
Lima Kesempatan, Akhirnya Berpisah
Bab 6
"Kenapa nggak tidur di sana sebentar?" tanya Shinta.
Raka menjawab, "Itu kan bukan rumahku."
Raka melepas jaketnya, lalu menyerahkannya pada Shinta sambil berkata, "Lagi pula, aku sudah bilang, hari ini hari ulang tahunmu, aku harus menemanimu merayakannya."
Saat Shinta menerima jaket itu, aroma parfum yang kuat langsung menyerang indera penciumannya. Baunya sangat menusuk.
Tanpa berkata apa-apa, dia meletakkannya di atas sofa dan berusaha menjaga jarak dengan Raka.
"Oh ya, kamu bilang kapan jadwal pemeriksaan kehamilanmu?" tanya Raka.
Dia berjalan mendekat dan meletakkan tangan besarnya di perut Shinta.
"Sayang, apa kamu kangen papa? Kalau papa ikut mama ke pemeriksaan kehamilan kali ini, papa akan bisa melihatmu. Kamu berharap ketemu papa nggak?" ujar Raka.
Melihat ekspresi ceria Raka, hati Shinta terasa sangat dingin.
Anak? Anak yang sudah Raka bunuh dengan tangannya sendiri, bagaimana mungkin dia akan berharap bisa bertemu dengan Raka lagi?
"Senin depan, apa kamu ada waktu?" tanya Shinta.
"Ada, kali ini pasti ada," jawab Raka.
Dia kemudian berdiri dan memeluk Shinta dari belakang.
"Maafkan aku, Shinta. Aku akui belakangan ini aku memang mengabaikanmu, tapi sebenarnya itu karena kamu terlalu cemburuan. Aku dan Nadine nggak seperti yang kamu kira, kami hanya teman. Lagi pula, kemarin kamu marah di depan teman-temanku, itu juga nggak menghargaiku, 'kan?" ucap Raka.
Punggung Shinta menegang, dia memilih untuk tidak menjawab.
Raka sudah menikah selama tiga tahun, tetapi dia malah melamar Nadine di depan orang-orang. Apa itu bentuk penghargaan untuknya?
Raka merasa ada yang salah, jadi dia melanjutkan untuk menenangkan Shinta.
"Begini saja, hari ini ulang tahunmu. Bagaimana kalau aku akan ikut kamu kemana pun kamu mau?" tanya Raka.
Shinta tidak punya tempat spesial yang ingin dikunjungi. Namun, sebab dia tinggal di utara, dia belum pernah melihat laut.
Raka pernah berjanji akan membawanya ke Maldian untuk melihat laut.
Sudah bertahun-tahun, tetapi janji itu belum juga terwujud.
"Aku mau pergi ke Maldian, kamu pernah janji akan membawaku ke sana," ujar Shinta.
Raka mengerutkan kening dan berkata, "Itu terlalu jauh, perjalanannya akan memakan waktu lama. Bagaimana kalau kita pergi ke kota terdekat saja? Aku akan pesan hotel, Senin depan kita bisa langsung pulang."
"Aku cuma bercanda," ucap Shinta.
Shinta tersenyum. Dia hanya ingin menguji Raka dan ternyata, dia tetap tak rela melepaskan Nadine.
Untuk merayakan ulang tahun Shinta, Raka memesan sebuah restoran.
Shinta sebenarnya tidak ingin pergi, tetapi setelah berpikir bahwa ini mungkin kesempatan terakhir mereka makan bersama, dia pun menyetujuinya.
Sesampainya di restoran, Raka dengan perhatian mengeluarkan menu dan menyuruh Shinta untuk memilih hidangan.
"Mau makan apa? Pilih saja," kata Raka.
Raka berusaha terlihat perhatian. Namun, sebelum Shinta memutuskan, dia sudah mulai menyebutkan beberapa hidangan.
"Aku mau steik kambing, escargot, dan hati angsa. Oh iya, mau satu botol anggur merah juga," ucap Raka.
Shinta mengerutkan keningnya. Ketiga hidangan itu tidak ada yang dia suka.
Namun, dalam ingatannya, Raka juga tidak pernah makan daging kambing.
Sebelum Shinta sempat bertanya, sosok Nadine sudah muncul di hadapannya.
Dia menarik kursi dan duduk dengan cepat, lalu melepas masker wajahnya.
"Eh, Kak Shinta, selamat ulang tahun! Aku lagi syuting di dekat sini, tadi nggak sempat makan siang, Kak Raka takut aku kelaparan, makanya ngajak aku ikut ke sini. Kamu nggak keberatan, 'kan?" tanya Nadine.
Shinta hendak berkata sesuatu, tetapi sebelum dia sempat bicara, pelayan sudah membawa hidangan ke meja.
"Wah, semua makanan kesukaanku! Aku lapar banget, aku mulai makan, ya!" kata Nadine.
Dia langsung mengambil pisau dan garpu, kemudian menikmati makanan dengan gembira.
Raka memandangnya dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Tentu saja, semua makanan ini buat kamu. Aku pesan semua yang kamu suka. Makan pelan-pelan ya."
"Terima kasih, Kak Raka. Kamu benar-benar baik padaku! Aku sayang sekali sama kamu!" ucap Nadine.
Nadine tersenyum lebar pada Raka, lalu tiba-tiba sadar kalau kata-katanya kurang tepat dan buru-buru menoleh pada Shinta dan berkata, "Maaf, Kak Shinta. Aku terbiasa bilang 'sayang' ke penggemarku, jadi sudah kebiasaan. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
Anda Mungkin Juga Suka





