Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KURIR CINTA

KURIR CINTA

Aryo, mahasiswa playboy, berambisi menaklukkan hati Dona dengan bantuan Ode dan Dido melalui misi Kurir Cinta. Meski nilai kuliah mereka anjlok, Aryo berhasil menikahi Dona setelah meyakinkan keluarga. Namun, pernikahan muda tersebut justru diambang perceraian akibat pertengkaran hebat. Orang tua mereka menentang keras perpisahan ini. Kini, Ode dan Dido berjuang menyelamatkan rumah tangga sahabatnya agar usaha mereka dahulu tidak sia-sia. Akankah persahabatan mereka tetap utuh?
Bab
Bagikan

Bab 2

Keputusan telah diambil oleh Dido dan Ode. Mereka akhirnya berhenti bernyanyi, tidak diteruskan lagi dan pergi meninggalkan warung kaki lima, terutama meninggalkan bapak tua beruban yang tidak memiliki rasa hormat sedikitpun kepada seniman jalanan.

"Kelewatan tuh bapak tua, masa kita diadu dengan suara burung beonya?” gerutu Dido masih kesal dan tidak terima. Ia tidak menduga kenapa bisa bertemu dengan orang yang sama sekali tidak punya rasa menghargai atas sebuah karya seni, walau mungkin karya seni tersebut biasa saja atau bahkan tidak enak didengar.

"Kalau dia tadi ndak suka suaraku, nyanyianku, lebih baik dia tutup telinga saja, daripada bandingkan dengan burung beonya. Sakit hatiku!" keluh Dido masih kesal.

"Ya lebih bagus dia bilang gitu Do, daripada tutup telinga, malah lebih menyakitkan lagi," sahut Ode masih coba tenangkan Dido sekaligus menghibur dirinya. Bagaimana pun, ia juga merasakan kesal dan malu atas sikap bapak tua tersebut.

Di awal mula mengamen justru mendapatkan hal tidak menyenangkan. Tapi akhirnya Ode sadari dan anggap sebagai hal biasa untuk menguji mental. Malam itu mereka mengalah dan berusaha tidak ambil hati atas perlakuan tidak menyenangkan.

Malam ini, sudah kesekian puluh kalinya mereka mengamen. Justru peristiwa pertama mengamen dan dapat insiden tidak mengenakan membuat mental mereka kuat dan tahan banting. Tidak ada lagi rasa malu sedikitpun.

Sekitar dua puluh meter Ode dan Dido melangkah, tibalah di sebuah perempatan lampu merah. Beberapa kendaraan sedang berhenti, mobil dan motor masih ramai menunggu antrian untuk lampu hijau.

Hilir mudik kendaraan dari arah lain yang mendapat giliran untuk jalan tidak luput dari pandangan Ode. Lalu lintas malam ini sangat ramai. Tidak heran, untuk kota sebesar Surabaya, pemandangan ramai seperti malam ini menjadi hal yang biasa.

Ketika sedang asyik memperhatikan keramaian kendaraan, tiba-tiba samar terdengar suara orang, tidak jauh dari tempat Ode dan Dido berdiri.

Ode menoleh ke arah datangnya suara. Tampaklah seseorang yang dari cara penampilan dan dandanannya terlihat berbeda. Dido juga sempat menoleh dan memperhatikan orang itu.

"Permisi kakaaa ...” ucapnya dengan nada lembut pada seorang supir mobil pribadi yang kacanya terbuka. Bapak supir itu cuma menoleh sejenak, cuek.

Tetapi, pria yang mencoba menunjukkan gerak geriknya seperti gerakan gemulai wanita, tanpa malu langsung beraksi. Ia membunyikan alat musik gemericik kumpulan penutup botol, berusaha melakukan improviasi nada pembuka disertai goyangan badan sedikit meliuk-liuk.

"Anggur meraaahh ...” mulai terdengar suaranya yang berusaha dilembutkan meskipun tetap terdengar bass. Satu kalimat lirik lagu dari salah satu lagu dangdut telah mulai ia nyanyikan.

Baru dua kata yang ia ucapkan, tiba-tiba ...

"Eeeeehh ... sudah hijaaauu,” lanjutnya lagi sambil menahan tawa, geli sendiri. Gerak gemulai dan suaranya terhenti. Pria itu tidak lagi membunyikan gemerincingnya karena baru menyadari kalau lampu merah telah berganti jadi lampu hijau.

Bapak Sopir itu tertawa, tapi ia mulai bersiap memajukan mobil yang dikemudinya, untuk bergerak bersama kendaraan lain. Sedangkan waria itu tidak lagi melanjutkan nyanyiannya.

"Kakaaa ... duitnya mana? Kan udah nyanyi,” jelasnya percaya diri, berusaha merayu sambil menyodorkan telapak tangannya.

"Ndak ada duit kecil,” sahut Bapak sopir sekenanya.

"Duit besar juga boleh, ada kembaliannya kok,” jawabnya, agak genit. Tapi bapak Sopir itu terus cuek dan kendaraannya mulai melaju.

Dido yang sebelumnya terlihat sangat mengantuk, tiba-tiba seperti orang kesetanan. Tanpa angin tanpa hujan, ia langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan ia tertawa hingga matanya sempat terpejam, tidak kuasa menahan tawa setelah mendengar sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan pria itu. Termasuk juga tertawa karena melihat pria yang berdandan menor itu ngotot meminta duit dengan menyediakan uang kembalian.

Sebenarnya Ode juga ingin tertawa, tapi agak ditahan dan perutnya jadi sedikit tegang. Ode heran karena baru kali ini ia melihat ada waria di lampu merah tempat mereka berada. Pada malam-malam sebelumnya mereka tidak pernah menemukan.

"Mungkin dia nyasar, bukan hanya kesasar arah jalan, tapi juga kesasar arah pendirian jati dirinya,” pikir Ode.

"Wooii!” terdengar suara teriakan lelaki dengan lantang.

Keduanya terkejut. Tawa Dido tiba-tiba terhenti karena baru menyadari sesuatu. Ternyata pria yang menirukan gaya wanita tersebut marah dan merasa tersinggung oleh tawa keras Dido. Suaranya yang tadi terdengar lembut, berubah jadi garang. Tidak ada lagi suara lembutnya.

"Siapa yang kalian tertawakan?! Kenapa ngamen di lampu merah ini?! Ini kan wilayahku!” teriaknya dengan lantang melawan deru hilir mudik kendaraan, tegas, dan berkacak pinggang. Wajahnya berubah jadi sangar, menunjukkan amarah. Ia merasa tidak terima dan bergegas menghampiri Ode dan Dido yang jaraknya cuma sekitar sebelas meter darinya.

Ode melihat tanpa berkedip pada waria yang hampir sama tinggi dengannya, seketika rasa gugup menghampiri. Ingin rasanya Ode menjelaskan bahwa mereka berdua tidak mengamen di wilayah tersebut, tapi niat itu diurungkannya.

"Doo? Didoo … gimana nih, Do,” pinta Ode pelan, mulai panik dan matanya tetap serius melihat gugup pada waria yang mulai mendekat.

Tapi apa yang terjadi ...

Dalam kondisi panik dan gugup, Dido sama sekali tidak menjawab. Ode penasaran dan ia palingkan wajah sejenak untuk melihat reaksi Dido yang berdiri di sampingnya.

Astaga, Ode sangat terkejut. Matanya semakin terbelalak melihat apa yang terjadi pada Dido.

Di sana, sekitar sepuluh meter, Ode melihat Dido telah lari lebih dulu, terbirit-birit seperti orang kebelet pipis dikejar hantu. Dido seperti sudah tidak peduli lagi pada Ode karena yang ada di benaknya hanyalah pikiran untuk lari sejauh mungkin. Rasa kantuk yang tadi menderanya, musnah seketika.

"Didooooo! Tungguuuu!” teriak Ode semakin panik dan bergegas ikut lari, menyusuri trotoar, memburu Dido. Sedangkan sang waria, tidak juga mengalah. Ia semakin emosi dan penasaran mengejar Ode dan Dido.

Malam ini, seperti adegan drama ibukota di saat petugas dinas sosial melakukan razia penertiban. Kejar-mengejar terjadi. Ode mengejar Dido yang lari ketakutan, sedangkan Waria juga mengejar Ode dan Dido dengan penuh semangat. Tetapi waria juga tampak dipenuhi rasa takut dan was-was jangan sampai juga ia sedang dikejar petugas trantib satpol PP.

Seorang gadis yang sempat mereka lalui terkejut melihat Ode dan Dido berlari ketakutan. Bukannya menghindar, gadis itu justru tetap diam berdiri di tepi trotoar dan seperti jadi sangat tertarik menyaksikan. Seolah-olah ingin memberi semangat laksana para cheerleaders yang memberi semangat para pemain basket. Memberi semangat idola pujaan mereka sambil teriak histeris: “Ayo sayang... lari yang cepat...”

Dido sempat terpana melihat gadis cantik yang ikut menyaksikan kejar-kejaran. Larinya melambat, nalurinya seperti ingin mengajak kenalan gadis itu.

"Wooooiii! Ojo mlayu. Awas yoo! Nakal deh!” terdengar lagi suara teriakan tapi bernada gemas dari mulut waria tadi, ia masih tetap mengejar Ode dan Dido.

Keadaan semakin genting. Dada Ode dan Dido berdebar makin cepat. Pikiran Ode dan Dido dihantui ketakutan jika tertangkap akan seperti apa nanti nasib mereka. Jarak antara mereka juga makin dekat. Waria itu tidak menyerah dan terus berlari cepat laksana singa yang menerjam mangsanya.

"Bahaya! Kalau begini bisa ketangkap," batin Ode semakin dihantui rasa takut dan tanda tanya apakah akan berhasil lolos atau malah tertangkap.

۞ ۞ ۞

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada seorang istri pun di dunia ini yang rela berbagi cinta, termasuk aku. Situasi kian menyakitkan karena sosok madu tersebut adalah perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, camkan ini baik-baik: hingga embusan napas terakhirku, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan mempertahankan rumah tanggaku dan memastikan kau takkan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel ALASKA
8.4
Bhalendra Alaska Arlic percaya bahwa perubahan sejati lahir dari kemauan diri sendiri tanpa paksaan. Meski terus dihantam luka, Alaska tetap berjuang bangkit walau hatinya remuk. Hubungannya dengan Yesaya justru meninggalkan trauma mendalam daripada kebahagiaan. Di tengah skeptisisme Azka tentang cinta yang dianggap omong kosong, Alaska terjebak dalam rasa sakit masa lalu. Mampukah kehadiran sosok baru meruntuhkan dinding hatinya dan menyembuhkan luka lama?
Sampul Novel Baby Twins Billionaire
7.9
Masa depan Freya Amalia hancur dalam semalam akibat perbuatan pria asing. Kegetiran hidupnya bertambah saat ia menyadari dirinya mengandung bayi kembar dari tragedi tersebut. Di sisi lain, Vero Brance Harison dihantui rasa bersalah yang mendalam atas dosa masa lalunya. Ia bertekad menemukan wanita yang telah disakitinya untuk dijadikan istri. Saat takdir mempertemukan mereka, mampukah Vero menebus kesalahannya dan dapatkah Freya memaafkan ayah dari anak-anaknya?
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci seharusnya menyatukan dua klan besar Jakarta, namun pengkhianatannya menghancurkan segalanya. Di sebuah klub, aku menyaksikan Marco memeluk Angelia, gadis yatim yang dianggap adik, dengan penuh gairah. Sadar hanya menjadi alat kekuasaan sementara hati Marco milik wanita lain, aku memilih melawan. Aku membatalkan pertunangan kami dan memutuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami, demi aliansi baru yang tak terduga.
Sampul Novel I Win You
8.3
Vanilla terus menggoda Nick dengan tindakan provokatif yang memicu ketegangan intens di antara mereka. Meski Nick telah memperingatkan risiko dari permainan berbahaya ini, Vanilla justru semakin berani dalam memancing hasrat pria itu. Di tengah suasana yang semakin panas, Nick berusaha keras mengendalikan diri agar tidak kehilangan kendali. Namun, godaan Vanilla yang nakal dan penuh kemenangan membuat situasi kian tak terduga dalam hubungan dewasa yang penuh gairah ini.
Sampul Novel JandA
9.4
Aline Anderson memimpin penerbitan terbesar di kotanya, namun ketidakhadirannya membuat kestabilan perusahaan goyah. Saat ia kembali memegang kendali, ancaman muncul dari penulis emasnya yang ingin menarik karya secara mendadak. Keputusan ini membawa bisnis Aline ke jurang kebangkrutan. Kini, Aline harus menghadapi kerugian besar sekaligus fakta mengejutkan mengenai identitas asli sang penulis di tengah badai konflik yang mulai bermunculan satu per satu.