
Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih
Bab 2
Amira Suwito POV:
"Pulanglah, Nak." Suara ibu terdengar sangat lembut di telepon, tapi mataku bisa merasakan kekhawatiran yang mendalam di baliknya. "Rumahmu di Yogya, Amira. Biar kamu tidak sendirian lagi." Kata-kata itu menusuk, mengingatkanku pada kesendirian yang kurasakan di Jakarta.
Aku terdiam, memegang ponsel erat-erat. Jari-jariku mengusap bibir cangkir teh yang sudah dingin. Haruskah? Haruskah aku kembali? Keraguan memenuhi benakku, seperti kabut tebal yang menghalangi pandangan. Jakarta adalah kota impian, tapi kini terasa seperti sangkar yang menyesakkan.
Orang-orang mengenalku sebagai Amira Suwito, seorang koki berbakat yang meninggalkan karier cemerlangnya untuk mendukung pacarnya. Tapi di kampung halaman, aku lebih dikenal sebagai cucu Nenek Suwito, pewaris warung gudeg legendaris di Yogyakarta. Rahasia yang kusimpan rapat, bahkan dari Galih.
Nenek selalu bilang, "Dapur bukan hanya tempat memasak, Mir. Dapur adalah hatimu." Aku selalu percaya itu. Dulu, aku bermimpi membuat nama sendiri di dunia kuliner, bukan hanya sebagai koki, tapi sebagai pemilik restoran yang sukses. Namun, mimpi itu terkubur dalam-dalam demi mimpi Galih.
Faktanya, aku adalah seorang pengacara. Lulusan terbaik dari fakultas hukum, yang seharusnya bekerja di kantor firma hukum internasional, seperti orang tuaku. Tapi aku mencintai memasak. Aku mencintai suasana dapur. Dan aku mencintai Galih.
Selama bertahun-tahun, Galih dan aku adalah pasangan idaman di mata banyak orang. Koki berbakat dan fotografer fesyen yang ambisius. Kami adalah inspirasi bagi banyak orang, simbol cinta yang saling mendukung. Mereka tidak tahu betapa rapuhnya kami di balik layar.
Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan pahit itu membanjiri. Setiap janji yang diucapkan, setiap pengorbanan yang kubuat, setiap kali Davina muncul di antara kami. Aku sudah lelah. Lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Lelah menjadi prioritas kedua, atau bahkan ketiga.
"Baik, Bu," kataku akhirnya, suaraku masih serak tapi kini dipenuhi tekad. "Aku akan pulang." Keputusan itu terasa seperti beban berat yang terangkat dari pundakku. Aku akan kembali ke rumah, ke tempat di mana aku menemukan diriku dulu.
Senyum lega terukir di wajah Ibu. Ia menghela napas panjang, seolah bertahun-tahun kekhawatiran akhirnya terlepas. Ayah mengambil alih telepon, suaranya lebih tegas. "Bagus, Nak. Itu keputusan terbaik. Kami akan selalu ada untukmu." Aku mendengar kelegaan di suaranya.
"Kami tidak akan membiarkanmu menderita lagi, Amira," janji Ayah, suaranya bergetar. "Tidak akan lagi." Kata-kata itu menghangatkan hatiku yang beku, mengingatkanku bahwa ada tempat di mana aku selalu dicintai tanpa syarat. Sebuah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri.
Aku mematikan telepon dan menatap sekeliling apartemen. Sunyi. Hampa. Bayangan Galih, tawa kami, janji-janji yang pernah terucap, seolah menghilang ditelan kegelapan. Hanya aku dan kesunyian ini.
Ponselku berdering. Notifikasi Instagram. Davina mengunggah foto. Dia dan Galih. Berpelukan erat di sebuah kafe. Caption-nya: "Terima kasih untuk selalu ada di saat aku rapuh. Kamu memang pahlawanku, @GalihPalgunadi." Tanganku gemetar. Seluruh tubuhku terasa dingin.
Bukan hanya itu. Ada komentar dari teman Davina: "Kalian berdua serasi banget! Kapan resmi?" Davina membalasnya dengan emotikon malu-malu dan hati. Mataku terasa panas. Mereka tidak peduli dengan perasaanku. Tidak peduli dengan keberadaanku.
Aku merasa mual. Perutku bergejolak, seolah ingin memuntahkan semua kepahitan yang kutelan selama ini. Kepala berdenyut semakin hebat. Aku menutup mata, mencoba mengusir gambar itu dari benakku, tapi percuma.
Galih tidak akan pulang malam ini. Aku tahu itu. Sudah berapa kali ini terjadi? Terlalu sering untuk diingat. Dia selalu punya alasan, selalu punya Davina. Aku terlalu mengenalnya.
Satu-satunya hal yang bisa kusesali adalah, mengapa aku tidak pernah melihat ini sebelumnya? Mengapa aku membiarkan diriku terluka sejauh ini? Beruntung, kami belum menikah. Beruntung, belum ada ikatan hukum yang mengikatku pada pria tak setia itu.
Aku bangkit. Melangkah ke meja kerjaku, mengambil pulpen dan selembar kertas. Aku akan mengosongkan meja kerjaku besok. Aku akan menulis surat pengunduran diri. Semua yang kumiliki di sini tidak lagi penting.
Keesokan harinya, di kantor Galih, langkahku terasa berat. Aku memegang amplop berisi surat pengunduran diriku. Tiba-tiba, sebuah suara familiar memanggil. "Amira!" Galih. Dia berbalik, senyumnya cerah.
Senyum itu... Senyum yang dulu begitu kucintai kini terasa menjijikkan. Aku melihatnya. Noda lipstik merah muda yang samar di kerah kemejanya. Aroma parfum Davina yang khas. Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya lagi.
"Davina bilang kamu minta aku jangan deket-deket dia lagi ya?" tanya Galih, nada suaranya terdengar jengkel. "Kenapa kamu kekanakan begitu, Mir? Dia hanya butuh bantuanku." Wajahnya menunjukkan kekesalan, bukan permintaan maaf.
Aku menatap matanya. Mata yang dulu selalu memancarkan cinta kini hanya memperlihatkan kebingungan dan kemarahan. Dia bahkan tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu apa yang telah dia lakukan padaku. Atau mungkin, dia memang tidak peduli.
Anda Mungkin Juga Suka





