Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love Escape

Love Escape

Harapan Ghena untuk dilamar saat anniversary hancur ketika Bastian justru memutuskan hubungan 15 tahun mereka demi perjodohan orang tua. Berusaha bangkit, Ghena pindah ke Singapura untuk bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun kemudian Bastian muncul kembali bersama tunangannya dan mengaku masih mencintai Ghena. Kini Ghena terjebak dalam dilema besar: tetap tegar menolak atau menyerah pada perasaan lama dan menjadi orang ketiga.
Bab
Bagikan

Bab 3

Alarm di ponsel Ghena sudah menyalak sejak pukul delapan, tapi perempuan yang akrab dipanggil Ghe itu mematikannya lagi. Begitu alarm kedua berbunyi, dia langsung bangun dan bersiap. Ghena mengenakan celana bahan berwarna cokelat tua dan kaos putih lengan panjang pas badan. Dia membuat semangkuk mi instan dan kopi susu untuk sarapan.

Untuk melengkapi penampilannya, Ghena memakai sepatu kets putih dan tas slempang berukuran sedang. Dia langsung menyambar kunci motor di tergantung di dinding. Dengan mengendarai motor matiknya, Ghena membelah jalanan menuju rumah Rosi di bilangan Tangerang.

Ghena sengaja berangkat lebih awal karena ingin santai dalam berkendara. Dia mampir ke mini market di depan komplek rumah Rosi, membeli aneka jajanan untuk buah tangan. Pukul 11.10 Ghena sudah tiba di rumah sahabatnya. Suara Rosi yang sedang berusaha menenangkan Amar, terdengar sampai ke halaman depan.

Ghena langsung masuk setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Meskipun dia tahu Rosi tidak mendengarnya, dia tetap melakukan hal tersebut.

“Amar! Tante Ghe datang bawa hadiah. Mau, nggak?”

Seketika saja suara rengekan Amar berhenti, digantikan derap langkah kaki mungil. “Tante Ghe,” sapa Amar lalu menghambur memeluk Ghena yang sudah berjongkok.

“Wah, keponakan Tante sudah besar. Sebentar lagi Tante kalah tinggi.” Ghena sengaja memosisikan dirinya lebih rendah dari Amar.

“Tante bawa apa?”

Ghena mengangsurkan bungkusan plastik yang dibawanya. “Nih! Amar lihat sendiri. tapi jangan langsung dihabiskan, ya!”

“Makasih, Tante Ghe.” Amar kembali menghambur dan mencium kedua pipi Ghena.

“Wah! Anak Bunda dapat apa tuh dari Tante Ghe? Bunda dibagi, nggak?”

“Bagi.”

“Sorry ya, Ghe. Gue lagi tanggung masak buat Amar. Sebentar lagi kok. Dari tadi dia rewel banget. Minta ikut terus.”

“Ya ajak aja. Toh kita belanjanya dikit doang. Kalau lo yang belanja, baru Amar ditinggal. Bukannya apa, gue takut lo lupa bawa anak.”

“Sialan lo. Nyokap gue pas lagi di rumah kok. Nanti gue titipin.”

Tiba-tiba Amar berlari dan berdiri di depan Ghena. “Tante, emang benar, Amar nggak boleh ikut karena nggak boleh sama Tante Ghe? Amar janji, nggak akan lari-lari.”

Ghena kembali merendahkan tubuhnya. “Siapa yang bilang Tante larang Amar ikut?” Anak yang berusia lima tahun itu tidak menjawab, tapi matanya melihat ke arah Rosi. “Bunda yang bilang?” tebak Ghena.

Amar mendekat dan berbisik, “Ngomongnya pelan-pelan, Tante. Nanti Bunda marah.”

Suara yang dipikir Amar sebuah bisikan, nyatanya terdengar oleh Bundanya.

“Udah ajak aja, Ros! Kalau dia ngerengek terus malah makin lama kita jalannya.”

Setelah diam beberapa saat, akhirnya Rosi menyerah. Dia setuju untuk mengajak Amar ikut. Masakan yang baru matang dia simpan ke wadah khusus. Dia pun membawa botol minum dan camilan untuk anaknya.

“Amar, kita ke mal buat nemenin Tante Ghe belanja. Kita nggak jajan, ya!”

“Iya. Amar nggak minta jajan, Bun. Janji!” bocah lelaki itu menjulurkan jari kelingkingnya, “tapi kita ke temjon ya, Bun.”

“Itu sama aja jajan, Sayang. Mainnya kan pakai uang.”

“Kita lihat-lihat aja.”

Ghena hanya mengulum senyum mendengar percakapan ibu dan anak itu. Tiga puluh menit kemudian mereka bertiga baru berangkat.

Sesampainya di pusat perbelanjaan, Ghena mengajak Rosi dan Amar makan. Karena restorannya berada di depan arena permainan, Amar merengek ingin melihat-lihat.

“Ghe, gue minta maaf banget, ya. Enggak biasa-biasanya Amar rewel begini.”

“Dih, kayak sama siapa aja! Santai aja kali, Ros. Gue malah seneng. Jarang-jarang ini gue ketemu Amar. Anak lo itu ngangenin, tauk!”

Akhirnya Ghena dan Rosi mengalah. Mereka menemani Amar bermain beberapa permainan. Setelahnya anak itu mau diajak pergi. Entah sudah berapa toko yang disambangi ketiganya, tapi belum ada satu pun barang yang dibeli. Rosi belum menemukan sebuah baju yang dirasanya pas dan pantas untuk dikenakan sahabatnya.

Amar yang mulai kelelahan kembali merengek dan minta digendong oleh Rosi. Sudah berulang kali anak itu menguap. Ghena merasa kasihan, lalu mengajak Rosi beristirahat. Ajakan itu ditolaknya dengan dalih bisa tetap berjalan sambil menggendong Amar.

Satu jam berlalu dan mereka masih belum mendapatkan apa-apa. Ghena dan Rosi sudah bergantian menggendong Amar.

“Ros, kayaknya baju yang di lantai dua itu oke deh. Gue beli itu aja.”

Rosi berusaha mengingat-ingat baju yang dimaksud Ghena. “Yang hitam itu? Bagus sih, tapi masa hitam, Ghe? Emangnya lo mau ke pemakaman?”

“Gue sreg sama modelnya. Simple.”

“Yang merah lebih oke. Kalau mau beli yang itu aja. Merahnya juga keren, nggak norak.”

“Iya, tapi talinya kecil banget, Ros, kayak mi. Gue takut putus pas dipakai.”

“Ya lo jangan atraksi pas pakai baju itu. Duduk yang anggun.”

“Terbuka banget. Nanti kalau gue masuk angin gimana?”

“Ya udah. Terserah lo aja kalau gitu. Lo pake kaos kayak sekarang juga nggak apa-apa. Lagian cuma makan malam doang, kan?”

“Jangan ngambek dong, Ros. Iya, deh gue nurut sama lo. Gue pasrah aja. Ayo kita balik, biar pulangnya nggak kesorean. Gue kan kudu kejar setoran nih.”

“Kalah sopir angkot sama lo.”

Rosi mengambil Amar dari gendongan Ghena biar dia bisa menjajal pakaian yang akan dibelinya. Bukan itu saja, Rosi pun mendesak Ghena untuk membeli sepasang stiletto dengan warna senada dengan pakaiannya.

Acara belanja akhirnya resmi berakhir setelah Ghena memaksa Rosi keluar pusat perbelanjaan. Makin lama berada di dalam sana, entah ide apa lagi yang bakalan muncul di kepala Rosi.

“Eh, kita belum ke salon? Balik lagi, yuk! Mumpung masih sempat, nih,” ajak Rosi.

“Besok-besok ajalah. Gue nggak sanggup kalau masuk lagi. Kaki gue udah mau copot rasanya.”

“Aji mumpung. Nanti lo tinggal tidur.”

“Nambah masalah lagi aja. Tulisan gue apa kabarnya?”

Wajah Rosi berubah murung. “Maaf ya, Ghe. Kalau nggak ngajak Amar, mungkin jadwal kita nggak akan berantakan. Besok gue temeninnya nyalon deh. Kita spa aja sekalian.” Baru Ghena ingin membantah, Rosi langsung memelototinya. “Kalau nolak, nggak usah temenan sama gue.”

“Terserah lo deh. Kita pulang sekarang, ya! Nanti kesorean.”

Ghena menyimpan semua barang belanjaannya di bagasi motor sebelum meninggalkan parkiran. Usai mengantarkan Rosi ke rumahnya, Ghena langsung berpamitan. Dia minta maaf karena tidak bisa tinggal lebih lama.

Rosi pun kembali meminta maaf padanya, karena rencana tadi tidak sesuai harapan. “Besok gue yang jemput lo. Soalnya lokasi spa lebih dekat dari tempat lo. Makan siang di luar aja, biar cepet.”

“Atur aja deh. Gue nurut aja, daripada kualat.”

Sama seperti saat berangkat, Ghena pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di unitnya, Ghena langsung membersihkan diri. Dia butuh mandi agar tubuhnya segar dan bisa diajak kerja sama untuk bekerja. Ghena baru benar-benar merasakan betisnya menegang saat duduk dan mulai membuka laptopnya.

**

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adhiti
9.6
Adhiti menjalani keseharian tanpa menyadari bahwa sang ayah menyembunyikan tragedi kelam dari masa lalunya. Takdir kemudian membawanya bertemu seorang pria penuh luka dan kebencian yang ternyata terikat erat dengan rahasia hidupnya. Saat tabir kebenaran mulai tersingkap, Adhiti dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Cinta yang tumbuh di antara mereka kini terancam hancur oleh beban masa lalu yang tak pernah ia pilih, namun harus ia tanggung sendiri.
Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit
9.6
Alana Putri Pratama terjebak dalam pernikahan hambar dengan Raihan Wijaya, manajer muda yang hanya menjadikannya alat untuk memancing cemburu mantan kekasihnya. Raihan yang terobsesi masa lalu mengabaikan Alana sepenuhnya hingga sang cinta pertama kembali muncul mengusik mereka. Di tengah kerapuhan ini, hadir Daniel Sanjaya, CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan sadar sebelum Alana berpaling, ataukah bayang masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
9.5
Sakti nekat menikahi Anjani, gadis yatim piatu, meski ditentang keluarganya. Namun, ia terpaksa menjalani pernikahan kedua dengan Mala demi mendapatkan donor jantung bagi kakeknya. Di bawah ancaman sang ayah yang mengincar keselamatan Anjani, Sakti terjebak dalam poligami rahasia. Setahun berselang, kebohongan ini terungkap oleh Anjani. Kini, Sakti harus menghadapi kehancuran rumah tangganya di tengah konflik status sosial dan pengkhianatan yang menyakitkan.
Sampul Novel Dosa yang Tak Termaafkan
8.9
Dewi menemukan bukti perselingkuhan suaminya melalui tumpukan bon belanja barang wanita dan tiket bioskop yang mencurigakan. Meski ia berusaha berbicara dengan suara lirih, amarah besar terlihat jelas saat ia mengonfrontasi pengkhianatan yang terulang kembali. Dewi menegaskan bahwa batas kesabarannya telah habis; ia tidak akan memberi kesempatan kedua setelah peringatannya diabaikan. Hubungan pernikahan mereka kini berada di ambang kehancuran total.
Sampul Novel Gairah Sang Dosen
8.8
Ryan, dosen muda kaya, menghadapi konflik awal pernikahan dengan Tania. Keharmonisan mereka terusik oleh Maya, rekan kerja yang terjebak pernikahan tanpa cinta dengan Joko, serta Rani, mahasiswi yang memanfaatkan bantuan Ryan. Di sisi lain, Tania kembali bertemu Robi, mantan kekasih yang kini menjadi bos pinjol ilegal. Di tengah pengkhianatan dan intrik asmara, Ryan dan Tania berjuang mempertahankan rumah tangga mereka hingga para pengganggu akhirnya tersisih dari kehidupan mereka.
Sampul Novel Gulai Daging Ibu
9.1
Tekanan hidup yang menghimpit memaksa Parni, seorang wanita berusia empat puluh tahun, mencari cara ekstrem demi menghidupi anak-anak serta suaminya yang lumpuh. Demi memenuhi tuntutan keluarga, ia terjerumus ke dalam lembah dosa yang mengerikan dan tanpa batas. Tindakan nekat apa yang sebenarnya dilakukan Parni hingga seluruh warga desa merasa ketakutan? Sebuah kisah kelam tentang pengorbanan yang berujung pada misteri yang mencekam seluruh kampung.