
Kumpulan Cerita Panas Nan Membara
Bab 2
Jam pun terus berputar, dan sekarang sudah sekitar jam tujuh malam, gerimis pun turun. Aku tentu sangat kecewa dengan cuaca saat ini karna bisa bisa si Bapak dan Ibu pemulung itu tidak ada ditempat biasa mereka beristirahat, tapi akhirnya kuniatkan juga untuk melihatnya, segera ku hidupkan mesin motor ku dan di tengah gerimis kupaksakan untuk pergi melihatnya, berharap mereka ada disana. Alangkah senanangnya Aku saat mata ku melihat si Bapak dan Ibu itu ternyata sudah berada disana, Aku pun langsung menghampiri mereka.
"Eh... dah lama Pak disini?
"Lumayan Pak, sambil nunggu nunggu Bapak soalnya, hehehe"
"Oh... maaf ya Pak, tadinya malah saya kira si Bapak gak disini gara gerimis ini"
"Pasti disinilah Pak, kan sudah janjian kemarin"
"Iya Iya, ya udah ayo deh Pak kita ambil rongsokannya, oh iya Ibu mau saya Bonceng?
"Gak usah Pak, saya jalan saja sama Suami saya" (Ucap si Ibu)
"Ya udah Pak kalau gitu, nanti Bapak masuk Komplek terus langsung ke Kekiri sampai mentok, baru ke kanan lurus terus sampai mentok juga, rumah saya paling ujung soalnya, dan bilang saja kalau ada yang nanyain Bapak mau ke mana, bilang ke rumah Pak Fadlan mau ambil rongsokan"
"Oh... iya Pak"
"Ya sudah, saya duluan ya Pak, saya tunggu"
"Iya Pak, iya"
Aku pun meninggalkan mereka, dimana mereka berjalan sambil mendorong gerobaknya memasuki komplek perumahan ku, dan kebetulan tidak ada security yang berjaga di Komplek kami. Sesampai saya di rumah, Aku langsung mengganti pakaian ku karna basah kena gerimis yang lumayan, Aku pun hanya memakai kaos Singlet dan celana boxer pendek lalu duduk bersantai di teras rumah ku sambil menunggu kedatangan mereka. Gak sampai sepuluh menit akhirnya si Bapak dan Ibu pemulung itu pun sampai.
Ku bukakan pagar rumah ku lalu kusuruh si Bapak untuk memasukkan saja gerobaknya ke dalam garasi tepat di belakang mobil ku karna memang masih luas yang kosong.
"Ayo masuk Pak"
"Hehehe... iya Pak"
"Jangan panggil Pak lah, masih sendiri soalnya saya, panggil Mas saja"
"Hehehe... oh iya Mas"
Mereka pun masuk, lalu si Ibu kusuruh untuk duduk di Kursi kayu yang ada di teras ku, karna dia tentu kelelahan berjalan apalagi sedang hamil besar dengan beban perut buncitnya yang membuat libodi ku naik ke ubun ubun memandangnya.
"Pak saya bikin Kopi ya, ibu mau Kopi atau teh Manis?
"Gak usah Mas, jadi ngerepotin" ( Ucap si Bapak)
Aku pun menimpalinya dan mengatakan gak ngerepotin, sementara si Ibu itu tidaklah banyak bicara, hanya mangguk saja dan senyum. Segera kubuatkan Kopi untuk ku dan untuk si Bapak dan teh manis panas buat si Ibu tersebut. Setelah itu Aku pun kembali ke teras sambil membawakannya.
"Ayo Pak, Bu diminum"
"Iya Mas, makasih, oh... iya Mas, rongsokannya dimana?
"Ohh... ada Pak disamping, ayok kita lihat"
Aku pun berjalan dan di ikuti si Bapak dan Ibu tersebut, kebetulan Aku menyimpannya memang di samping rumah yang juga adalah gudang kecil ku.
"Wah... lumayan banyak juga ya Mas"
"Iya Pak"
"Makasih banyak nih Mas"
Kemudian si Bapak pun mengangkatinya dan kubantu juga memasukkannya ke dalam gerobak miliknya, sementara si Ibu itu ku minta agar duduk saja dan gak usah ikut membantu kami, akhirnya Koran bekas dan majalah bekas yang menumpuk itu pun berpindah ke dalam gerobak termasuk besi rongsokan yang lumayan juga.
Setelah selesai kami mengangkatinya, kembali kami duduk dan menikmati Kopi yang tadi ku buatkan, sementara sekarang juga justru datang hujan dan semakin deras, yang awalnya tadi hanyalah gerimis. Sambil mengopi, Aku pun mengobrol dengan mereka, ingin tau akan mereka.
"Pak asli mana Pak dan nama Bapak siapa?
"Oh... dari .... Mas" kalau Bapak panggil Pak Danang saja (sambil menyebutkan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat)
"Kalau Ibu sama juga, Nama Ibu sendiri?
" Nisa Mas, beda kabupaten"
"Ohh gitu, oh iya Bu, dah berapa bulan tuh?
"Hehe... sudah masuk delapan bulan Mas"
"Wah pantasan sudah besar gitu, bentar lagi dong, anak keberapa tuh?
"Baru ini Mas, hehehe... (balas si Ibu)
"Oh... baru itu, beruntung bangat ya Pak punya Istri masih muda"
"Hehehe... iya Mas"
"Bapak sendiri sekarang ini umur berapa?
"Sudah empat puluhan Mas"
"Kalau Ibu?
"Saya sekarang Dua puluhan Mas"
"Wah!!! Beda jauh ya, beda dua pulu tahun, hebat juga si Bapak ini, dah gitu Istrinya cantik lagi"
Sepasang suami istri itu pun tersenyum mendengar pujian ku. Sambil mengopi, Aku pun menawarkan Rokok milik ku ke si Bapak, sebab dari tadi kuperhatikan dia melihat lihat bungkus rokok ku.
"Pak, di hisap aja Rokoknya, gak apa apa"
"Hehehe... iya Mas, makasih Mas"
"Hujannya makin deras nih"
"Iya nih Mas, gimana ya"
"Ya nunggu berhentilah Pak, masa Bapak sama Ibu hujan hujanan deras gini"
"Emang gak apa apa Mas, takut jadi keganggu soalnya"
"Gak kok Pak, nginap juga gak apa apa"
"Hehehe... Mas ini bisa saja"
Sekarang Aku pun mencari ide untuk menyampaikan niat ku untuk nge☆☆tot dengan Istrinya, tapi Aku bingung bagaimana menhatakannya, dan apakah si Bapak pemulung itu akan mau Istrinya ku pakai dan apakah si Ibu mau ku pakai?
Akhirnya ide pun timbul di pikiran ku, Aku lalu pura pura minta bantuan si Bapak untuk memindahkan meja yang ada di ruang tengah rumah ku, sebenarnya itu hanyalah alasan agar Aku bisa bicara berdua dengan si Bapak tersebut. Aku pun mengajak si Bapak masuk bersama ku kedalam rumah, sementara Istrinya tetap di teras.
Sesampai di ruang tengah, Aku pun pura pura memindahkan meja dengan di bantu oleh si Bapak, kesempatan itu pun kugunakan untuk mengatakan niat ku ke si Bapak.
"Pak Danang, ada yang ingin Saya omongin, ingin minta bantuan Bapak dan kalau Bapak setuju Aku kasih uang sejuta ke Bapak"
"Bantuan apa Mas?
"Hemmm.... gini Pak, tapi jangan marah ya, sebenarnya Aku suka bangat dengan Wanita hamil seperti Istri Bapak, kalau seandainya Aku bisa ngen☆☆tin Istri Bapak malam ini dan Aku bayar satu juta, kira kira Bapak mau gak"
Kemudian Pak Danang pun terdiam sejenak mendengar ucapan ku tersebut, lalu dia pun bertanya.
"Emang Mas gak ada Istri?
"Hehehe gak ada Pak, saya masih sendiri soalnya"
"Tapi gimana ya Pak, istri saya kan lagi hamil besar gitu, emang bisa Pak di en☆☆t kalau lagi hamil besar gitu?
"Ya bisalah Pak, kan asal jangan di tindih aja perutnya, lagian emang Bapak dah gak en☆☆tin ai Ibu?
"Hehe... iya Mas, sudah lama, udah beberapa bulan kali"
"Wah kasihan dong yang di dalam perut si Ibu, gak di kasih protein jadinya"
"Protein apaan Pak?
"Ya Sp☆☆ma lah Pak, hehehe... oh iya Pak gimana, mau gak?
"Gimanya ya Pak, Istri saya mau gak ya, tapi benaran dikasih sejuta Mas?
"Iya benaran Pak"
"Gimana ya,,, butuh bangat sih uang buat lahirannya nanti, tapi Istri saya mau gak ya Mas"
"Ya udah, Bapak coba aja bujuk Istrinya sekarang"
"Iya Mas, sebentar ya"
Pak Danang pun keluar dan menemui Istrinya yang duduk di teras sedang menikmati teh manisnya, sementara Aku mengikuti dari belakang tapi tak ikut ke teras rumah, Aku pun menguping pembicaraan pasangan Suami Istri itu, Aku sangat berharap si Bu Nisa mau, karna Batang pusaka ku sudah sangat berontak dari tadi akibat melihat perut buncitnya, apalagi wajahnya juga lumayan cantik, tapi memang tubunya pendek, mungkin hanya sekitar dada ku jika berdiri bersama berdekatan.
Anda Mungkin Juga Suka





