
LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
Bab 2
Menjelang siang hari itu, di dukuh Lembah Jati, bagian tengah Kerajaan TIMORA jauh dari lokasi ledakan, aktifitas sehari-hari para warga berjalan seperti biasa.
Wilayah paling ramai di Kerajaan TIMORA itu seperti biasa disibukkan oleh warga yang melakukan transaksi jual beli. Pedati dan lalu lalang orang orang sibuk dengan urusan keseharian mereka masing masing.
Diujung jalan utama pedukuhan tersebut tampak berdiri cukup megah bangunan kokoh tiga tingkat terbuat dari papan kayu Jati. Berwarna dasar kayu asli yang dihaluskan dengan bingkai berwarna coklat tua, bangunan tersebut memberi kesan natural klasik dan angkuh.
Namun kesan angkuh tersebut berbanding terbalik dengan papan nama yang dilewati pengunjung saat akan masuk. Diatas pintu lebar dengan dua daun pintu masuk bangunan tersebut terdapat papan selebar 2 x 3 meter dengan warna dasar merah maroon, berbingkai lekukan garis seni berwarna hijau. Di Tengahnya tertulis rapi huruf berwarna kuning keemasan... KEDAI & LOSMEN ANDARI.
Lima orang berpakaian mewah tampak memasuki kedai Andari dengan tertawa-tawa. Dari penampilan, terkesan jelas bahwa mereka adalah pedagang kaya yang sedang melakukan bisnis.
Dibelakang mereka terlihat sembilan pria kekar, sepertinya para pengawal pedagang tersebut. Bermacam senjata menempel di pinggang atau di punggung masing-masing. Ada yang bersenjata pedang, kapak, pedang kembar, dan tombak.
Begitu naik ke lantai dua, pedagang tersebut langsung mengambil tempat di satu ruang VIP kedai Andari. Sementara kesembilan pengawal mereka mengambil tempat duduk berkeliling di satu meja besar di samping ruangan itu.
Setelah pedagang dan pengawal mereka duduk, terlihat para pelayan dengan ramah sibuk mengantar makanan dan minuman yang dipesan. Sebagai pembuka, beberapa kendi besar arak wangi sebagai minuman khas kedai ini bolak balik diantar berulang kali.
Kesibukan itu tidak lepas dari pandangan sosok semampai di lantai tiga. Mata bundar dengan bulu lentik indah wanita itu sedikit menyipit saat melihat dua orang pengawal dibawah sedang adu jago minum arak.
Hidungnya yang agak kecil tapi mencuat mancung terlihat mencium aroma wangi arak dari lantai itu.
Sejenak kemudian wanita itu menoleh melihat sedikit keributan di lantai dasar, bibirnya yang merah muda ranum membentuk senyum samar.
Perlahan wanita pemilik tubuh sintal setinggi 167 cm dengan gaun panjang berlengan pendek warna biru langit itu melangkah gemulai menuruni tangga.
Kaki jenjang mulus seputih susu seolah muncul membelah gaun panjang yang memang memiliki model belahan hingga setengah paha dibagian kiri.
Kedua tangannya yang tersembunyi dibalik sarung tangan berwarna biru senada dengan panjang hampir menyentuh siku, lembut menyentuh kayu pegangan tangga.
Meski memiliki model tertutup dan panjang hingga ke mata kaki, ketatnya gaun sutra yang dia kenakan tidak dapat menyembunyikan lekukan indah dibagian dada, perut, dan pinggul wanita berusia 24 tahun itu.
Wanita itu adalah pemilik kedai & losmen Andari. Nama yang diambil dari penggalan namanya sendiri, WULANDARI.
Begitu kaki beralas sepatu kulit berwarna putih gading menapak lantai dua, hampir semua pengawal saudagar sontak pasang gaya sok kecakepan dengan bibir cengar cengir. Apalagi saat paras jelita Wulandari tersenyum tipis kearah mereka.
Ditengah tertegunnya mereka, wanita jelita itu terus melangkah turun ke lantai bawah.
Seorang pemuda dengan dahi diikat kain merah matanya tajam melirik Wulandari yang melangkah ke arah sebelah ruang kasir. Ikatan kain merah pemuda itu memiliki tanda seperti bentuk tiga lingkaran saling terkait disulam dengan benang berwarna keemasan.
Sesaat setelah menenggak habis arak dari kendinya pemuda itu bergegas melangkah kearah Wulandari. Seolah merasakan ada sesuatu, dari sudut matanya Wulandari melirik pemuda itu, perlahan jarinya meraih sumpit yang ada di meja depannya.
Berjarak sekitar tiga meter dari tempat Wulandari berdiri pemuda itu tiba-tiba dihentikan pria 45 tahun, dengan kumis dan cambang sedikit panjang. Pria itu membawa cambuk dengan ujung baja biru lancip. Cambuk itu digulung melingkar tersampir di pinggang kiri.
"Maaf ki sanak, ada perlu apakah ki sanak ini. Nampaknya begitu tergesa." Sapa lelaki itu sopan.
Pemuda berikat kain merah berhenti tanpa melihat lelaki itu, diam tanpa ekspresi. Sikapnya tetap tenang memandang Wulandari.
Melihat itu Wulandari tersenyum tipis, menoleh ke arah dua orang yang tengah berhadapan itu, kemudian berkata lirih kearah lelaki berkumis.
"Biarkan dia kemari lek Manto, nggak apa-apa."
Mendengar suara Wulandari, lelaki yang dipanggil lek Manto itu perlahan menyingkir membiarkan pemuda itu lewat menghampiri Wulandari. Wanita jelita itu tersenyum tipis tanpa berkata apapun, sementara jarinya lembut memainkan sumpit.
"Bisa bicara berdua ?" Begitu agak dekat pemuda itu berbisik. Wulandari tetap tidak mengubah ekspresi. Pemuda itu melirik kiri kanan tampak bingung.
"ORDO SAN O." Bisiknya tergesa. Mimik muka Wulandari sedikit berubah.
"LINTANG 69." tambah pemuda itu.
Seketika Wulandari melangkah kearah sudut yang agak sepi. Pemuda itu pun gegas mengikuti dibelakang sementara tangannya mengambil sesuatu dari kantong dibalik bajunya.
Begitu Wulandari berbalik menghadap ke arahnya, cepat pemuda itu memberikan benda semacam lembaran kecil yang terangkai dari serutan bambu.
"Hmm.. layang buluh." Wulandari bergumam lirih. Pemuda dengan ikat kain merah itu gegas melangkah keluar begitu Wulandari menerima benda yang disebutnya layang buluh.
Tanpa memeriksa, Wulandari menyembunyikan benda itu di genggaman tangannya dan melangkah ke ruang kerjanya di lantai 3.
Layang buluh adalah sebutan bagi surat rahasia di jagad ini. Terbuat dari buluh bambu yang diraut tipis dan dirangkai menyerupai anyaman tikar. Hanya orang tertentu yang mampu membaca pesan di surat rahasia itu.
Setiap penerima memiliki kode berbeda. Kode tersebut biasanya berupa gabungan 3 angka dan 3 aksara kuno yang berfungsi sebagai urutan.
Dengan menggunakan kode itu si penerima menarik lembar demi lembar anyaman buluh berdasar urutan kode yang mereka miliki. Jika salah menarik urutan rangkaian, layang buluh hanya akan menjadi anyaman hiasan tanpa makna.
Anda Mungkin Juga Suka





