
LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
Bab 3
Sesampai di dalam ruang kerjanya, Wulan memandang enggan layang buluh ditangannya. Dengan setengah hati wanita itu terlihat membolak balik anyaman itu sebentar, kedua alisnya terangkat keatas sementara jarinya menarik lembar demi lembar buluh itu satu persatu.
Dengan kening sedikit berkerut dia membaca pesan dari huruf yang perlahan muncul tersusun.
---------------------------------------------------
Penginapan BALEMORA, Melati 17
Waktu : WA BULAN THA, SELATOR
- ORDO SAN-O
---------------------------------------------------
Ra bulan Tha diambil dari aksara kuno hanacaraka. Wa berarti 9 dan Tha berarti 7. Jadi waktunya tanggal 9 bulan 7. Itu berarti masih sebulan lagi. Petunjuk lebih lanjut berarti harus ke penginapan BALEMORA.
Wulandari merasa tidak ada kepentingan baginya buat mendatangi undangan dari ORDO San O. ORDO SAN O memang merupakan sekte misterius, dimana mayoritas anggotanya terdiri dari telik sandi telik sandi dan orang-orang pilihan dari seluruh Kerajaan di ketiga benua di jagad ini.
Tujuan dibentuknya ORDO ini pada awalnya sebenarnya sangat baik, karena bertujuan menjaga kedamaian seluruh Kerajaan di tiga benua Jagad Mayapada ini. Pola beroperasi nya terkenal sangat terencana dan rapi.
Saking rapinya organisasi ini, bahkan bisa dibilang jika ada seseorang atau satu kelompok punya niat untuk melakukan kejahatan yang mengganggu jalannya roda pemerintahan, orang atau kelompok itu dipastikan akan hilang dalam hitungan hari.
Namun seiring berjalannya waktu, dengan pergantian pimpinan beberapa kali dan orang orang dari beberapa Kerajaan ikut campur, visi dan misi ORDO SAN O seolah bergeser dari tujuan awal.
Saat ini ORDO SAN O yang menentukan bagaimana seharusnya Kerajaan Kerajaan itu berjalan.
Tentu hal ini mendapat banyak tantangan dari Kerajaan di ketiga benua. Bagaimana bisa Kerajaan di seluruh jagad diatur oleh satu ORDO.
Mengingat tragedi yang beruntun terjadi di Swarna Dwipa akhir akhir ini, bagaimanapun Wulandari curiga, apakah rentetan ledakan itu ada hubungannya dengan undangan dari ORDO SAN O ini.
Suntuk dengan pemikirannya sendiri, rileks Wulandari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, mencoba mengendurkan otot di lehernya dengan menengadahkan wajah.
Didinding papan ruangannya terlihat dua ekor cicak saling berkejaran. Rupanya cicak jantan tengah mengejar cicak betina untuk dikawin. Beberapa saat, terlihat cicak betina yang tadi seolah berlari ketakutan sekarang malah diam mengibaskan ekornya dengan gemulai seolah memancing birahi si jantan.
Wulandari tersenyum, seketika ingatannya kembali saat dia berumur sekitar 4-5 tahun. Kejadian yang sama terulang lagi, pikirnya. Dan itu membuat senyumnya makin melebar.
Sebagai bocah tunggal yang tinggal bersama bapak ibunya di dusun Randu Sewu, satu desa terpencil berlokasi dekat salah satu hutan wilayah Kerajaan TIMORA, masa masa kecil Wulan sangatlah menyenangkan.
Berlarian mengejar kupu kupu, membantu ibunya memetik buah yang tumbuh liar di pinggiran hutan, ataupun melihat ikan berenang di sungai kecil belakang rumahnya, itu sudah menjadi hiburan tersendiri yang mengasyikkan baginya.
Saat itu Wulan kecil berhasil menangkap beberapa ekor ikan kecil menggunakan batok kelapa. Dibawanya ikan itu untuk dipindah ke wadah lain yang lebih besar. Ketika memasukkan ikan, tiba tiba matanya terantuk ke dinding bambu rumahnya.
Dilihatnya dua ekor cicak saling membelit menempel didinding. Entah bagaimana, gerakan kedua cicak yang saling meliuk, membelit dan menggeser tubuh bagian bawahnya menciptakan sensasi tersendiri bagi tubuh si Wulandari kecil.
Wulan perlahan menyembunyikan tubuhnya seakan takut membuat cicak itu terkejut lalu pergi. Liukan gemulai dan berirama dari kedua binatang itu membuat Wulandari seakan menahan rasa pengen pipis, hingga dia merapatkan kedua pahanya.
Tidak tahu kenapa Wulan kecil merasa dicekam ketakutan yang aneh, tapi semakin dia merapatkan pahanya sensasi aneh seolah makin menjadi. Hingga beberapa saat kemudian dia sedikit kaget sekaligus lega saat tiba tiba kedua cicak itu jatuh dan langsung berlarian tak tentu arah.
"Permisi... Permisi non Wulan" Ketukan pelan dipintu tiba-tiba membuat lamunan Wulandari jadi buyar. Tapi dia masih tersenyum mengingat kejadian itu.
"Ya.. masuk bibi Lastri"
Tampak masuk ke ruangan Wulandari seorang perempuan manis berusia 33 tahun bernama Lastri. Perempuan bertubuh sintal itu sedikit lebih pendek dari Wulan, namun di usia matang seperti Lastri justru lekukan bagian dada dan pinggul perempuan itu makin terbentuk sempurna.
Banyak pria tertarik pada perempuan manis yang dipercaya Wulandari sebagai kasir kedai Andari itu, seperti kejadian barusan sebelum dia masuk ke ruang ini.
Saat naik tangga dia berpapasan dengan salah seorang pengawal pedagang yang berada di ruang VIP tadi. Pengawal bersenjata tombak itu seperti menggoda dengan menghalangi jalannya, kekiri dia kekiri, kekanan dia ikut kekanan.
Lastri yang merasa dipermainkan mendongak mencoba marah tapi sepertinya tidak bisa. Padahal dia melihat pengawal itu jelas jelas pandangannya menatap ke arah belahan bulat yang sedikit menyembul dari bajunya.
Lastri segera sadar, tertunduk malu menutup bagian atas dadanya, dan bergeser pada sandaran tangga. Pengawal itu tidak segera turun, beberapa saat diam berhadapan. Pengawal bertombak itu tersenyum nakal menatap Lastri lebih dalam.
"Cantik, kenapa kamu menutupi benda seindah itu"
Dengan percaya diri pengawal itu sedikit menyentuh dagu Lastri, mengangkatnya agar bisa dengan jelas melihat rona wajahnya yang mulai bersemu merah. Bibir pengawal itu terlihat sedikit nyengir, mendengus lirih sebelum melanjutkan langkahnya turun.
Degup kencang dada Lastri belum pulih hingga dia masuk ruangan Wulandari. Tidak biasanya Lastri tersipu seperti ini, bahkan sangat jarang.
Sebagai orang yang sudah lama bekerja di kedai losmen dan melayani orang banyak, kejadian seperti tadi tentu lumrah dan tidak bisa dia hindarkan. Namun selama ini dengan mudah bisa dia atasi, beda saat dirayu pengawal tadi. Dia sendiri heran, kenapa bisa seperti ini.
Beberapa teman lelaki di tempat Lastri bekerja disini banyak yang tertarik mendekati perempuan berparas manis itu, namun mereka pada mundur karena tahu Lastri adalah istri Manto, kepala keamanan merangkap kusir pribadi Wulan. Namun sayang hingga jalan hampir 10 tahun pernikahan, mereka belum juga dikaruniai anak.
Di Jagad Mayapada ini ikatan pernikahan suami istri bukanlah sesuatu yang bersifat sakral. Dianggap bukan satu hal yang bisa mengikat jiwa suami atau istri. Hanya sebatas legalitas jika mempunyai keturunan.
Bahkan jika si suami atau istri ketahuan selingkuh, bercinta dengan orang lain, si suami atau si istri bisa kembali ke pasangannya jika memang keduanya masih mau dan saling suka. Tidak akan ada intimidasi ataupun pandangan negatif dari penduduk atau orang sekitar. Sebab masalah itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa atau memalukan.
"Ini non Wulan, catatan keuangan minggu ini. Selama beberapa tahun belakangan pemasukan kedai kita bagus sekali non. Banyak peningkatan." Lastri antusias
"Hmm.. bagus bi"
"Cuman untuk losmen sepertinya jalan ditempat, tetap saja. Tidak mengalami peningkatan, tapi cukup stabil non."
Wulandari memeriksa catatan itu sambil lalu. Sebentar dia nampak mengangguk angguk kan kepalanya.
"Baiklah bi, tinggal aja dulu catatannya disini nanti saya periksa lagi"
"Baik non Wulan"
Lastri senyum mengangguk, merasa senang bahwa hingga sejauh ini Wulandari sudah memberi kepercayaan bagi dia bekerja sebagai kasir.
Sebetulnya ada 5 orang kasir di tempat ini. Mereka bekerja bergantian karena namanya losmen tentu harus buka 24 jam. Tapi di antara mereka berlima, Lastri lah yang paling dipercaya Wulandari.
Begitu Lastri turun ke lantai 2, dilihatnya para pelayan sibuk membereskan ruang VIP dan ruang sebelahnya. Sepertinya para juragan beserta pengawal yang tadi ramai makan di ruang ini sudah selesai. Lega giliran tugasnya berakhir, Lastri bergegas turun, dan bersiap untuk kembali pulang.
Selang beberapa saat setelah Lastri keluar, Wulandari menutup catatan tebal itu, kemudian juga keluar ruangan dan melangkah turun.
Anda Mungkin Juga Suka





