
LANGIT SENJA DAN JANJI KITA
Bab 2
Hari-hari berikutnya, Luna dan Raka semakin sering bertemu untuk mengerjakan proyek mereka. Awalnya, semuanya terasa canggung, dengan jeda percakapan yang panjang dan sikap hati-hati di antara keduanya. Namun perlahan, seiring dengan semakin dalamnya mereka terlibat dalam tugas, suasana mulai mencair. Bukan hanya proyek yang membuat mereka bekerja sama, tetapi juga kenangan-kenangan lama yang kembali bermunculan, membawa mereka kembali ke masa kecil.
Suatu sore, ketika mereka sedang berada di perpustakaan sekolah, Luna secara tak sengaja menemukan sebuah buku tua yang dulu pernah mereka baca bersama. Buku itu usang, dengan sampul yang hampir terlepas, tetapi di balik semua kerusakan fisiknya, ada sesuatu yang spesial.
"Masih ingat ini?" Luna mengangkat buku itu ke arah Raka, senyumnya tipis, penuh arti.
Raka menatap buku itu sejenak, lalu sebuah senyuman kecil muncul di sudut bibirnya. "Buku dongeng. Kita dulu sering baca ini di taman," ujarnya pelan, seolah mencoba mengingat detail-detail masa lalu.
"Ya, setiap sore. Kamu selalu bilang pengen jadi pahlawan yang menyelamatkan dunia," Luna tertawa kecil, mengenang saat-saat itu.
Raka menunduk sedikit, mungkin malu dengan impian kekanakannya dulu. "Iya, aku inget. Tapi kamu selalu jadi yang lebih berani. Kamu malah pengen jadi penjelajah, katanya pengen keliling dunia."
Luna tersenyum, mengangguk. "Waktu itu dunia kita cuma taman kecil itu, dan senja yang kita lihat setiap sore." Ia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, "Aku masih ingat, kita sering buat janji di bawah langit senja."
Raka menatap Luna, matanya berubah lembut. "Janji kalau kita nggak akan pernah terpisah, apapun yang terjadi," gumam Raka. Seolah kata-kata itu mengembalikan semua kenangan yang dulu terkubur di dalam hati mereka.
Ingatan tentang janji itu kembali menghantui Luna. Mereka berdua, berbaring di rumput taman saat matahari terbenam, menatap langit jingga yang memudar, berjanji bahwa persahabatan mereka akan abadi, tak peduli seberapa besar dunia di luar sana. Tapi dunia mereka yang kecil ternyata tak sekuat janji yang mereka buat. Waktu dan kehidupan perlahan menarik mereka ke arah yang berbeda, hingga akhirnya janji itu terasa seperti angin-menguap begitu saja.
"Kita dulu terlalu percaya diri," kata Luna tiba-tiba, suaranya lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Raka mengangguk, matanya menerawang, penuh dengan pikiran yang tidak terucap. "Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah itu, kenapa kita bisa sejauh ini..."
"Aku juga nggak ngerti," potong Luna, menatap buku di tangannya. "Tapi aku tahu satu hal-aku kangen masa-masa itu."
Keduanya terdiam lagi. Suasana di antara mereka perlahan berubah, tidak lagi dipenuhi kecanggungan seperti di awal, tapi lebih pada rasa melankolis. Mereka kini bukan hanya dua siswa yang bekerja sama dalam proyek sekolah, melainkan dua orang yang sedang menggali masa lalu mereka, mencoba memahami apa yang hilang di tengah perjalanan waktu.
Proyek sekolah menjadi alasan mereka untuk bertemu, namun kenangan yang tak terbantahkan mulai membawa mereka lebih dalam. Setiap kali mereka bersama, ada potongan kecil dari masa lalu yang kembali, seakan mendorong mereka untuk mengingat siapa mereka sebenarnya-bukan sebagai dua orang asing yang terpisah oleh waktu, melainkan dua sahabat yang dulu tak terpisahkan.
Ketika mereka sedang bekerja di kelas, suasana sore hari yang tenang kembali membangkitkan ingatan Luna. Ia menatap Raka yang sedang serius mencatat sesuatu di buku catatannya, dan tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
"Kamu masih suka sama senja?" Luna bertanya tiba-tiba, suaranya hampir tenggelam dalam suara angin yang masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Raka mengangkat pandangannya. "Masih," jawabnya singkat, lalu berhenti sejenak. "Kamu juga?"
"Selalu," jawab Luna sambil tersenyum. "Aku sering nungguin senja dari jendela kamarku, meskipun sekarang jarang bisa lihat dengan jelas."
Raka menatapnya lebih dalam kali ini. "Aku juga sering lihat senja, tapi nggak pernah terasa sama lagi. Sejak kita nggak pernah bareng lagi."
Ucapan Raka itu membuat hati Luna berdebar. Ada kejujuran yang sederhana di balik kalimat itu, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa bukan hanya dirinya yang merindukan masa lalu. Mungkin, Raka juga merasakan hal yang sama-rindu akan persahabatan mereka, rindu akan janji yang dulu pernah mereka buat.
Hari semakin larut, dan mereka berdua memutuskan untuk berhenti bekerja. Saat keluar dari ruangan, langit sudah berubah warna menjadi jingga, senja mulai menampakkan diri. Tanpa sadar, mereka berdua berhenti, menatap langit yang perlahan berubah warna.
"Langit senja ini... selalu ngingetin aku sama kamu," kata Raka tiba-tiba, suaranya lirih tapi terdengar jelas oleh Luna.
Luna menatap Raka, terkejut dengan keterusterangannya. Tapi di saat yang sama, ia merasa lega. Karena di balik segala kebisuan mereka selama bertahun-tahun, ada rasa yang masih tersisa-rasa yang tak pernah hilang.
Dan di bawah langit senja yang sama, Luna merasa bahwa janji-janji yang dulu mereka buat mungkin belum sepenuhnya hilang. Mungkin, ini adalah kesempatan untuk menepati janji itu, meski kehidupan telah membawa mereka pada arah yang berbeda.
Raka dan Luna berdiri di bawah langit senja yang semakin memudar. Keheningan di antara mereka terasa begitu padat, seolah-olah dipenuhi oleh kata-kata yang belum terucap. Angin sore menyapa lembut wajah mereka, membawa kenangan lama yang semakin jelas.
"Kamu masih ingat janji itu?" tanya Luna tiba-tiba, memecah keheningan. Ia memandang Raka dengan tatapan yang sarat emosi. Ada keraguan, ada harapan, dan di balik semua itu, ada rasa takut akan jawaban yang mungkin tidak seperti yang ia harapkan.
Raka mengalihkan pandangannya dari langit ke arah Luna. Untuk beberapa detik, ia hanya menatapnya, seolah mencari jawaban di dalam dirinya. Lalu, ia mengangguk perlahan.
"Aku ingat," jawab Raka dengan suara rendah. "Kita berjanji untuk selalu bersama. Nggak peduli apa yang terjadi."
Luna menahan napas mendengar jawaban itu. Ada kelegaan yang merayap di dadanya, namun juga sedikit kepedihan. "Tapi kita nggak menepati janji itu, kan?" Ia tertawa kecil, tetapi tawanya lebih terdengar seperti usaha untuk menutupi perasaan sakit yang perlahan muncul di dalam dirinya.
Raka menunduk, merasa berat untuk menjawab. "Iya, kita nggak menepati janji itu. Aku... aku nggak tahu kenapa aku menjauh waktu itu, Luna. Mungkin aku takut. Takut kalau persahabatan kita akan berubah seiring bertambahnya usia kita. Dan ternyata... perasaan takut itu malah membuat kita benar-benar terpisah."
Luna terdiam, merasakan setiap kata Raka seolah menyentuh bagian terdalam hatinya. Ia juga tahu, rasa takut itu bukan hanya milik Raka. Ia sendiri merasakan hal yang sama-takut jika kedekatan mereka akan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.
"Tapi kenapa kamu nggak pernah ngomong apa-apa? Kenapa kamu pergi begitu aja?" tanya Luna, suaranya kini dipenuhi oleh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
Raka menatapnya, kali ini dengan ekspresi penuh penyesalan. "Aku nggak tahu gimana harus mengatakannya, Luna. Waktu itu aku masih kecil, dan aku nggak ngerti apa yang aku rasain. Semuanya terlalu membingungkan."
Luna menghela napas panjang. Ia ingin marah, ingin mengungkapkan rasa sakit yang telah ia simpan selama ini. Tapi saat melihat Raka sekarang-dengan semua rasa bersalah dan kebingungannya-ia tidak bisa melakukannya. Sebagian dari dirinya memahami apa yang Raka rasakan. Mereka berdua masih terlalu muda saat itu, dan perasaan-perasaan yang mereka miliki mungkin terlalu besar untuk bisa dimengerti.
"Aku juga nggak ngerti waktu itu, Raka," kata Luna akhirnya, suaranya lebih lembut. "Aku nggak tahu kenapa semuanya berubah. Tapi yang aku tahu, aku kangen sama sahabatku. Aku kangen sama kamu."
Raka menatap Luna dengan mata yang penuh penyesalan dan rasa bersyukur. "Aku juga kangen sama kamu, Luna. Lebih dari yang kamu tahu."
Mereka berdua kembali terdiam, membiarkan keheningan di antara mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang bisa mereka ucapkan. Langit senja perlahan mulai gelap, tapi di hati mereka, ada secercah harapan yang mulai muncul kembali.
"Apa menurutmu kita bisa mulai lagi?" tanya Luna dengan hati-hati, seolah-olah ia takut jika jawaban Raka akan menghancurkan harapannya.
Raka mengangguk pelan. "Aku harap begitu, Luna. Aku harap kita bisa mulai lagi, pelan-pelan."
Luna tersenyum kecil, merasa bahwa ini adalah awal yang baru bagi mereka. Meski mereka belum tahu ke mana pertemuan ini akan membawa mereka, setidaknya mereka tahu bahwa mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan mungkin, di bawah langit senja yang sama, janji-janji lama itu masih bisa mereka tepati, meskipun waktu telah berubah.
"Kita bisa mulai dengan proyek sekolah ini dulu," ujar Raka, berusaha mencairkan suasana yang sedikit berat.
Luna tertawa kecil. "Iya, kita mulai dari situ."
Mereka berdua tertawa pelan, menyadari bahwa meski perjalanan mereka mungkin masih panjang dan penuh tantangan, mereka siap untuk melaluinya bersama-sama. Setidaknya kali ini, mereka tidak lagi berjalan sendirian.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Luna merasa bahwa persahabatan mereka belum benar-benar hilang. Senja mungkin telah berganti malam, tapi janji di bawah langit itu masih hidup dalam hati mereka-siap untuk dihidupkan kembali.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





