kan lagu dari Tiara Andini yang berjudul Merasa indah."

"Wassallamu'alaikum warohmatullahi wabarokkatuh.

V radio, radio wajib untuk kaum muda!"

Setelah siaran usai, mereka pun memutuskan untuk pergi ke kampus lagi, mengingat selain ada jam kuliah yang tepat didepan mata, juga berharap si Ghifa bertemu bidadari cantik saat aku sampai di kampus nanti. Atau setidaknya cewek ber parfum mawar itu.

"Bang, kita cabut dulu ya? Waktunya kita masuk kuliah pagi, takutnya keburu pintu dikunci dosen dari dalam." ucap Ghifa seraya untuk meminta ijin ke bang Adam dan bang Fadil.

"Ya, bang! Soalnya gue pun udah ditunggu ama si Rangga juga di depan." sambung si Rahma.

"Oke deh! Hati-hati ya? Jangan ngebut-ngebut, sayangi nyawa kalian. Ingat, Allah hanya beri satu nyawa, bukan 9 nyawa kayak kucing."  petuah Bang Fadil pada kita berdua.

"Sama satu lagi, mumpung Abang inget. Jangan lupa, jagain tuh si anak ganteg, takutnya ia ntar bunuh diri lagi? Bisa-bisa motornya di tabrakan ke pohon atau kalau nggak nyungsepin di got?" ejek kak Romy padaku.

"Sip! Siap 86, komandan! Gue, jagain nih, mas ganteng, biar ia nggak nekat bunuh diri!" jawab Rahma pada mereka, sontak aku pun tercengang seraya menjawab.

"Gila ya, loe pada? Doain gue yang nggak-enggak ? Gue, masih waras kali, otak gue masih normal?"

"Gue juga masih pengen nikah dan juga punya anak? Gila bener, gue mau nabrakin diri ke pohon atau jatuhin diri ke got?" jawab si Ghifa dengan nada sedikit emosi.

"Iya, iya ! Sorry, kan dari tadi loe cemberut kayak gitu? Ngalahin sama mulut bebek."

"So, hati-hati ya? Inget, besok pagi masuk ya?" jawab singkat dari bang Romy.

Akhirnya aku dan Rahma pun keluar dari ruang radio dan berjalan keluar, menghampiri pintu keluar ruangan V Radio ini. By the way, alamat gedung radio ku ini, terbilang agak jauh dari kampus ± 8 KM, dan jikalau kalian pengen main ke sini, gampang !

Alamatnya ada di Jalan Sultan Syahir, no. 78 , Rungkut, Jakarta Pusat, lokasinya deket sama Kantor pos Indonesia.

"Ma, Emang si Rangga nungguin loe dimana? Kata loe, ia ada di depan?" tanyaku pada Rahma.

Soalnya dari tadi si Ghifa cari-cari batang hidung si Rahma belum nampak disini.

"Bentar lagi, mesti sampai kok."

"Tuh, panjang umur itu si Rangga, baru di omongin, dianya sudah datang..." jawab si Rahma seraya menunjuk ke arah barat dan terlihat jelas si Rangga datang naik motor Harley kebanggaannya.

"Sorry, gue telat! Tadi gue, kehabisan bensin di jalan, alhasil mau nggak mau, gue ngisi bensin dulu di POM" jawab santai si Rangga.

Melihat, penjelasannya si Rangga, Rahma pun segera menjawab.

"Lain kali, sebelum berangkat jemput gue, check dulu bensinnya?"

"Sudah waktunya beli apa belum, ya bego? Soalnya, ini kita hampir kesiangan loh, berangkat ke kampus?"

"Next time, jangan telat lagi ya? Awas aja, ngilangin lagi.." ungkapan kesal Rahma pada Rangga karna keterlambatannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Calon Kakak Ipar
8.2
Nasha sangat mengagumi hubungan kakaknya, Nisha, dengan Rayyan hingga ia mencari pacar semirip mungkin. Ia pun memilih Feri yang tampak sempurna dan menjaga kehormatannya. Namun, petaka datang saat Nisha meninggal menjelang pernikahan. Di tengah duka, Nasha dikhianati Feri yang menghamili sahabatnya sendiri karena alasan nafsu. Trauma mendalam membuat Nasha menutup hati dari pria, sampai akhirnya ia kembali bertemu Rayyan, sang mantan calon kakak ipar.
Sampul Novel Dilepas Manajer, Didekap CEO Kaya
9.6
Lima tahun membina rumah tangga dengan Reynald tak membuat Riana bahagia. Alih-alih cinta, ia justru terjebak dalam lingkaran KDRT dan tekanan dari Mayang, ibu mertuanya yang membenci Riana karena belum juga memiliki keturunan. Penderitaannya mencapai puncak saat kehadiran wanita lain merusak pernikahan mereka. Merasa lelah dengan segala pengkhianatan dan kekerasan yang dialaminya, Riana akhirnya mengambil langkah tegas untuk mundur dan pergi.
Sampul Novel Dominasi Yang Disengaja
8.1
Tiga tahun membina rumah tangga, Dahlia Nicholson memilih untuk menceraikan suaminya, Dustin Rhys. Bagi Dahlia yang kini berada di puncak kesuksesan, Dustin hanyalah beban yang tidak berguna dalam hidupnya. Namun, di balik sikap angkuhnya, ia tidak menyadari sebuah kenyataan pahit. Segala pencapaian luar biasa dan kekayaan yang ia miliki saat ini sebenarnya hanyalah hasil dari campur tangan serta dukungan rahasia sang suami yang selama ini ia remehkan.
Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Rino Rahman, seorang pemuda yang baru menyelesaikan studinya di Bandung, mendambakan pengalaman asmara yang selama ini belum pernah ia rasakan. Di tengah kesendiriannya, sosok misterius hadir menawarkan bantuan untuk mewujudkan keinginan Rino melalui alam mimpi. Akankah janji pria tersebut menjadi kenyataan indah bagi Rino, ataukah tawaran itu hanyalah bualan kosong belaka? Ikuti perjalanan unik Rino dalam mencari cinta di antara realita dan imajinasi.
Sampul Novel KEJUTAN UNTUK SUAMIKU
8.7
Ulfa berjuang menghadapi kista ovarium yang membuat peluangnya menjadi ibu sangat kecil. Meski suaminya terlihat menerima kondisi tersebut, penantian enam tahun mereka akhirnya membuahkan hasil saat Ulfa dinyatakan hamil. Namun, keajaiban ini justru berujung pilu. Di tengah kegembiraannya, Ulfa mendapati sang suami diam-diam menikah lagi dengan wanita lain. Haruskah ia mempertahankan rumah tangganya demi sang buah hati, atau memilih untuk mengakhirinya?
Sampul Novel Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu
9.1
Betapa hancurnya hatiku saat mengetahui Arza, suamiku sendiri, berselingkuh dengan Zorah. Padahal, selama ini aku yang membiayai hidup janda dari mendiang kakakku itu. Sungguh kejam cara Zorah membalas segala kebaikanku. Namun, aku tidak akan tinggal diam meratapi pengkhianatan ini. Aku telah menyiapkan serangkaian kejutan menyakitkan yang akan menghancurkan hidup mereka berdua. Kini saatnya para pengkhianat itu merasakan pembalasanku yang tak terduga.