
Lima Kesempatan, Akhirnya Berpisah
Bab 4
"Bukan apa-apa," jawab Shinta.
Shinta memasukkan surat ke dalam kantongnya dan melanjutkan langkahnya.
Raka memanggilnya dari belakang, “Kamu harus periksa kehamilan beberapa hari lagi, 'kan? Setelah aku selesai mengurus Nadine, aku akan menemanimu ke rumah sakit."
Tubuh Shinta terpaku di tempat, air matanya tidak bisa ditahan lagi dan mengalir begitu saja.
"Kita bicarakan nanti saja," ucap Shinta.
Setelah berkata begitu, Shinta berbalik menatap Raka dan berkata, "Raka, lima kesempatanmu sudah habis."
"Apa?" seru Raka.
Raka mengerutkan kening dan bertanya, "Shinta, apa maksudmu? Itu cuma candaan, aku nggak anggap itu serius. Kamu juga jangan menganggapnya serius. Begitu tangan Nadine sembuh, aku akan kembali menemanimu dan anak kita."
Ada rasa bersalah di tatapan Raka, tetapi dia tetap memapah Nadine dan pergi.
Melihat kepergiannya, Shinta dalam hati berkata, "Raka, lima kesempatanmu sudah habis. Mulai sekarang, aku nggak akan memberimu kesempatan lagi untuk menyakitiku."
Setelah turun ke bawah, Shinta mengeluarkan ponselnya untuk membayar biaya.
Saat mengantri, tubuhnya terasa goyah dan dia hampir jatuh ke lantai.
Perawat yang melihat hal itu langsung mendekat dan menahan tubuhnya, lalu berkata, "Nona, wajahmu pucat sekali, kenapa kamu turun sendiri untuk bayar? Suamimu mana? Biar aku bantu saja."
"Terima kasih," ucap Shinta.
Hati Shinta yang dingin merasakan kehangatan.
Bahkan orang asing pun bisa melihat bahwa dia terlihat tidak sehat, tetapi Raka?
Matanya hanya tertuju pada Nadine, dia sama sekali tidak memperhatikannya.
Shinta dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Selama tiga hari itu, Raka tidak pernah meneleponnya sekali pun.
Dia menebak Raka mungkin bahkan tidak pulang ke rumah selama tiga hari itu.
"Shinta, aku datang untuk periksa apa kamu bisa keluar rumah sakit hari ini," ucap salah seorang dokter.
Sekelompok dokter datang memeriksa Shinta sambil mengobrol.
"Kalian dengar nggak? Nadine, selebriti besar itu, sedang dirawat di rumah sakit ini. Katanya tangannya kena luka bakar."
"Cuma luka kecil yang bahkan nggak perlu dirawat di rumah sakit. Hari ini dia baru keluar rumah sakit."
"Siapa pria tampan di sampingnya itu? Apa mungkin dia pacarnya?"
"Nggak tahu, tapi dia baik sekali sama Nadine dan sangat perhatian. Kalau aku punya pacar seperti itu, pasti senang sekali."
...
Shinta mendengar obrolan mereka dengan sangat jelas.
Ironis sekali. Padahal dialah istri Raka, tetapi selama tiga hari ini, Raka malah merawat wanita lain di rumah sakit yang sama.
"Nona Shinta, kamu sudah bisa keluar rumah sakit. Apa nggak ada yang datang menjemput?" tanya salah seorang dokter.
Dokter itu agak heran, selama ini dia tidak pernah melihat anggota keluarga Shinta yang datang. Shinta selalu mengurus semuanya sendiri, sungguh wanita malang.
"Nggak," jawab Shinta.
Shinta menjawab dengan putus asa. Setelah turun dari tempat tidur, dia mulai mengemas barang-barangnya.
"Nasib orang benar-benar berbeda," ucap dokter itu.
Dokter itu menggelengkan kepala dan pergi.
Setibanya di rumah, Raka sedang memasak bubur di dapur dengan mengenakan celemek.
Selama tiga tahun pernikahan, Raka tidak pernah memasak. Shinta pikir mungkin dia merasa bersalah.
Melihat Shinta kembali, Raka langsung bertanya, "Kenapa kamu baru pulang? Kamu sudah hamil hampir lima bulan, kenapa masih keluar kemana-mana? Memangnya nggak bisa di rumah saja?"
Shinta mengerutkan alis dan ingin membantah.
Padahal dia baru hamil kurang dari tiga bulan, Raka bahkan tidak tahu berapa usia kehamilannya.
Namun, itu sudah tidak masalah. Shinta merasa lelah dan tidak ingin menjawab, dia hanya ingin kembali ke kamar untuk tidur.
Tiba-tiba, sosok cantik berlari cepat turun dari tangga sambil berkata, "Kak Raka, buburnya sudah jadi belum? Aku lapar sekali."
Melihat Nadine di sini, pandangan Shinta menjadi dingin.
Bisa-bisanya Raka membawanya pulang ke rumah.
"Dasar manja, buburnya sudah hampir selesai. Ayo makan," ucap Raka.
Raka meletakkan bubur di atas meja, dia juga menyajikan semangkuk untuk Shinta.
"Ayo makan juga," ucap Raka ke Shinta.
Shinta berdiri di tempat tanpa bergerak, lalu bertanya, "Kenapa dia ada di sini?"
"Kak Shinta, rumahku sedang direnovasi, jadi aku nggak ada tempat tinggal dan terpaksa minta Kak Raka bawa aku pulang. Kamu nggak keberatan, 'kan?" ucap Nadine.
"Nggak usah peduli padanya. Ini rumahku, bukan rumahnya. Kamu nggak perlu minta izin darinya," ucap Raka.
Anda Mungkin Juga Suka





