
Love Escape
Bab 3
Alarm di ponsel Ghena sudah menyalak sejak pukul delapan, tapi perempuan yang akrab dipanggil Ghe itu mematikannya lagi. Begitu alarm kedua berbunyi, dia langsung bangun dan bersiap. Ghena mengenakan celana bahan berwarna cokelat tua dan kaos putih lengan panjang pas badan. Dia membuat semangkuk mi instan dan kopi susu untuk sarapan.
Untuk melengkapi penampilannya, Ghena memakai sepatu kets putih dan tas slempang berukuran sedang. Dia langsung menyambar kunci motor di tergantung di dinding. Dengan mengendarai motor matiknya, Ghena membelah jalanan menuju rumah Rosi di bilangan Tangerang.
Ghena sengaja berangkat lebih awal karena ingin santai dalam berkendara. Dia mampir ke mini market di depan komplek rumah Rosi, membeli aneka jajanan untuk buah tangan. Pukul 11.10 Ghena sudah tiba di rumah sahabatnya. Suara Rosi yang sedang berusaha menenangkan Amar, terdengar sampai ke halaman depan.
Ghena langsung masuk setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Meskipun dia tahu Rosi tidak mendengarnya, dia tetap melakukan hal tersebut.
“Amar! Tante Ghe datang bawa hadiah. Mau, nggak?”
Seketika saja suara rengekan Amar berhenti, digantikan derap langkah kaki mungil. “Tante Ghe,” sapa Amar lalu menghambur memeluk Ghena yang sudah berjongkok.
“Wah, keponakan Tante sudah besar. Sebentar lagi Tante kalah tinggi.” Ghena sengaja memosisikan dirinya lebih rendah dari Amar.
“Tante bawa apa?”
Ghena mengangsurkan bungkusan plastik yang dibawanya. “Nih! Amar lihat sendiri. tapi jangan langsung dihabiskan, ya!”
“Makasih, Tante Ghe.” Amar kembali menghambur dan mencium kedua pipi Ghena.
“Wah! Anak Bunda dapat apa tuh dari Tante Ghe? Bunda dibagi, nggak?”
“Bagi.”
“Sorry ya, Ghe. Gue lagi tanggung masak buat Amar. Sebentar lagi kok. Dari tadi dia rewel banget. Minta ikut terus.”
“Ya ajak aja. Toh kita belanjanya dikit doang. Kalau lo yang belanja, baru Amar ditinggal. Bukannya apa, gue takut lo lupa bawa anak.”
“Sialan lo. Nyokap gue pas lagi di rumah kok. Nanti gue titipin.”
Tiba-tiba Amar berlari dan berdiri di depan Ghena. “Tante, emang benar, Amar nggak boleh ikut karena nggak boleh sama Tante Ghe? Amar janji, nggak akan lari-lari.”
Ghena kembali merendahkan tubuhnya. “Siapa yang bilang Tante larang Amar ikut?” Anak yang berusia lima tahun itu tidak menjawab, tapi matanya melihat ke arah Rosi. “Bunda yang bilang?” tebak Ghena.
Amar mendekat dan berbisik, “Ngomongnya pelan-pelan, Tante. Nanti Bunda marah.”
Suara yang dipikir Amar sebuah bisikan, nyatanya terdengar oleh Bundanya.
“Udah ajak aja, Ros! Kalau dia ngerengek terus malah makin lama kita jalannya.”
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Rosi menyerah. Dia setuju untuk mengajak Amar ikut. Masakan yang baru matang dia simpan ke wadah khusus. Dia pun membawa botol minum dan camilan untuk anaknya.
“Amar, kita ke mal buat nemenin Tante Ghe belanja. Kita nggak jajan, ya!”
“Iya. Amar nggak minta jajan, Bun. Janji!” bocah lelaki itu menjulurkan jari kelingkingnya, “tapi kita ke temjon ya, Bun.”
“Itu sama aja jajan, Sayang. Mainnya kan pakai uang.”
“Kita lihat-lihat aja.”
Ghena hanya mengulum senyum mendengar percakapan ibu dan anak itu. Tiga puluh menit kemudian mereka bertiga baru berangkat.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Ghena mengajak Rosi dan Amar makan. Karena restorannya berada di depan arena permainan, Amar merengek ingin melihat-lihat.
“Ghe, gue minta maaf banget, ya. Enggak biasa-biasanya Amar rewel begini.”
“Dih, kayak sama siapa aja! Santai aja kali, Ros. Gue malah seneng. Jarang-jarang ini gue ketemu Amar. Anak lo itu ngangenin, tauk!”
Akhirnya Ghena dan Rosi mengalah. Mereka menemani Amar bermain beberapa permainan. Setelahnya anak itu mau diajak pergi. Entah sudah berapa toko yang disambangi ketiganya, tapi belum ada satu pun barang yang dibeli. Rosi belum menemukan sebuah baju yang dirasanya pas dan pantas untuk dikenakan sahabatnya.
Amar yang mulai kelelahan kembali merengek dan minta digendong oleh Rosi. Sudah berulang kali anak itu menguap. Ghena merasa kasihan, lalu mengajak Rosi beristirahat. Ajakan itu ditolaknya dengan dalih bisa tetap berjalan sambil menggendong Amar.
Satu jam berlalu dan mereka masih belum mendapatkan apa-apa. Ghena dan Rosi sudah bergantian menggendong Amar.
“Ros, kayaknya baju yang di lantai dua itu oke deh. Gue beli itu aja.”
Rosi berusaha mengingat-ingat baju yang dimaksud Ghena. “Yang hitam itu? Bagus sih, tapi masa hitam, Ghe? Emangnya lo mau ke pemakaman?”
“Gue sreg sama modelnya. Simple.”
“Yang merah lebih oke. Kalau mau beli yang itu aja. Merahnya juga keren, nggak norak.”
“Iya, tapi talinya kecil banget, Ros, kayak mi. Gue takut putus pas dipakai.”
“Ya lo jangan atraksi pas pakai baju itu. Duduk yang anggun.”
“Terbuka banget. Nanti kalau gue masuk angin gimana?”
“Ya udah. Terserah lo aja kalau gitu. Lo pake kaos kayak sekarang juga nggak apa-apa. Lagian cuma makan malam doang, kan?”
“Jangan ngambek dong, Ros. Iya, deh gue nurut sama lo. Gue pasrah aja. Ayo kita balik, biar pulangnya nggak kesorean. Gue kan kudu kejar setoran nih.”
“Kalah sopir angkot sama lo.”
Rosi mengambil Amar dari gendongan Ghena biar dia bisa menjajal pakaian yang akan dibelinya. Bukan itu saja, Rosi pun mendesak Ghena untuk membeli sepasang stiletto dengan warna senada dengan pakaiannya.
Acara belanja akhirnya resmi berakhir setelah Ghena memaksa Rosi keluar pusat perbelanjaan. Makin lama berada di dalam sana, entah ide apa lagi yang bakalan muncul di kepala Rosi.
“Eh, kita belum ke salon? Balik lagi, yuk! Mumpung masih sempat, nih,” ajak Rosi.
“Besok-besok ajalah. Gue nggak sanggup kalau masuk lagi. Kaki gue udah mau copot rasanya.”
“Aji mumpung. Nanti lo tinggal tidur.”
“Nambah masalah lagi aja. Tulisan gue apa kabarnya?”
Wajah Rosi berubah murung. “Maaf ya, Ghe. Kalau nggak ngajak Amar, mungkin jadwal kita nggak akan berantakan. Besok gue temeninnya nyalon deh. Kita spa aja sekalian.” Baru Ghena ingin membantah, Rosi langsung memelototinya. “Kalau nolak, nggak usah temenan sama gue.”
“Terserah lo deh. Kita pulang sekarang, ya! Nanti kesorean.”
Ghena menyimpan semua barang belanjaannya di bagasi motor sebelum meninggalkan parkiran. Usai mengantarkan Rosi ke rumahnya, Ghena langsung berpamitan. Dia minta maaf karena tidak bisa tinggal lebih lama.
Rosi pun kembali meminta maaf padanya, karena rencana tadi tidak sesuai harapan. “Besok gue yang jemput lo. Soalnya lokasi spa lebih dekat dari tempat lo. Makan siang di luar aja, biar cepet.”
“Atur aja deh. Gue nurut aja, daripada kualat.”
Sama seperti saat berangkat, Ghena pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di unitnya, Ghena langsung membersihkan diri. Dia butuh mandi agar tubuhnya segar dan bisa diajak kerja sama untuk bekerja. Ghena baru benar-benar merasakan betisnya menegang saat duduk dan mulai membuka laptopnya.
**
Anda Mungkin Juga Suka





