Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love Me Om

Love Me Om

Terjebak dalam rencana pernikahan dengan Ray yang kasar, Lala merasa tertekan demi menuruti keinginan orang tuanya. Namun, sebuah pesta lajang di villa milik Daniel mengubah segalanya. Pertemuan itu membangkitkan kembali perasaan lama Lala pada Daniel, hingga keduanya terlibat hubungan intim. Kelembutan Daniel menyadarkan Lala bahwa ia berhak bahagia, memicu keberaniannya membatalkan pernikahan. Akankah Ray menerima keputusan itu, dan dapatkah Daniel membalas cinta tulus Lala?
Bab
Bagikan

Bab 2

Om Daniel mengantarkanku ke kamar yang disediakan untukku di villa yang megah ini. Aku merasa sedikit kikuk, tidak terbiasa dengan kemewahan sekelas ini. Langkah kakiku terdengar seperti bisikan di lantai marmer yang dingin, dan sinar lembut dari lampu gantung di langit-langit memancarkan nuansa tenang di ruangan.

"Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatmu, Lala," ujar Om Daniel dengan senyum lembut. Aku terkejut dan berdebar-debar saat mendengar kata-kata itu. Bagaimana mungkin dia mengingatku? Aku merasa seperti orang biasa yang luput dari ingatannya.

Aku mencoba menyembunyikan perasaanku yang campur aduk dengan senyum gugup. "Benarkah? Aku... Aku pikir mungkin Om sudah lupa padaku."

Om Daniel hanya menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, aku masih ingat."

Saat Om Daniel berjalan keluar dari kamar, aku merasa dadaku berdesir keras. Kenangan datang menghampiri pikiranku, membawa aku kembali ke masa lalu yang kelam. Aku ingat bagaimana dulu aku menangis tersedu-sedu saat mendengar kabar bahwa Om Daniel akan menikah dengan seorang wanita. Wanita yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya. Rasanya seperti pukulan berat bagi hatiku saat itu, dan luka itu masih terasa, bahkan sekarang.

Aku duduk di pinggiran tempat tidur, meratap dalam hati. Bagaimana bisa aku merasakan getar seperti ini lagi setelah begitu lama? Padahal aku sudah berusaha melupakan semuanya. Tapi entah mengapa, kehadiran Om Daniel membuat semua itu kembali hidup.

Suara langkah kaki Om Daniel semakin menjauh, dan aku merasa sepi di dalam kamar yang mewah ini. Membawaku kembali berpijak pada kenyataan kalau sebentar lagi aku akan menjadi istri Ray. Status yang tidak pernah aku inginkan. 

Aku menghela nafas panjang dan mengusap air mata yang mencoba merayap keluar dari sudut mataku. Aku tidak ingin menangis di sini, tidak ingin Om Daniel atau siapapun melihatku rapuh.

***

Aku melangkah ke bangunan utama villa, merasa udara hangat terhembus lembut di kulitku. Rasa cemas dan tegang merayap perlahan dalam dadaku. Aku tahu Maya butuh bantuanku untuk menyiapkan pesta lajang ini, tapi rasa gelisahku semakin memuncak saat mendengar kalimat yang diucapkannya sebelum pergi.

"Lala, bisakah kamu menunggu di sini? Aku harus pergi sebentar untuk membeli beberapa barang. Om Daniel ada di sini, jadi kamu tidak sendirian," Maya menjelaskan, tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.

Aku mengangguk, mencoba menyembunyikan keraguan di mataku. Om Daniel. Aku mengingatnya sebagai pria tampan dengan aura yang begitu menarik, tapi tak pernah aku berbicara banyak dengannya. Dan sekarang, aku harus berada di sini, berdua dengan dia, dalam suasana yang sepertinya lebih intim daripada yang ku impikan.

Om Daniel berdiri di sisi ruangan, memandangku dengan senyuman hangat. Hatiku berdetak lebih cepat hanya oleh pandangannya. "Hai, Lala. Maya bilang kamu akan menemani aku."

"Hai, Om," sapaanku terdengar canggung, meskipun aku berusaha keras untuk terlihat santai.

Dia melangkah mendekatiku, menawarkan gelas berisi minuman dingin. "Minumlah, ini bisa membantu meredakan kecanggungan."

Aku mengambil gelas itu, menyedot sedikit cairan dingin ke mulutku. Rasa segarnya seolah meredakan sedikit tegang di perutku. "Terima kasih."

Dia tersenyum lagi, matanya berbinar seakan menyimpan rahasia. "Jadi, apa rencanamu setelah pernikahan?"

Pertanyaannya membuatku terkejut sejenak. Ada rasa kecewa yang muncul saat menyadari kalau Om Daniel sudah tahu kalau aku akan menikah dengan laki-laki lain..

"Aku belum terlalu memikirkannya, sebenarnya. Mungkin aku akan berhenti bekerja di perusahaan Maya dan bekerja dari rumah."

 "Ah, itu terdengar hebat. Tapi, apa yang kamu inginkan? Bukan apa yang diinginkan orang lain, tapi apa yang kamu impikan?"

Aku terdiam sejenak, merenung. Dia benar, aku sering kali melupakan apa yang aku inginkan, terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain. Terutama harapan Mama Papa. 

"Aku ingin merasakan kebebasan yang sesungguhnya, melakukan hal-hal yang membuatku bahagia. Tapi aku tidak ingin keinginanku membuat orang-orang terdekatku khawatir, Om," ujarku lirih.  Seolah berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Dia mengangguk perlahan, seolah mengerti. "Kamu tahu, Lala, terkadang kita harus mengambil risiko untuk mengejar apa yang kita inginkan. Tidak apa-apa memprioritaskan diri sendiri."

Pandanganku bertemu dengannya, dan entah mengapa, detik-detik itu terasa lama sekali, seakan waktu berhenti sejenak. Lalu, kami berdua tertawa, seolah menyingkirkan kecanggungan yang masih terasa.

Kami berbicara tentang berbagai hal, dari minat dan hobi, sampai cerita lucu tentang masa kecil. Percakapan kami begitu alami, seakan aku tidak merasa terancam atau dinilai. Aku merasa seperti diriku sendiri, tanpa perlu berpura-pura.

***

Aku memandang dengan kagum ke arah Om Daniel yang sedang berdiri di dekat meja dapur, sibuk memotong-motong berbagai macam buah-buahan dengan hati-hati. Wajahnya penuh konsentrasi, tetapi ada senyum kecil yang terukir di bibirnya. Bau segar dari potongan-potongan buah itu mengisi udara di sekitar kami, menciptakan sensasi yang menggugah selera. Aku merasa tidak enak duduk di sofa sambil hanya melihat Om Daniel bekerja keras. 

"Om, apakah aku bisa membantu?" tanyaku dengan sopan, mencoba untuk tidak terdengar terlalu canggung. Aku ingin berkontribusi meskipun tidak terlalu mahir dalam hal ini.

Om Daniel mengangkat wajahnya dan tersenyum hangat padaku. "Tentu, Lala. Kamu bisa membantu memotong beberapa apel di sini," jawabnya sambil menunjuk ke sejumlah apel yang sudah disiapkan.

 Aku bangkit dari sofa dan mendekati meja dapur. Dengan hati-hati, aku mengambil pisau yang sudah tersedia dan duduk di samping Om Daniel. Meskipun ada kecanggungan dalam gerakanku, aku berusaha untuk fokus pada tugas ini. Aku mulai memotong-motong apel dengan pelan, mencoba untuk mengikuti jejak Om Daniel.

"Jangan terlalu khawatir soal tekniknya," kata Om Daniel dengan lembut. "Yang penting kamu melakukannya dengan hati-hati."

Senyumnya membuat hatiku melembut. Aku merasa lebih rileks sekarang, dan kami terus memotong buah-buahan bersama-sama. Namun, dalam sekejap, aku merasa sesuatu yang tajam melintas di kulitku. Aku menarik tangan cepat, dan rasa sakit segera menyusul.

 "Ah!" pekikku terkejut.

 Om Daniel langsung berbalik ke arahku, matanya membesar ketika melihat tangan ku yang berdarah. Tanpa ragu, dia bergerak cepat menuju sebuah kotak di sudut dapur dan mengambil perban serta antiseptik.

 "Aku minta maaf, Lala. Aku seharusnya tidak memintamu memotong buah," katanya dengan ekspresi cemas.

 Aku merasa malu atas kejadian ini dan berusaha tersenyum kepadanya. "Tidak apa-apa, ini bukan salah Om."

Om Daniel dengan lembut membersihkan luka di tangan ku dan membalutnya dengan hati-hati. Sentuhan ringannya membuat hatiku berdebar-debar. Aku tak bisa membantu tetapi terpana oleh perhatiannya yang tulus.

"Sudah selesai," ucapnya setelah memastikan luka ku tertutup dengan baik. Matanya masih penuh perhatian padaku.

Terima kasih, Om," kataku dengan suara lembut. Aku merasa begitu terharu oleh kebaikannya. 

Aku membayangkan betapa nyamannya memiliki suami seperti Om Daniel.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cool vs Cold
8.4
Kehadiran Jay yang tak terduga membawa perubahan besar dalam kehidupan Avril, membangkitkan kembali perasaan yang telah lama terkubur. Melalui perhatian tulus dan kasih sayang yang nyata, Jay perlahan berhasil meruntuhkan dinding es yang menyelimuti hati Avril. Kini, Avril menyadari bahwa cinta sejati memang membutuhkan keberanian besar untuk melangkah maju. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehangatan mampu meluluhkan hati yang selama ini membeku rapat.
Sampul Novel Do Not Love Me
9.4
Hari pertama Kayla Prawijaya di sekolah baru menjadi kacau sejak bertemu Mexsi Megantara, murid pindahan asal Singapura. Hubungan mereka diawali kebencian karena Kayla tak mengerti alasan Mexsi begitu memusuhinya. Namun, fakta mengejutkan terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi adalah cinta pertama Kayla. Rasa benci itu berubah jadi cinta saat Mexsi mengetahui Kayla mengidap kanker darah. Mampukah Mexsi tetap bertahan mendampingi Kayla di tengah ujian pilu ini?
Sampul Novel DUNIA MAYA
9.2
Aruni Maya adalah wanita tangguh yang hancur setelah kehilangan ibu dan anak angkatnya. Di tengah duka, dia harus menghadapi kekejaman Toni, suaminya yang ternyata hanya mendekati Maya demi membalas dendam masa lalu. Namun, sebuah rahasia besar terungkap bahwa Maya bukanlah anak kandung dari orang tua yang dibenci Toni. Penyesalan datang terlambat saat Maya berjuang bangkit dari pengkhianatan, menemukan jati diri aslinya, dan menghadapi ujian hidup baru yang mendewasakan.
Sampul Novel Istri ku tengil
8.8
Alexa memiliki paras menawan namun perilaku nakalnya sering memicu emosi. Meski hidup bergelimang harta, ia merasa kesepian akibat kurangnya kasih sayang dari orang tua yang gila kerja. Demi mencari perhatian, Alexa kerap berbuat onar hingga akhirnya ia dipaksa masuk ke dalam jerat perjodohan. Akankah pernikahan dengan pria misterius ini mengubah sikap iblisnya menjadi manis, atau justru ia akan semakin membuat kekacauan dalam kehidupan rumah tangga barunya?
Sampul Novel Jatuh Cinta Dengan CEO Duda
7.8
Pasca perceraian yang menyakitkan, Dimas tumbuh menjadi pengusaha dingin hingga ia bertemu Sinta. Sekretaris barunya yang penuh keceriaan itu perlahan mencairkan hatinya yang beku. Sinta bahkan menjalin ikatan emosional dengan Arya, putra Dimas yang selama ini merasa kesepian. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, mantan istri Dimas datang kembali untuk mengusik ketenangan mereka. Akankah cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi gangguan masa lalu tersebut?
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder
9.2
Pasca malam yang liar, Raina terjebak dalam hubungan serius dengan Felix, seorang miliarder yang terpikat pesonanya. Namun, kebahagiaan itu sirna saat cinta pertama Felix kembali, membuat Raina dicampakkan begitu saja lewat selembar cek. Bukannya hancur, Raina justru pergi dengan senyuman. Saat takdir mempertemukan mereka lagi, Raina telah bersama pria lain. Felix yang terbakar cemburu mencoba mengejarnya kembali, bahkan rela mengantre demi mendapatkan hati sang mantan.