
Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih
Bab 3
Amira Suwito POV:
Aku mengabaikan Galih. Langkahku mantap, menuju ruang HRD. Tanganku gemetar saat menyerahkan amplop putih itu kepada Nona Rima. "Ini surat pengunduran diri saya," kataku, suaraku tegas dan tanpa keraguan.
Nona Rima menatapku dengan mata membulat. "Amira, kamu serius?" Dia adalah salah satu rekan kerja yang paling dekat denganku, yang tahu sedikit banyak tentang hubunganku dengan Galih. "Apa Galih tahu tentang ini?"
"Dia akan mengetahuinya," jawabku datar. Saat aku berbalik untuk pergi, sebuah tangan menyentuh lenganku. "Amira, jangan pergi!" Itu Rima. Matanya berkaca-kaca. "Kami akan merindukanmu. Kamu adalah koki terbaik di sini."
"Benar, Amira! Jangan pergi!" Suara lain menyahut, itu adalah Dimas, fotografer junior yang sering kubantu. "Kalau kamu pergi, siapa yang akan memasak makanan enak saat kita lembur?" Nada suaranya bercanda, tapi matanya menunjukkan kesedihan.
"Lagipula, bagaimana kamu bisa tahan dengan mereka berdua?" Rima berbisik, mendekat kepadaku. "Davina selalu menempel pada Galih seperti lintah. Dia bahkan memanggilnya 'Papa Galih' di depan semua orang kemarin! Itu sangat tidak sopan!" Aku hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu apa-apa.
Saat itu juga, Davina muncul di ambang pintu, lengannya melingkar mesra di lengan Galih. Mereka berdua tersenyum lebar. Galih membawa sebuah kotak kecil berbalut pita merah di tangannya. "Davina, ini untukmu. Hadiah terima kasih karena sudah menemaniku bekerja hari ini," katanya manis.
Davina membuka kotak itu dengan mata berbinar. Sebuah jam tangan mewah, berkilauan. Harganya pasti puluhan juta. Hadiah yang sama persis seperti yang pernah dijanjikan Galih kepadaku saat ulang tahunku tiga tahun lalu, tapi tidak pernah terwujud.
"Oh, Sayang! Kamu tidak perlu repot-repot!" Davina berteriak kegirangan, tapi matanya melirik ke arahku dengan senyum kemenangan. "Aku hanya ingin membantu 'Papa Galih' kok." Dia sengaja menekankan kata 'Papa Galih'.
Rima mendengus. "Lihatlah dia," bisiknya padaku, rahangnya mengeras. "Sungguh menjijikkan!" Aku hanya diam, menatap kosong. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.
"Amira!" Galih akhirnya memperhatikanku. "Kenapa kamu masih di sini? Bukankah kamu bilang mau pulang?" Nada suaranya terdengar tidak sabar.
Aku hendak menjawab, tapi Davina mendahuluiku. "Oh, Amira?" Davina tersenyum lembut, seolah dia adalah malaikat tanpa dosa. "Maaf ya, aku tidak tahu kalau kamu masih ada di sini. Aku tidak bermaksud mengganggu." Matanya menyiratkan ejekan.
"Dia tahu persis apa yang dia lakukan," Rima hampir meledak, tapi aku menahan lengannya. "Tidak apa-apa, Rima," kataku pelan, menggelengkan kepala. Aku tidak ingin membuat keributan. Aku hanya ingin pergi.
Aku menatap Davina. "Selamat bersenang-senang dengan hadiahmu," kataku, suaraku tenang, bahkan mungkin terlalu tenang. Aku bisa melihat sedikit kekecewaan di matanya. Dia mungkin mengharapkan aku marah, berteriak, merusak momennya. Tapi aku tidak akan memberinya kepuasan itu.
Dia mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak tahu kenapa kamu begitu dingin padaku, Amira," katanya, suaranya kini terdengar lebih manja. "Aku hanya ingin berteman denganmu. Bukankah kita semua bekerja di sini?" Oh, betapa naifnya dia berpikir aku akan mempercayai itu.
Galih menatapku dengan tatapan tajam. "Amira, jangan membuat masalah," bisiknya, menarik Davina lebih dekat. "Davina tidak bersalah. Kamu tidak perlu cemburu kepada semua orang yang dekat denganku."
Aku hanya tersenyum dingin. "Aku tidak marah, Galih," kataku, kini menatap matanya. "Aku hanya mengingatkanmu, aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Jadi, mulai sekarang, kamu tidak perlu khawatir Davina akan merasa tidak nyaman dengan keberadaanku."
Galih terdiam, matanya membelalak. "Apa?" Suaranya pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Ada sedikit kepanikan di wajahnya.
"Kamu mengundurkan diri?" Davina bertanya, nada suaranya mendadak ceria. "Oh, itu... itu sangat disayangkan. Aku harap kamu menemukan pekerjaan lain yang lebih baik." Dia memegang lengan Galih lebih erat.
"Aku tidak bisa percaya ini, Mir," kata Galih, suaranya kini lebih tinggi. "Bagaimana bisa kamu melakukan ini tanpa bicara padaku? Kita punya restoran yang harus dibangun!"
"Restoran itu," kataku, menunjuk ke arahnya dengan tangan yang sedikit gemetar, "adalah impianku. Bukan impianmu. Dan kamu sudah membatalkannya 52 kali. Aku sudah selesai." Aku menatap Rima dan Dimas. "Aku sudah mengakhiri hubungan ini secara sepihak. Aku tidak akan lagi menjadi tunangan Galih."
Rima dan Dimas saling menatap, shock. Galih terdiam, wajahnya pucat pasi. Dia tidak menyangka aku akan sejauh ini. Dia tidak tahu bahwa aku sudah merencanakan ini jauh sebelum dia membatalkan semuanya.
"Ini bukan lelucon, Galih," kataku. "Aku sudah muak dengan pembatalan pernikahan yang terus-menerus. Aku sudah muak dengan janji-janji kosongmu." Aku merasa beban berat terangkat dari pundakku.
Galih mencoba meraih tanganku. "Amira, tunggu! Kita bisa bicara. Jangan begini." Matanya memohon, tapi aku hanya merasakan kekosongan.
"Aku sudah bicara cukup banyak, Galih," kataku, menarik tanganku. "Aku sudah menunggu cukup lama." Aku melangkah ke mejaku, mulai mengemasi barang-barang pribadiku.
Galih mencoba membantuku, tangannya meraih beberapa barang. "Aku akan membantumu. Kita bisa bicara di rumah."
"Tidak perlu," kataku, mengambil kembali barang-barang itu dari tangannya. "Aku akan mengurusnya sendiri."
"Bagaimana kalau kita makan malam?" Dia mencoba lagi, suaranya terdengar cemas. "Aku akan membayarmu sebagai permintaan maaf. Kita bisa membahas semuanya."
Aku hanya menggeleng. "Tidak perlu." Aku menatap perhiasan kecil yang dulu kukira adalah cincin pertunangan kami. Sebuah gelang perak dengan ukiran nama kami.
"Gelang itu," kata Galih, menunjuk ke arah gelang di kotak perhiasanku. "Kamu tidak pernah memakainya lagi." Dia terdengar bingung.
"Aku menyimpannya dengan baik," kataku, berbohong. Aku tidak akan pernah memberitahunya bahwa gelang itu, bersama dengan kalung liontin hati, sudah berada di tempat sampah.
Anda Mungkin Juga Suka





