Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Benara terjebak dalam situasi rumit setelah menjadikan Laras sebagai kekasih palsu demi ayahnya. Ia tak menyangka bahwa wanita itu ternyata sudah bersuami. Namun, setelah menyaksikan perlakuan buruk sang suami terhadap Laras, niat Benara berubah. Alih-alih menjauh, ia justru memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendekati Laras secara ugal-ugalan. Benara bertekad mengejar cinta Laras meski status pernikahan wanita itu menjadi penghalang besar bagi mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Seperti apa yang sudah di agendakan, Laras sudah duduk di ruang pertemuan yang biasa digunakan anak desain untuk presentasi hasil. Perempuan bermata bulat dengan garis rahang yang sedikit berisi itu, bergidik ngeri akan atmosfer ruangan ini. Entah kenapa, Laras merasa akan ada serangan dari seorang monster yang mirip melawan bos terakhir di game tebak kata.

Baru Laras yang mengisi posisi. Beberapa menit kemudian, muncul profil Nia, juga Leli dan ... Reza. Sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan, Laras bisa melihat keakraban yang tercipta antara Nia dan suaminya. Dari yang terlihat cara Nia bercengkerama sambil memukul dada sang suami, mungkin sudah bukan hal baru lagi. Apa Reza sudah lama mengenal Nia?

"Eh, Ras, udah di sini aja. Kirain masih di meja," ujar Leli seraya menarik kursi lalu duduk di dekatnya.

"Segan, Lel, kalau lama-lama masuk. Maklum, kan, masih anak baru. Takutnya di komplain lagi," sahut Laras, meringis.

"Kalau kita-kita aja sih itu masih bisa ditolerir, Ras. Tapi kalau untuk bos, ya itu kamu tanggung sendiri. Kita nggak bisa bantu kalau udah menyangkut atasan," celetuk Nia, ikut membahas hal yang mampu di terima telinganya.

Laras segera mendongak dengan senyum yang dipaksa terbit. Dari potret Nia mata Laras bergeser sedikit guna menatap pahatan wajah sang suami yang terlihat datar. Reza memang paling lihai untuk menyembunyikan ekspresi. Lihat saja saat ini, wajahnya benar-benar meyakinkan kalau dia tidak mengenali Laras, istrinya.

"Biarin aja, sih. Di kritik sama bos itu hal wajar. Kalau nggak ada kritik serta nasehat, mana bisa orang itu berkembang. Yang ada dia malah bertahan di posisinya karena merasa udah paling bener," timpa Reza, ikut memberikan tanggapan.

"Benar tuh, Pak. Kita memang nggak boleh melulu sakit hati sama kritikan. Karena dari sebuah kesalahan kita bisa belajar lebih baik. Ya, 'kan, Pak?" sahut Leli.

Reza hanya mengangguk singkat dengan senyum kecil yang memang acap kali melingkari wajahnya. Hal yang membuat seorang Reza menjadi sosok yang memesona. Di balik ketampanan yang berpijar, orang-orang juga kagum akan kata-kata Reza yang terkadang memotivasi juga membuat meleleh setiap saat.

Laras mendecih dalam hati. Memaki habis-habisan laki-laki yang di pandangan baik oleh semua orang itu. Ternyata benar apa kata pepatah 'jangan menilai buku dari sampulnya'.

Setelah beberapa menit menunggu, yang di tunggu-tunggu pun akhirnya muncul. Begitu pintu yang terbuat dari kaca tebal itu terbuka dan memaparkan sosok jangkung dengan wajah datar, buru-buru semua orang bangun dari duduk untuk menyambut kedatangan sang atasan.

"Selamat siang, Semuanya. Silakan duduk," kata pria itu sambil duduk.

Semua orang menurut. Berbanding terbalik mungkin dengan orang-orang lama yang ada di hadapan Benara, Laras justru dibuat semakin gugup hingga dadanya terasa bergemuruh.

"Apa ada yang baru?" tanya Benara, sambil melihat-lihat hasil desain yang Laras buat di layar tab miliknya.

"Iya, Pak. Hari ini kita kedatangan orang baru yang menggantikan Pak Wendi untuk presentasi. Sesuai jadwal untuk mengeluarkan produk terbaru kita, Laras sudah siap untuk membagikan beberapa hasil desainnya untuk ide kali ini," sahut Nia, cepat.

Benara lantas saja melirik anggota baru yang memang belum pernah dia lihat sebelumnya. Mata Benara itu sangat sulit untuk ditebak apa isinya. Itu kenapa Laras dibuat merasa terintimidasi akan tatapan dingin itu. Berulang kali dia menaik-turunkan matanya yang tidak kuat menangkap tatapan Benara.

"Kamu yang akan menggantikan Wendi hari ini?" tanya Benara.

"Benar, Pak," jawab Laras tanpa jeda.

"Baiklah. Kalau begitu langsung saja mulai." Benara melihat-lihat lagi gambar yang ada di depannya. "Mulai dari desain untuk lipstick ini. Sepertinya ini menarik," lanjutnya dan langsung menatap kembali ke arah Laras yang sudah berdiri.

**

"Mana si Laras, Bang? Kok nggak keliatan batang idungnya?"

"Biasalah Tuan Putri. Paling lagi tiduran sambil main hp. Kan udah biasa kita di jadiin babu sama dia," celetuk Rahma, ibu Reza.

Reza hanya diam saja saat adik juga ibunya mulai mencibir lagi tentang Laras. Sudah bosan telinganya harus mendengar ocehan-ocehan seperti saat ini. Apalagi kalau si Duta Besar penarik cibiran itu menampilkan wajah. Bisa-bisa habis sudah kesabaran Reza dan ingin sekali membuang cepat Laras dari kehidupannya.

"Bang, kok di biarin aja sih istri kamu itu? Sesekali ajarin napa. Biar nggak kebiasaan. Masa nyiapin makan malam aja dia nggak bisa. Nggak becus amat jadi perempuan," cibir Aya lagi, adik perempuan Reza satu-satunya.

Reza langsung kehilangan selera makannya. Dua alat makan di tangannya langsung mendarat di atas piring, sedikit dicampakkan.

"Aku sebenarnya udah muak sama dia. Gimana bagusnya, Bu? Kita antar dia pulang, balik sama orangtuanya?" tanya Reza, meminta solusi.

Rahma mulai menimbang-nimbang terlihat cara dia mengaduk-aduk makanan tanpa dilahap. Ada yang sedang direncanakan oleh Rahma dalam kepalanya.

"Nggak usah buru-buru dulu, Reza. Laras nggak sepenuhnya buruk kok. Masih ada satu hal yang bisa kita dapatkan darinya yang buat kita untung," jawab Rahma sambil menatap Reza.

"Apa?" Reza dan Aya sama-sama penasaran.

"Dia baru aja kerja, 'kan? Biarin aja dia kerja buat bayar semua uang yang udah kamu kasih ke dia. Dia juga masih berguna buat beres-beres di rumah. Itung-itung hemat buat bayar orang. Tunda aja sampe semuanya udah membaik," jelas Rahma tanpa rasa bersalah.

Aya manggut-manggut sambil mengunyah makanannya, sementara Reza mulai ikut berpikir demikian. Ya, benar apa kata ibunya, Laras bisa menguntungkan untuk bagian yang dikatakan sang ibu.

Tanpa ketiga orang itu sadari, sosok yang jadi bahan pembicaraan sudah berdiri sejak tadi tak jauh dari meja makan. Semua kata-kata yang terlontar dari suami, ibu mertua, juga adik iparnya, sungguh mampu menusuk hati Laras hingga hancur.

Laras mulai gemetar, hampir menangis. Dia menelan pahit kenyataan yang hadir. Sebenarnya Laras masih bingung, kenapa laki-laki yang dia anggap suami begitu tidak menyukainya. Bahkan setelah pernikahan berlangsung, Laras masih dibuat bertanya-tanya tentang ketidaksukaan itu. Apa kesalahan yang Laras perbuat sebenarnya?

Lama memerhatikan orang-orang di meja makan sana, ponsel Laras bergetar menandakan pesan masuk membuatnya tersentak. Segera perempuan itu membuang napas sambil memeriksa siapa yang mengiriminya pesan singkat.

[Maaf menggangu malam-malam. Tapi ini penting. Ada calon investor dari luar negeri yang kebetulan datang ke Indonesia dan mereka nggak sengaja melirik brand chielie yang baru di posting di media sosial perusahaan. Kamu yang paling paham tentang inovasi baru itu. Tolong datang ke tempat ini sekarang. Kalau nggak, biar saya jemput, kita berangkat sama-sama.]

Laras lantas saja membulatkan bola mata saat membaca pesan terakhir dari Benara, bosnya.

Buru-buru Laras membalas, mengatakan kalau dia akan datang sendiri ke tempat yang di tuju. Bisa menjadi masalah baru kalau bosnya itu tahu kalau dia dan Reza satu rumah. Juga semua orang tahunya Reza itu belum menikah pun sama dengannya. Lebih baik menghindari untuk saat ini. Meski Laras saat ini sudah mulai ambil ancang-ancang untuk meninggalkan Reza.

Setelah mengirimi pesan balasan pada Benara, Laras lantas berjalan menghampiri suaminya di meja makan.

"Duh, si tuan putri udah bangun? Mau apa? Mau disiapin makanan atau minum? Bilang aja," ujar Aya yang pertama melihat kedatangan Laras. Yang bersangkutan hanya diam menahan  kekesalan.

Reza melirik kedatang Laras pun dengan Rahma yang ikut membuat mimik wajah yang sinis.

"Mas, aku mau pergi keluar sebentar. Aku ma–”

"Pergi aja. Ngapain juga bilang-bilang. Nggak penting juga," potong Reza, ketus. Makin jengkel rasanya hati Laras saat Reza langsung melenggang pergi begitu saja.

"Sebelum pergi beresin dulu ini. Itu hukuman kamu yang nggak becus jadi menantu," timpa Rahma yang juga ikut melengos pergi.

Aya ikut-ikutan tak menghargainya. Gadis usia 18 tahun itu mengeluarkan sisa makanan di mulutnya dengan cara meludah di atas piring. Aksinya itu membuat kening Laras berkerut, merasa kalau perbuatan Aya tadi tidak pantas.

"Aya, kamu kenapa lepehin di atas piring? Nggak sopan, Aya!" tegur Laras.

"Nggak peduli!" singkat Aya, lalu bergegas pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.

Tersisa Laras yang mengepal tangan, menahan amarah yang membuncah. Dada Laras benar-benar rasa dibakar mendapati semua perlakuan buruk orang-orang yang dia anggap keluarga.

Benar-benar miris!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Meninggalkan Suaminya Setelah Dia Menemukan Rahasianya
8.6
Lima tahun menikah, Tobias Stevens jatuh miskin dan terlilit utang. Di tengah kesulitan, Dorothy bekerja keras demi menghidupi Margaret, putri mereka. Suatu hari, Dorothy membawa Margaret ke taman bermain impian dari hasil tabungannya. Namun, mereka terkejut melihat Tobias di sana bersama cinta pertamanya, Liza Briggs, dan anaknya. Ternyata, Tobias telah menyewa seluruh tempat itu secara pribadi, sementara istri dan anaknya sendiri justru diusir oleh petugas.
Sampul Novel Biarkan Aku Pergi, Suami CEO-ku yang Sombong
9.1
Menikah demi menyelamatkan bisnis keluarga, Averie memberikan segalanya untuk Brayden meski sang suami mencintai wanita lain. Saat Brayden meraih puncak kejayaan di Grup Fowler, Averie justru kehilangan bayinya dan nyaris tewas di lautan. Trauma mendalam membuatnya menuntut cerai demi memulai lembaran baru. Namun, Brayden yang kini didera penyesalan justru menolak melepaskannya. Ia bersikeras bahwa takdir telah mengikat mereka untuk tetap bersama selamanya.
Sampul Novel Dendam Istri Muda
8.7
Sepuluh tahun pernikahan Lita dan Khalid hancur seketika saat buah hati mereka meninggal di tangan Jenni, pengasuh yang pernah Lita tolong. Jenni memanfaatkan situasi ini untuk merayu Khalid dan menjadi istri kedua demi menuntaskan dendam lama yang ia simpan. Di tengah duka mendalam dan kehancuran rumah tangga, Lita kini harus menghadapi musuh licik dalam rumahnya sendiri. Akankah hubungan Lita dan Khalid bertahan menghadapi pengkhianatan dan kebencian ini?
Sampul Novel GADIS AMNESIA MILIK SANG PEWARIS
8.2
Pasca kecelakaan tragis, Safira menderita amnesia dan migrain hebat tiap kali mencoba mengingat masa lalu. Demi menyokong ekonomi ibunya, ia merantau ke kota, namun nahas seluruh hartanya raib dicopet. Di tengah kemalangan, muncul Dexter Jackson yang menolongnya dengan penuh perhatian. Meski Dexter mengaku hanya teman lama, Safira merasa ada ikatan yang jauh lebih dalam di antara mereka. Apa rahasia yang sebenarnya disembunyikan pria yang ia panggil Mas tersebut?
Sampul Novel Hati Tak Terucap: Istri yang Bisu dan Terabaikan
9.4
Lima tahun Kelly menderita sebagai istri bisu yang diabaikan suami dan disiksa mertuanya. Setelah resmi bercerai, ia mendapati mantan suaminya segera bertunangan dengan wanita idaman lain. Dalam kondisi hamil, Kelly memilih pergi dan menganggap pria itu asing. Saat sang mantan memohon untuk kembali, Kelly yang telah bahagia dengan hidup barunya memberikan penolakan keras. Ia tidak lagi memberi ruang bagi pria yang dulu membuangnya demi cinta yang lain.
Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Pasca memergoki perselingkuhan sang suami, seorang wanita menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Alih-alih menyerah, ia menyusun rencana balas dendam yang kejam demi memberikan rasa sakit yang setimpal kepada para pengkhianat. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria misterius masuk ke hidupnya secara tiba-tiba. Siapa sangka, sosok tersebut adalah psikopat berdarah dingin yang terobsesi dan jatuh cinta padanya. Akankah ini membantu atau menghancurkan tujuannya?