Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kupuaskan Nafsuku di Klub

Kupuaskan Nafsuku di Klub

Mengatasi rasa hampa setelah berakhirnya sebuah hubungan, seorang wanita dengan hasrat terpendam memutuskan menerima ajakan sahabatnya untuk mengikuti klub lari malam yang tidak biasa. Berbekal celana khusus yang dipesankan sang sahabat, ia terjun ke dalam aktivitas fisik yang sangat menguras energi hingga membuatnya tak berdaya dan memohon ampun. Di saat ia mengira penderitaan fisiknya telah usai di dalam tenda, kehadiran dua pria asing yang tiba-tiba masuk mengubah segalanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Laura mengirimiku pesan pribadi: [Apa gunanya berpura-pura suci? Kamu sudah berjanji padanya. Apakah kamu sudah siap?]

Aku: [Siap untuk apa?]

Laura memberikanku nomor resi pengiriman. [Aku sudah memesankannya untukmu kemarin. Ini adalah peralatan eksklusif. Akan dikirim besok pagi.]

Aku baru saja ingin meminta penjelasan ketika Laura kembali mengirimkan pesan lain: [Pakai ini saja supaya kamu bisa bebas beraktivitas.]

Sore berikutnya, kurir pun tiba.

Begitu aku membuka kotaknya, wajahku langsung memerah.

Di dalamnya ada satu set celana ketat yang sangat elastis berwarna hitam. Tampaknya tidak ada yang istimewa, tetapi bagian atasnya cukup pendek hingga menunjukkan perut. Celananya hanya berupa lapisan tipis. Celana ini tampak sangat ketat begitu dipakai di tubuh. Jika tidak memakai pakaian dalam ....

Bukankah seluruh bagian tubuh bisa terlihat?

Aku menyentuh paha bagian dalamku tanpa sadar. Posisi jahitannya dibuat dengan sangat pas, seakan sengaja dibuat di bagian yang sensitif.

Ada juga kartu dengan tulisan tangan: [Nona Mandy, silakan nikmati pengalaman indah yang dibawa oleh jalan pegunungan, kecepatan angin, serta benturan.]

[Bebas dari pakaian dalam adalah bentuk penghormatan terbaik untuk tubuh.]

Jari-jariku gemetaran hingga kartu itu terjatuh ke tanah.

Pada pukul setengah tujuh malam, aku dan Laura pergi ke kaki gunung dengan taksi.

Jalan pegunungan itu terpencil, hanya ada beberapa lampu jalanan. Cahayanya redup, serta udaranya lembab.

Begitu aku melangkah keluar dari mobil, Laura menunjukkan senyum misterius. "Apa kamu memakai sesuatu di dalam?"

Aku memarahinya dengan suara rendah, "Dasar mesum."

Laura mencondongkan tubuh untuk berbisik di telingaku, "Kamu akan berterima kasih padaku untuk itu, dasar wanita nakal."

"Malam ini, hanya akan ada beberapa orang dari kita di seluruh pegunungan ini. Nggak ada yang akan mengganggu kita."

Aku ingin membalas, tetapi ketika aku mendongak, aku melihat Dimas berdiri tidak jauh dari sana.

Dia mengenakan pakaian olahraga kompresi berwarna hitam, dengan tubuh yang tampak sangat bagus. Bahu dan punggungnya lebar, perutnya berotot, bahkan sorotan cahaya menerpa sudut-sudut tubuhnya.

Aku baru saja hendak menyapa ketika dia berjalan menghampiriku. Tatapannya meluncur dari kakiku ke wajahku, sudut mulutnya terangkat sedikit.

"Bagus," kata Dimas.

"Apa katamu?"

"Kamu berpakaian dengan baik." Dia menatap lekukan kecil yang ada tepat di bawah pusarku. "Cocok sekali untukmu."

Wajahku memanas, tetapi tubuhku lebih jujur.

Aku mulai merasa tidak nyaman di bagian bawah, seperti ada sesuatu yang bergesekan dengan jahitan celanaku. Aku bisa merasakannya di setiap langkahku.

Dimas mencondongkan kepalanya ke telingaku, lalu berkata dengan suara pelan, "Saat kita mulai berlari nanti, angin akan bertiup ke celah-celahnya. Itu akan membuatmu merasa lebih baik."

Jantungku seakan berhenti berdetak. "Kamu …."

"Apa kamu takut?"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba Dimas menarik pengukur waktu dari belakangnya, lalu berujar, "Naiklah sejauh lima ratus meter, lalu kembalilah dalam waktu sepuluh menit. Ingat, jangan berhenti."

Setelah mengatakan itu, Dimas berbalik untuk berlari. Aku pun mengikutinya tanpa sadar.

Awalnya kami hanya melakukan lari malam biasa. Jalan pegunungan ini tidak terlalu curam, jadi napasku masih teratur.

Namun, dalam jarak kurang dari lima puluh meter, aku menemukan masalah.

Tanahnya tidak rata. Sensasi bergelombangnya langsung menembus celana, naik ke tubuhku.

Ditambah dengan bahannya yang sangat ketat, setiap gesekan membuatku merasa seperti disapu dengan lembut oleh ujung lidah. Ini merangsang saraf-saraf yang ada di tubuhku.

Aku menggertakkan gigi, tidak berani berhenti. Namun, kakiku makin lama menjadi makin lemah.

Di tengah jalan, aku tidak lagi berani mengambil langkah besar. Setiap langkah berikutnya, gesekan menjadi lebih intens. Perut bagian bawahku terasa panas, bahkan napasku pun mulai bergetar.

Langkah Dimas tiba-tiba melambat. Dia berbalik, lalu mengulurkan tangannya ke arahku.

"Apa kamu sudah nggak bisa bertahan lagi?" tanya Dimas.

Saya menggigit bibirku, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Dimas berjalan mendekat. Satu tangannya menekan pinggang belakangku, sementara tangan lainnya menopang perutku dengan lembut. "Jangan mengacaukan pernapasanmu. Kencangkan inti tubuhmu, jangan menjepit terlalu kencang."

Aku tertegun. "Menjepit … apa?"

Dimas berbisik di telingaku, "Mulut kecilmu."

Kepalaku seakan berdengung.

"Kamu ... kamu nakal …."

Dia tidak tertawa, hanya menempelkan tangannya di kedua sisi panggulku. Nadanya seperti sedang memberi ceramah, "Darahmu sekarang mengalir dengan deras. Kepekaan saraf adalah reaksi yang normal. Jangan takut, santai saja. Berlari seharusnya akan membuat tubuhmu menjadi lebih rileks."

Suaranya pelan, tetapi sangat menggoda. Ini seperti bulu yang menyapu gendang telinga.

Seluruh tubuhku tiba-tiba merasa lemas, jantungku berdetak tak terkendali.

Dimas melirik ke arahku, lalu tiba-tiba membungkuk untuk berbisik di telingaku, "Semuanya bisa terlihat dengan jelas, apa kamu masih ingin berpura-pura suci?"

Aku menunduk, melihat bahwa bagian kecil di area selangkanganku sudah basah. Bahkan ketika angin berembus di atasnya, rasanya seperti sedang dijilat.

"Teruslah berlari," tambah Dimas. "Buatlah sedikit lebih basah."

Kakiku lemas, aku hampir jatuh berlutut.

Acara lari malam ini sama sekali bukan olahraga, melainkan penyiksaan, godaan, serta pelatihan seksual dengan gerakan lambat. Malam ini, aku mungkin akan terlalu basah untuk berlari.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Diperbudak Nafsu
9.5
Kisah romansa modern khusus dewasa ini menyoroti perjalanan hidup Fahrizal yang penuh gairah. Narasi dimulai saat tokoh utama masih berusia tiga belas tahun, di mana ia sudah mulai memperlihatkan bakat serta keunggulan yang tidak biasa dalam urusan ranjang. Dipenuhi dengan berbagai adegan panas yang eksplisit, pembaca akan dibawa mengikuti perkembangan hasrat Fahrizal yang mendalam seiring berjalannya waktu dalam alur cerita yang berani ini.
Sampul Novel Hasrat Liar Istri Salihah
8.1
Lima tahun membina rumah tangga, seorang istri yang dikenal salihah justru menyimpan rahasia besar yang tak terduga. Meskipun statusnya telah lama menikah, ia ternyata masih menjaga kesuciannya sebagai perawan. Apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kamar mereka? Kisah romansa dewasa ini mengungkap gejolak hasrat terpendam dan alasan mengejutkan di balik dinginnya hubungan suami istri yang telah berjalan bertahun-tahun tersebut.
Sampul Novel JAHIDA
9.2
Kisah ini menyoroti kehidupan kelam seorang gadis remaja yang terjebak dalam situasi mengerikan. Ia menjadi korban perbudakan oleh seorang pria dewasa yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek langganannya sendiri. Narasi ini mengeksplorasi penderitaan dan dinamika kekuasaan yang eksploitatif di lingkungan modern. Pembaca diharapkan bijak karena konten ini khusus dewasa dan mengandung materi sensitif yang memerlukan kedewasaan dalam menyikapinya.
Sampul Novel Jebakan Sang Mantan Istri
8.2
Calista Anindya nyaris tewas akibat sabotase mobil yang dirancang untuk membunuhnya. Demi melindungi bayinya, ia menghilang dan memendam trauma mendalam. Enam tahun kemudian, Calista muncul kembali sebagai sosok tangguh bersama sepasang anak kembar yang cerdas. Ia pulang membawa misi besar untuk menuntut balas pada mantan suaminya yang telah berkhianat. Di tengah kembalinya Calista, akankah dendam tersebut tuntas atau justru masa lalu kelam kembali menghancurkan hidupnya?
Sampul Novel Pengasuh Duda Jutawan
7.9
Ditinggalkan suami saat melahirkan, Johanne Warrent terpaksa bekerja demi bayinya. Ia menjadi pengasuh Jhin, putra pemberontak Eduard Collen, jutawan duda yang dingin. Di tengah sikap arogan Eduard dan tekanan keluarga besarnya, Johanne berjuang memenangkan hati Jhin yang trauma. Namun, benih cinta yang tumbuh justru mengancam profesionalitasnya. Kini, ia harus bertahan menghadapi berbagai rintangan demi menjaga pekerjaan dan masa depan sang buah hati.
Sampul Novel PENYESALAN DI UJUNG CINTA YANG HILANG
8.3
Silvia baru menyadari bahwa tiga tahun pernikahannya dengan Erik hanyalah kepura-puraan dan misi balas dendam. Setelah bercerai dan pergi, ia kembali empat tahun kemudian bersama putri kecilnya. Erik yang hampir menikahi wanita lain justru mulai dihantui penyesalan mendalam. Saat mengetahui bahwa anak Silvia adalah darah dagingnya, Erik bertekad menebus kesalahan masa lalu demi mendapatkan kembali cinta Silvia dan hidup bersama keluarga kecil mereka selamanya.