
Lima Kesempatan, Akhirnya Berpisah
Bab 3
"Di mana ayah dari anak ini? Biar aku telepon, supaya dia bisa jagain kamu," ucap dokter.
Shinta mengedip pelan, lalu berkata lemah, "Anak ini nggak punya ayah."
"Benarkah?" Dokter membuka kembali riwayat Shinta di rumah sakit, lalu berkata, "Di sini tertulis bahwa kamu sudah menikah, jadi kamu punya suami. Tapi selama pemeriksaan kehamilan, aku nggak pernah lihat dia datang. Sekarang kamu sampai keguguran, kenapa dia masih nggak datang juga?"
Shinta baru sadar bahwa selama ini dia selalu menjalani pemeriksaan sendiri.
Tiga bulan lalu, saat tahu dirinya hamil, Raka memang senang dan berkata ingin menemaninya USG pertama kali.
Namun, Nadine pulang hari itu.
Sejak Nadine kembali, hati Raka bukan milik Shinta lagi.
Setiap kali Shinta minta ditemani periksa, Raka selalu ada alasan.
Padahal Shinta tahu dia sudah diam-diam bertemu dengan Nadine berkali-kali. Shinta tidak ingin membesar-besarkan masalah demi anaknya.
Namun sekarang, anaknya sudah tiada. Dia tidak akan membiarkan dirinya tersakiti lagi.
Dia sudah memutuskan akan bercerai dengan Raka.
Setelah mengejarnya selama tujuh tahun, Shinta benar-benar lelah sekarang.
"Kalau nggak ada keluarga yang datang, kamu harus pergi bayar tagihan sendiri dulu ya," kata dokter.
Dokter memberi Shinta surat rawat inap, kemudian Shinta pun membuka selimut dan beranjak turun dari ranjang dengan tubuhnya yang lemah.
Belum jauh melangkah, Shinta langsung berpapasan dengan Raka dan Nadine.
Raka menggandeng Nadine dengan sangat hati-hati. Saat melihat Shinta, dia buru-buru melindungi Nadine di belakang tubuhnya.
"Kamu ngikutin kami sampai ke sini juga? Tangan Nadine sudah luka, kamu masih belum puas?" bentak Raka.
Melihat sikap waspada Raka, Shinta merasa hatinya sakit.
"Kak Raka, jangan bicara dengan Kak Shinta seperti itu. Aku yakin dia nggak sengaja, mungkin dia datang untuk minta maaf padaku," kata Nadine.
Nadine bersandar di tubuh Raka dan berkata, "Kak Shinta, aku nggak nyalahin kamu. Aku baik-baik saja."
"Kalau memang niatmu untuk minta maaf, pergi belikan makanan buat Nadine. Tangannya luka, dia harus rawat inap," ucap Raka.
Shinta menunduk melirik tangan Nadine. Hanya sedikit kemerahan saja harus rawat inap?
Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Anak dalam kandungannya sudah tiada, dia harus bagaimana?
Mata Shinta memerah, tetapi dia memaksa untuk tersenyum. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
Melihat ekspresi itu, Raka mengerutkan alis, nada bicaranya pun melunak.
"Kamu kenapa? Aku cuma suruh kamu minta maaf dan beli makanan untuk Nadine. Masa itu saja bikin kamu tersinggung?" ucap Raka.
"Nggak," jawab Shinta.
Shinta memaksa tersenyum dan berkata, "Aku nggak tersinggung."
Untuk apa merasa tersinggung? Anaknya sudah tiada, semua rasa sakit sudah tak berarti lagi.
"Sudah, kamu pulang dulu saja. Nanti kalau tangan Nadine sudah sembuh, aku akan pulang," ucap Raka.
Kalimat itu sangat familier. Shinta sudah mendengarnya berkali-kali, dia tidak akan percaya lagi.
Hari ketika Nadine baru pulang ke negara ini, Shinta harus ke rumah sakit untuk USG. Raka berkata bahwa dia ada urusan dan akan menyusul ke rumah sakit.
Shinta menunggu sepanjang hari di rumah sakit, tetapi Raka tidak pernah datang.
Di layar televisi rumah sakit, berita soal kepulangan Nadine ditayangkan. Di sana, Shinta melihat Raka membawa seikat mawar kuning di tengah kerumunan.
Cinta lamanya pulang, jadi dia pergi menjemputnya.
Hari ketiga setelah Nadine kembali, Shinta demam tinggi. Sebab mengandung, dia tidak bisa minum obat. Dia menahan semua rasa sakit itu sendirian di rumah, tetapi Raka malah menemani Nadine syuting drama.
Shinta sempat meneleponnya dan bilang kalau dia sakit. Raka hanya memintanya untuk tunggu dan berkata bahwa dia akan segera pulang.
Akan tetapi, sampai siang keesokan harinya, demam Shinta sudah turun, tubuhnya sudah tidak panas lagi, barulah Raka muncul.
Kejadian seperti itu terjadi banyak sekali, Shinta sudah tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas.
Setelah begitu banyak kekecewaan, dia dan Raka bertengkar hebat.
Waktu itu Raka berjanji dia tidak akan meninggalkan Shinta demi Nadine lagi.
Shinta juga berkata bahwa dia hanya akan memberinya lima kesempatan.
Ini adalah kelima kalinya.
"Nadine belum makan sama sekali. Kalau kamu nggak mau belikan, aku temani dia cari makan. Kamu pulang saja dulu," ucap Raka.
Ucapan Raka memotong pikiran Shinta.
"Baik," jawab Shinta.
Shinta menjawab singkat, lalu melangkah pergi.
Raka menatap kertas di tangan Shinta dan tercengang. Dia bertanya, "Surat apa yang kamu pegang?"
Anda Mungkin Juga Suka





